Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 10 Jadi pacarmu? Gak!


__ADS_3

"Dia pacar gua! Puas?"


"Hah?" Aku dan Ica juga kedua teman Ica sama sama bengong mendengar penuturan Bima, apa maksudnya?


"Pacar?" Tanyaku bingung.


Bima menarik tanganku agar lebih dekat dengannya. "Mulai sekarang lo pacar gua, dan buat lo Ca jangan pernah ganggu hidup Binca lagi, awas aja lo!"


Ku lihat Tia dan Piona setengah berlari menghampiri ku. "Kenapa Bin? Lo jatoh?" tanya Piona.


"Ada yang luka gak?" tanya Tia mengikuti.


Aku menggeleng, karna memang tidak jatuh, aku di tangkap Bima.


"Ikut gua dulu," ucap Bima sambil menarik tanganku meninggalkan mereka.


"Pio, Tia, makan duluan aja gua belum pesen, pesen sendiri ya!" teriakku pada Piona dan Tia yang masih saling tatap karena bingung melihatku di tarik oleh Bima. Salah, Kak Bima maksudku.


"Sakit Kak pelan-pelan," lirihku yang membuat Bima mengendorkan genggaman tangannya.


Kini aku dan dia jalan selaras, saling berdampingan. "Maksud Kakak apa?"


"Yang mana?"


"Tadi..."


"Yang mana Vi?"


"Binca, jangan panggil gua Vio."


"Kenapa? Gua suka manggil lo dengan sebutan itu, berasa lebih deket aja."


Aku menghentikan langkahku. "Lo itu ketua himpunan loh, engga ada sibuk-sibuknya ya sampe ngurusin hidup orang?"


"Maksudnya ikut campur?"


"Iya lah."


"Kan gua cuma pengen manggil lo Vio kalo lagi berdua, abisnya Binca terlalu asing."


"Lebih baik gitu Kak, asing."


Bima terdiam, bukan karena tidak paham. Aku yakin dia sangat paham dengan apa yang aku bicarakan. Faktanya dia tahu kalau aku sudah punya anak kan? Setidaknya sedikit banyaknya dia pasti juga sudah mengetahui masalalu ku walaupun entah dari mana.


Bima berdehem, "di Jakarta lebih ramai ya daripada Bandung yang sepi gini?" Tanyanya, aku tahu kalau sekarang dia sedang mengalihkan pembicaraan.


"Sepi?" Aku bahkan tidak merasakan hawa sepi itu. Macet dimana-mana, ya walaupun tidak sama dengan Kota Jakarta.


"Iya, Kota metropolitan."


"Iya ramai, tapi mereka."


"Maksudnya?"


Aku tersenyum menanggapi pertanyaannya, tidak ku jawab karena dia tidak akan paham akan itu.


Perasaan sepi di keadaan ramai hanya akan bisa di rasakan oleh kita yang bisa merasakannya, tidak dapat di pahami oleh orang yang bahkan tidak tahu ada perasaan semacam itu.

__ADS_1


"Kenapa pindah?" Tanyanya lagi.


"Nyari tempat pulang," jawabku seadanya.


"Tempat pulang?"


Aku mengangguk, tahu betul kalau Kak Bima tidak puas dengan jawabanku.


"Lo punya rumah kan di sana?"


"Punya, cuma bukan tempat pulang Kak."


Aku menghela nafasku. "Kirain lo tau semua tentang hidup gua, lo kan penguntit Kak."


Aku terkekeh, dia pun sama. Tak terasa kita sudah sampai di taman sekolah, baru kali ini aku menginjakkan kaki di sini. Aku hanya baru melihatnya kemarin tapi tidak mampir.


Kak Bima duduk di kursi panjang yang tersedia di taman, akupun mengikutinya.


"Gua engga tahu semua tentang lo," ucapnya membuatku menghadap ke arahnya, menatapnya dengan serius. Aku ingin tahu sekali dari mana dia tahu semua yang dia ucapkan tadi pagi.


"Seberapa banyak yang lo tau tentang gua?"


"Cuma itu, yang gua bilang tadi pagi."


"Itu banyak, lo tau dari mana? Lo nyari tahu atau ada orang yang ngasih tau lo?"


"Engga ada, engga perlu di bahas juga."


