Menitip Benih Di Rahim Pembantuku

Menitip Benih Di Rahim Pembantuku
Menitip benih di rahim pembantuku bab 27


__ADS_3

Arvitha masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.Ia berjalan menyusuri jalanan raya sampai ia tidak sadar langkahnya sudah membawanya sampai ke rumah mereka.Ia menghela nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia masuk kedalam rumah.


"Harusnya kamu lebih hati-hati lagi sayang...,"ucap Nyonya Erin pada Niar yang seketika membuat Arvitha bersembunyi.Pelan-pelan ia kembali keluar rumah dan tak lama setelahnya Arham memarkirkan mobilnya.


"Stst...sini,"panggil Arvitha pada Arham saat Arham baru saja ingin memasuki rumah.Atas panggilan itu Arham pun segera menghampiri istrinya.


"Kenapa?,kamu ngapain disini?,"tanya Arham.


"Mama mas disini.Aku harus gimana mas?,"


"Kamu yakin mama disini?,"tanya Arham yang segera diangguki oleh Arvitha.


"Ya udah,tunggu disini sebentar ya."ucap Arham yang lagi diangguki oleh Arvitha.Arhsm pun berlalu dan masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam,kesini nak."panggil Nyonya Erin pada Arham putranya, Arham pun segera menghampiri dan segera duduk disampingnya.


"Harusnya kalian lebih hati-hati loh, kasian Niar kamu tinggal sendiri di rumah.Gimana kalau Niar keguguran lagi?,"


"Mama jangan parnoan gitu lah,Niar gak papa kok,lagian ada pembantu juga yang jagain dia iya kan sayang?,"ucap Arham menatap istrinya.


"Benar ma,Niar gak papa kok."


"Udah berapa bulan kandungan kamu?,kita ke dokter buat USG yok...,"bujuk Nyonya Erin mengelus lengan Niar.


"Haha,mama gak perlu repot-repot ma,Niar udah USG kok,"jawab Niar yang membuat Arham menatapnya seakan menanyakan kapan?.


"Mama mau tengok hasilnya boleh,sini mama mau tengok."


"Nah...itu dia masalahnya ma,photonya masih sama dokternya katanya biar sekalian sama photo bulan depan."ucap Niar mencari alasan.


"Yah pintar juga Niar bohong,"senang Arham dalam hati.


"Loh...kok aneh gitu, biasanya juga langsung dikasih."


"Ho'oh,Niar juga bingung ma,"ucap Niar pura-pura ikut bingung.


"Untuk seminggu kedepannya mama akan jagain kamu disini ya,mama khawatir sama kamu dan bayi kamu, gak papa kan?,"


"Ha...gak papa ma,iya gak papa."ucap Arham tersenyum kecut.Yang sama halnya dengan Niar.


"Mampus dah aku,"ucap Niar dalam hatinya.


"Ya udah ma,aku ke kamar dulu mau mandi,"ucap Arham kemudian berdiri dari duduknya dan berlalu.


"Loh...kok kamu masih diam disini,suami kamu mau mandi tuh siapin dong airnya,"ucap Nyonya Erin pada Niar.


"Eh iya ma,"jawab Niar sigap.


**


"Mampus,mampus...aku harus pura-pura hamil selama seminggu ini."kesal Niar sembari duduk dikasurnya.


"Bukan hanya itu,kita juga harus sembunyi kan Arvitha.Sembunyiin dimana coba?,"ucap Arham bingung.

__ADS_1


"Suruh pulang aja dulu sih mas,yang jadi masalah itu sekarang,aku bakalan di perbudak mama kamu."kesal Niar.


"Sabar...sabar,"jawab Arham mengelus kepala istrinya.


"Ar,mama mau nginep disini seminggu kedepannya,maaf ya kamu pulang ke rumah kamu dulu,besok aku temui kamu oke!."tulis Arham saat mengirim pesan singkat untuk Arvitha.


"Oke."singkat Arvitha yang membuat Arham menghela nafasnya panjang.


"Mas,apa gak ada cara lain buat suruh mama pulang?,"tanya Niar masih saja kesal.


"Aku juga bingung Ni,aku gak tahu gimana ngomongnya ke mama,"


"Huh... bakalan jadi budak deh,"rungut Niar kesal.


"Perbanyak sabar aja ya Ni,biar gimana pun yang mama bilang itu gak sepenuhnya salah loh..."ucap Arham sembari mengambil handuknya.


"Apa pun yang dibilang mama,cukup iya-iyain aja udah."lanjut Arham.


"Hemk,"singkat Niar kesal.


**


"Kamu udah tidur?,"tulis Arham saat mengechat Arvitha.


Arvitha yang membacanya tersenyum tapi seketika senyumnya hilang saat ia sadar Arham adalah suami orang.


