Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 16 Janji anak kelas empat SD


__ADS_3

Bima mematikan ponselnya setelah video itu habis, aku melongo kala melihat video itu. Itu aku, ternyata Bima diam-diam merekam kejadian itu.


"Gimana?" tanya Bima membuat Tia dan Piona sangat girang.


"Baik banget lo kak, kalo gak ada lo Binca bakal susah nantinya," ucap Tia dengan girangnya.


"Ekhem... makasih Kak,"


"Tenang aja, lu tadi bilang suruh Kak Brian dateng kan? Dia bakal dateng besok."


Aku membulatkan mataku, ah iya kak Brian adalah sepupunya. Akan sangat mudah untuk Bima mengajak Kak Brian ke sini.


"Serius Kak?" tanyaku ragu.


"Iya lah, tapi hari ini lo harus pulang sama gua, gimana?"


Aku terdiam cukup lama, aku harus menepiskan perasaanku dulu padanya, hal terpenting sekarang adalah bagaimana agar aku tidak ada masalah dulu. Kasihan Kakak.


"Oke."


"Harus ada alasan dulu baru mau balik sama gua ya?" tanya Bima ketika kita sudah sampai di parkiran kampus.


"Apa sih Kak?" Aku segera masuk ke dalam mobilnya, ku lihat Bima pun sama.


"Kenapa si? Padahal gua gak jelek-jelek amat, ko gak mau sama gua?"


Aku mengerutkan dahiku, ternyata Bima bisa se narsis ini ya? Lagi pula, bukan dia yang jelek. Aku yang ngerasa gak pantes buat dia.


"Ayo pulang, kan gua harus jagain Binar kak," ucapku sedikit memaksa.


Lagi-lagi aku tersadar, aku sudah memiliki anak. Iya, aku bukan lagi seorang mahasiswi biasa yang kalau pulang kampus bisa main dulu.


"Kakak lo libur hari ini, kalo gak percaya tanya aja, kita maen dulu."


Aku membelalakkan mataku kaget, bahkan aku sendiri tidak tahu kapan Kakak libur. Kakak jarang menceritakan soal kerjaannya, lagi pula dari mana Bima tahu itu?


"Eh—"


"Lo pasti mau nanya dari mana gua bisa tahu itu kan?"


Lagi-lagi aku bengong, dia ini peramal atau apa sih?


"Kak Brian itu manajer hotel di sana, bos Kakak lo."


Tunggu, jadi kak Brian adalah bos kak Monic. Bima adalah sepupu kak Brian, dan sekarang dia temanku. Ah aku mengerti.


"Terus kenapa lo sampe nanya jadwal kakak gua?"

__ADS_1


"Ya karena dia kakak lo, itu aja si," ucap Bima santai.


Dia menghidupkan mobilnya dan segera melaju keluar dari sekolah yang sudah sepi.


Aku mengabari Kak Monic kalau aku akan sedikit telat, sekaligus bertanya apakah dia dia libur atau tidak.


"Terus mau kemana ini?"


"Liat aja nanti. Kejutan."


Aku memutarkan bola mataku. Menatap lurus ke depan. Lagi pula, tidak peduli akan di bawa kemana. Entah perasaan apa, tapi rasanya Bima sangat menenangkan. Tidak mungkin seperti Alex, kan?


"Lo gak bakal ngapa-ngapain gua kan?"


Bima tertawa. Entah apa yang dia pikirkan sekarang. Tidak ada yang lucu dari pertanyaan ku. "Apa?"


"Tenang. Gua bukan bajingan."


......................


Angin sepoi-sepoi menggelitik tiap kulitku. Duduk di bawah pohon dengan pemandangan danau adalah sesuatu yang sudah lama aku inginkan. "Bagus tempatnya," ucapku.


Bima melipat kedua tangannya di belakang kepala lalu merebahkan tubuhnya dengan alas rumput. "Suka?"


Aku mengangguk. Kakak juga pasti jenuh dengan kesehariannya. Aku harus mengajak Kakak dan Binar ke sini kalau sedang libur.


Rasanya sekarang hidupku sedikit berubah. Aku tidak tahu persisnya tapi ini terasa lebih hidup dan berwarna. Meski tetap ada orang yang tidak suka dengan keberadaan ku. Tapi, aku juga memiliki orang yang mengharapkan keberadaan ku.


