Menitip Benih Di Rahim Pembantuku

Menitip Benih Di Rahim Pembantuku
Bab.24 Menitip Benih di rahim pembantuku


__ADS_3

🕊Happy Reading 🕊


Sesuai keputusan bersama,akhirnya mereka pun bersiap siap untuk pindah ke kampung halaman Niar,seperti yang terlihat mereka sedang berkemas barang bawaan mereka.


" Ini sudah semua?,yakin gak ada yang ketinggalan?," tanya Arham sembari menutup bagasi mobilnya.


" Barang barangmu udah Ar?," lanjutnya bertanya saat menghampiri Arvitha.


" Udah kayaknya mas,Mbak Niar benaran nyetir sendiri?," ucap Arvitha masih menoleh kebelakang menatap Niar.


" Ya iya,kan dia bawa mobilnya juga Ar," jawab Arham seadanya. Akhirnya mereka pun melakukan perjalanan itu,perjalanan yang cukup membuat Arvitha bosan dan capek karena hampir seharian mereka hanya didalam mobil saja.


" Sabar ya,bentar lahi sampe," ucap Arham sembari meraih tangan sang istri dan menggemgamnya sedang tangan satunya masih menyetir.Arvitha pun tersenyum sebagai jawaban nya.


Setiba di kampung,di rumah Niar,Arham mulai mengangkati koper koper mereka.


" Jangan Ar,kamu lagi hamil, biar aja Mas Arham yang bawa," ucap Niar saat Arvitha mengangkat kopernya,ingin membantu Arham.Arvitha pun tersenyum lalu kemudian Niar membaeanya masuk kedalam rumah.


" Ah akhirnya selesai juga," ucap Arham sembari merebahkan tubuhnya di sofa.Arvitha pun menghampirinya dengan segelas air ditangannya.


" Mau minum mas?," tanya Arvitha dan segera diangguki oleh Arham.Arham pun segera bangkit dari tidurnya dan ia meraih air minum itu,ia pun segera minum.


" Niar mana?," tanya Arham kemudian,karena tak melihat Niar sejak tadi.


" Mbak Niar lagi sholat magrib mas," jawab Arvitha sembari duduk didepan Arham yang disekat oleh meja,Arham tersenyum senang mendengar ucapan Arvitha.


" Niar memang berbeda," lirihnya yang membuat Arvitha menatapnya.


" Kenapa mas?," tanya Arvitha dan segera dijaeab gelengan kepala dari Arham.


" Kamu kenapa gak sholat?," tanya Arham menatapi Arvitha, tapi Arvitha hanya nyengir nyengir tak jelas sembari menggaruk tengkuknya.


" Hem,ya udah yok,sholat sama mas aja," ucap Arham kemudian,menarik tangan istrinya, mereka pun pergi kekamar untuk sholat berjemaah.


***


Selesai sholat,Arvitha memilih bermanja manja dengan suaminya Arham,ia tidur dipangkuan suaminya sembari tersenyum dan terus mengelus dagu suaminya.


" Ar," ucap Niar sembari membuka pintu kamar Arvitha dan melihat semua kejadian itu yang membuat hatinya sakit dan panas seketika,ia pun pergi berlari dari sana.


Sedang Arham langsung berdiri dari tidurnya dan segera mengejar Niar.


" Astaga...Arvitha,lagi kamu membuat Mbak Niar cemburu," ucap Arvitha merutuki dirinya sendiri.


" Niar,aku minta maaf,aku tahu kamu cemburu.Maaf," ucap Arham sembari menuruni anak tangga.


Niar nampak menghapus air matanya,namun air mata itu terus saja keluar membasahi pipinya." Aku yang bodoh mas, aku yang salah, sudah jelas aku tahu aku gak bisa melihat kamu dengan perempuan lain, tapi aku malah menyuruhmu menikahi gadis lain,sekarang apapun yang aku lihat antara kamu dan Arvitha itu tidak lain karena kebodohanku," ucap Niar kembali menghapus jejak bulir air matanya, dan kini ia berusaha menatap Arham dengan berusaha tegar.


