Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 13 Fitnah


__ADS_3

"Eh Bin, sini cepet deh," seru Piona sedikit panik.


Aku segera menghampirinya. "Ada apa?"


"Ini lo kan?"


Aku segera melihat layar ponsel milik Piona, betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa yang ada di foto itu bahkan yang lebih mengejutkan dari foto itu adalah captionnya.


Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini?


"Ini elo kan Vi?" Tanya Piona lagi.


Aku mengangguk, iya benar, itu aku, itu memang aku. Tapi, tapi kenyataannya tidak sama seperti apa yang di tulis di foto itu.


Aku sedang mengantarkan barang milik Kak Brian yang tertinggal di Kakak, bukan, bukan untuk menjual diriku.


Aku bahkan tidak pernah melakukan itu, aku tidak pernah bahkan sekedar niat. Aku tidak akan pernah menjual diriku, pada siapapun, dalam kondisi apapun.


Aku terduduk lemas kala melihat foto itu, tatapan teman sekelas ku bahkan sudah tampak berbeda. Kayanya, mereka sudah melihat foto ini. Ya Tuhan, di mana Viola yang selalu beruntung? Kenapa jadi seperti ini?


"Lo dapet dari mana Pi foto ini? Lo gak percaya kan sama apa yang lo liat?"


Piona menggeleng, dia memegang kedua pundak ku, tatapannya sangat hangat. Aku tidak pernah mendapatkan tatapan ini selain dari Kakak, bahkan saat berteman dengan Sinta dulu dia tidak pernah menatapku setulus ini.


"Gua gak bakal percaya gitu aja Bin, gua yakin ini cuma kerjaan orang iseng yang enggak suka sama lo. Yang jelas, kita harus nyari tahu dia siapa soalnya bahaya kalo sampe ke tangan himpunan atau dosen Bin."


Aku tersenyum, melihat Piona tidak percaya dengan apa yang dia lihat rasanya sudah cukup. Aku merasa seperti punya tenaga lain untuk bangkit, aku akan hadapi kali ini.


"Makasih Pi, makasih lo udah engga percaya sama apa yang lo liat ini, makasih banyak."


Piona memelukku. "Sampai kapanpun, gua temen lo Bin, walaupun kita baru kenal, tapi lo baik, gua yakin itu."


Ini bukan pertemanan atas apa yang di dasari imbalan, tidak. Ini yang sebenarnya di sebut pertemanan, aku menyadari kalau setiap pertemanan adalah ikatan yang tidak bisa di bayar. Semahal apapun itu.

__ADS_1


Piona, Tia, aku harap kalian adalah jawabannya.


......................


Aku berjalan dengan perasan campur aduk, tidak tahu persis apa yang aku aku rasakan. Ku biarkan kakiku melangkah sendiri, menuju rooftop.


Entah, aku sebelumnya tidak ingin kesini dan menanggapi Kakak kelas gila itu. Tapi setelah melihat foto itu aku merasa ada hal yang berkaitan dengan Ica, apalagi saat Ica mengancam ku akan mengganggu Pio dan Tia, tidak akan pernah aku biarkan.


"Gua dateng nih, apa yang bikin lo mau ngobrol sama gua di sini?"


Ku lihat Ica tersenyum puas melihatku datang menemuinya, dia dengan dua kronconya. Aku sendiri, dengan tubuhku.


"Punya nyali gede juga lu kesini, well lo abis jual diri?"


"Jaga ucapan lo, jangan pernah lo anggap gua rendah, lo gak lebih dari pada sampah itu sendiri, Ica!"


Ica menunjukkan senyum smirknya, dia mengambil sebotol air mineral yang sudah di buka lalu berjalan ke arahku.


"Lo, anak baru yang belagu, gua ingetin satu hal sama lo, jangan pernah lo deketin Bima!"


"Bima?" Tanyaku sambil terkekeh.


"Lo lakuin ini cuma karna itu? Lo setakut itu? Lo ngerasa diri lo rendah ya sampe takut gua ambil Bima lo itu?"


Byur....


Sensasi dingin terasa sampai kulitku, Ica sialan. Dia menumpahkan botol minum yang ia pegang sedari tadi padaku.


Cih!


Aku mendecih. "Lo takut kalah saing? Buktiin kalo lo emang lebih oke daripada gua, bukan dengan kaya gini caranya, lo udah gede bukan bocah lagi Kak!" teriakku di hadapannya.


Aku tidak takut sama sekali terhadapnya, melihatnya saja membuatku ingin tertawa.

__ADS_1


"Lo— lo tau ga siapa yang nyebarin foto lo itu? Itu gua! Kalo sampe lo deketin Bima lagi, bukan cuma satu fakultas yang tahu, prodi pun bakal gua kasih tahu kelakuan bejat lo!"


Plak...


Aku menamparnya sangat keras. "Lo! Jadi lo yang udah nyebarin foto gua hah? Mau lo apa anjing!"


Ica tertawa dengan sangat puas. "Girls udah di video pas dia nampar gua? Save ya, buat memperkuat foto itu."


Ica melirik dengan tajam ke arahku, jadi ini yang dia inginkan? Jadi dia memang serius ingin bermain denganku?


Kak Monic, kalau Kakak di posisiku apa yang bakal Kakak lakukan? Akankah Kakak diem aja? Kak Monic, aku tidak bisa harus diem aja dan menunggu giliran ku untuk di keluarkan dari kampus ini. Aku harus membela diriku Kak, maaf ini akan sedikit membuat masalah.


"Gua gak pernah takut sama ancaman lo itu, lakuin apapun yang lo mau bahkan kalau perlu sampein aja ke kepala sekolah lo itu, cuih!"


Ludahku mengenai sepatunya, aku beranjak dari hadapannya. Sudah tidak paham lagi dengan apa yang di lakukan cewe murahan sepertinya, bahkan ku rasa dia lebih murahan daripada diriku yang sudah memiliki anak.


"Gimana Bin? Lo gak apa-apa kan?" Tanya Piona.


Ya benar, Piona dan Tia menungguku di bawah tangga. Aku tidak menyuruh mereka, tapi mereka sendiri yang ingin ikut. Katanya, takut Ica melakukan hal aneh lainnya.


"Gua gak apa-apa, di sirem air gua ama dia makannya basah, tapi sepatu dia juga basah," jawabku.


"Basah kena air yang dia sirem ke elo Bin?" Tanya Tia.


Aku menggeleng lalu tersenyum puas. "Gua ludahin tuh sepatu mahalnya."


Pio dan Tia tertawa puas kala mendengar jawabanku, iya lah mereka akan merasa puas juga sama sepertiku. Emang, cewe gatel kaya dia harus di kasih pelajaran sedikit.


"Eh ngomong-ngomong, Kak Bima mana Bin? Gak ikut lo turun?" Tanya Tia di ikuti oleh anggukan dari Piona.


Aku bingung, pasalnya sejak tadi aku di atas tidak melihat keberadaan dari Bima. "Loh? Emang kak Bima ke sini? Di mana? Gua gak liat tuh."


"Masa sih? Dia tadi katanya nyariin lo ke kelas tapi gak ada terus nanya ke anak kelas ada yang jawab kalo lo kesini, terus Kak Bima naek deh ke atas," jelas Pio padaku.

__ADS_1


Kalau memang Bima naik ke atas, harusnya aku tahu kalau dia ada. Kalaupun aku gak nyadar dia ada pas aku lagi ngomong sama Ica pasti pas aku turun aku harusnya liat dia. Tapi, dia engga ada.


Atau jangan-jangan?


__ADS_2