Aku tersenyum getir. "Gak apa-apa Kak. Lagian itu semua bener ko."


"Gua nyesel gak ada di sana saat lo di perlakuin kaya gitu, andai gua datang lebih cepat."


"Emang lo ada di sana?"


Bima mengangguk. "Gua ke sana. Lo udah pingsan. Dia udah pergi."


"Terus, kenapa saat gua bangun lo gak ada?"


"Gua gak bisa lihat lo lama-lama karena sakit rasanya liat orang yang kita cintai ngalamin itu sendirian."


Benar. Saat itu aku terbangun di sebuah rumah sakit. Aku kira Alex yang membawaku tapi ternyata Bima? Jadi selama ini Bima selalu memperhatikan dan mengikuti kemanapun aku pergi?


Janggal rasanya. Aku juga tidak tahu siapa Bima. Tidak pernah bertemu juga dengannya. Dimana awal kita bertemu?


"Gua gak nyangka kalo yang nolongin gua waktu itu elo Bim. Makasih banyak."


"Gak perlu bilang makasih. Justru gua yang harus minta maaf sama lo, kalo aja gua dateng lebih cepat pasti semua itu engga bakal terjadi."

__ADS_1


Aku menunduk. "Semuanya udah jadi takdir buat gua Bim. Lagian itu kejadian satu tahun yang lalu. Gua udah bisa sedikit lupain rasa sakitnya."


Bima bangun dari posisi tidurnya. Dia duduk dengan posisi menghadapku. "Tenang aja ya Vi, ada gua."


Entah sejak kapan aku mulai menaruh rasa percaya padanya. Seharusnya tidak kan? Aku tidak ingin mempercayai siapapun karena pada akhirnya akan berada pada suatu pengkhianatan.


"Siapa si lo sebenernya Bim? Kita pernah ketemu emang?"


"Lo beneran lupa ya?" tanya Bima di akhiri kekehan pelan. Aku mengangguk sebagai jawaban.


"Kita pernah satu sekolah waktu SD. Tapi gua harus pindah waktu kelas lima, kita pernah bikin janji buat terus sama-sama di bawah pohon depan kelas satu. Inget gak?"


Aku berfikir cukup lama. Ah iya, setelah di pancing oleh Bima aku jadi sedikit ingat. Ingatan itu sekarang seakan berputar di kepalaku bak satu buah film.


"Vio, aku kalau besar mau jadi dokter," ucap seorang anak kecil laki-laki dengan beraninya.


"Kalo Bima mau jadi dokter berarti Vio jadi pasiennya aja ya biar di obatin sama Bima."


"Ih engga Vio. Bima gak mau Vio sakit. Vio jadi pacar Bima aja nanti kalo udah jadi dokter biar bisa terus sama-sama. Vio mau gak?"


"Mau apa Bima?"


"Mau jadi pacar Bima gak kalo nanti Bima jadi dokter?"


"Mau."


"Ya udah, janji ya? Kita harus sama-sama terus sampe besar Vio."


Satu tahun dari percakapan mereka. Bima pindah sekolah, "Vio, pokonya jangan sedih. Bima pergi sebentar, nanti balik lagi jemput Vio buat jadi pacar Bima. Ya?"


"Bima jangan bohong ya? Vio bakal nunggu Bima sampe Bima jadi dokter."


"Hu'um."


Seakan kembali lagi pada dunia nyata. Aku tersenyum kala ingatan itu muncul. Kenapa bisa aku melupakan Bima? Padahal waktu dulu kita sangat dekat.


"Ko ketawa?" tanya Bima.


"Gua inget, lo anak kecil yang suka nangis kalo di jailin sama kakak kelas kan?" aku tertawa mengingat kala itu.


"Ih ko ingetnya yang itu Vi?" rajuk Bima.


"Engga ... engga ... gua inget ko. Ternyata lo masih pegang janji itu ya?"


Bima mengangguk. "Gua sedih saat tau lo punya pacar. Lo gak inget janji kita."


Aku mendecih. "Lagian siapa yang bakal percaya obrolan anak kelas empat SD sih Bim? Ini aja gua kaget ternyata lo selalu inget janji lo."

__ADS_1


"Gua kan cowok Vi. Janji adalah janji, harus di tepati"


"Halah," tepisku. Aku dan Bima tertawa bersama ketika mengingat masa itu. Sangat di sayangkan. Andai aku masih perawan.


__ADS_2