
"Vio!"
Satu langkah lagi memasuki gedung fakultas, langkahku terhenti kala Bima, memanggilku. "Eh Bim," ucapku sambil berbalik menghadapnya.
Aku melihat ke samping kanan Bima sambil melongo kala tahu siapa itu.
"Yo! Vio," sapa nya.
Aku langsung menyeret Bima sedikit menjauh dari arah laki-laki itu. "Serius lo Bim?"
"Cih, masa gua bohong sih Vi. Gak jantan banget dong gua."
"Serius ah, masa se gampang ini? Dia gak bakal bilang ke kak Monic kan Bim?"
"Lo tenang aja si, kak Brian tu suka sama kakak lo. Jadi gak mungkin bikin pikiran buat Kak Monic."
Iya, itu kak Brian. Aku kaget jujur saja, ada rasa tidak enak juga untuk melibatkannya di masalahku. Padahal dia bukan siapa-siapa dan tidak tahu apa-apa tapi harus ikutan masuk ke dalam masalahku.
Aku segera menuju ke hadapan kak Brian dengan senyum manis ku. "Kak maaf banget ya ngerepotin. Vio juga gak ngerti kenapa bisa kaya gini. Padahal kan kita engga ngapa ngapain ya?"
Kak Brian menepuk pundak kananku. "Tenang. Kakak bakal bantu ko, gak bakal juga bilang ke Monic. Tenang aja, semuanya bakal selesai hari ini."
Aku terharu, ternyata masih banyak orang baik di luar sana yang ingin menolongku. Aku melirik ke arah Bima, lelaki itu menganggukkan kepalanya menenangkan ku.
"Ya udah, yu langsung aja ke ruang prodi," ajak Bima pada kita.
Aku mengangguk, mengikuti langkah Bima juga dengan Kak Brian.
Sesampainya di hadapan ruang kepala prodi, aku mengetuk pintunya berulang. "Permisi Pak, ini Viola Binca."
"Ya silahkan masuk," sahut Pak Burhan dari dalam.
"Lo ikut ya Bim?"
__ADS_1
"Udah ayo, gua ikut ko."
Aku melangkah masuk ke dalam ruang Pak Burhan dengan hati-hati. Diikuti oleh Bima dan kak Brian.
"Ini Pak, dia orang yang ada di foto itu bersama saya."
Pak Burhan mengangguk. Dia beberapa kali melihat wajah kak Brian dan mencocokkannya dengan yang di foto.
"Baik silahkan duduk, kursi hanya dua, kamu yang cowo berdiri aja," ucap Pak Burhan pada Bima.
Aku mengangguk lalu duduk bersebelahan dengan kak Brian. "Jadi ada apa Pak mengundang saya ke sini?" tanya kak Brian pada Pak Burhan
"Ini benar anda?"
"Iya itu saya."
"Silahkan anda jelaskan sedang apa anda dan Viola Binca di sana?"
"Viola sedang mengantarkan barang saya yang tertinggal di kakaknya Viola. Kebetulan kakak Viola adalah rekan kerja saya di hotel itu. Saya adalah manajer dan dia resepsionis yang tak lain dan tak bukan dia adalah bawahan saya," jelas kak Brian.
Ku lihat kak Brian tidak nyaman. Memang benar, aku juga merasakan hawa intimidasi yang sangat kuat dari Pak Burhan. Seakan memojokkan aku dan kak Brian, juga seakan kita di suruh mengakui kesalahan yang tidak kita perbuat.
Kak Brian membenarkan posisi duduknya, helaan nafas beratnya bisa ku dengar. Aku tahu betul dia kesal.
"Maaf sebelumnya, ini daftar jadwal kerja karyawan saya di hotel itu. Silahkan di lihat," ucap kak Brian sambil memberikan satu lembar kertas yang ia keluarkan dari tasnya.
Aku bahkan tidak sampai kepikiran kesana. Ternyata Bima dan kak Brian benar - benar ingin menolongku.
"Kenapa anda memberikan ini kepada saya?"
