Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 7 Perundungan


__ADS_3

"Siapa nama lo? Berani-beraninya ngelawan gua ya? Gua pastiin lo gak akan pernah tenang!"


"Alasannya? Kenapa bisa gitu Kak?"


"Karena lo berani ngelawan gua!"


"Gak logis, lo yang punya sekolah apa gimana?" Timpal ku, aku benar - benar tidak suka dengan sikapnya. Terserahlah apa yang akan terjadi padaku setelah ini, aku hanya tidak akan membiarkan harga diriku di injak oleh perempuan so jagoan kaya dia.


"Ada apa ini?"


Aku mengalihkan pandanganku pada seseorang yang baru saja datang, itu Kak Bima, ketua HIMA itu kan?


"Ada apa? Saya nanya ini!"


"Eh itu Kak tad—"


"Eh Bima, engga Bim gak ada apa-apa kok, iya kan Dek?"


Cih!


Aku mendecih, apa maksud cewek ini? Mau playing victim? Mau manipulatif?


Aku terkekeh. "Gak apa-apa gimana Kak? Nih ya, Kakak ketua himpunan yang terhormat. Temen lo udah ngehukum dia," aku menunjuk ke arah Tia.


"Lima puluh kali push-up Kak! Gara-gara dia enggak sengaja numpahin minuman pas di kantin. Toh itu juga cuma air putih, gak ada bekas apa-apa kan di bajunya?"


Saat SMA aku orang yang sering merundung adik kelas, tapi sekarang aku tidak akan melakukan itu. Dan tidak akan diam ketika melihat orang sedang di rundung.


"Culun banget Dek, lepas lah kacamatanya," aku melepas kacamata yang tersimpan di wajah cewek culun itu.


"Kak jangan Kak, aku gak bisa lihat jelas kalo engga pake kacamata."


"Udah lah Vi, kasian itu, jangan cuma kacamata sepatunya juga dong," ucap Sinta sambil tertawa, akupun ikut menertawakan ucapannya.


"Kak, jangan Kak!"


"Jangan katanya Sin!" Ledekku.


"Itu bener Ca?"


Aku mendengus, berani-beraninya tidak mau mengakui kesalahan yang dia perbuat. Sedangkan Tia hanya diam berdiri di belakangku dengan ketakutan.


"Ya itu salah dia kan Bim? Suruh siapa dia numpahin air itu ke baju aku."


"Ica!"


Oh jadi nama dia itu Ica. Kelakuan sama namanya sama, sama - sama pick me.


"Apa Bim? Kamu bela dia?"


"Iya lah jelas, itu cuma air putih Ca lagian gak sengaja juga. Gak pantes sebagai anggota Hima kaya gitu ke Adek tingkat, kamu mau aku lepas jabatannya?"


Oh dia anggota Hima? Masih ada ternyata seorang ketua yang masih menegakkan keadilan tanpa malu mengakui kalau salah, kan kebanyakan akan ikut manipulasi dan menutupi 'aib' anggotanya.


Wajah Ica sudah memerah, bukan karena tersipu melainkan dia marah. Sangat marah bahkan. Ica menatapku dengan tatapan kebencian, iya lah, secara dia sedang di permalukan di sini. Aku hanya tersenyum membalas tatapannya, mampus, malu kan?


"Minta maaf Ca!" Titah Kak Bima yang membuat wajah Ica semakin kesal.


"Sorry."


"Yang bener dong Kak minta maaf tu, itu Tia udah push-up setengah dari lima puluh loh," ucapku tak terima dengan caranya minta maaf. Tidak seperti itu benarnya.


"Mau lo apa sih hah?"


"Lo minta maaf sama Tia Kak, tahu diri dong kalo salah!"


"Udah... udah... ko jadi berantem gini? Ica, minta maaf lagi sama Tia," ucap Kak Bima melerai pertikaian aku dengan Ica.

__ADS_1


"Gua tau kalo lu ga suka sama gua kan Bim? Gak usah malu-maluin gua kaya gini dong!"


"Gak suka gimana sih Ca? Gua cuma nyuruh lo minta maaf, ko malah nuduh kaya gitu?"


"Lo putusin gua kemarin, gua yakin lu masih kesel kan sama gua? Makannya sekarang malu-maluin gini!"


Aku melirik arloji yang melilit di tangan Bima, aku baru ingat kalau aku sudah punya anak. Apa yang aku lakuin di sini? Ah buang-buang waktu! Kak Monic kerja setengah jam lagi.


"Udah-udah, terserah deh lo mau minta maaf apa engga sama Tia, gua duluan," sanggah ku pada pertikaian Ica dan Bima.


"Mau kemana lo bocah gatau diri? Lo itu anak baru di sini jangan belagu," teriak Ica.


