Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 2 Adikku akan tetap jadi Ibu?


__ADS_3

Masalah demi masalah terus berdatangan sejak Ayah meninggal. Aku sudah seperti sebatang kara meski masih memiliki Ibu dan seorang Adik. Menyesal kenapa tidak membawa Adikku bersama dengan susahku, kalau tahu akan seperti ini akhir dari awal penderitaan yang kembali akan ku hadapi, hidup susah pun akan ku lakukan dengan mengajaknya.


Tepat saat hari kelulusanku, Ayah meninggal. Jantung. Itu yang menyebabkan beliau meninggal, tidak. Lebih tepatnya Ibu, dia yang menyebabkan Ayahku meninggal. Terbongkar ikatan setan yang selama ini Ibu sembunyikan, entah bagaimana.


Dia Ibuku tapi dia jahat, dia orang jahat tapi dia Ibuku.


Ayah memergoki orang itu saat sedang melakukan hal tidak senonoh di rumah Ayah tepat saat pulang kerja, saat itu juga beliau meninggal di tempat. Sudah hancur duniaku, awal dimana aku tidak lagi bisa merasakan apapun.


Rumah yang semula menjadi tempatku pulang, sekarang berubah jadi kandang kotor yang sangat enggan aku injak. Apalagi setelah tepat empat puluh hari Ayah meninggal, orang yang dulu aku sebut Ibu itu melangsungkan pernikahannya dengan seorang bajingan penyebab Ayahku meninggal.


Aku meninggalkan rumah tepat satu minggu setelah Ibuku menikah lagi, sengaja tidak jauh dari rumah tempat kos ku. Hanya berjarak beberapa kilometer, masih di Jakarta. Aku hanya mengkhawatirkan Adikku, Vio. Takut orang brengsek itu menyentuh Adik kecilku.


Aku sudah tidak tahu lagi, em... tidak mau tahu lebih tepatnya bagaimana kabar Ibuku. Aku hanya fokus pada Vio, menanyakan bagaimana kabarnya setiap hari tanpa henti.


"Aku mau ikut Kakak aja, engga betah di sini," ucap Vio dari sebrang sana.


Bukan tidak ingin mengajaknya, aku hanya tidak ingin dia harus makan mie instan berturut-turut selama satu minggu ketika akhir bulan. Tidak ingin Vio gelap-gelapan saat aku belum ada uang untuk membayar listrik. Tidak ingin melihat Vio kesusahan di bawahku. Setidaknya, akan lebih baik kalau dia dengan Ibunya dulu sampai aku dapat pekerjaan layak yang bisa membiayai kehidupan Adikku sendiri.


"Vio udah mau cerita ke Kakak?"


Adik malangku itu mengangguk, ia membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman saat bercerita.


"Vio punya pacar, dia udah SMA kelas tiga Kak, awal kenal dia itu sebulan yang lalu pas lagi nongkrong aja sama anak-anak sekolah Vio,"

__ADS_1


"Malem itu, Vio ngajak dia buat dateng ke acara ulang tahun Sinta. Alex mau tapi mampir dulu ke basecamp tempat Alex ngumpul sama geng nya... di sana... di sana Alex..."


Ku lihat Vio tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, dia menangis sejadi-jadinya di pelukanku. Hatiku yang semula tidak bisa merasakan perasaan apapun kini kembali merasakan itu, rasa sakit tiga tahun yang lalu kembali terulang hari ini. Bahkan kali ini lebih sakit, mengingat bagaimana kehidupan Vio dengan kondisinya saat ini.


"Vio udah coba ngomong ke Alex tentang ini?" Tanyaku pelan.


Vio mengangguk. "Iya, tapi Alex bilang enggak mau tanggung jawab. Dia nyuruh aku gugurin kandungan aku aja kak, hiks..."


Brengsek! Kini semakin banyak bajingan yang berkeliaran di luar sana rupanya. Bagaimana bisa manusia yang sudah di beri akal sehat tapi tidak di gunakan? Bahkan buaya sekalipun rasanya tidak akan melakukan hal se keji ini. Bagaimana bisa bajingan itu membiarkan seorang mahasiswa semester 4 melewati hal semacam ini?