" Aku hanya meminta sama mas,agar mas membuang perasaan itu setelah bayi kita lahir mas," ucap Niar, kemudian ia pun meraih kedua tangan Arham dan mencium telapak tangan kanan Arham.


Air matanya kembali luruh saat itu membuat Arham iba padanya." Mas menikahi ku karena cinta kan,aku mohon ya mas,mas lupakan Arvitha setelah bayi itu lahir, ingat mas,kita hanya menitip bayi kita dirahimnya, bukan berarti mas harus menjadi suaminya seutuhnya kan?," tanya Niar dan diangguki oleh Arham.


" Aku tahu,mas cinta sama dia,tapi itu hanya sesaat mas,nanti mas akan kembali padaku sepenuhnya hanya milikku iya kan?," ucap Niar kembali seraya menaruh tangan Arham dipipinya. Arham yang peka dan mengerti keadaan Niar sekarang segera memeluk istrinya.


" Maafin aku Ni," hanya itu,hanya itu saja yang mampu Arham ucapkan karena ia tidak yakin akan ucapan Niar sial melupakan Arvitha yang ia tahu ia sudah benar benar mencintai Arvitha sebagaimana ia menvintai Niar, entahlah mengapa ia bisa seegois itu,tapi yang pasti,hatinya benar benar dudah terbagi.


Setelah menenangkan Niar,Arham pun membawanya masuk kedalam rumah dan segera kekamar Niar." Mau aku ambilin makan malamnya?," tanya Arham dan dijawab gelengan kepala dari Niar.


" Gak usah mas,aku gak papa kok,aku akan terbiasa untuk bertatapan dengan Arvitha kok," ucap Niar seraya merangkul lengan Arham, mereka pun pergi keruang makan yang mana disana sudah ada Arvitha yang menunggu mereka.


" Mbak...,"

__ADS_1


" Gak papa Arvitha hem,makan saja," jawab Niar sebelum ucapan Arvitha terselesaikan,Niar langsung memotongnya dan tersenyum kemudian ia mengambilkan nasi serta lauknya untuk Arvitha. Arvitha hanya bisa diam dan menurut saja karena memang ia masih segan dan merasa bersalah pada Niar.


Dring dring


Atensi mereka tiba tiba saja teralihkan pada nada dering ponsel Arvitha,Arvitha menatap keduanya bergantian sebelum menjaeab panggilan telepon tersebut.Perlahan ia menghentikan acara makannya dan menjawab panggilan telepon.


" Iya,kenapa dok?," tanya Arvitha saat panggilan telepon tersebut tersambung.


" Hah,maksud dokter?," tanya Arvitha kembali kini dengan wajah sedih.


" Baik dok,saya segera kesana," ucap Arvitha kemudian, tak terasa bulir air matanya kini sudah membasahi pipinya yang membuat Arham dan Niar kebingungan dibuatnya,mereka pun menghentikan acara makan malamnya.


" Ada apa Ar?," tanya Arham membuka suara.


" Papa...papa kritis," ucap Arvitha lirih disela tangisnya.


Malam itu juga,setelah pamit pada Niar, Arham dan Arvitha segera kerumah sakit menemui Pak Fandy yang sedang kritis.


" Papa saya kenapa bisa gini dok?,papa kan udah pernah operasi dok," ucap Arvitha lirih, tak terima dengan kenyataan.


" Iya benar,namun terjadi infeksi pada bekas operasi Pak Fandy yang mengakibatkan kanker otak yang beliau idap kembali menyebar luas pada kepala dan paru paru beliau sehingga membuat beliau kritis sekarang," ucap Dikter Irsyan yang menangani Pak Fandy.


