Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 6 Menjadi manusia yang biasa - biasa saja.


__ADS_3

Kalian tahu apa yang di namakan sebuah pemalsuan nama? Atau kalian tahu hukumnya seperti apa? Satu minggu yang lalu Kak Monic menawarkan ku untuk berganti nama, tapi aku menolaknya.


Aku tahu betul maksud dia, tapi aku tidak ingin menjadi seorang pengecut dari masalalu ku. Biarlah namaku tetap Viola Binca. Seorang gadis yang hilang arahnya. Seorang gadis yang sangat di sayangi oleh Kakaknya. Aku tetap aku, aku sangat menyukai nama ini karena Ayah yang membuatnya. Selamanya aku akan tetap menjadi Viola Binca, apapun keadaannya.


"Hallo, namaku Viola Binca pindahan dari Jakarta. Kalian bisa memanggilku Binca, salam kenal semuanya..."


Ya, aku memang tidak ingin memalsukan atau berganti nama. Tapi, aku tidak seberani itu untuk terus terang dengan sosok Viola. Namaku, Binca. Ya, mulai sekarang orang - orang akan memanggilku Binca. Bersyukur Ayah memberiku nama lebih dari satu kata.


"Oke, hallo Binca. Salam kenal, silahkan duduk lagi... mari kita lanjut materi minggu kemarin."


Universitas Starlight. Salah satu universitas swasta bergengsi di daerah Bandung. Betul! Aku pindah ke Bandung tepat enam bulan yang lalu, Kak Monic yang mengusulkan itu. Aku sangat menyetujui hal ini, jauh dari apa yang menjadi sakit ku. Aku tidak akan bertemu dengannya dalam ketidaksengajaan manapun.


Anakku sudah lahir di bulan September tahun kemarin, namanya Binar. Kakak yang memberinya nama itu, katanya biar bisa bersinar persis namanya. Dia sangat cantik, lebih mirip Kakak daripada aku. Bersyukur tidak mirip dengan Alex.


Aku tidak tahu bagaimana bisa Kakak memasukkan ku di universitas ini. Kakakku memang hebat, apapun dia bisa lakukan. Termasuk memasukkan ku ke universitas bergengsi di Bandung.


"Pokonya, kampus kamu engga boleh yang biasa aja, harus yang bagus, anak kamu butuh Ibu yang pintar."


Itu katanya, sebenarnya yang lebih pantas dapat sesuatu yang lebih itu Kakak. Bukan, bukan aku. Entah siapa nanti yang menjadi jodohnya, dia akan sangat beruntung. Sangat-sangat beruntung.


"Hey,"


Aku tersadar dari lamunanku. "Eh... iya?"


"Nama gua Piona, salam kenal ya Binca?"


Aku tersenyum hangat pada Piona, dia sangat cantik. Ku jabat tangannya. "Salam kenal juga Piona, nama lo sama nama depan gua hampir mirip ya?"


"Viola... Piona... eh iya! Sama sama Pio ya?" Dia begitu semangat kala menyadari namaku dan namanya mirip, ya lagi-lagi aku bersyukur. Di hari pertama aku sudah mendapatkan teman, setidaknya tidak akan terlalu sepi untuk sekedar kuliah.


Meski sudah hampir satu tahun lebih Ibu tidak mengabari kami, aku dan Kakak pun tidak tahu kabarnya bagaimana. Aku sama sekali tidak ingin menanyakan kabarnya, aku tidak tahu Kakak tahu atau tidak tentang Ibu. Ah, aku benar-benar tidak ingin tahu.


"Aduh, Kak maaf," ucap seorang cewek yang tidak sengaja menumpahkan minuman yang ia pegang ke kakak tingkat yang sedang makan juga.


Disinilah aku sekarang, kantin. Piona mengajakku ke sini, tadi aku menolaknya. Aku membawa bekal bikinan Kakak, tidak mungkin kan kalau tidak di makan?


"Ayolah Bin, kita ke kantin aja, ya kamu enak bawa makan, aku kan engga?" Rengek Piona padaku.


"Iya... iya... aku makannya di kantin deh, barengan..."


"Aduh lain kali hati - hati dong ah," bentak kating itu pada cewek yang aku rasa dia seangkatan denganku.


"I-iya Kak, maaf."


"Ketemu saya selesai kampus hari ini!"


Ku lihat cewek itu hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan kating yang masih membersihkan bajunya.


"Kayanya kita normal-normal aja lah ya Bin? Gak usah kena masalah."


Sejak awal memang aku tidak ingin memiliki hubungan atau urusan apapun dengan orang lain, apalagi sampai harus berurusan dengan masalah yang akan merugikan ku, lagi. Bertemu dengan Piona juga bukan keinginanku, hanya saja aku bersyukur yang jadi temanku sekarang, dia.

__ADS_1


Aku akan jadi anak yang biasa-biasa saja, menuruti apapun yang Kakak bicarakan. Kak Monic juga menyuruhku untuk tidak banyak interaksi dengan yang lain, apalagi sampai dekat, ya, aku harus merahasiakan tentang masalalu ku.


Aku juga tidak boleh bercerita pada siapapun tentang masalahku, aku sudah punya anak. Kalau orang lain tahu tentang ini, bukan hanya semua orang menjauhiku, bisa-bisa aku di keluarkan juga dari kampus. Tidak mau itu terjadi, usaha Kakak akan sia-sia nantinya.


Hidupku, untuk Kakak.


"Heh," Piona menepuk pundak ku. "Lo emang suka melamun ya?"


"Hah? Em... enggak."


"Itu, barusan gua ajak ngomong malah ngelamun gitu,"


"Gua ngantuk Pi," ucapku yang membuat Piona terkekeh.


