
"VIOLA!" Teriak Kasih, wanita paruh baya itu berlari dengan memegang satu barang kecil di tangan kanannya.
Gadis dengan baju piyama keluar dari kamar miliknya, "ada apa Bu?" Tanya gadis itu sambil terus menggosok-gosokkan mata dengan tangannya.
"Ini punya kamu?"
"Apa sih Bu?"
"INI!" Bentak Kasih.
Viola membelalakkan matanya ketika ia mendapati apa yang sedang di pegang Ibunya, test pack dengan dua garis merah yang sangat jelas terpampang di sana.
"Ini punya kamu?"
"Eh... Vio gak tahu Bu, Ibu dapet dari mana?"
Plakkk
Kasih menampar wajah sebelah kanan anak keduanya itu dengan sangat keras, "KAMU INI MASIH KULIAH, ITUPUN BARU SEMESTER EMPAT VIO! SUDAH HAMIL? MAU JADI APA KAMU?"
Vio memegang pipi kanan yang terasa sangat nyeri, ia hanya menangis melihat Ibunya begitu marah padanya.
"T-tapi Bu! Vio bisa jelasin, Vio bakal gugurin kandungan ini Bu!"
Plakkk
Lagi, kini di wajah sebelah kirinya. Vio semakin mengernyit, tamparan Kasih sangat keras hingga terlihat jelas jiplakan kelima jari Kasih.
"Ibu gak akan pernah anggap kamu sebagai anak Ibu lagi mulai saat ini, PERGI!"
"T-tapi Bu... Vio harus kemana?" Tanya Vio dengan tangisnya.
"Ke tempat yang gak akan pernah Ibu kunjungi, jangan pernah berani menginjakkan kaki di rumah ini lagi, paham?"
Vio berlari menuju kamarnya, dia tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Kesalahan yang ia perbuat bukan murni kesalahan yang ia nikmati awalnya, Vio tidak menyangka kalau hal ini bisa terjadi di umurnya yang ke dua puluh.
Semua ini terjadi saat malam itu, Vio mendatangi acara ulang tahun teman sekelasnya bersama pacarnya, Alex.
"Sayang, kita mampir ke basecamp dulu ya, anak-anak lagi pada kumpul." Bukan bertanya, itu sebuah ajakan yang tidak menginginkan jawaban iya atau tidak.
Vio hanya mengangguk, biasanya juga seperti itu. Dia tidak pernah berfikiran negatif terhadap pacarnya, sedikitpun.
__ADS_1
"Kamu cantik banget malem ini yang," puji Alex, matanya tidak beralih dari pakaian yang Vio kenakan.
Memang, malam ini Vio mengenakan dress merah di atas lutut dengan rambut yang di biarkan terurai.
"Ah bisa aja kamu," ucap Vio menanggapi pujian dari pacarnya dengan sangat senang.
Vio sangat mencintai Alex, selain tampangnya yang keren dan ganteng, Alex juga anak dari konglomerat. Alex terpaut tiga tahun lebih tua dari Vio, tidak heran kalau mendapatkan Alex adalah sebuah hal yang patut di banggakan, sebab banyak yang menginginkan berada di posisi Vio.
Alex membukakan pintu mobilnya untuk Vio, dengan senyum yang merekah gadis itu masuk ke dalam mobil milik pacarnya.
Begitu sampai di basecamp yang menjadi tempat perkumpulan geng pacarnya itu. Vio tidak melihat siapapun di sana, sepi. Tadi kata Alex teman-temannya sedang berkumpul kenapa sekarang sepi? Batin Vio.
"Ayo masuk dulu yang," ajak Alex pada Vio.
"Ko sepi? Tadi katanya rame?"
"Ya pada di dalem kali, ya udah ayo masuk aja dulu."
Vio hanya mengangguk pasrah, dia mengikuti Alex ke dalam basecamp itu. Tidak ada siapa-siapa, hanya ada Alex dan Vio.
"Loh, gak ada siapa-siapa Lex?"
Alex berjalan ke arah Vio yang masih berada di ambang pintu, lelaki itu menarik tubuh Vio agar masuk ke dalam ruangan. Dengan cepat, Alex segera mengunci ruangan itu, membuat Vio sedikit gelisah.
