Menitip Benih Di Rahim Pembantuku

Menitip Benih Di Rahim Pembantuku
Menitip benih di rahim pembantuku bab 35


__ADS_3

🌺 Happy Reading 🌺


Suasana kembali adem seperti sedia kala.Arvitha kembali melakukan rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.Ia juga semakin memperhatikan Dafha putranya.Sedang,untuk perhatiannya ke putrinya Mayra ia utarakan setiap kali bertemu.Rakha juga tak melarang Arvitha untuk bertemu dengan Mayra kapan saja ia mau.


"Mas,apa aku boleh bawa Mayra?,"tanya Arvitha menatap Arham dengan hati-hati.


"Apa maksud mu,kamu ingin memisahkan aku dengan putriku?,"jawab ketus Arham tanpa menoleh sedikitpun.


"Aku minta maaf mas,"


"Aku sudah mendengar itu ribuan kali,"ucap Arham masih dengan tatapan kosong ke depannya.


"Jika begitu, tolong maafkan aku,aku gak bisa meninggalkan Dafha."ucap Arvitha mencoba menjelaskan.


"Jika kamu bisa meninggalkan Mayra,kenapa kamu gak bisa meninggalkan Dafha hum?,"tanya Arham menatap Arvitha sesaat.


"Saat itu, dengan entengnya kamu meninggalkan Mayra yang masih bayi,bahkan kamu masih bisa bercanda di atas tangisan ku dan bayi itu,apakah dengan maaf, semuanya akan bisa membaik?," tanya Arham kembali menatap Arvitha sesaat.Arvitha menunjukkan kepalanya ia bahkan sudah menangis sembari memilin jarinya.


Bukannya tak tahu,Arham begitu mencintainya,tapi ia sendiri bingung harus berbuat apa sedang dirinya kini telah menjadi istri orang lain dan bukan hanya itu,tapi ia juga seorang ibu dari anak lain.


"Maaf...,"ucap Arvitha lirih.


"Kembali pada Rakha suami kamu,dan jangan pernah muncul lagi dihadapan ku!,"ucap Arham kembali menatap Arvitha sekilas, kemudian ia pun berdiri dan berjalan menjauhi Arvitha.


"Kami baik-baik saja tanpa kamu,"ucap Arham sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan Arvitha sendiri.


Sepeninggal Arham, Arvitha menangis sejadi-jadinya,ia merasa bersalah pada Arham dan Mayra tapi jujur saja itu bukan kemauannya sendiri.Ia menyesali semuanya tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur semuanya sudah terjadi di luar kendalinya.


**


"Morning...,"sambut Rakha penuh semangat pada Arvitha yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Morning."singkat Arvitha.Tahu Arvitha masih memikirkan Arham,Rakha segera mencium kening istrinya.


"Kan kamu sendiri yang bilang, cinta itu tak selamanya harus memiliki,"


"Udahlah mas,aku gak mau ribut sama kamu,"potong Arvitha saat ucapan Rakha belum kelar.Arvitha pun segera bangkit dari tempat tidurnya dan melihat jam dinding.


"Ya ampun,aku udah telat."ucap Arvitha panik, kemudian dengan cepatnya ia buru-buru menyiapkan baju untuk Dafha.


"Sayang,tenang dulu,tenang,hari ini Dafha gak sekolah kok,"ucap Rakha yang membuat Arvitha menghela nafas lega.


"Ayok duduk dulu,"ucap Rakha sembari meraih tangan Arvitha.Mereka pun duduk di pinggiran kasur.


"Mas,aku boleh minta sesuatu."ucap Arvitha menatap Rakha sekilas kemudian ia menundukkan kepalanya sembari memilin jarinya.


"Kenapa harus meminta saat semuanya menjadi milik mu."jawab Rakha seadanya.


"Iya benar,tapi aku gak tahu caranya."singkat Arvitha masih memilin jarinya.


"Aku tahu ini gak pantas,tapi...,"ucap Arvitha memotong ucapannya sembari menatap Rakha.


"Aku gak tahu harus minta tolong sama siapa."lanjutnya.


"Emangnya apa yang kamu inginkan?," tanya Rakha kemudian membelai rambut panjang Arvitha.


"Aku ingin...aku ingin Mayra mas,tapi tanpa menyakiti perasaan Mas Arham."ucap Arvitha yang seketika membuat Rakha melepaskan belaiannya.Ia pun berdiri membelakangi Arvitha.