"Masa iya lagi makan malah ngantuk, kamu ini unik ya?"


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Piona, andai dia tahu kalau aku sudah memiliki anak. Apa dia akan tetap menjadi temanku dan mengatakan kalau aku unik?


......................


"Baik teman-teman sekalian, matkul saya hari ini sudah selesai. Besok jangan lupa bawa apa yang udah di kasih tau ya untuk bahan praktikum. Hati-hati di jalan."


"Bin, mau mampir dulu ke rumah gua gak?" Tanya Piona sedikit berbisik padaku.


"Em... lain kali ya Pi, gua ada urusan," tolak ku, aku segera menggendong tas milikku bersiap untuk pulang.


"Yah... lain kali mampir dong ke rumah gua, sepi tau. Gak ada siapa-siapa di rumah," ujar Pio yang membuatku hanya tersenyum lalu mengangguk pelan.


Ku langkahkan kakiku keluar dari kelas, aku akan segera bertemu dengan Binar. Ah, ternyata rasanya memiliki anak seperti ini. Perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, ya tepatnya setelah Ayah meninggal. Aku merasakannya lagi, semacam tempat pulang yang selalu aku rindukan.


Aku memilikinya sekarang.


Kadang aku berfikir kalau Binar adalah titipan Tuhan dan sebuah jawaban atas apa yang selalu aku pertanyakan. Aku tidak lagi menganggap Binar sebuah ujian hidup, aku menganggapnya sebuah anugrah.


"KAMU BERANI-BERANINYA NUMPAHIN MINUMAN ITU KE BAJU SAYA YA?"


"M-maaf Kak,"


"MAAF-MAAF, BAJU SAYA JADI KOTOR, BESOK SAYA PAKE APA?"


"Biar saya cuci Kak, besok saya kembalikan."


"ARGHH, push-up lima puluh kali kamu sekarang!"


Aku berdiri tepat di depan kelas yang ku lihat itu kelas sebelas sosiologi 7A.


"Itu bukannya cewe yang di kantin tadi ya? Gila banget hukumannya, orang gak sengaja gitu, kaya apaan aja lagian," gumam ku pelan.


Aku tidak peduli, bukan, bukan tidak peduli. Aku hanya tidak ingin terlibat dalam masalah apapun apalagi kalau ujungnya Kakak harus ke sekolah untuk membenarkan perbuatan ku. Aku harus segera pulang dan berganti mengurus Binar dengan Kakak, Kakak akan kerja sore ini.


Brukkk.....

__ADS_1


Suara pukulan keras yang mengenai meja terdengar jelas sampai aku menghentikan langkahku, "YANG BENER DONG PUSH-UP TUH!"


"Permisi Kak, itu dia kan engga sengaja numpahin minumannya ke baju Kakak, kenapa sampe segitunya?" Sial. Kenapa aku harus ikut campur di sini?


Aku tidak bisa melihatnya di tindas seperti itu, tapi engga seharusnya aku ikut campur. Ah Vio!


"Mau jadi pahlawan kamu?"


Buset, dia cewek tapi ngeri banget.


"E-enggak Kak, kasian aja itu, lima puluh kan banyak?"


"Push-up kamu!"


Aku mengernyit, kenapa aku pula yang harus push-up?


"Aku kan engga ada salah Kak? Kenapa harus ikut push-up juga?" Tanyaku, aku tidak akan tunduk pada siapapun meski aku memang tidak ingin punya masalah dengan siapapun juga.


"BERANI YA KAMU?"


"Kak udah, aku yang salah, aku yang push-up," sanggah cewek yang masih dalam posisi push-up itu.


Aku mendekat ke arahnya, membangunkan dia dari posisi tiarap. "Bangun, jangan mau di plonco sama OSIS yang engga punya hati kaya dia."


"T-tapi, nanti lo ikut di hukum juga. Udah gak apa-apa, lo pulang aja," ucap cewek yang masih berada di pelukanku.


"Nama lo siapa?"


"Tia."


"Oke." Aku melepaskan pegangan tanganku dari Tia, lalu mendekat ke arah kating yang tidak tahu malu itu.


"Kak, Tia kan udah minta maaf, lagian ga fair kalau harus push-up lima puluh kali, kan? Udah lah, kalaupun mau ya kasih aja baju Kakak ke dia biar dia yang cuci."


Kadang aku bingung, kenapa kebanyakan orang yang memiliki jabatan selalu merasa dirinya paling punya hak atas diri orang lain. Tidak ada keadilan sama sekali, coba di balik keadaannya, Kakak tingkat itu yang menumpahkan minuman ke baju Adek tingkatnya, apa bakal tanggung jawab? Minta maaf pun mungkin hanya sebatas formalitas.


Orang-orang penguasa di dunia ini, dan merasa dirinya paling senior. Seakan dirinya paling berkuasa. Apa dia tidak tahu kalau semuanya hanya titipan dan akan berbalik dengan sendirinya? Atau tidak tahu arti titipan itu apa? Keadilan... keadilan... sudah hilang.


"Siapa nama lo? Berani-beraninya ngelawan gua ya? Gua pastiin lo gak akan pernah tenang!"


"Alasannya? Kenapa bisa gitu Kak?"


"Karena lo berani ngelawan saya!"


"Gak logis, lo yang punya sekolah apa gimana?" timpal ku. Aku benar-benar tidak suka dengan sikapnya. Terserahlah apa yang akan terjadi padaku setelah ini, aku hanya tidak akan membiarkan harga diriku di injak oleh perempuan so jagoan kaya dia.


"Ada apa ini?"


......................


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2