Menitip Benih Di Rahim Pembantuku

Menitip Benih Di Rahim Pembantuku
Menitip benih di rahim pembantuku bab 36


__ADS_3

🌺 Happy Reading 🌺


"Mas kok ijinin Dafha pacaran sih?," kesal Arvitha menatap nanar pada Rakha.


"Ya kan,gak papa.Besok-besok juga dia bakal pacaran juga,pasti akan menikah juga."jawab Rakha santai sembari mengambil lauknya.


"Iya,tahu.Tapi gak sekarang,Dafha masih SMP loh."kesal Arvitha lagi.


"Aih...mau SMP, SMA kalau udah ada rasa cinta kenapa tidak."ucap Rakha santai tanpa dosa.Arvitha pun semakin kesal dan menatap nanar pada Arham juga.


"Hem,aku gak ikut-ikutan loh,aku justru melarang Mayra pacaran."ucap Arham membela diri.


"Melarang?,itu mas bisa gak tahu dia pacaran."kesal Arvitha.


"Lah,iyalah orang mereka diam-diam haha...,"ucap Rakha sembari tergelak dengan ucapannya sendiri.


"Gak lucu ya mas, pokoknya aku gak mau tahu,baik Dafha ataupun Mayra,mereka gak boleh pacar-pacaran kalau belum kuliah."kesal Arvitha sembari berdiri dari duduknya.


"Apa sih,toh nanti mereka akan pergi juga."ucap Rakha yang tak diindahkan oleh Arvitha.Arvitha pun berlalu.


"Huh... contoh ibu yang gak baik."lanjut Rakha yang membuat Arham geleng-geleng kepala.


**


"Udah larut,mas nginap aja gak papa kok."ucap Arvitha saat Arham baru saja pamit pulang.


"Gak ah,gak etis rasanya aku berada disini."ucap Arham menolak.


"Kamar tamu kosong kali mas,"ucap Rakha sembari meletakkan PS nya.Akhirnya Dafha pun main PS sendiri.


"Tapi...,"


"Udahlah,udah larut juga."ucap Rakha sembari menepuk pundak Arham.


**


"Apa yang membuat kamu mencintai Arvitha?,"tanya Arham saat mereka sudah bersiap ingin tidur.


"Ya...aku lihat dia dari bayi kali mas, harusnya aku yang nanya gitu sama kamu,kenapa?," ucap Rakha balik bertanya.


Arham melipat kedua tangannya diatas kepalanya.


"Hem,gak tahu."singkat Arham.


"Gak mau cerita juga gak papa kok."ucap Rakha kemudian memejamkan matanya.


"Aku minta maaf ya,dari awal aku yang sudah merusak hubungan kalian."ucap Arham menatap langit-langit ruangan itu.


"Hem,kalau boleh marah,aku gak menyalahkan kamu kok,aku hanya gak nyangka aja Arvitha membagi perasaannya tapi pada akhirnya aku bisa sadari semua itu karena kurangnya perhatian dari aku selama ini."ucap Rakha ikut menatap langit -langit ruangan itu.


"Katanya kamu tahu semua tentang Vitha ya?,"


"Tahu.Kecuali soal hatinya."singkat Rakha.


"Jangan curiga gitulah sama dia?,"


"Haha...iya."ucap Rakha tertawa yang dibuat-buat.


Setelahnya hening tiada lagi yang membuka suara sampai mereka ketiduran.


**


"Hem,aku gak suka."ucap Mayra saat Dafha memotong wortel untuk dimasak oleh Arvitha.


"Loh kenapa?,kan bagus buat kesehatan."ucap Dafha sembari memberikan potongan wortel pada mamanya.


"Benar kata adek kamu Ra,mulai sekarang belajar suka sayuran ya sayang."ucap Arvitha sembari mengelus rambut putrinya.Mayra hanya tersenyum saja.


"Ni orang dua masih lomba bobo apa ya?," tanya Arvitha saat Rakha dan Arham tak kunjung nongol.

__ADS_1


"Biar Dafha bangunin."ucap Dafha yang segera diiyakan oleh Arvitha.