" Apa masih ada kemungkinnan Pak Fandy akan sembuh Ir?," tanya Arham.


" Hem,kita berdoa saja ya," jawab Irsyan singkat sembari tersenyum dan menepuk lengan Arham.


" Kita gak tahu keajaiban dia kan," lanjutnya,dan kemudian ia pun pergi melihat padiennya yang lain.


" Pa...," lirih Arvitha menatapi wajah sang ayah dari jendela kaca ruangan rawat itu.


" Pa,harusnya Ar percaya, apalagi Mas Rakha yang sudah menceritakan nya tapi apa,Arvitha belum percaya pa, Ar butuh kejelasan dari papa,papa plis harus bangkit, papa harus sadar,dan jelaskan semuanya pada Arvitha pa,papa selingkuh itu gak benar kan pa, jawab pa, jawab," ucap Arvitha lirih saat ia menjenguk ayah nya yang sudah terbaring lemah tak berdaya.


" Cinta pertama seirang gadis memang terletak pada ayahnya nak, mama tahu kamu sedih tahu kebenarannya tapi itu sudah lebih baik Ar,daripada papa kamu gak pernah cerita apapun ke kamu,"


" Mama...," ucap Arvitha lirih seraya menoleh kebelakangnya.


" Mama juga tahu,kamu melakukannya karena papa kamu kan?," tanya Shafa dan diangguki oleh Arvitha, Kemudian Shafa pun memeluk Arvitha.


" Mas Rakha sudah cerita ma,Mas Rakha bilang papa selingkuh dan papa punya anak lain,selain Arvitha,nakanya mama marah dan mama meminta cerai kan?,tapi bodohnya Ar gak percaya srmua itu, Ar butuh penjelasan dari papa tapi papa gak pernah cerita apapun ke Ar ma, maafin Ar ya ma," ucap Arvitha dan itu semua tidak lepas dari pendengaran Arham yang masih enggan menggabungkan dirinya karena sudah didagului oleh Shafa.


" Apa mungkin karena itu kamu menghindari aku Ar?," tanya Arham membathin.


" Dan,dan, bodohnya Arvitha, Arvitha malah menjadi orang ketiga dirumah tangga orang lain ma, sedang Ar sangat membenci perusak rumah tangga mama dan papa," ucap Arvitha lirih kini sudah menangis. Shafa pun meraih kedua pipinya.


" Itu bukan salah kamu nak," ucap Shafa dan memeluk putrinya.


" Tapi ma,Arvitha sudah jadi pelakor,Arvitha merusak rumah tangga mereka,"


" Bukannya kamu akan terbebas setelah bayi kamu lahir?,Ar gak baik menjadi orang ketiga itu benar,tapi itu semua lakukan demi papa kamu kan,nanti setelah bayi itu lahir maka semua akan kembali normal bukan?," tanya Shafa dan diangguki oleh Arvitha.


" Benar,pernikahan Ar sama Mas Arham hanya sementara," ucap Arvitha lirih seraya menghapus jejak bulir air matanya.


***


" Beb,gua udah serlock lokasi gua yah," ucap Arvitha saat ia vidio call dengan Aleea.


" Sip,gua udah dibandara kok nih,tinggal ke kampung alamat lu," jawab Aleea seadanya.


" Teman kamu jadi datang?," tanya Niar saat mereka tengah bersantai diruang tengah.


" Eem, udah dibandara dia Mbak," jawab Arvitha sekenanya.

__ADS_1


" Tapi Ar, kamu sudah bilang kan, kalau bayi yang kamu kandung itu hanya titipan?," tanya Niar yang membuat Arvitha terdiam.


" Mbak tenang aja,kami tidak ingin memeliki dan menghakkan yang bukan punya kami kok Mbak,aku sadar kok bayi ini hanya benih titipan saja,dan jelas dia bukan milikku Mbak," jawab Arvitha serius kemudian ia pun tersenyum.


