Menitip Benih Di Rahim Pembantuku

Menitip Benih Di Rahim Pembantuku
Menitip benih di rahim pembantuku bab 37


__ADS_3

🌺 Happy Reading 🌺


Plak


"Kamu benar-benar gak bisa diandalkan ya, bisa-bisanya kamu gak becus jadi ibu,Pras sampai sakit gara-gara kamu."ucap Leo penuh amarah setelah menampar pipi Niar.


"Maafin aku,aku memang bukan ibu yang baik,tapi aku melakukan itu bukan tanpa alasan Leo...adik aku lagi kritis wajar gak sih aku masih disini?,"ucap Niar membela diri namun tak lagi diindahkan oleh Leo.


"Itu cuma alasan kamu kan,bilang aja kamu masih ingin bersama mantan suami kamu itu,"kesal Leo menuduh Niar membagi perasaannya.


"Astaga, Leo aku gak niatan seperti itu,kamu jangan fitnah aku dong."


"Aku gak percaya sama kamu lagi."kesal Leo dan ingin segera menampar pipi Niar kembali.Pada saat yang sama,Arham segera menepis tangan Leo dan segera menghempaskannya.


"Kamu gak papa Ni?,"tanya Arham menatapi Niar, Niar pun segera menggelengkan kepalanya.


"Jangan ikut campur ini urusan rumah tangga saya!,"ucap kesal Leo sembari menarik tangan Niar kasar.Arham segera melepaskan genggamannya pada Niar.


"Anda melakukan kekerasan di depan umum, Anda bisa saja saya bawa keranah hukum."ucap Arham menatap tajam pada Leo.


"Cih...kalau masih peduli,kenapa kamu ceraikan.Sekarang dia istriku kamu gak berhak atas apa pun,terserah saya mau ngapain dia."ucap Leo kesal sembari menyeret tangan Niar kasar dan berlalu pergi.


Leo menghempaskan tubuh Niar hingga terjatuh dilantai.


"Kamu ada main sama mantan suami itu kan?," fitnah Leo kembali menuding Niar selingkuh.


"Leo kamu ini kenapa sih?," ucap Niar sembari berdiri dari duduknya.


"Kamu yang kenapa?, bisa-bisanya kamu masih berhubungan dengan mantan suami kamu!,"bentak Leo yang membuat Niar terdiam.


"Mulai sekarang aku bukan siapa-siapa kamu lagi!."ucap Leo sembari melangkah pergi dengan kekesalannya.


"Maksud kamu apa?,"teriak Niar memanggil Leo.


"Kita cerai."ucap Leo sdmbil berlalu tanpa menoleh sedikitpun.


**


Niar tak habis pikir,hanya karena sebuah kelalaiannya menjaga Pras.Leo begitu tega menceraikannya.Kini ia menangis sendirian di koridor rumah sakit.Sakit,terlalu sakit hatinya menanggung semua itu.


Dari jauh,Arham memperhatikannya.Arhdm pun segera menghampirinya.


"Kamu kenapa Ni?,"tanya Arham sembari memberikan tissu pada Niar,Niar pun segera menerimanya dan menyeka air matanya.


"Gak papa."singkat Niar.


Arham segera duduk disampingnya.


"Aku tahu kamu,ada apa?, cerita sama aku."ucap Arham kemudian tersenyum.


"Aku memang pantas mendapatkannya,aku terlalu jahat sehingga semua orang membenciku."ucap Niar menjauhi Arham.


"Semua orang pasti pernah bersalah Ni,dan semua orang berhak atas kesempatan kedua untuk memperbaikinya."ucap Arham mengikuti langkah Niar.


"Tapi apa pantas orang seperti ku dapat pengampunan?,"tanya Niar tanpa menoleh.


"Em, Allah sayang hambanya yang mau bertaubat."ucap Arham menyemangati.Tanpa dikira Niar malah memeluknya.


"Hemk,maaf menganggu."ucap Rakha berdehem yang tak sengaja melihat pemandangan itu.Niar pun segera melepaskan pelukannya.Setelah itu, Rakha pun masuk kedalam ruangan Arvitha.


"Dek...kapan kamu akan sadar,aku kangen sama kamu."ucap Rakha lirih sembari mencium punggung tangan Arvitha yang masih enggan bangun dari tidur panjangnya.


"Mas,aku akan jagain Arvitha,mas pulang aja dulu, kasian Dafha sendiri an dirumah."ucap Niar saat ia baru saja masuk kedalam ruangan Arvitha.


"Makasih Niar,aku gak tahu harus bagaimana lagi sekarang."ucap Rakha larut dalam kesedihannya.


