
Tak butuh waktu lama, dia sudah kembali lagi dengan satu orang anak laki-laki seumuran ku dan berpakaian sama sepertiku, dengan logo yang sama pula. Ya, ternyata kita satu kampus.
"Nih, ini sepupu ku Vi, kalian saling kenal kan?"
Aku tertegun kala melihat siapa yang Kak Brian sebut sepupu, orang yang aku kenal, bahkan sangat aku ketahui siapa dia.
"Lo?"
"Hai Viola."
"Jadi sepupu Kakak itu Bima ya? Pantesan mirip kalian," ucapku sambil melihat Kak Brian dan Bima bergantian.
Aku tidak mengerti kenapa semesta selalu mempertemukan kita, terlebih di waktu-waktu yang aku sendiri tidak pernah memikirkannya kalau kita bisa bertemu di situ.
Ku lihat mata Bima sangat berbinar kala melihat ku, aku tidak tahu apa maksud dari tatapannya tapi yang jelas aku pun sebenarnya senang dia ada di sini.
"Bagus kalo gitu, kalo kalian saling kenal, ya udah gih cepet berangkat nanti kesiangan loh," kata Kak Brian membuyarkan lamunanku.
"Eh, aku naik ojek aja kak gak apa-apa ko, engga usah bareng Bima takut ngerepotin."
"Siapa yang bilang ngerepotin? Engga tuh, udah ayo aja," sahut Bima sambil menarik tanganku untuk mengikutinya.
Aku hanya mengikuti tarikan tangannya, tidak berusaha melepaskan, tidak juga protes. Aku ikut, aku ingin ikut.
"Hati-hati ya kalian, jangan ngebut ngebut di jalannya," seru Kak Brian sedikit berteriak pada kami.
Ku lihat Bima hanya mengacungkan jempol tangan kirinya, entah kenapa apa yang dia perbuat membuatku tersenyum secara tidak sadar. Aku menyukainya.
"Eh Kak," kataku kala kita sampai di parkiran mobil.
"Gua naik ojek aja deh," entah kenapa perasaan itu datang lagi. Perasaan takut, takut kalau perasaan yang aku rasa akan semakin besar.
Aku bahkan takut untuk sekedar jatuh cinta, bukan takut penolakan. Justru aku takut karena Bima pun menyukaiku, aku takut kalau rasa suka itu justru yang akan menjatuhkan ku lagi seperti rasa yang Alex buat untukku.
Sayangnya, tembok kita terlalu tinggi dan tebal, sampai-sampai aku takut bahkan untuk melihatnya.
Bima menarik tanganku agar aku semakin dekat dengannya. "Kenapa? Kenapa naik ojek sedangkan ada aku di sini? Kenapa milih naek ojek sedangkan ada yang lebih layak buat lo selain ojek?"
Aku menggeleng, aku bahkan tidak tahu jawaban apa yang harus aku katakan dari pertanyaannya. Aku cukup takut, sangat takut.
__ADS_1
"Jangan suka bikin orang khawatir Vi, gua paling gak suka sama perasaan khawatir. Gua cukup terpukul atas kejadian itu, dan gua gak mau lagi liat lo kaya gitu. Mulai sekarang, gua akan jadi ojek lo, tolong ngerti."
"Lo ga ngerti gua Kak, lo bilang lo terpukul saat kejadian buruk itu? Apalagi gua yang sebagai korbannya?"
"Justru itu Vi, gua akan jagain lo lebih dari hari kemarin. Lo, bakal selalu aman saat lo sama gua."
"Apa buktinya?"
"Lo butuh bukti? Berarti lo harus denger apa yang gua bilang, dan nurut aja."
Aku menggeleng, tidak. Tidak ingin lebih dekat dengannya, tidak ingin merasakan sakit yang sama. Tidak ingin mengulang trauma lebih dalam, aku takut sekali.
"Jam masuk bentar lagi, gak ada pilihan, lo ikut sama gua sekarang."
......................
