Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 3 Tempat pulangku, Kakakku sendiri


__ADS_3

Namaku Viola Binca, teman - temanku memanggilku Vio. Sebuah kehidupan yang tidak jelas arahnya kemana, aku berada dalam antara. Antara Ibu dan Ayah. Antara hidup dan tidak hidup. Antara merasa dan tidak. Antara kanan dan kiri. Aku tidak tahu harus kemana.


Saat Ayah meninggal, dari sana lah aku sudah tidak tahu arahku kemana. Aku tidak tahu harus kemana, dimana, dengan siapa. Kakakku pergi dari rumah tepat setelah satu minggu Ibu menikah lagi.


Kehidupanku tidak jelas, bahkan untuk sekedar besok mau ngapain aku tidak tahu. Aku hanya mengikuti rutinitas yang sudah ada dengan sendirinya. Aku tidak menyuruh diriku untuk melakukan apapun, semuanya dikendalikan oleh diriku sendiri. Aku tidak ikut andil atas itu.


Ibu berubah semenjak mengenal bajingan yang menjadi penyebab Ayah meninggal, kata kakak ; "jangan pernah taruh rasa anak ke orang tua pada bajingan yang membunuh Ayah."


Ya, aku sudah terdoktrin oleh ucapan Kakak yang tidak sepenuhnya salah, dia benar. Bajingan itu terus membuat Ibuku menjadi seperti Ibu tiri bagi anak kandungnya sendiri. Aku tidak pernah merasa nyaman di dalam rumah itu, aku juga tidak tahu kenapa aku harus pulang. Tidak. Bukan pulang, tempat yang sebatas datang untuk berganti pakaian, itu lebih tepat.


Sampai aku bertemu dengan Sinta, dia sangat baik. Mengerti saat aku tidak ingin ke rumah, aku tidak punya tempat pulang dan dia menawarkan rumahnya untuk sekedar singgah di sana. Tak jarang aku menginap di rumah Sinta sampai Ibunya Sinta sudah ku anggap Ibu ku sendiri. Entah dia berfikir yang sama atau tidak. Yang jelas, Ibu Sinta lebih mempunyai hati di banding Ibuku sendiri.


Aku tidak pernah di beri uang jajan oleh Ibuku sendiri, Kakak yang selalu memberiku uang. Entah dari mana dia dapat uang sebanyak itu. Untukku jajan, makan, pakaianku, uang kuliahku, semua kakak yang nanggung. Tapi, dia selalu menolak ku saat aku meminta ikut dengannya. Aku tidak tahu alasannya apa, kenapa.


Aku begitu menghormati Kak Monic, hanya dia satu-satunya orang yang berdiri di depanku melawan semua masalahku. Entah sudah berapa banyak duri yang tertancap di tubuhnya demi melindungiku. Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya sejak kepergiannya dari rumah.


Kakak memintaku untuk sedikit lebih sabar tinggal di rumah milik Ayah, yang seharusnya itu adalah milikku dan Kakak. Bukan Ibu dan bajingannya itu. Kakak memintaku untuk menjaga rumah peninggalan Ayah sedikit lebih lama lagi. Aku hanya menurut meski sebenarnya tidak ingin, karena rumah itu bukan lagi tempat pulang.


Tenang, damai? Tidak. Ibu selalu memarahiku, dia selalu mencari celah-celah salah di dalam diriku.


"Pulang sekolah bukannya beresin rumah, kamu malah keluyuran gak tahu kemana! Kamu itu cuma numpang di sini, paham? Tahu diri sedikit Vi!"

__ADS_1


Itu katanya, ini rumahku. Ini rumah Ayah, kenapa pula aku yang di sebut menumpang?


Dia berubah semenjak bajingan itu datang ke kehidupan kami. Katanya punya banyak kebun dan sawah di desa tempat dia tinggal, tapi rumah saja menumpang pada rumah Ayah. Tidak punya modal untuk membeli rumah baru, bahkan makan pun Ibu yang mencari. Ibu yang kerja, apa gunanya binatang itu ada di rumah ini? Ibu bodoh! Pengecut! Pembunuh!


Ibu malah bekerja untuk menghidupi bajingannya, sedangkan anaknya sendiri? Dia tidak peduli. Sakit. Pelet apa yang di gunakan bajingan itu untuk Ibu? Sampai Ibuku sudah seperti anjing peliharaannya.


Sampai pada titik dimana aku bertemu dengan Alex, dia cukup kaya untuk memberiku makan setiap pulang sekolah. Aku tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk makan siangku karena Alex yang selalu menanggungnya.


