Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 15 Perlawanan


__ADS_3

Aku heran, apa yang membuat Pak Burhan tidak mempercayaiku. Terlepas dari pada itu semua, memangnya wajahku terlihat seperti orang jahat?


"Saya tidak mau tahu, kalau kamu tidak bisa membawa orang yang ada di foto ini besok, saya nyatakan anda bersalah."


"Pak, saya mohon, apa yang menjadi alasan Bapak berfikir seperti itu? Apa tidak ada keadilan buat saya?"


"Kamu lihat video ini Binca, ini sudah menunjukkan kalau kamu bersalah!"


Aku melongo kala melihat video itu, itu adalah video saat tadi aku menampar Ica jelas sudah di potong. Video itu hanya beberapa detik yang memperlihatkan kala aku menamparnya, tidak, ini tidak adil sama sekali.


"Pak itu memang saya, tapi tidak seperti itu kenyataannya. Ica yang menyebarkan foto saya dan memfitnah saya Pak, dan video itu juga aku menamparnya karena aku tahu dia yang menyebarkan foto saya Pak!"


"Saya engga mau tahu Binca, kalau besok orang yang ada di foto ini tidak datang ke sekolah untuk menghadap saya, kamu saya skors," tukar Pak Burhan.


"T-tapi Pak say—"


"Silahkan keluar dari ruangan saya," ketus Pak Burhan.


Aku berjalan keluar dari ruangannya dengan perasaan kesal yang mendalam, bagaimana bisa seorang kepala prodi berlaku seperti itu? Dia bahkan hanya percaya satu pihak saja, siapa Ica sebenarnya?


Tia dan Piona sudah menungguku di depan ruang prodi, wajahku sudah tidak bisa ku kontrol lagi. Seakan aku lupa memakai topeng ku.


"Bin? Gimana?" tanya Tia padaku.


Aku hanya menggeleng, mereka menuntunku sampai di kantin sekolah yang letaknya tidak jauh dari ruangan kepsek.


"Pak Burhan pengen orang yang ada di foto itu dateng ke kampus besok. Gua gak tahu lagi harus gimana," keluhku begitu sampai di kantin yang sudah cukup sepi ini.


"Maksudnya? Cowok itu? Yang lu bilang kalau itu temen kakak lo?"


Aku mengangguk menjawab pertanyaan Tia "Gua bingung banget Ti, gimana cara gua minta tolong ke dia. Gua gak kenal deket sama dia, gua juga takut kalau Kak Monic tau."


Piona mengusap punggungku, berharap aku tenang. "Ko Pak Burhan ampe segitunya banget ya? Padahal di foto itu lo bener-bener cuma lagi ngasih berkas doang. Bentar deh," ucap Piona menggantung.


Aku dan Tia menunggunya. "Kalian ngerasa ada yang aneh engga sih? Pak Burhan tahu foto itu dari mana? Jelas dari si Ica itu kan? Kenapa dia sampe percaya gitu aja sama dia, sedangkan seharusnya seorang dosen engga menghakimi dari satu pihak aja," lanjutnya.

__ADS_1


Sebenarnya aku juga cukup heran kenapa Pak Burhan seakan menyudutkan ku di masalah ini. Kalau di foto itu aku sampai masuk ke kamar dengan Kak Brian mungkin memang semua orang akan setuju dengan foto itu, tapi ini enggak.


Aku sedang di lobi dan tidak hanya berdua dengan Kak Brian, ada banyak orang yang sedang berlalu lalang. Tapi, di mana Ica saat itu? Kenapa saat itu aku tidak melihatnya?


"Lu bener Pi, gua juga mikir gitu," sanggah Tia.


Aku mengangguk, berfikir cukup lama. Ah iya, Bima. Apa aku bisa menghubunginya? Tapi, aku sudah menolaknya berulang, apalagi kejadian tadi di rooftop. Ah tidak.


"Kalian pada sadar gak? Ica itu engga pantes ikut himpunan, engga ada mencerminkan sifat anak organisasi nya. Oke lah kalo di luar kampus, lah ini di kampus aja dia berani kaya gini, sebenernya dia lewat mana si bisa join himpunan?" tanyaku, aku sudah kelewat kesal dengannya.