"Mas,aku minta maaf,tapi kan mas tahu sendiri aku gak berniat meninggalkan mereka waktu itu,selain hanya karena perjanjian sama Mbak Niar."lanjut Arvitha meraih tangan Rakha.Rakha pun menoleh padanya dan berjongkok dihadapan Arvitha,ia meraih kedua tangan Arvitha dan menciumnya.


"Apa pun,asal kamu senang,semua akan kulakukan,aku akan ngomong sama Arham tentang ini."ucap Rakha kembali mencium kening istrinya.Arvitha tersenyum senang Rakha mau membantunya.


**


Sesuai yang sudah direncanakan,Rakha pun menemui Arham di sebuah khafe.


"Soal kemaren aku minta maaf,"ucap Rakha memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Katakan apa mau mu?,"jelas Arham meraih kopinya.


"Ijinkan Arvitha ketemu Mayra."ucap Rakha tanpa berbasa-basi.


"Cih...begitu entengnya kalian ngomong gitu,kami baik-baik saja tanpa dia,Mayra putriku dan gak akan kuberikan pada siapapun.Termasuk Arvitha."ucap Arham dengan santainya,ia bahkan menyeruput kopinya setelah mengucapkan kata-kata itu.


"Tapi Arvitha ibunya!,mas gak bisa dong seegois ini!,"ucap Rakha tersulut emosi.


"Bukannya dia yang gak menginginkan bayinya,"santai Arham yang kembali membuat Rakha emosi.Rakha mengatur nafasnya dengan membuangnya pelan-pelan.


"Kenapa sih?,harusnya kamu tahu posisi Arvitha saat itu mas,dia gak punya pilihan lain,dilain kamu suami kakaknya, kalian juga punya perjanjian kan?,"ucap Rakha kembali dengan lembut.Arham menatapnya seakan sedang meminta penjelasan.


"Jangan bilang mas belum tahu kalau Arvitha dan Niar sodaraan,"ucap Rakha yang membuat Arham menggelengkan kepalanya.


"Mereka sodara seayah beda ibu."lanjut Rakha yang semakin membuat Arham bingung.


"Niar sengaja menjebak Arvitha dengan sebuah perjanjian di saat Arvitha butuh biaya untuk pengobatan papanya,sedang Niar sendiri sangat membenci papanya karena papanya menikah lagi dengan adik iparnya."jelas Rakha yang semakin membuat Arham bingung bukan main.


"Mengapa mereka berdua gak pernah mengungkit hal ini?,"tanya Arham menatap nanar pada Rakha.


"Hah...selama ini mas kemana aja sih,7 tahun mas nikah sama Niar,tapi mas gak tahu latar belakangnya.Apalagi lah Arvitha yang baru saja mas kenal."ucap Rakha yang membuat Arham kesal.


"Intinya,Arvitha baru tahu soal itu saat ia sudah mengandung anak kamu,kalau Niar... jangan tanya lagi.Dari awal ia tahu semuanya ia melampiaskan kebencian nya pada Arvitha.Arvitha yang gak tahu apa-apa,tulus hanya untuk membantu kalian punya keturunan.Arvitha disini korban, tolong mas pertimbangan lagi."ucap Rakha sembari meraih ponselnya dari atas meja kemudian ia pun berdiri.


"Ijinkan lah Arvitha menemui Mayra kapan saja ia mau,"ucap Rakha kemudian menghela nafasnya panjang.


"Aku masih ada urusan di rumah sakit, tolong mas pikirkan baik-baik ya."ucap Rakha kemudian pergi meninggalkan Arham.


**


"Berikan aku penjelasan atas semuanya!,"ucap Arham yang membuat Niar bingung.


"Maksudnya?,"bingung Niar menatap Arham.


"Kamu sengaja jebak Arvitha dalam perjanjian?,sewa rahim?,"tanya Arham menatap nanar pada Niar.


"Jadi, Arvitha kamu jadikan sebagai korbannya."potong Arham kesal.


"Aku minta maaf mas,"


"Harusnya kamu minta maaf sama Arvitha,"ketus Arham kesal.


"Arvitha sudah tahu hal ini kok mas,dan dia sudah memaafkan aku.Dan sekarang aku juga berharap mas memaafkan aku."ucap Niar memohon dengan tulus.


"Aku gak punya hak atas kamu,aku kesal dan aku kecewa sama kamu tapi...udahlah,toh kamu bukan siapa-siapa aku lagi."ucap Arham kemudian tersenyum kecut.


"Maaf mas."singkat Nisr yang diangguki oleh Arham.