"Arvitha pasti sembuh hum,"ucap Niar sembari menepuk lengan Rakha.Rakha pun tersenyum dan kembali mencium tangan Arvitha.Kemudian ia mengelus rambut istrinya.


"Aku pulang dulu ya,nanti aku kesini lagi."ucap Rakha berpamitan.


"Aku titip Vitha,"ucap Rakha pada Niar,maka Niar pun segera mengiyakannya.

__ADS_1


"Baiknya mas pulang juga,Mayra pasti nungguin."ucap Rakha saat ia baru saja keluar dari ruangan Arvitha dan melihat Arham yang masih duduk di bangku koridor.


"Arvitha...?,"


Mendapatkan pertanyaan itu, Rakha pun segera menggelengkan kepalanya dan hal itu cukup membuat Arham mengerti.Akhirnya, mereka pun pulang bersama.


**


"Mayra...,"lirih Arvitha sembari berusaha membuka matanya,bahkan Niar yang sudah tertidur tak mendengar ucapan Arvitha.


"Mayra dimana?,"tanya Arvitha yang seketika membuat Niar terjaga.


"Ar...kamu sudah bangun?," tanya Niar begitu senang.Ia pun segera memanggil Dokter Hadi.


"Kamu siapa?," tanya Arvitha heran menatap Niar.Bukdn hanya Arvitha yang heran namun juga Niar yang bingung kenapa Arvitha tidak mengenalnya.


"Dok, Arvitha kenapa?,"tanya Niar menatap Dokter Hadi.


"Sebagian ingatannya menghilang mbak,itu terjadi karena benturan keras di bagian kepalanya saat kecelakaan."ucap Dokter Hadi yang membuat Niar menangis kemudian ia pun pergi keluar dari ruangan itu.


"Ya Allah... untuk kedua kalinya, Arvitha akan lupa keluarganya."lirih Niar sedih.


"Mayra dimana?,"tanya Arvitha untuk sekian kalinya.


"Mbak, Arvitha selalu memanggil Mayra bisa tolong dipanggil kan."


"Iya.iya.Sebentar ya dok."jawab Niar dan segera menghapus air matanya.Ia pun segera menelepon nomor Arham.


"Mas,bawa Mayra kesini, Arvitha sudah sadar."ucap Niar begitu panggilan telepon tersebut tersambung.


**


"Mama..."ucap Mayra segera memeluk erat tubuh Arvitha.


"Kamu bukan anakku,Mayra ku dimana?,"ucap Arvitha mengawaskan tangan Mayra darinya.Baik Mayra ataupun Arham terdiam saat itu juga.


"Jangan bilang mama lupa sama aku,ini aku Mayra ma."ucap Mayra kini berderai air mata.


"Mas, dimana Mayra,aku ingin ketemu dia,"ucap Arvitha menatap Arham yang seketika membuat Arham menghentikan langkahnya saat ia ingin mengejar sang putri.


"Mayra,putri kita sudah besar sekarang,dia itu Mayra kita Arvitha."ucap Arham menjelaskan.


Tanpa diduga,Arvitha segera memeluk erat tubuh Arham.Pada saat yang sama,Rakha masuk kedalam ruangan itu.


"Ar,lepaskan!,"ucap Arham sembari mencoba melepaskan pelukan Arvitha.Namun bukannya melepaskan, Arvitha justru semakin mempererat pelukannya.


"Hem,dek kamu pasti kangen Mas Arham juga ya,"ucap Rakha tanpa cemburu sedikit pun,atau hanya pura-pura tidak cemburu.Ia bahkan mengelus rambut Arvitha yang masih memeluk Arham.


Arham yang tidak enak hati, dengan paksa melepaskan pelukan Arvitha darinya.


"Ar,kamu ingat aku gak?,"tanya Rakha sembari duduk disisi ranjang Arvitha.


"Ingatlah,Mas Rakha kan sepupu aku plus sahabat."ucap Arvitha tanpa dosa.


"Hehe...pinter,sahabat ya?," ucap Rakha tersenyum sembari mengelus rambut Arvitha.Namun tak seperti biasanya,kali ini Arvitha kesal saat Rakha mengelus rambutnya.


"Apa sih mas, kebiasaan deh."ucap Arvitha mengawaskan tangan Rakha darinya.


"Aleea mana?,"tanya Arvitha menatap Rakha.


"Seperti biasa,dia lagi mengejar cintanya Raj Vikram."jawab Rakha seadanya.


"Mas Arham,aku ingin ketemu Mayra boleh ya,plis...aku kangen banget sama dia,"ucap Arvitha kini yang membuat Arham dan Rakha saling menatap.