Vio dan Tia saling bertatapan. "Kak Bima Bin, lo kan lagi deket tuh sama dia. Coba lo tanya dia deh, siapa tau bisa bantu kan?"


"Butuh gue?"


Aku tertegun kala mendengar suara ini, aku menoleh ke arah sumber suara yang berada tepat di belakangku.


"Kak Bima?"


Bima tersenyum, dia langsung duduk tepat di sebelah kanan ku. "Jadi Pak Burhan udah tahu ya soal foto itu, dia bilang apa aja Vi?"


"Binca, panggil gua Binca," ucapku. Kalau Bima terus memanggilku dengan nama Viola, bisa-bisa Tia dan Piona curiga.


Aku melirik ke arahnya dengan tatapan tajam, memanggilku dengan nama Binca pun sulit baginya.


"Pak Burhan percaya sama foto itu, dia juga dapet video waktu gua nampar Ica. Ya gua nampar dia karena saat itu gua tahu kalo dia yang nyebarin foto gua kak," jelasku pada Bima.


Bika tersenyum puas, aku tidak tahu maksudnya apa. "Terus si Pak Burhan itu bilang apa lagi?"


"Gak usah ketawa-ketawa kek gitu, gak suka gua," kesal ku.


Ya habisnya, aku sedang serius tapi dia seakan bercanda. Katanya mau melindungiku, tapi malah seperti mengejekku.


"Iya iya maaf, jadi Pak Burhan ngomong apa lagi?"


"Iya, dia nyuruh gua bawa Kak Brian ke sekolah buat jelasin tentang foto itu, kalau kak Brian engga dateng ya gua bakal di skors."

__ADS_1


Bima terlihat menganggukkan kepalanya paham, dia bergumam sambil mengeluarkan ponselnya.


"Nih coba kalian lihat video ini," Bima memperlihatkan video yang berada di ponselnya padaku, Tia dan Piona.


"Lo, anak baru yang belagu, gua ingetin satu hal sama lo, jangan pernah lo deketin Bima!"


Aku mengerutkan dahiku, jadi apa yang dia lakukan ini adalah karena Bima? Bahkan untuk mendekatinya saja aku tidak ingin, tembok kita terlalu tinggi. Tidak bisa aku raih bahkan panjat.


"Bima?" Tanyaku sambil terkekeh.


"Lo lakuin ini cuma karna itu? Lo setakut itu? Lo ngerasa diri lo rendah ya sampe takut gua ambil Bima lo itu?"


Byur....


Sensasi dingin terasa sampai kulitku, Ica sialan. Dia menumpahkan botol minum yang ia pegang sedari tadi padaku.


Cih!


Aku mendecih. "Lo takut kalah saing? Buktiin kalo lo emang lebih oke daripada gua, bukan dengan kaya gini caranya, lo udah gede bukan bocah lagi kak!" Teriakku di hadapannya.


Aku tidak takut sama sekali terhadapnya, melihatnya saja membuatku ingin tertawa.


"Lo— lo tau ga siapa yang nyebarin foto lo itu? Itu gua! Kalo sampe lo deketin Bima lagi, bukan cuma satu sekolah yang tahu, kepala sekolah pun bakal gua kasih tahu kelakuan bejat lo!"


Plak...


Aku menamparnya sangat keras. "Lo! Jadi lo yang udah nyebarin foto gua hah? Mau lo apa anjing!"


Ica tertawa dengan sangat puas. "Girls udah di video pas dia nampar gua? Save ya, buat memperkuat foto itu."


Bima mematikan ponselnya setelah video itu habis, aku melongo kala melihat video itu. Itu aku, ternyata Bima diam-diam merekam kejadian itu.


"Gimana?" tanya Bima membuat Tia dan Piona sangat girang.


"Baik banget lo Kak, kalo gak ada lo Binca bakal susah nantinya," ucap Tia dengan girangnya.

__ADS_1


"Ekhem... makasih Kak,"


"Tenang aja, lu tadi bilang suruh Kak Brian dateng kan? Dia bakal dateng besok."


__ADS_2