"Dad,bangun...di panggil mami tuh."ucap Dafha mengetuk-ngetuk pintu kamar tamu.


Mendengar ketukan pintu,Arham segera terbangun dari tidurnya.


"Kha,di panggilin Dafha tuh,"ucap Arham membangunkan Rakha.


Akhirnya mereka pun keluar dari kamar itu berbarengan.Sesampainya di meja makan,secara refleks Rakha mencium kening Arvitha.Tanpa ia sadari dengan kehadiran Arham.Arham yang melihat itu segera menjauhkan pandangannya.Terlihat begitu jelas raut kecemburuannya.Sehingga Mayra menggenggam tangan papanya sembari tersenyum.


"Mas...,"ucap Arvitha lirih sembari mencubit perut Rakha sedikit untuk menyadarkan nya.


"Sori aku reflek."singkatnya kemudian berlalu ke kamar mandi.


"Mas Arham pasti kesal,mengingat dulu aku juga kesal kalau dipanas-panasi sama Mas Arham."bathin Arvitha yang mengerti perasaan Arham.


Arham sendiri memang merasa kesal,tapi ia harus bisa ikhlas sebab Arvitha kini sudah menjadi istri orang lain.


"Ya udah,aku pamit ya.Aku masih ada urusan soalnya."ucap Arham pamit.


"Gak sarapan dulu mas."tawar Arvitha yang segera di tolak oleh Arham.


"Gak usah,gak usah,aku bisa sarapan di luar nanti,"ucap Arham segera berlalu.


"Baik-baik sama mama kamu ya Ra,"ucap Arham tersenyum sembari mengelus rambut putrinya.Mayra pun mengiyakannya.


"Mas Arham sudah pergi?,"tanya Rakha yang baru saja bergabung kembali di meja makan.


"Udah,baru aja pergi, katanya masih ada urusan,"ucap Arvitha sembari menyendokkan nasi untuk suaminya.


**


"Dadah...,"ucap Arvitha melambaikan tangannya pada kedua anak remajanya saat keduanya sudah masuk kedalam area sekolah.


Setelahnya, Arvitha pun berniat ingin pulang tapi Niar tiba-tiba muncul dari belakangnya.


"Mbak ngantar anak juga?," tanya Arvitha yang diangguki oleh Niar.


"Prasetyo namanya, anaknya Leo sama Ratna tapi sekarang aku mamanya.Ratna sudah meninggal saat melahirkan dia."ucap Niar yang membuat Arvitha manggut-manggut paham.


"Mau sarapan bareng?," lanjut Niar.


"Oh,aku udah sarapan sih mbak,tapi kalau mau ditemani ayok."tentu saja Niar senang mendengarnya.Mereka pun segera pergi ke sebuah khafe.


"Ar, terimakasih banyak ya,kamu baik bangat bisa memaafkan semua kesalahan ku."ucap Niar sembari meraih tangan Arvitha.


"Aku begitu egois memisahkan kamu dari anak kamu dan Mas Arham.Aku benar-benar menyesali semuanya Ar,maaf ya,"lanjut Niar.Arvitha tersenyum.


"Sudahlah mbak,toh semuanya sudah baik-baik saja."jawab Arvitha seadanya.


"Aku boleh gak ziarahi makam papa?," tanya Niar yang membuat Arvitha tertawa.


"Tentu saja boleh lah mbak,mbak ada-ada saja."


"Tapi aku ajak Leo juga ya."


"Boleh mbak."setelahnya,mereka membahas keseharian mereka menjadi seorang ibu rumah tangga.


**


"Hujan."ucap Arvitha sembari tersenyum.Ia pun membuka jendela kamarnya dan menaruh tangannya di bawah air hujan.


"Eh,"kejut Arvitha saat sebuah tangan tiba-tiba mendarat di perutnya.


"Mas ngangetin aja deh."rungut Arvitha mengawaskan tangan suaminya.Namun bukannya melepaskan,Rakha justru semakin mempererat pelukannya.


"Hujan-hujan gini enak di dalam selimut dek."bisik Rakha yang membuat Arvitha merinding mendengarnya.


