
Senyumku mengembang kala melihat Tia dan Piona yang sedang menungguku di depan mading kampus. Ada dua mading di fakultas ini. Satu, di samping ruang kaprodi. Kedua, di dekat perpustakaan.
Mereka menungguku di mading dekat perpustakaan. "Tia ... Pio ... "
"Oit ... sampe juga lo. Lama banget, kemana dulu?" tanya Pio.
"Ah nanti aja ceritanya, jadi ... mau kemana nih kita?"
"Ke kelas aja, kita ada satu matkul lagi. Kalo lo Ti? Abis belum matkul hari ini?" tanya Piona.
"Udah gua, gua ikut kelas kalian deh. Duduk aja gitu. Nanti selesai kelas kalian mampir rumah gua yu? Sekalian ceritain masalah lu Bin," ajak Tia.
Aku mengangguk. Setuju dengan ajak kan nya. Setidaknya aku punya waktu beberapa jam sebelum kakak berangkat kerja.
"Wah seru tu, kita beli cemilan yang banyak biar bisa main ampe sore ya?" Piona melingkarkan tangannya kepada tanganku. "Bisa kan Bin?"
"Kalo sampe sore gua gabisa. Harus jagain adek gua, kakak gua kan mau kerja nanti jam tiga an."
"Loh sejak kapan lo punya ade?" tanya Piona heran.
"Lo gak tahu emang? Iya Binca punya ade, cakep banget, namanya Binar."
Piona menatapku. "Ih ko gak cerita si? Kapan-kapan gua mampir rumah lo ya? Mau ketemu adek lo juga Bin."
"Iya iya boleh, ya udah yu ke kelas dulu," ajak ku.
"Oh iya ... ayo."
Kita berjalan menyusuri koridor kampus, menuju kelas ku dan Pio. Kalau Tia kelasnya tepat di samping kelas ku. Ada sedikit lega yang terasa, setidaknya aku punya mereka. Apapun yang akan Ica lakukan, aku bisa melewatinya karena punya mereka.
Mungkin, maksud kakak yang di namakan pertemanan harus ada harga dan imbalan. Itu juga berlaku denganku. Tapi, yang terjadi padaku harga dan imbalan itu adalah suatu ketulusan yang tidak ada nilainya. Aku mengerti arti pertemanan seperti apa. Ya, dulu aku kurang beruntung saja.
"Nah sampe juga, yu masuk," seru Pio memecahkan lamunanku.
"Ya udah ayo masuk yu," ajak ku pada keduanya.
"Wi enak juga ya kelasnya. Beda banget ama kelas gua," ucap Tia.
__ADS_1
"Emangnya kelas lo kenapa?" tanyaku.
"Gak apa-apa si, beda aja hawanya."
Ku simpan tas di meja dan duduk di kursinya. Semakin lama semakin banyak yang memasuki kelas.
"Boleh gua duduk di sini?"
Aku menengok ke arah sumber suara dengan sedikit mengangkat kepalaku karena dia berdiri. Lelaki jangkung, mirip bahkan sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal. Dulu.
"Eh iya, boleh. Duduk aja. Kosong ko," jawabku dengan senyum getir.
Piona dan Tia melihat ke arah belakang dan langsung berbinar kala melihat siapa yang duduk denganku. "Ih Bin, mending gua aja deh yang duduk di situ," seru Tia penuh semangat.
"Kenapa emangnya?" tanyaku bingung.
"Ganteng banget itu, nama lo siapa?" Aduh. Tia ... Tia ...
"Rey ... nama lo?"
"Ya dia masuk ke sini berarti kelas ini dong o'on," sanggah Piona.
Aku terkekeh melihat tingkah laku mereka. Tapi, tentang Rey. Aku seperti pernah melihatnya, atau dia hanya mirip dengan seseorang yang ku kenal. Ah. Semoga cuma firasat ku saja.