"Boleh kan?," lanjutnya bertanya.


"Oke,nanti aku bawa Mayra kesini,Mayra yang bayi kan."ucap Rakha yang segera diangguki oleh Arvitha.


Rakha pun segera membawa Arham keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana caranya?," tanya Arham saat mereka sudah diluar.

__ADS_1


"Mama kenapa lupa sama Mayra pa?," tanya Mayra yang masih menangis di pelukan Niar.Arham pun segera menghampiri putrinya dan mengelus rambut putrinya.


"Yang sabar ya sayang...mama kamu pasti akan sembuh,kita usahakan ya,udah jangan cengeng."ucap Arham sembari menyeka air mata putrinya.


"Benar Ra,gak boleh cengeng,mama kamu itu ingat kamu cuman ingatannya kini waktu kamu masih bayi."ucap Rakha kemudian tersenyum.


Dimenit berikutnya,Rakha menemui pasiennya yang baru saja melahirkan.


"Mbak,boleh saya pinjam bayinya untuk seminggu kedepannya?," tanya Rakha hati-hati.


"Ambil saja dok,saya gak butuh anak perempuan, gara-gara dia aku diceraikan suamiku."kesal perempuan yang baru saja melahirkan seminggu lalu itu.


"Mbak gak boleh ngomong gitu,kami justru menginginkan anak perempuan."ucap Rakha yang tak lagi dipedulikan oleh perempuan itu.Akhirnya Rakha pun membawa bayi itu keruangan Arvitha.


"Dek,ini bayi kamu."ucap Rakha sembari memberikan bayi itu pada Arvitha.Arvitha pun begitu senang dan segera menciumi pipi bayi tersebut.


**


"Papa kamu mana?,"tanya Nyonya Erin saat baru saja tiba di rumah sakit ddn menemui cucunya di koridor sendirian.


"Papa lagi keluar sebentar oma.Oma ...mama gak ingat aku lagi."ucap Mayra lirih kembali terisak.


"Sabar ya sayang...jangan nangis."


"Mbak Erin?,"tanya Safha yang baru saja muncul.Erin pun segera berdiri dari duduknya dan memeluk Safha.


"Lama gak bertemu Fha,gimana kabar kamu?,"


"Alhamdulillah baik kok mbak,siapa yang sakit?,"tanya Safha menatap Mayra.


"Hem,itu mamanya Mayra yang sakit."ucap Erin menghela nafasnya berat.


"Menantumu ya mbak,kasihan."


"Itulah Fha,mana Mayra baru ketemu mamanya juga.terus kamu disini siapa yang sakit?," tanya Erin yang seketika membuat Safha menghela nafasnya berat.


"Anakku mbak,dia baru kritis kemaren.Tapi Alhamdulillah sekarang sudah sadar kok mbak,ini ruangan nya."ucap Safha kemudian menunjukkan ruangan Arvitha.


"Loh,ini kan ruangan mama dirawat nek."ucap Mayra seketika membuat mereka berdua terdiam.


Hening


"Arvitha...putrimu?," tanya Erin kemudian yang dibalas anggukan oleh Safha.


"Oalah,kok kita gak tahu dari dulu ya,ternyata kita sudah pernah besanan.Arham juga salah dia gak pernah bilang pernikahannya dan Arvitha sama saya."ucap Erin menyesalinya.


"Mama?,mama kok disini?," tanya Arham heran saat ia baru saja muncul.


"Ya,mama mau jenguk menantu mama lah."


"Mas,ini ketinggalan."Niar segera mematung saat melihat Erin juga berada disana.


" Kamu ngapain disini?,belum puas kamu menghancurkan kehidupan anak saya?,"


"Mama jangan ngomong gitu,Niar sudah menyesali semuanya."ucap Arham membela.


"Untuk apa kamu bela dia sih, sekarang dia bukan siapa-siapa kamu lagi."


"Aku tahu Niar ma,Niar sudah menyesali perbuatannya dan apa salahnya untuk memberikan kesempatan kedua untuk memperbaikinya."lanjut Arham membela Niar.


"Ada apa ini ribut-ribut?."tanya Arvitha yang baru saja keluar bersama Rakha.


"Arvitha...kamu sudah sehat?," tanya Safha segera berdiri dan menghampiri putrinya.


"Iya ma,aku baik."ucap Arvitha singkat.Safha pun menatap Rakha meminta penjelasan namun Rakha hanya menggelengkan kepalanya.


Bersambung


Tinggalkan jejak kalian ya


Love you

__ADS_1


__ADS_2