"Jangan bodoh Arvitha,kamu hanya rahim sewaan saja,"ucapnya merutuki dirinya sendiri.Alhasil ia tidak membalas chat dari Arham.


"Mas,untuk apa aku disini kalau pikiran kamu hanya ke Arvitha?,"tanya Niar kesal sembari mengambil ponsel milik Arham dan meletakkannya di atas nakas.


"Aku kenapa?,kamu yang kenapa mas,istri kamu itu aku,bukan Arvitha.Tega kamu membagi cinta mas,"ucap Niar yang seketika membuat ia meneteskan air mata.


Tok tok...


"Arham...Niar...,"


"Iya ma!,hapus air mata kamu Ni,"ucap Arham sebelum ia pergi membuka pintu.


"Kalian berantem ya,mama sampe dengar ke bawah loh."


"Enggak kok ma, siapa yang berantem,kita baik-baik saja kok.Mama tenang aja,mama istirahat aja yok...,"ucap Arham tersenyum dan segera membawa mamanya turun.


"Arham...kamu tu paling gak bisa bohong sama mama,sebenarnya ada apa antara kamu dan Niar?,"tanya Nyonya Erin saat Arham ingin keluar dari kamar mamanya.


"Kita baik-baik saja kok ma,"singkat Arham kemudian tersenyum menatap mamanya.


"Mama gak percaya,kamu pasti sembunyiin sesuatu dari mama kan?,atau kamu udah tahu soal bayi kamu yang keguguran dulu."


"Maksud mama apa sih ma,Niar kan gak sengaja lagian itu salah Arham yang gak bisa jagain Niar ma,"jawab Arham.


"Faktanya...."


"Mas..."


"Tuh,Niar manggil,ya udah Arham tidur dulu ya ma,mama jangan mikirin yang aneh-aneh tentang Niar."

__ADS_1


"Tapi Ham...,"sela Nyonya Erin yang tak dipedulikan lagi oleh Arham.


**


"Bagaimana bisa aku mencintaimu mas,sedang kamu adalah suami orang yang darahnya mengalir dengan darahku?,"lirih Arvitha memandangi photo Arham di layar ponselnya.


"Ya Allah... kenapa jadi gini sih?,kenapa takdir mempermainkan ku seperti ini?."tak terasa bulir air matanya mengalir di pipinya.


"Bagaimana aku akan mengatakan ini pada Mas Arham?,"tanyanya lagi bermonolog sendiri.


**


Paginya,Arham segera berangkat ke kantor.Sedang Niar kini tinggal bersama mertuanya.


"Hati-hati,itu berat,pembantu kamu emang kemana sampai pekerjaan rumah kamu yang kerjakan?,"rungut Nyonya Erin kesal saat Niar mengangkat seember air buat menyiram tanaman.


"Dia lagi pulang kampung ma,"singkat Niar.Alhasil Nyonya Erin mengerjakan semua pekerjaan rumah.


"Aku curiga kalau Niar gak hamil benaran,"bathin Nyonya Erin saat melihat Niar asyik makan makanan pedas.Sedang Niar yang tak merasa diperhatikan terus saja melahap jajanan pedas miliknya.


Mengingat ia pernah dibohongi oleh Niar, membuatnya curiga kalau kali ini Niar juga sedang membohonginya.


"Niar...lagi hamil gak boleh makan yang pedas pedas,"ucap Nyonya Erin menghentikan Niar seketika.


"Hehe,iya ma,cuma dikit kok,"jawab Niar cengengesan sedang dalam hatinya ia sedang merutuki dirinya sendiri.


"Mampus, hampir aja ketahuan."bathin Niar.


**


Tintin...


Arvitha semakin mempercepat langkahnya saat ia tahu Arham lah yang mengklaksonnya.Melihat itu Arham pun segera turun dari mobilnya dan mengejar langkah Arvitha.


"Kamu kenapa?,"tanya Arham saat ia sudah menarik tangan Arvitha.


"Aku gak perlu jelaskan apapun mas, tolong jauhi aku!,"ucap Arvitha tanpa menoleh ke belakang.


"Cih,kamu bercanda kan?,"jawab Arham tertawa setelah melepaskan tangan Arvitha.


"Pernikahan kita,pernikahan terlarang mas," ucap Arvitha yang membuat Arham terdiam.


"Maksud kamu?,berikan aku satu alasan kenapa kamu ngomong gitu?,"


"Aku bisa memberi mu seribu alasan,aku hanya akan melahirkan bayi ini dan kita akan bebas."


"Berikan aku satu alasan!,"ucap Arham menatap tajam Arvitha.


"Mbak Niar adalah kakak ku!,"


"Hah?,"


Bersambung


Tinggalkan jejak kalian ya...

__ADS_1


Love you...


__ADS_2