"Mama sudah selesai?,di tunggu papa itu?,"tanya Pras saat baru saja menghampiri keduanya.


"Iya sayang,udah kok."ucap Niar sembari berdiri dari duduknya.


"Intinya,mas jangan memisahkan Arvitha dan Mayra lagi."pinta Niar sebelum pergi.


"Hem,sudah sana,Leo nungguin kamu,"ucap Arham kemudian tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh Niar.


Jika Arham bisa begitu baik pada Niar yang notabene mantan istrinya,kenapa tidak dengan Arvitha????.


Hayo kenapa???.


Karena Arham begitu mencintai Arvitha,ia benar-benar kecewa pada Arvitha dengan keputusan nya meninggalkannya dan Baby Mayra waktu itu.Tapi itu semua saat dirinya tidak tahu-menahu tentang asbab-musabab hal itu terjadi.


Apakah selanjutnya Arham akan membiarkan Arvitha membawa putrinya untuk tinggal bersama?.


Yuk baca aja selanjutnya.


**

__ADS_1


Tok tok


Mendengar suara ketokan pintu,Dafha pun segera membukakan pintu untuk tamunya.


Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Arham dan Mayra berada di depannya.


"Arvitha ada?,"tanya Arham.


Dafha pun mengangguk tanda iya.Kemudian ia mempersilahkan keduanya masuk kedalam rumah.


"Bentar ya om,Dafha panggil mami dulu."ucap Dafha sambil berlalu.Ia pun segera menghampiri mamanya ke kamar.


"Mami,aku ada kejutan buat mami."ucap Dafha sumringah.


"Apaan?, jangan aneh-aneh loh,"ucap Arvitha menatap Rakha seakan meminta penjelasan,namun Rakha mengendikkan bahunya pertanda tidak tahu apa-apa.


"Mami tutup mata dulu ya,"ucap Dafha kemudian mengambil pita dan menutup mata mamanya.


"Pelan-pelan...,"ucap Rakha saat mereka menuruni anak tangga.


"Kejutannya...?,"ucap Rakha sembari menunjuk ke arah Arham dan Mayra sembari menatap Dafha.Dafha pun mengangguk tanda iya.


"Happy birthday to you... happy birthday to you..."ucap Mayra dan Arham bersamaan.


Mendengar suara Mayra dan Arham, Arvitha pun segera melepaskan pita yang menutupi matanya.


"Mayra...,"ucap Arvitha segera memeluk putrinya erat-erat.


"Hehe...mama jangan nangis gitu dong,Mayra kan sudah sama mama."ucap Mayra tersenyum haru sembari menghapus air mata mamanya.


"Em, sayang maa...,"


"Udahlah ma,"potong Mayra segera sebelum Arvitha menyelesaikan ucapannya.Mayra kembali memeluk erat mamanya.


"Selamat bahagia ya mama ku sayang."ucap Mayra yang dibalas senyuman manis oleh Arvitha.


"Yah...gagal deh."ucap Dafha seketika yang membuat mereka semua menatap kearahnya.


"Apanya yang gagal?,"heran Arvitha.


"Gara-gara kak Mayra,ide bakal kasih kejutan ultah buat Mami jadi gagal total."rungut Dafha yang dibalas senyuman oleh Arvitha.


"Gak papa,kan masih ada lain kali."ucap Arvitha mengelus rambut putranya.


"Tadi sepertinya Daddy salah dengar atau gimana ya,Dafha panggil Mayra kakak?,"tanya Rakha menatap putranya.


"Kan memang begitu."singkat Dafha.


"Cie... yang sudah terima keadaan."goda Rakha sembari menyenggol lengan putranya.


"Apa sih Dad,"kesal Dafha mengerucutkan bibirnya.


"Tapi Daddy bangga sama kamu,hem maafin Daddy ya.Maaf ya Ra...,"ucap Rakha menatap kedua anak itu bergantian.


"Kenapa dengan Mayra?,"tanya Arham membuka suara.


"Hadeh...Mas Arham yang selalu ketinggalan berita.Mas pasti gak tahu Dafha sama Mayra pernah pacaran."jujur Rakha.


"What?,kecil-kecil pacaran kamu ya."ucap Arham menatap tajam pada putrinya.


Tak beda jauh dengan Arvitha yang kini menatap nanar pada putranya.


"Maaf."singkat Dafha sembari membentuk jarinya dengan huruf"v".


Bersambung


Tinggalkan jejak kalian ya

__ADS_1


Love you


__ADS_2