Aku tahu, Adikku sudah melakukan hal yang salah bahkan saat dia memutuskan untuk berpacaran dengan laki-laki yang usianya terpaut tiga tahun darinya, dan tiga tahun dariku. Terlepas dari semua itu, aku tahu dia hanya butuh tempat dimana ia pulang, rumahnya sudah bukan lagi rumah seperti layaknya rumah yang di miliki remaja seusianya.


Aku menyesal membiarkannya liar, membiarkannya bergaul dengan siapa saja karena aku kira dia sudah cukup dewasa untuk membedakan hal baik dan buruk. Ternyata hilangnya figur sosok orang tua dalam hidup Vio membuatnya keluar bahkan jauh dari jalurnya.


Aku membiarkannya memilih teman sendiri karena aku tidak bisa terus ada untuknya, bahkan untuk sekedar menemuinya aku tidak bisa. Kerja, kerja, dan kerja, aku hanya fokus pada itu karena aku ingin membawanya ke sebuah rumah yang bisa dia sebut tempat pulang.


"Kakak samperin Alex ya?"


"J...jangan kak... Alex bilang kalau sampe aku ngomong ke orang - orang, dia ngancem kalo aku bakal di keluarin dari kampus... Vio takut kak..."


Brengsek! Anak dari bajingan mana dia? Bagaimana dengan tahun-tahun yang akan datang untuk Adikku? Sedangkan dia dengan tenangnya menjalani hidup tanpa merasakan takut sama sekali, sepanjang hidupnya.


Tidak adil, memangnya sejak kapan ada keadilan? Tidak pernah ada keadilan untuk rakyat kecil seperti kita. Bagaimana bisa yang katanya anak konglomerat melakukan hal keji kepada orang melarat? Tidak ada akal sehat!

__ADS_1


"Ibu enggak mau tahu ya Monic, urus adikmu itu, dia bener-bener kelewatan. Jangan pernah dateng lagi ke kehidupan Ibu dan keluarga baru Ibu, termasuk kamu!"


tut... tut... tut...


Dengan senang hati, itu kah kalimat yang pantas keluar dari mulut seorang Ibu? Ayah, bagaimana bisa engkau mencintai Ibu yang bahkan tidak pantas menyandang gelar terhormat itu?


Dia tidak lebih dari bagian bajingan bajingan itu, atau mungkin otaknya sudah di cuci oleh kekasihnya yang sangat ia banggakan itu. Presetan!


Cih!


Aku mendecih kala telfon itu mati, segera ku naiki motor scoopyku untuk mencari keberadaan Adikku yang malang itu.


Telat satu detik saja aku sudah tidak akan lagi melihatnya hidup, siapapun pasti akan memilih jalan pintas ini. Mati. Apalagi anak seusianya, apa lagi yang akan menguatkan argumen untuk tetap hidup? Tidak ada.


Adikku, aku membawanya ke kosan tempatku tinggal selama tiga tahun ini.


"Jangan sampe ada yang tahu tentang kehamilan kamu ya Dek, tunda dulu satu tahun kuliah kamu. Rahasiain sampe waktu itu."


Terpaksa, tidak ada jalan lain selain ini. Adikku harus tetap lulus kuliah, bagaimanapun masa depannya masih panjang bahkan sangat. Tidak bisa kalau harus berhenti tanpa ijasah sarjana, setidaknya salah satu dari kita harus ada yang sarjana. Ayah yang meminta itu. Biar aku yang bekerja untuknya.


Vio menggeleng, "terus gimana anak ini Kak? Vio gak mau punya anak!"


Aku mengangguk, mengerti sekali. Bagaimanapun, dia memang masih remaja, belum dewasa. Hatiku teriris, harus melihat Adikku yang seharusnya sedang tertawa bersama teman-temannya kini harus mengurung diri.

__ADS_1


"Jangan di gugurin, dia engga salah apa-apa. Bahkan, sudah keputusannya untuk memilih lahir ke dunia ini. Biarin dia lihat dunia ini, kamu selesain dulu semester ini. Semester depan cuti sampai anak kamu lahir," ucapku mencoba menenangkan Vio.


"Aku akan tetap jadi Ibu Kak?"


__ADS_2