Menitip Benih Di Rahim Pembantuku

Menitip Benih Di Rahim Pembantuku
Bab.18 Menitip Benih di rahim pembantuku


__ADS_3

...🕊Happy Reading🕊...


Entah apa yang sedang Arvitha pikirkan saat ini, tiba- tiba saja ia ingin menyatukan Arham dan Niar, Dengan ide konyolnya akhirnya, ia mengundang Arham dan Niar untuk Dinner nanti malam di tempat yang sama.Bahkan Arvitha juga sudah mempersiapkan hadiah untuk sepasang suami istri itu.


" Mbak, nih Mas Arham memberikannya untuk Mbak dan Mas Arham bilang ingin mgedate sama Mbak nanti malam." ucap Arvitha seraya memberikan sebuah kotak, tentu saja Niar mengernyit bingung pasalnya, kenapa juga harus pakai perantara dari Arvitha.Niar pun membuka kotak itu dan ternyata isinya sebuah kalung yang indah.


" Mau Ar bantuin?," tanya Arvitha.


" Boleh deh," ucap Niar semang, Arvitha pun membantu Niar memasangkan kalungnya.


" Bilang ke Mas Arham, makasih untuk hadiahnya dan aku bersedia ngedate sama dia," ucap Niar yang segera diangguki riang oleh Arvitha.


Arvitha pun segera menemui Arham, sama dengan sebelumnya, ia juga memberikan sebuah kotk pada Arham.


" Yakin dari Niar?," tanya Arham mendelik pada Arvitha.


" Yakinlah mas, orang Mbak Niar sendiri yang langsung kasih tadi, sekalian Ar sisuruh bilangkan Mbak Niar ingin ngedate bareng Mas." jawab Arvitha.


Arham pun membuka kotak itu, dan mendapatkan sebuah jam tangan sebagai hadiahnya,Arham tersenyum dan segera memakainya." Dasar Arvitha, ini kan jam yang kemaren aku tunjukin ke kamu, lah malah bilang Niar yang belikan," bhatin Arham merasa lucu dengan Arvitha.


" Ngomong- ngomong,kamu masih punya uang?," tanya Arham meraih wajah Arvitha agar menatapnya.


" Hem, ngapain mas, nanya- nanya soal uang aku?,mau mas tambahin?," ucap Arvitha bertanya.Namun bukannya menjawab, Arham segera tergelak tawa dibuatnya.


" Oke, dimana Niar ingin ketemu?," tanya Arham kemudian dan Arvitha pun segera mengatakan alamatnya.


Arham tiba dilokasi dan langsung menemui Niar disana, Arham nampak tersenyum menghampiri Niar istrinya.


" Sayang, sudah lama nunggu?," tanya Arham sembari memengang bahu Niar yang membuat pemiliknya menoleh.


" Gak kok mas, aku juga baru sampai," ucap Niar kemudian seorang pelayan datang membawa kue pernikahan yang sangat besar, tentu hal itu sangat membuat Niar terharu, berbeda dengan Arham yang terlihat bisa biasa saja.

__ADS_1


" Arvitha ngabisin berapa duit untuk melakukan semua ini?," ucap Arham membathin seraya memengangi dagunya.Pelayan tersebut pun memberikan pisau pada Arham untuk memotong kue besar itu, yang segera membuat Arham berdiri dan memotongkan kue untuk Niar.


" Happy annivarsary sayang." ucap Niar seraya mencium pipi Arham.


" Mampus, ini hari anniv ternyata?," ucap Arham dalam hatinya, namun akhirnya ia menvium balik kening Niar dan membuang semua rasa rasa kekakuannya dan kembali bersikap seperti biasa menutupi kecanggungan yang ada gegara ia lupa hari bahagia mereka.


" Aa," suruh Niar agar Arham membuka mulutnya, dan Niar pun segera menyuapi Arham.


DUARRRR


Petasan tiba- tiba saja mengangetkan keduanya, namun setelahnya, mereka berdua nampak tersenyum senang melihat kembang api yang terus menerus menghujani langit cerah malam itu.


Sementara mereka berdua bersenang ria dan bahagia, Arvitha justru sedih, murung sendirian dirumah." Hem, harusnya, aku ikut bahagia tapi kok hati ini herkata lain sih...?," rungut Arvitha sembari menekuk dagunya duduk termenung di tangga rumah.