Aku memang sering bertemunya di kelas. Saat pertama kali masuk ke kelas ini juga aku sudah bertemu dengannya. Hanya mengobrol dengannya baru kali ini. Ya, walaupun belum bisa di sebut mengobrol sih. Cuma dia nanya, aku jawab.
"Eh nanti mau gak main ke rumah gua pulang kelas?"
"Enggak."
"Ih ko gitu si?"
"Apa?"
Aku dan Pio tertawa cukup kencang mendengar obrolan Tia dengan Rey. Dasar, Tia.
......................
__ADS_1
"Ya kan? Emang ganteng banget tau tu cowok."
"Iya deh iya ... lo ternyata gatel ya sama cowo?"
"Ih apa si Pio, orang engga. Emang ganteng aja dia, sayang kalo engga di godain."
"Nanti dia pindah dari kelas itu kalo lo godain mulu. Terus entar dia lapor sama parodi, terus lo di usir deh dari kampus. Mau lo?"
Tia melirik ke arahku, aku hanya tersenyum menahan tawa. "Ih tuh kalian malah ngeledek gua kan."
"Enggak-enggak."
Di sinilah kami sekarang. Di kamar Tia yang sebesar dua kamar di rumahku. Rumah Tia sudah mirip seperti istana di kerajaan-kerajaan yang suka ada di film barbie. Mirip sekali bahkan.
"Eh iya, kita kan mampir rumah lo mau nanya soal foto itu ke Binca. Gimana Bin tadi? Si Ica di hukum gak sama Pak Burhan?" tanya Piona padaku.
"Iya iya, gimana itu?" timpal Tia.
Aku menghela nafasku karena mengingat kejadian tadi cukup membuatku sesak sedikit. "Tadi kak Brian dateng ke kampus bareng Bima. Ya pokonya kak Brian jelasin kalo gua gak salah. Di foto itu gua lagi ngasih berkas kak Brian yang ketinggalan di kakak gua. Eh si Pak Burhan gak percaya, dia ampe nanya kenapa bisa kakak gua yang seorang resepsionis bisa megang berkas kak Brian yang seorang manager. Marah anjir kak Brian di sana."
"Serius lo Bin? Gila, ampe segitunya dia. Padahal bukan ranah dia kali ya nanya ampe segitunya?"
"Iya Ti," jawab Pio.
"Iya, gua juga sempet kaget. Gua ama Bima ampe bengong di sana. Terus abis itu kak Brian ngancem mau laporin si Pak Burhan ama Ica ke polisi soal pencemaran nama baik. Eh Pak Burhan nya malah nunjukin video yang pas gua nampar Ica itu, mana cuma pas gua nampar doang lagi," aku berhenti sejenak. Menetralkan deru nafasku yang mulai tak beraturan.
"Terus abis liatin video itu Pak Burhan ngancem balik gua, bakal di laporin balik soal kasus kekerasan. Bima ngamuk di sana, dia ngasih lihat video lengkapnya yang waktu itu kalian juga liat itu loh."
"Iya he'eh, terus?"
"Ya Pak Burhan gelagapan gitu. Gak jelas deh pokonya. Setelah di skak ama Bima, Pak Burhan ngakuin lah kalo gua gak salah. Soalnya di sana udah di ancem lagi ama kak Brian mau di laporin polisi. Terus Pak Burhan biarin gua masuk kelas. Kak Brian gak terima
katanya nama gua harus di bersihin dulu dan Ica harus di kasih hukuman yang setimpal. Terus ya udah, berakhir di pengumuman itu, gua yakin kalian juga pada denger kan?"
Piona dan Tia mengangguk bersamaan. "Iya gua denger ko."
"Gua juga Bin, tapi yang gua bingung kenapa Pak Burhan kaya ngelindungin si Ica ini ya?" tanya Pio bingung. Aku juga sebenarnya bingung dengan hal itu. Seakan Pak Burhan ingin menyudutkan ku dan membuat Ica tidak bersalah. Padahal, jelas-jelas Ica salah.
__ADS_1