Menitip Benih Di Rahim Pembantuku

Menitip Benih Di Rahim Pembantuku
Bab.24 Menitip Benih di rahim pembantuku


__ADS_3

🕊Happy Reading 🕊


" Iya ma, Arvitha baik baik aja kok," ucap Arvitha saat panggilan vidio tersebut tersambung.


" Mama kan kangen sama kamu Ar, suami kamu mana?," tanya Shafa pada putrinya itu. Arvitha pun mengarahkan kamera ponselnya kearah Arham.


" Hem,sehat sehat ya nak, mama boleh minta nomor kamu gak, biar mama bisa nelpon kamu nanti,"


"Maaf ma, ini nomor Mas Arham, hp Ar sudah rusak," bohong Arvitha yang dapat tatapan tajam dari Arham, namun tak dipedulikan Arvitha.


" Udah dulu ya ma, Arvitha baik baik aja kok," ucap Arvitha, kemudian menutup panggilan vidio tersebut.


" Arvitha kenapa kamu bohong sama mama kamu?," tanya Arham, namun Arvitha seakan tak peduli ia kembali ke ruang tengah dan memakan rujaknya kembali.


" Aleea,besok besok kalau mama nelpon bilang aja gak tahu apa apa tentang gua ya," pinta Arvitha pada sahabatnya itu.


" Dan, satu lagi jangan ngomong apapun ke Mas Rakha ya,apalagi soal semalem, " lanjutnya yang segera diiyakan oleh Aleea.


Arvitha


Malam itu, Arham tidur bareng Niar dan Arvitha kembali dengan ponselnya, ia lagi dan lagi teleponan dengan Aleea bestienya.


**


" Gua sih pengennya gitu beb," ucap Arvitha saat ia baru saja ikut bergabung di meja makan.Bahkan saat makan pun Arvitha masih saja bercengkrama dengan Aleea yang membuat Arham geram melihatnya. Arham pun meraih ponsel itu dari tangan Arvitha.


" Aleea, udah dulu nelponnya ya, Arvitha nya lagi makan," ucap Arham dan segera menutup panggilan vidio tersebut.


" Mas, apa apaan sih," kesal Arvitha meraoh kembali ponselnya dan segera berlalu dari sana.


"Bisa kita lanjut acara sarapannya?," tanya Niar seraya tersenyum memandangi wajah suaminya.


" Ya,tentu." jawab Arham singkat.


***


Lagi, Arham dibuat geram dengan kelakuan Arvitha yang tak bisa lepas dari ponselnya, bahkan saat ini Arham kembali melihat Arvitha yang sedang vidio call dengan Aleea saat ia sedang melahap rujak jambunya.


Tanpa a i u lagi, Arham segera mengambil ponsel tersebut dan menutup panggilan vidio tersebut." Aku lihat kamu main hp aja, gak baik buat kesehatan kamu Arvitha," omel Arham, Arvitha menatapnya tak percaya.


" Mas tahu apa tentang aku?,hem?, Aleea punya banyak waktu untuk aku mas, 24 jam dia siap mendengar kan aku,dan mas gak bisa lakuin itu untuk aku, dan aku juga gak mau terus menerus menjadi orang ketiga diantara kalian," ucap Arvitha sembari berdiri, ia meraih ponselnya dari tangan Arham dan segera masuk kedalam kamarnya.


***


Waktu terus berputar setiap harinya,usia kandungan Arvitha kini memasuki bulan ke 5.Meski kadang ia menghindari Arham tapi mereka tetaplah suami istri yang sah meski Niar tidak mengetahui akad itu.


Arvitha mengelus perutnya saat ia baru saja selesai membersihkan kamarnya, kemudian ia menatap keluar kamarnya dan melihat mobil Nyonya Erin yang segera mengarah kerumah mereka.

__ADS_1


" Gawat," lirih Arvitha, kemudian ia pun pergi menaiki anak tangga menuju kamar Arham dan Niar, ia mengetok pintu kamar itu.


" Mbak, Mas, gawat Mas, gawat, Nyonya Erin akan datang kesini," ucap Arvitha begitu cepat.


" Maksud kamu mama mau kesini?," tanya Arham dan diangguki oleh Arvitha.


***


" Loh Niar kamu...," tanya Nyonya Erin saat ia sudah disambut oleh Niar di depan pintu, ia heran menatapi Niar dengan perut buncitnya seakan tengah mengandung.


" Iya ma,alhamdulillah...," ucap Niar sembari mengelus perutnya.


" Alhamdulillah, tapi kamu benaran hamil?," tanya Nyonya Erin kembali dan diangguki oleh Niar dan senyum.


" Ya Allah nak, mama sampai gak percaya, duduk duduk, jangan capek capek lagi ya, terus Arham dimana?, masih tidur?," ucap Nyonya Erin sembari menaiki anak tangga.


" Gak kok ma, enggak, Mas Arham sudah pergi kerja," jawab Niar menghentikan pergerakan Nyonya Erin saat hendak membuka pintu kamarnya dan Arham.


Sedangkan Arham kini menarik tangan Arvitha dan membawanya ke kamar mandi.


" Oh iya,gak ada di kamar, mama kurang percaya soalnya, maaf ya," ucap Nyonya Erin sembari menuruni anak tangga dan segera diikuti oleh Niar.


" Mama cuma sebentar,kamu gak papa sendirian?," tanya Nyonya Erin sembari mengelus perut Niar.