Tak lama setelahnya, pelayan datang lagi dengan membawa makanan penutup serta diiringi oleh sebuah band dan bernyanyi.


"


" Maaf ya, cuma begini adanya," ucap Arham mengusek pucuk kepala sang istri.


" Hem, kok gitu?, ini luar biasa tahu mas, selama ini mas jarang bangat rayain anniv kita, tapi malam ini mas romantisss bangat.Aku suka," ucap Niar senang dan dibalas senyuman oleh Arham.


Malam semakin larut, Arham dan Niar pun akhirnya pulang ke rumah." Mas tidur sama aku ya, sehari ini aja," pinta Niar penuh harap yang tak bisa di tolak oleh Arham.Arham hanya mengalah saja karena memang ini hari anniv mereka, dia tidak ingin Niar kecewa terhadapnya.


**


Bolak- balik Arvitha menyampingkan badannya gelisah, ia tidak bisa tidur tanpa Arham disisinya, alhasil Arvitha duduk termenung, memikirkan cara agar ia bisa tidur, Lama ia termenung, ia tak kunjung mendapatkan ide, Akhirnya, ia pun keluar dari kamarnya dan pergi berjalan kearah kamar Niar.


Begitu ia tiba di depan pintu kamar itu,ia tak mendapati suara apapun kecuali hanya ada suara des4h*n saja, Arvitha segera berlalu dari sana dan tak sengaja menyenggol vas bunga yang akhirnya terjatuh dan pecah berantakan.


" Siapa itu?," tanya Arham dari dalam kamar.

__ADS_1


" Abaikan sajalah mas," ucap Niar kembali menuntun Arham ke tempat tidur.


Arvitha kini menangis sesenggukan, ia bahkan lupa jika dirinya lah yang sudah menjadi orang ketiga diantara suami istri itu, ia lupa jika dirinya sudah pantas disebut pelakor bahkan mur4han karena sudah mau menjadi madu orang lain.


Arvitha akhirnya meraup oksigen banyak banyak sembari mengelus perutnya, " Aku hanya rahim sewaan, sadar Arvitha!, sadar! Mas Arham bukan milikmu." ucap Arvitha kini menasehati dirinya sendiri.Hingga pada akhirnya, dia tertidur karena sudah capek menangis.


***


" Makasih Ar, berkat kamu hari anniv akhirnya terjadi, tapi kok kamu bisa tahu?," ucap Arham segera menelungkupkan dirinya di samping Arvitha dan segera memainkan anak rambut Arvitha, Arvitha menepis tangannya dan segera bangkit dari tidurnya.


" Selamat atas annivnya,dan maaf aku pake kartu kredit mas." ucap Arvitha seraya melangkah ke arah jendela.


" What?, astaga Arvitha...aku pikir aku rayain anniv gratis," ucap Arham sembari membalikkan badannya dan menatap langit langit ruangan itu.


" Hem, mana ada yang gratis didunia ini mas," ucap Arvitha tanpa menoleh pada Arham." Lagian mas pelit bangat deh, sama istri sendiri juga," rungut Arvitha kesal seraya mengambil kursi dan duduk menatapi jalanan melihat orang orang yang lalu lalang.


" Bukan pelit Arvitha, cuman irit, soalnya kita gak tahu masa depan kita nanti kan?," ucap Arham tapi tak diindahkan oleh Arvitha.


" Pelit ya tetap aja pelit, kagak ada hubungannya dengan masa depan," kesal Arvitha kemudian pergi keluar dari kamar.


***


Arvitha tersenyum senang mengikuti para petani yang hendak pergi kesawah bahkan ia tak menghiraukan penampilannya yang aneh menurut para penduduk desa.


" Neng, kalau disini mah, harusnya tertutup atuh pakaiannya," ucap seorang ibu menegur Arvitha.


" Hehe iya buk," ucap Arvitha segan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


" Mas, jadi kita ziarahnya?," tanya Niar saat ia sudah membuka pintu kamar Arvitha.


" Ya udah ayok, Arvitha entah kemana itu tadi." jawab Arham sembari bangkit dari tidurnya dan keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2