Rasa cinta, kasih, sayang, semuanya memiliki duri yang entah kapan pasti akan menusuk. Semakin lama di genggam, akan semakin sakit. Aku tidak akan bahkan sebaliknya, aku akan menahan rasa itu sampai aku lupa bagaimana rasanya.
Aku tidak akan menggenggam rasa itu, tapi akan menguburnya dalam-dalam. Untuk membayangkannya saja membuatku takut, apalagi sampai pada titik di mana aku jatuh cinta, lagi.
Aku tidak boleh jatuh cinta, aku harus ingat posisiku apa. Aku adalah seorang Ibu, seorang Ibu yang harus memikirkan anaknya. Aku tidak boleh egois dengan berfikir kalau aku bisa melakukan apa yang anak seusia ku lakukan.
"Udah sampe, mau bengong sampe kapan?"
Aku mengerjapkan mataku berulang, ku lihat sekeliling ternyata sudah sampai di lingkungan kampus.
"Makasih ya Kak, gua ke kelas dulu."
"Jangan banyak mikirin hal-hal yang udah terjadi, fokus sama hari ini oke? Pulang kampus bareng gua."
"Engga usah, gua pulang sendiri aja, duluan Kak."
Aku keluar dari mobil Bima tanpa menunggu jawabannya, huh, rasanya aku sulit bernafas akhir-akhir ini.
"Binca!"
Aku menoleh ke arah sumber suara. "Eh Tia, tumben siang berangkatnya?"
Iya, dia Tia, kayanya dia membawa mobil sendiri hari ini. Ah, aku nebeng dia saja kalau angkot tidak ada.
__ADS_1
"Iya nih, tadi nunggu supir gua lama banget di kamar mandi ya udah deh duluan aja, terpaksa bawa mobil. Nanti pulang bareng ya? Lo ga bawa motor kan?"
Bravo! Ini dia keberuntungan seorang Viola Binca. Seorang adik dari Monica Vinca, tidak ada tanding kalau soal keberuntungan.
"Oh oke deh kalo gitu Ti, ya udah ayo ke kelas takut keburu masuk nih."
Aku dan Tia berbincang ringan sambil berjalan ke arah kelas kita, meski berbeda tapi masih untung karena bersebelahan. Nah, bener kan? Emang Viola tuh sangat-sangat beruntung dalam hal apapun ya!
Kayanya, engga deh buat hari ini.
"Heh, gua tunggu lo istirahat nanti di rooftop kampus, kalo lo gak dateng, temen temen lo gua incer," ucap Ica, anggota himpunan yang hanya menumpang nama dan sangat suka validasi, gila folowers, gila fans juga.
Contoh-contoh orang yang hanya ingin popularitas dengan ikut himpunan, ya memang bisa, tapi pake juga otaknya.
Ica datang dari arah kiri saat aku hampir sampai ke kelasku, Tia sudah masuk duluan. Ya, sekarang aku sudah berada tepat di depan kelas.
"Lu siapa Kak?"
"Berani ya lo? Inget, urusan lo belum kelar sama gua, abis materi ini gua tunggu lo di rooftop kampus."
Ica, kakak kelas yang bahkan tidak pantas aku panggil kakak itu masuk ke ruangan Tia. Mungkin hari ini dia ada mengulang matkul atau apa aku kurang tahu.
Aku tidak akan datang, bagaimanapun aku harus tetap pada prinsip.
Tidak akan pernah memiliki masalah apapun, dengan siapapun. Apalagi dengan Ica itu, bukan tidak berani, bukan tidak punya nyali juga.
Aku memikirkan Kak Monic, bagaimanapun aku harus tetap kuliah demi dia. Agar apa yang dia lakukan untukku tidak sia-sia.
Aku segera masuk ke kelasku, ku lihat Piona sudah duduk di kursinya dan menatapku sekarang.
"Eh Bin, sini cepet deh," seru Piona sedikit panik.
Aku segera menghampirinya. "Ada apa?"
"Ini lo kan?"
Aku segera melihat layar ponsel milik Piona, betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa yang ada di foto itu bahkan yang lebih mengejutkan dari foto itu adalah captionnya.
Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini?
__ADS_1