Menitip Benih Di Rahim Pembantuku

Menitip Benih Di Rahim Pembantuku
Menitip benih di rahim pembantuku bab 29


__ADS_3

Akhirnya, mereka selalu menghabiskan waktu bersama bertiga meski kadang ada rasa cemburu.


"Bumil cantik lagi ngapain?,"tanya Aleea saat melihat Arvitha sedang membereskan tempat tidurnya.


"Aku baru bangun,mau siap-siap nyusun keperluan baby."singkat Arvitha sambil beberes


"Ar...ini susunya di minum dulu,"Arham masuk kedalam kamarnya sembari membawakan segelas susu coklat hangat.


"Makasih mas..."jawab Arvitha kemudian ia meneguk susunya sedikit.


"Di habisin dong,ingat kata dokter kamu harus banyak nutrisi bentar lagi kan mau lahiran."ucap Arham tersenyum kemudian ia mengelus perut Arvitha.


"Ehemk..."dehem Aleea di video call tersebut.


"Hehe...lupa ada Aleea.Ya udah mas berangkat dulu ya,"ucap Arham sembari mencium kening istrinya.


**


Malam harinya,hujan turun begitu derasnya yang disertai petir dan kilat.Arvitha mengucung tubuhnya dibawah selimut ia takut akan petir yang menyambar nyambar di luar sana.Bahkan ketakutannya semakin menjadi-jadi saat listrik tiba-tiba padam.Tak terasa bulir air matanya mengalir di pipinya.Arvitha begitu takut sekarang.Ia meraba-raba ponselnya dsn akhirnya menelepon nomor Arham.


"Mas aku takut...,"


Duarrrr


Karena kaget,ponselnya terlempar begitu saja dari tangannya.Kegelapan pun semakin membuat Arvitha ketakutan.Alhasil ia memeluk tubuhnya sendiri dibawah selimut tebalnya.Tiba-tiba perutnya sakit tak tertahankan bahkan ia merasa ada cairan yang keluar dari jalan lahir bayinya.


"Ya Allah apa lagi ini?,"Isak tangis Arvitha.Akhirnya ia berusaha mencari ponselnya dan menyalakan senter untuk meneranginya.


"Astaga!, tanda-tanda....!,"pekiknya kemudian ia pun pergi keluar dari kamarnya,bahkan ketakutannya terkalahkan saat ia sudah melihat darah yang keluar sebagai tanda ia akan segera melahirkan.Arvitha terus menyentere jdlanan raya dibawah hujan malam ini,ia tidak tahu kapan hujan ini akan berhenti yang pasti ia membutuhkan pertolongan seseorang sekarang.


**


Arvitha membuka matanya dan sudah mendapati dirinya berada di sebuah ruangan bernuansa putih.


"Aku dimana?,"tanya Arvitha lirih.


"Syukurlah kamu sudah sadar,Arham akan segera kesini,"ucap Rakha yang membuat Arvitha menganga.


"Ma-mas,kapan pulang?,"sebelum Rakha menjawab pertanyaan itu, perutnya kembali terasa mulas.


"Aw...sakit mas...,"

__ADS_1


"Sabar ya,baru buka 3,masih lama perjuangan kamu Ar,"ucap Rakha dengan santainya.


"Arvitha...!"panggil Arham saat ia baru saja membuka pintu ruangan rawat Arvitha.


"Kamu gak papa?,"


"Gak papa gimana,sakit....,"cetus Arvitha kesal pada suaminya yang menurutnya gdk peka.


**


"Ayo buka kakinya,aku mau cek udah buka berapa?,"ucap Rakha yang seketika membuat Arvitha melotot.


"Yang benar aja,aku gak mau...,"tolak Arvitha kemudian mencubit tangan Rakha.


"Aw...sakit Ar,"pekik Rakha kemudian mengelus lengannya.


"Oke,oke,aku suruh bidan aja,"lanjut Rakha memutuskan.


"Lagian genit bangat jadi orang,"kesal Arvitha merungut yang tak terlalu ditanggapi oleh Rakha, sedang Arham hanya bisa tersenyum senang.


**


"Ngucap Ar,ngucap."ucap Niar mengingatkan.


"Apa sih mbak,emangnya aku kesurupan apa?,"seketika suasana jadi berubah dengan tawa dari Arham,Niar,Rakha dan 2 orang bidan yang ikut menolong.


"Sakit...."teriak Arvitha kembali yang membuat mereka semua kembali tegang.


"Sabar ya,sabar...,"ucap Arham sambil mengelus-elus rambut Arvitha.


"Aku udah gak kuat,sakit...,"


"Tahan Ar,sedikit lagi,ayo kamu pasti bisa!,"ucap Rakha menyemangati.


"Aaaa..."teriak Arvitha yang kemudian membuat ia tak sadarkan diri.


"Siapkan operasi sekarang,!,"suruh Rakha panik saat Arvitha pingsan saat mengedan.


**


"Umm..."Arvitha menggeliat kemudian mengendarkan pandangannya.

__ADS_1


"Bayi...bayiku mana?,"tanyanya saat sudah tersadar sepenuhnya.


"Alhamdulillah...kamu sudah sadar Ar,"ucap Arham kemudian mencium kening istrinya.


"Bayinya mana mas?,"tanya Arvitha lirih.


Arham tak menjawab,ia hanya tersenyum saja yang membuat Arvitha berpikir bahwa bayinya sudah tiada.


"Bayinya di ruang NICU sayang,dia cantik sepertimu."ucap Arham kemudian tersenyum dan dibalas senyuman oleh Arvitha.Seketika senyumnya hilang bak ditelan bumi.


"Ada apa Arvitha?,"tanya Arham khawatir.


"Gak papa kok mas."lirih Arvitha kemudian kembali tersenyum.


**


"Mas disini,aku cariin dari tadi,itu dipanggil sama dokternya."ucap Niar begitu ia masuk ke ruangan Arvitha.


"Iya baiklah."jawab Arham kemudian pamit pada Arvitha.


"Tugas kamu selesai."ucap Niar sembari memberikan secarik kertas pada Arvitha.


"Maksud mbak?,"tanya Arvitha heran dengan cek yang ia terima.


"Tulis berapa jumlahnya,dan setelah selesai nifas kamu harus cerai sama Mas Arham,aku udah capek berbagi suami sama kamu."ucap Niar tanpa basa-basi.


"Em...ambil aja kembali mbak,aku gak butuh itu,dan...aku akan tetap menuruti surat perjanjian kita."jawab Arvitha sembari memberikan cek itu kembali pada Niar.


"Ya udah,terserah kamu.Intinya aku gak ada hutang lagi sama kamu." ucap Niar yang dibalas senyuman oleh Arvitha.Kemudian Niar pun ingin keluar dari ruangan itu.


"Mbak, boleh aku lihat bayinya sebentar."ucap Arvitha ragu menghentikan langkah Niar.


" Arvitha,tugas kamu hanya melahirkan bukan untuk menjadi ibunya,lagian kamu masih lemas gitu,sehatin aja lah dulu,"kesal Niar kemudian dengan cepat keluar dari ruangan itu.


Tak terasa bulir air matanya mengalir di pipinya, ucapan Niar benar-benar menyayat dihatinya Arvitha.


Bersambung


Tinggalkan jejak kalian ya


Love you...

__ADS_1


__ADS_2