Aku tidak menghiraukannya, aku terus berjalan keluar dengan menarik tangan Tia agar mengikutiku. Kalau tidak gitu bisa-bisa nanti dia di bully lagi sama si Ica itu. Bisa aja ketua OSIS yang bijaksana tiba-tiba berubah pas aku gak ada kan? Bisa mampus si Tia.


......................


Sudah jam dua lebih lima belas, berulang kali aku lihat ke kanan dan kiri jalanan belum ada juga angkot yang lewat. Harusnya masih ada, sampai jam tiga sore. Kenapa sekarang tidak ada sama sekali?


Kak Monic sudah mengirimiku beberapa pesan singkat yang berisi menanyakan ku kapan pulang, sedang apa, sedang dimana, ah pasti kena omel.


"Em... nama lo siapa?"


Ah iya aku lupa, Tia masih bersamaku di halte kampus. Aku tidak bertanya apapun padanya sejak kita sampai di sini, aku juga tidak tahu dia mengikutiku karena aku melepaskan tarikan tanganku saat di gerbang sekolah.


"Loh lo di sini? Dari kapan?"


"Dari tadi, gua ikut lo."


"Nunggu angkot juga?"


"Enggak, gua di jemput."


Aku hanya mengangguk, kembali lagi melihat kanan dan kiri berharap ada angkutan umum yang lewat, tapi nihil.


"Nama lo siapa?" Tanya Tia lagi.


"Makasih ya Binca udah nolongin gua tadi, kalo engga ada lo gak tahu lagi gimana nasib gua," ujar Tia dengan senyum manisnya.


Apa lah sekolah ini, isinya cewe cantik semua.


"Ah iya sama-sama Tia, nanti lagi kalo di gituin jangan diem aja. Lawan, kan kita engga salah."


"Gua engga se-berani lo Binca, gua takut."


"Lo sering di gituin ya?"


Ya ampun, apa yang sudah aku lakukan saat SMA? Aku selalu merundung anak-anak yang penampilannya berbeda denganku. Aku selalu mencari kesalahan orang untuk menertawakannya, aku selalu mengolok siapapun yang tidak aku suka. Ternyata, itu sangat berpengaruh terhadap hidupnya?


"Iya Bin, gua takut untuk sekedar bilang engga."


"Kita temen mulai sekarang, nama lo Tia kan? jurusan mana?"


Terlihat wajah yang sumringah dan senyum yang mengembang, "serius Bin?"


"Iya lah, lo dari jurusan mana?"


"Gua Hukum, lo orang pertama yang ngajak gua temenan Bin."


Aku terkejut, jadi maksudnya selama dia hidup dia tidak punya teman?


"Maksud lo?"


"Iya, lo temen pertama gua."


"Demi apa?"


"Serius, makasih banyak ya Bin."

__ADS_1


Aku mengangguk, ternyata ucapan Kakak benar. Ada sebuah harga dan imbalan untuk sebuah pertemanan, jadi ini ya maksudnya? Aku menjadi temannya karena aku menolongnya. Kalau tidak, kita tidak akan berteman.


Iya, aku menolongnya dan sebagai imbalan untukku aku jadi punya teman lagi. Kalau untuknya semua imbalan.


Beep! Beep!


Ku lihat mobil Alphard berhenti di hadapan kami, aku tidak punya mobil semahal itu. Melihatnya secara langsung pun baru kali ini, ingin menjemput siapa atau ada keperluan apa di sekolah ini?


Ah aku sampai lupa, ini kan sekolah bergengsi di Bandung, ya sudah jelas isinya orang kaya semua.


"Binca, ayo bareng, gua anter ke rumah!"


"Hah?"


Jadi... ini mobil Tia? Dia orang kaya dong?


"Kenapa bengong, ayo!"


Ku lihat ponselku, ternyata sudah jam dua lebih tiga puluh menit. Kakak ngamuk kalau aku tidak segera pulang, tapi kalau minta di anter sama Tia nanti dia tahu rumahku dong? Kakak melarang itu. Ah gimana dong?


"Hey, ayo!"


Ku lihat Tia sudah lebih dulu naik ke dalam mobilnya, ah sudah lah, kerjaan Kakak nomor satu.


......................


Haiii semuanyaaa, author mau ngenalin visual nihhh....



Monica




Cakep banget kan Kakak kita yang satu ini??? iya lah😢



Viola




ini juga engga kalah gacornya kan????



Piona




Nah ini dia, btw seragam SMA Starlight kaya gini yaa prennn...


bonus nii



Ini Monic sama Viola, cakep banget ya?😢


Enjoyy.... buat visual yang lainnya di next bab yaa...


happy reading ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2