"Supaya Bapak percaya jika pada hari itu, Monic sedang libur. Saya tidak bisa memaksa Monic untuk datang di hari liburnya, jadi saya meminta agar Monic mengirimkan berkas itu pada saya lewat gojek. Tapi, dia menolak. Monica takut jika berkas penting itu tidak sampai di tangan saya. Maka untuk memastikan agar berkas itu tepat di tangan saya, Monic menyuruh adiknya yaitu Viola untuk mengantarkan langsung pada saya di saat sebelum Viola berangkat ke kampus," ucap kak Brian dengan sangat jelas.
Aku yakin, untuk saat ini Pak Burhan tidak bisa bertanya lagi dan akan mempercayainya.
__ADS_1
"Tadi anda bilang kalau kakak Viola adalah resepsionis di sana. Kenapa bisa berkas se penting itu ada di Monic?"
"Hah?" Aku dan Bima melongo mendengar pertanyaan dari Pak Burhan yang tidak masuk akal. Itu bukan ranah nya lagi untuk bertanya.
"Mohon maaf Pak Burhan yang terhormat. Anda yakin dengan pertanyaan anda barusan? Saya yakin dengan posisi anda yang sangat tinggi di fakultas ini, itu karena otak anda. Tapi bisa anda jelaskan, apa hak anda untuk menanyakan itu?"
"Saya hanya bertanya Pak," jawab Pak Burhan tanpa rasa bersalahnya. Lagi-lagi aku dan Bima melongo dengan jawabannya.
Kak Brian tertawa pelan. "Sepertinya anda memang ingin menjatuhkan mahasiswi baru ini ya Pak? Apa yang membuat anda tidak suka padanya hingga anda menyudutkannya sejauh ini?"
"Saya hanya ingin nama sekolah ini baik, jika muridnya saja sebagai pelacur, maka—"
"Pelacur?" Tanya Bima dengan nada yang lumayan tinggi. "Saya ketua himpunan di fakultas ini, merasa malu memiliki kepala prodi seperti anda. Pak Burhan," lanjutnya.
"Benar sekali kata sepupu saya Bima. Saya sebagai perwakilan orang tua Bima merasa malu memasukkan dia di kampus ini. Bapak mau saya tuntut atas pencemaran nama baik?"
Pak Burhan gelagapan. Entah apa yang membuatnya bisa sejauh ini melenceng dari keadilan. Dia menyudutkan ku seakan aku harus mengaku salah. Dia tidak menerima jika kenyataannya aku tidak salah.
"Kenapa jadi bawa-bawa polisi Pak?" tanya Pak Burhan. Dia kembali membuka ponselnya lalu memutar videoku yang sedang menapar Ica. "Lihat, kalau mau melaporkan saya, saya akan laporkan balik Viola atas kasus kekerasan."
"Oh jelas tidak bisa Pak," seru Bima dari belakangku. "Lihat video ini baik-baik Pak Burhan."
Bima memutar videoku yang sedang bertengkar dengan Ica. "Di sini Ica yang salah Pak, dia dengan sengaja menyebarkan foto itu dengan keterangan yang tidak benar sama sekali. Kenapa Bapak di sini malah memojokkan Vio tanpa bertanya pada Ica?"
Pak Burhan kembali gelagapan. "Baik kalau memang Viola tidak bersalah. Silahkan masuk ke kelas masing-masing."
"Tunggu dulu Pak," cegah kak Brian. "Enak saja hanya sampai di sini. Lalu bagaimana dengan nama baik Viola yang sudah tercemar di kampus ini? Bagaimana juga dengan Ica yang sudah menyebarkan fitnah ini? Bukankah dia harus di hukum atas perilakunya?"
Wajah Pak Burhan semakin memucat. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Pak Burhan seperti terus berada di pihak Ica.
"I-iya ... soal itu akan saya urus nanti."
"Gak bisa gitu Pak, harus adil dan transparan," ucap Bima dari belakangku lagi.
__ADS_1
Aku hanya diam. Rasanya kalau aku ikut bicara pun tidak akan mempengaruhi keadaan. Bima dan kak Brian sudah begitu kuat untuk melawan Pak Burhan.