Alex tidak menjawab, dia menghampiri Vio dengan tatapan yang tidak bisa Vio jelaskan. Dengan senyum smirk nya, Alex menyentuh bibir ranum Vio.
"Apa sih Lex?" Tanya Vio sambil mengindari jari-jari Alex.
Lelaki itu tidak gentar, dia menggenggam tangan Vio dengan sangat kuat. Tangan satunya ia gunakan untuk meraba-raba bagian sensitif dari Vio.
"Badanmu bagus."
"Apa sih Lex? Lepasin!"
Vio mencoba melepaskan genggaman tangan Alex, setelah berhasil dia berlari ke arah pintu dan mencoba untuk membukanya namun nihil. Pintu itu terkunci, tidak bisa di buka.
"Tolong... tolong..." teriak Vio sambil menggedor pintu basecamp, Alex hanya tertawa melihat tingkah pacarnya yang ketakutan.
Lelaki itu berjalan mendekat ke arah Vio membuat gadis itu ketakutan setengah mati, pasalnya dia tidak menyangka kalau Alex akan menjebaknya seperti ini.
"Lex... Lex... jangan..."
__ADS_1
"ALEX!"
Alex tidak menghiraukan perkataan Vio, dia mengunci pergerakan Vio dengan mendorongnya ke arah pintu hingga mentok. Vio hanya bisa menangis sejadi-jadinya, dia menyesal kenapa harus mempercayai kata - kata manis dari pacarnya itu.
"Lex gua mohon, jangan Lex, gua ga bisa..."
"Ah Vio, lu terlalu menggoda kalau harus di lewatin."
...----------------...
Jalanan Ibu Kota begitu ramai malam ini, Vio tidak memedulikan suara klakson angkot yang mengajaknya untuk naik. Dia menangis sejadi-jadinya, tidak tahu harus kemana.
"Kenapa sih, kenapa lu harus hadir di diri gua?" ucap Vio pada calon anaknya yang masih berada di dalam kandungan.
Beberapa kali Vio memukuli perutnya sendiri hingga sangat nyeri, tapi itu semua tidak bisa merubah apapun. Dia sudah tidak perawan di usianya yang sangat muda, bahkan saat ini ia akan segera menjadi seorang Ibu.
"Gua gak sanggup, Alex gak mau tanggung jawab dan Ibu ngusir gua dari rumah... gua... gua harus kemana lagi? Gua gak tahu harus kemana lagi selain mati...."
"Iya... gua harus mati..."
Vio berjalan ke tengah jalan yang malam itu cukup ramai. Suara klakson motor dan mobil saling bersautan seiring dengan semakin mendekat Vio ke arah tujuannya, tengah jalan.
Sebuah tangan halus menariknya dari belakang, Vio jatuh tak sadarkan diri.
Disinilah Vio sekarang, di kontrakan 4x4 dengan kasur yang hanya cukup untuk satu orang. Gadis dengan baju kantor itu mengompres Vio dan sesekali memanggil manggil anak usia empat belas tahun itu.
"Vio... bangun..."
Entah dari mana gadis dengan umur berkisar dua puluh lima tahun itu mengetahui nama Vio.
Ruangan cat kuning langsat yang Vio lihat pertama kali saat ia membukakan mata, ia perhatikan sekitar hingga matanya bertemu dengan mata gadis yang menolongnya.
"Kakak?"
"KAKAK!" Vio berhambur ke dalam pelukan sosok yang ia panggil kakak.
Vio baru ingat, ia masih memiliki kakak yang sangat menyayanginya. Selama Vio hidup, hanya kakaknya yang selalu mengerti dan selalu berada di sisi Vio.
"Vio... Vio minta maaf kak, Vio salah... Vio di usir dari rumah... maaf kak..."
Tangis Vio pecah kala sang kakak memeluknya dengan sangat erat, memberi ketenangan yang sangat di butuhkan oleh remaja seperti Vio.
__ADS_1
"Kamu salah Dek, kamu memang salah. Tapi, Kakak satu - satunya orang yang enggak bakal pergi saat Vio ngelakuin salah."