" Gak papa ma,lagian ada pembantu kok, dia cuma lagi kepasar sebentar."jawab Niar berbohong.


Nyonya Erin pun akhirnya pamit pada Niar menantunya itu.


***


Arham dan Arvitha pun keluar dari kamar mandi itu.


" Mau sampai kapan kita kek gini?,"tanya Arham sembari merebahkan tubuhnya di ranjangnya.


"Sampai Arvitha lahiranlah mas,kecuali kalau mas mau pindah?,ucap Niar yang segera membuat Arham menolehnya.


" Pindah kemana?,"


" Ke luar negri kali ya mas," usul Niar yang hanya membuat Arham menghela nafas dalam dalam.


" Gimana kalau ke kampungnya Mbak Niar, kan gak ada yang tahu kampung itu kan?," usul Arvitha yang sama membuat Arham menghela nafas jengah.


" Ini lagi satu,di kampung kerja apaan dah?," jawab Arham kesal.


" Kan bisa jadi petani mas," jawab Arvitha seadanya dan segera tertawa yang dibalas tawa juga dari Niar.


" Makanya mas,berani berbuat, harus berani tanggung jawab," ucap Niar seraya menepuk paha Arham yang masih berbaring.

__ADS_1


" Hehe, kek jadi aku yang salah ya?," ucap Arham lirih seraya menggelengkan kepalanya tak percaya.


" Aku sih setuju setuju aja sama pendapat Arvitha mas," ucap Niar kembali.


" Terserah kalian saja lah,aku ngikutin aja," ucap Arham memberi kesimpulan.Kemudian ia duduk dan mencium perut Arvitha, Arvitha dan Niar pun tersenyum menatapinya.


Kemudian Arham kembali berbaring di ranjangnya dan Niar ikut berbaring disampingnya, Arvitha ingin segera pergi tapi dicekal oleh Arham dan membawa Arvitha berbaring disampingnya.


" Aku senang kalian berdua bisa jadi sahabat," ucap Arham sembari meraih tangan Niar dan tangan Arvitha dan menaruhnya di atas dadanya.


Arvitha maupun Niar tersenyum mendengar ucapan Arham tersebut.


" Gak seperti yang kamu lihat mas,kita juga sering diam diaman, iya kan Ar?," ucap Niar sembari tersenyum dan diangguki oleh Arvitha.


" Gak papa,yang penting, kalian berdua tetap disini," ucap Arham sembari tersenyum dan menunjukkan dadanya.


" Haha,mas jadi raja gombal sekarang?," tanya Niar yang segera membuat mereka tertawa bersamaan.


Begitulah mereka menghabiskan hari, Niar sudah bisa berdamai dengan keadaan, dia sudah mampu menerima jika Arvitha juga istri dari Arham suaminya, terlebih Arvitha sudah berjanji akan mengembalikan Arham dan cintanya saat ia sudah melahirkan nanti, makanya Niar terlihat baik baik saja dengan kehadiran Arvitha diantara dia dan suaminya.


***


" Kha,Arvitha susah bangat dibilanginnya," adu Arham saat Arvitha tengah video call dengan Rakha.


" Benar begitu Ar?," tanya Rakha.


" Gak ah, Mas Arham ngada ngada, "ucap Arvitha sembari tersenyum dan ia kembali melahap rujaknya.


" Yang ini satu lagi kelar mas," ucap Niar seraya memberikan ponselnya agar Arham menyalin file tersebut.


" Gini Mas Rakha,Arvitha itu malas makan, tapi hibi bangat makan yang asem,gak dituruti merajuk dia," adu Niar yang membuat Arvitha tersenyum.


"Ish,nih dua orang ganggu aja,gak suami, gak istri,sama aja,sama sama nyebelin," kesal Arvitha,kemudian ia pun segera menutup panggilan vidio tersebut.


" Maksud kita kan baik Ar,dan kamu lebih suka dengarin Mas Rakha,makanya jadi kek ngadu ke dia," ucap Niar sembari tersenyum dan diangguki oleh Arvitha.


" Iya sih Mbak," jawab Arvitha seadanya.Arvitha ingin segera melahap rujaknya kembali namun dicekal oleh Arham dan segera menyuapi Arvitha.


" Makan nasi dulu ya dedek," ucap Arham sembari mengelus perut Arvitha, Arvitha nampak kesal tapi justru lucu bagi Niar.


" Iya dedek, sesekali makan nasi ya, biar besok gak kurus kerempeng kek mama Arvitha," lanjut Niar meledek Arvitha sembari ikut mengelus perut Arvitha.


" Wis si Mbak, meledek gak main main ya," ucap Arvitha yang justru membuat mereka bertiga tertawa.


" Kata Mas Rakha bulan ke 5 udah bisa usg loh, gak niat usg Ar?," tanya Niar seraya mengambil minum untuk Arvitha.


" Nantilah Mbak, biar sekalian nunggu Aleea pulang,"

__ADS_1


" Aleea mau pulang?," tanya Niar yang segera diangguki oleh Arvitha.


" Dia gak sabaran pengen ngerawat aku katanya,pengen jagain keponakannya juga katanya, hem, aku sudah larang dia buat pulang,tapi ya Aleea mah gak bisa dilarang orangnya Mbak, lagian aku tahu kok, pasti Aleea itu juga sama keponya dengan Mas Rakha kalau soal kehamilan ku Mbak,"ucap Arvitha panjang lebar menjelaskan.


__ADS_2