"Gak ah,"tolak Arvitha segera melepaskan pelukan Rakha darinya.

__ADS_1


"Aku kan udah bilang,aku gak mau punya anak lagi."ucap Arvitha menghindari Rakha.


"Cik... yang mau bikin anak siapa dodol."ucap Rakha sembari menjitak jidat Arvitha.


"Terus?,"tanya Arvitha singkat.


"Enaknya tidur, otaknya ngeres sih.Piktor mulu."ucap Rakha kembali menjitak jidat Arvitha.


"Aw...sakit loh mas,"


"Ututu...maaf ya cayang."ucap Rakha cekikikan kemudian mencium kening Arvitha.Rakha pun memeluk erat tubuh Arvitha.


"Makasih ya kamu sudah memilih aku menjadi imam kamu,meski aku sering lupa kalau aku jahat sama kamu."ucap Rakha kemudian.


"Em mulai deh.Awas ah,aku mau tidur."ucap Arvitha melepaskan pelukan Rakha dan ia pun segera menutup dirinya dengan selimut tebalnya.


"Jendela tutup dulu tuh,"kesal Rakha karena pelukannya dilepaskan.Namun sepertinya Arvitha tak lagi peduli,ia menutup matanya dan berusaha untuk tidur.Rakha pun tersenyum kemudian mencium kening istrinya.


Perlahan ia melangkah,menutup jendela kamarnya.Kemudian ia turun ke kamar putranya Dafha.


"Selamat malam nak,"ucap Rakha sembari mengelus rambut putranya.


Sedangkan Arham kini sedang menatapi turunnya air hujan.


"Arvitha takut banget ada petir sama kayak Mayra hem, sekarang kalian ada pawangnya.Selamat malam Ar...,"ucap lirih Arham.


**


Pagi-pagi sekali, Arvitha kini sudah bersiap ingin pergi ke pasar.Ia segera mengeluarkan mobilnya dari garasi.Dengan semangatnya,ia pun mengendarai mobilnya.


Dring dring


Atensinya seketika teralih saat ponselnya berdering.Ia pun segera meraih ponselnya yang ia letakkan di bangku sampingnya di dalam tasnya.Sembari meraih tasnya ia tak menyadari sebuah bencana akan menghampirinya.


"Aaa....,"


**


"Dengan keluarga Nyonya Arvitha?,"ucap Dokter Hadi menghampiri keluarga Arvitha.


"Ya,istri saya gimana dok?"ucap Rakha panik langsung menghampiri Dokter Hadi.


"Kami butuh donor darah dok, kebetulan stok darah di rumah sakit kosong."ucap Dokter Hadi.Rakha nampak cemas begitu juga dengan Mayra yang sedari tadi menangis di pelukan papanya.


"Darah saya saja dok, golongan darah kami sama,"ucap Niar yang baru saja muncul bersama Shafa.


"Tapi...,"


"Aku kakaknya,"ucap Niar membuang perasaan ragu Dokter Hadi.Akhirnya mereka pun masuk kedalam ruangan Arvitha dan segera melakukan transfusi darah.


"Mama gak kenapa-kenapa kan Tan?,"tanya Mayra saat Niar baru saja keluar dari ruangan Arvitha.


"Sabar ya sayang,mama kamu lagi berjuang untuk sadar."ucap Niar sembari memeluk Mayra.


**


Keesokan harinya....


"Ar, tolong buka mata kamu kasihan Mayra,Mayra menangis terus melihat kamu kek gini."ucap Arham lirih sembari mengelus punggung tangan Arvitha.Namun Arvitha tetap saja tertidur pulas,entah apa mimpi yang sangat indah bagi Arvitha sampai ia tak mau membuka matanya.Alhasil Arham menyerah dan kini ia ditemani oleh kesedihan.


Begitu keluar dari ruangan Arvitha,Mayra kembali memeluknya erat.Arham terus saja membelai lembut rambut panjang putrinya itu.


"Doakan mama ya nak."ucap Arham.


Bersambung


Tinggalkan jejak kalian ya


Love you

__ADS_1


__ADS_2