Engga perlu di bahas? Itu masalahku ya jelas itu jadi hal yang harus di bahas karena itu menyangkut diriku. Kalau Bima lagi ngomong sama Ica terus topiknya merembet ke masalahku mungkin bisa di bilang "engga perlu di bahas" lah ini? Ini kan masalahku?


"Oke," ucapku mengalah. "Sekarang gua tanya, itu garis besar masalah gua Kak, lu udah tahu itu kenapa malah mendekat?"


"Gak bisa sembarang orang jadi rumah, setahu gua."


"Iya, gua tahu itu, tapi gua bakal jadi itu."


"Kak?"


Bima hanya menolehkan pandangannya tanpa berkata apapun dia menatapku dengan intens. "Mau lo apa dan lo siapa sih?" Tanyaku.


"Kenapa seakan lo tahu tentang hidup gua? Bahkan iya, lo tahu semuanya, dari mana?"


"Ada hal yang memang seharusnya tetap di rahasiakan Vi."


Aku terdiam, apa yang di ucapkan nya benar. Tapi, bukannya dia sendiri yang mencari tahu apa yang seharusnya tetap di rahasiakan dari hidupku? Aku tidak paham.


"Tapi ini bukan hal yang seharusnya di rahasiakan, ini masalah gua Kak!"


"Gua tahu, makannya gua mau jagain lo karena gua tahu masalalu lo."


"Gak jelas lo, gila ya?"


Bima tertawa, tawa yang tidak aku mengerti sama sekali maksudnya apa, kocak.


"Gua bahkan udah gila dari awal suka sama lo," ucapnya.


"Dari kapan?" Tanyaku.

__ADS_1


"Gua bakal jawab asal lo mau," jawabnya menggantung.


"Mau apa?"


"Mau jadi pacar gua?"


"Enggak!"


......................


"Jadi gitu Kak, masa dia ampe tahu segalanya gitu, semuanya Kak ini termasuk tentang Binar," jelasku pada Kak Monic yang sedang menggendong Binar.


Kak Monic tampak berfikir keras, pasalnya mau aku ataupun Kakak memang tidak ada yang pernah bercerita pada siapapun. Boro-boro cerita, sekedar ketemu orangpun aku gak berani karena waktu itu perutku bunting.


Sebenarnya aku tidak ingin bercerita padanya, tidak ingin menambah pikirnya juga. Tapi, kalau aku simpan bisa jadi bumerang sendiri. Gimana kalau tiba-tiba si Bima itu mengatakan kebenarannya pada seluruh warga fakultas?


Bisa gila.


"Kamu yakin Vi ga cerita ke siapa-siapa?"


"Masa iya aku cerita aib ku sendiri Kak? Bisa mampus dong."


"Iya juga ya, bentar...."


"Alex," ucapku dan Kak Monic bersamaan.


"Tapi," lagi-lagi bersama.


"Gak mungkin juga ya?" Masih bersama.


"Apaan sih Vi kok ngikutin Kakak ngomong?" protes Kak Monic padaku.


"Ih apa si Kakak, orang Kakak yang ngikutin aku!" Protes ku juga karena tidak terima.


"Dih? Ni urus anak kamu, Kakak mau siap-siap kerja dulu, inget kalo kamu ngantuk kunciin semua pintu sama jendela, terus jangan taro di kasur Binarnya nanti kalo dia mau main-main malah jatoh ke bawah, besok Kakak beli kasur buat di bawah deh."


"Iya iya bawel," ucapku sambil menggendong Binar.


Kakak meneloyor kepalaku lumayan keras. "Jangan songong jadi bocah, di ingetin sama orang tua tu nurut!"


"Oh jadi Kakak orang tua aku gitu?"


"Iya lah, siapa lagi?"


Aku terdiam, walau maksudnya bercanda tapi dia benar. Kalau bukan Kakak siapa lagi? Kalau bukan Kak Monic ya siapa? Tidak ada.


Aku sibuk dengan Binar, memberinya asi lewat dot yang sudah aku isi dengan asi ku. Kakak sedang berganti pakaian di kamar.


"Vi, Kakak berangkat dulu ya? Awas Binar, jagain!"


"Iya Kak."


Ckit....


"Hai?"


"Eh... siapa ya?" Tanya Kak Monic.

__ADS_1


Aku menoleh ke arah sumber suara.


....dia?


__ADS_2