" Kalian bahas apa?," tanya Arham yang baru saja muncul.


" Enggak,enggak papa," jawab keduanya yang hampir bersamaan.


**


" Em bumil kangen...," ucap Aleea manja saat berpelukan dengan bestienya.Setelah pelukan itu berakhir, Aleea pun berjongkok didepan Arvitha dan mencium perut Arvitha.


" Dedek,ini aunty...Aunty Aleea namanya oke," ucap Aleea yang membuat Arvitha tertawa geli.Sedangkan Arham dan Niar hanya ikut tertawa dibuatnya.


Seperti yang sudah ia ucapkan sebelumnya,ia akan menjaga dan merawat Arvitha 24 jam,sunghuh bertolak belakang dari harapan Arvitha,Aleea sangat sangat menjaganya sampai ia tidak bisa melakukan beberapa hal yang ia sukai.


" No,no,no,," ucap Aleea melarang Arvitha memakan rujak mangga muda yang sudah capek capek ia siapkan.


" Aleea plislah,aku lagi ngidam jangan dilarang mulu kemapa sih?," ucap Arvitha kesal seraya melipat kedua tangannya di atas perutnya.


" Bumil cantik,kalau mau makan asem makan nasi dulu yah," ucap Aleea nan manis membujuk Arvitha,yang semakin membuat Arvitha jengah.


Akhirnya Aleea pun menyuapi Arvitha makan nasi dan lauknya,setelahnya Arvitha ingin segera memakan rujaknya namun kembali lagi Aleea melarangnya dan memberikan Arvitha vitamin dan susu ibu hamil.Arvitha menghela nafasnya panjang kemudian membuangnya dalam dalam demi menghilangkan kekesalannya pada bestienya.


" Apa lagi Aleea?," tanya Arvitha kesal saat Aleea masih juga melarangnya memakan rujaknya.


" Udahlah Aleea kasihan,Arvitha udah mau nangis tuh," ucap Arham membela Arvitha.


" Tapi Mas, Arvitha gak boleh makan asem banyak banyak," ucap Aleea.


" Tinggal dikurangi porsinya aja kan?," jawab Arham seadanya,kemudian ia duduk disamping Arvitha dan menyuapi Arvitha dengan buah asem itu.


" Mble," ledek Arvitha tersenyum senang saat Arham membela nya, Aleea pun menghela nafasnya kesal dan kemudian pergi meninggalkan Arham dan Arvitha disana.


" Makasih ya mas,mas udah nyelamatin aku dari nek lampir," ucap Arvitha yang membuat Arham tertawa dan mengusek pucuk kepala sang istri gemas.


" Emang begitu tersiksa ya,kalau gak makan rujak sehari aja?," tanya Arham yang diangguki oleh Arvitha dan lagi Arham tertawa dibuatnya.


" Aku sudah makin gendut kan mas?," tanya Arvitha masih melahap rujaknya.


" Namanya juga lagi hamil Ar," jawab Arham sekenanya.


" Habis lahiran, Arvitha masih bisa langsing kek dulu lagi gak sih mas?," tanya Arvitha lagi.


" Em,mas gak tahu juga sayang,"


" Hah?," tanya Arvitha takut takut ia salah dengar saat Arham memanggilnya dengan sebutan sayang.


" Kenapa?gak papa kan?," tanya Arham sembari tersenyum dan merapihkan anak rambut Arvitha.


" Sebaiknya jangan deh mas,Arvitha takut Mbak Niar...,"


Cup


Arham mengecup kening Arvitha sekilas, menghentikan ucapannya.


" Mas hentikan!,jangan gini,kasihan Mbak Niar kalau sempat lihat," ucap Arvitha mendorong tubuh Arham agar menjauh darinya,ia juga segera berdiri dan ingin segera pergi ke kamarnya.


" Kenapa kamu menghindariku Arvitha?,"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2