Aku bertemu dengan Alex saat nongkrong di tempat biasa aku dan anak-anak kelasku nongkrong. Entah dari mana, Alex datang dengan dua orang temannya, Tio dan Ciko. Setelah ku tanyakan langsung pada Alex, dia adalah sodara dari Sinta. Ya, saat itu dia ingin menjemput Sinta, lalu bertemu denganku.


"Gua Alex, lu Vio?"


Aku mengangguk, entah dari mana orang yang menyebut dirinya dengan nama Alex bisa mengetahui namaku, ah pasti Sinta. Dia memang cukup bocor.


"Boleh minta nomer lu?"


"Hah? Buat apa?"


"Biar bisa ngobrol lagi."


"Kita kan belum ngobrol?"

__ADS_1


Alex hanya tersenyum padaku saat itu, andai aku tidak memberikan nomorku padanya. Tidak. Andai aku tidak datang untuk sekedar nongkrong saat itu. Mungkin tidak akan terjadi kejadian di malam dimana Alex merebut keperawanan ku.


Malam yang tidak akan pernah aku lupakan, malam terburuk yang ada dalam hidupku. Saat itu aku hanya mengingat Kakak, bagaimana kalau dia tahu. Akan sekecewa apa dia padaku nanti? Akankah dia mengusirku juga dan tidak akan menganggapku sebagai adiknya lagi?


Aku mengabari Sinta tentang ini, dia tidak peduli dan langsung memblokir nomorku. Entah kenapa. Aku salah apa aku tidak tahu.


Aku membeli test pack yang kalau di film - film suka di gunakan untuk mengecek kehamilan. Aku mencobanya dan ternyata dua garis merah terpampang jelas. Aku syok, tidak tahu bagaimana nasibku kelak. Kakaku, hanya dia yang aku pikirkan. Aku takut sendirian, aku takut di buang.


Sialnya, aku lupa membuang test pack itu hingga Ibu menemukannya di kamar mandi. Dia memaki dan menamparku hingga mengusir. Aku tidak tahu harus kemana, rumah ku di sini. Tempat pulangku di mana?


Satu-satunya penyelamat hidupku memang kakak, tidak pernah meninggalkanku di titik ku yang mana saja. Kak Monic satu-satunya orang di dunia ini yang peduli denganku, tidak ada yang lain.


Di sini aku sekarang, kosan 4x4 yang hanya cukup untuk satu orang. Tidak layak untuk kakak baikku, tidak layak sama sekali. Aku sadar, kenapa selama ini dia selalu menolak ku untuk ikut dengannya, kenapa selama ini dia selalu memberiku uang yang banyak ternyata karena ini. Dia sama sekali tidak tinggal di tempat yang layak, dia memilih mengirimkan uangnya untukku daripada untuknya.


"Kamu salah Dek, kamu memang salah. Tapi, Kakak satu-satunya orang yang enggak bakal pergi saat Vio ngelakuin salah."


Mungkin ini yang orang sebut bidadari tanpa sayap, kalau di implementasikan pada sosok wujud manusia ya itu kakakku. Entah berapa banyak rasa sabarnya, tulusnya, aku benar-benar merasakan itu semua darinya.


Aku menjadikan kakakku tempat pulang, sedangkan dia pada siapa? Siapa tempat pulangnya? Aku berfikir bagaimana dia saat di usiaku, apakah dia merasakan apa yang aku rasa? Seberapa banyak beban yang dia tanggung hingga umurnya yang sudah kepala dua ini? Siapa yang ia jadikan pegangan saat dia di titik terendahnya sedangkan aku menggantungkan hidupku padanya.


Monic. Aku tidak akan pernah bisa menjadi sosok Monic, perempuan kuat yang menanggung segala bebannya sendiri. Tidak terlihat cape atau mengeluh sedikitpun padaku. Tidak pernah berkata tidak untuk segala keinginanku, aku kira kakak memiliki pekerjaan yang sangat dapat di andalkan ternyata kosannya saja tidak layak huni.

__ADS_1


Aku selamanya tidak bisa seperti sosok Monic.


Setelah semua beban yang ia tanggung, dia harus menanggung lagi beban atas kesalahanku. Aku menyadari, kalau aku yang sebenarnya menjadi beban di hidupnya. Tapi, Kakak bahkan tidak mundur saat aku di titik ini. Sampai kapanpun, Monic akan selalu jadi wanita yang selalu aku hormati keberadaannya.


__ADS_2