
Piona dan Tia mengangguk bersamaan. "Iya gua denger ko."
"Gua juga Bin, tapi yang gua bingung kenapa Pak Burhan kaya ngelindungin si Ica ini ya?" tanya Pio bingung. Aku juga sebenarnya bingung dengan hal itu. Seakan Pak Burhan ingin menyudutkan ku dan membuat Ica tidak bersalah. Padahal, jelas-jelas Ica salah.
"Nah itu dia Pi, Ti. Gua juga bingung. Apalagi pas kak Brian nyuruh Pak Burhan hukum Ica dia kaya ngelak gitu, nanti aja, nanti aja saya sendiri. Gitu masa."
"Serius lo? Terus si Ica di hukum apaan jadinya?" tanya Tia.
"Cuma ngepel doang di depan kamar mandi cewe," jawabku.
"Dih apaan, gak setimpal banget. Coba itu kalo kak Brian ampe gak dateng. Terus gimana nasib lo Bin? Gua yakin lo bakal di keluarin sih. Payah banget kaprodi kita ya?"
Ku lihat Tia mengangguk menyetujui ucapan Pio. Sebenarnya iya. Mungkin itu yang akan terjadi jika kak Brian tidak datang menolongku. Kalau sampai itu terjadi, kak Monic akan sangat kecewa dengan keputusan ini.
"Iya, gua utang budi banget jadinya ini sama kak Brian, Bima juga. Dia mati-matian belain gua tadi. Kalo gak ada mereka berdua gatau lagi deh nasib gua gimana."
"Ngomong-ngomong, ngerasa janggal gak sih? Masa ada gitu kepala prodi yang berat sebelah kaya Pak Burhan?"
Benar juga kata Tia. Dimana-mana setahuku dosen akan netral, apalagi ini kepala prodi. Mendengar kedua belah pihak tanpa menghakimi pihak manapun. Tapi yang di lakukan Pak Burhan padaku justru sebaliknya. Dia sangat memojokkan ku, bahkan kalau Bima dan kak Brian tidak ada di sana mungkin sekarang aku sudah keluar dari kampus bahkan sebelum aku masuk.
Kalaupun tidak di keluarkan, semua orang yang ada di kampus akan menjauhiku karena kasus ku yang tidak benar kenyataannya. Hanya gara-gara rasa Ica pada Bima, aku sampai terseret sejauh ini ke dalam masalahnya. Ah, andai aku tidak pernah mengatakan janji apapun dulu padanya. Mungkin hal seperti ini enggak bakal terjadi.
"Menurut lo gimana Bin? Lo ngerasa janggal gak?" tanya Piona padaku.
"Ya iya, apalagi pas dia lagi ngasih pengumuman itu, Bima nyuruh Pak Burhan buat kasih tau juga kalo Ica yang nyebarin. Tapi Pak Burhan kaya ketakutan gitu, engga ngebiarin si Ica ini jadi buruk namanya di sekolah," jawabku.
"Atau jangan-jangan si Ica ini bokapnya donatur di kampus? Apa gimana deh, ampe segitunya banget tu kaprodi botak."
Aku mengangguk, melirik jam arloji yang terlilit di tanganku. Aku sampai lupa kalau harus pulang saking senangnya mengobrol dengan mereka.
"Mau pulang Bin?" tanya Tia yang menyadari gerak gerikku.
"Iya nih, gua cabut dulu ya? Nanti lagi, kalian lanjut aja. Takut kakak gua buru - buru mau kerja soalnya dia."
__ADS_1
"Ya udah, mau di anterin gak?"
Aku menggeleng, menolak Tia. "Enggak usah. Ya udah gua duluan ya Pio, Tia. Sampe ketemu besok."
"Iya iya, hati hati lu."
"Siap."
......................
Sesampainya di rumah, aku menyipitkan kedua mataku bermaksud untuk melihat siapa yang datang ke rumah. Mobil merah itu tidak asing bagiku.
"Kak?"
"Eh udah pulang Vi," ucap kak Monic ketika melihatku masuk. Aku kaget ketika Binar saat sini sedang di gendong oleh Bima. Iya. Bima.
"Loh ko ada lo Bim? Sejak kapan? Kak ko ada Bima?" tanyaku heran pada mereka bergantian.
"Iya emang kenapa Vi? Gak apa-apa kali, ya gak kak?"
"Kak?"
"Apa Vi? Ganti baju dulu, tu susuin Binar. Kasian kalo harus pake susu formula terus."
"KAK!"
"Gak apa-apa, Bima keliatannya baik ko. Dia juga udah ceritain siapa dia ke kakak. Tenang aja, kakak percaya sama dia."
Aku melirik ke arah Bima dengan tatapan kesal. Aku malu. Bagaimana bisa kakak se santai itu bilang kalo aku harus ngasih susu ke Binar? Ah kak Monic.
"Percaya aja si Vi. Kakak lo aja percaya sama gua, masa lu engga?"
"Ya udah sini Binarnya," ucapku sambil menggendong Binar. Wajahnya sangat menenangkan. Lihat matanya, begitu berbinar persis dengan namanya. Ah, cantik sekali anakku ini.
__ADS_1
"Udah ganti baju dulu, jangan di pegang itu Binarnya. Kamu kotor itu, kasian takut alergi," seru kak Monic.
"Iya ... iya ... ya udah nih kak pegangin dulu Binarnya."
"Sama Bima aja dulu, kakak lagi ngurusin kerjaan sebentar."
"Ih kak Monic." Aku menoleh ke arah Bima yang sudah tersenyum menyeringai sambil mengangkat kedua tangannya untuk menerima Binar.
"Ya udah nih, pegangin bentar anak gua. Awas kalo nangis ya?"
"Iya ... iya ... santai aja kali."
Aku segera menuju kamarku. Mengganti pakaianku. Memompa asi ku agar Binar bisa meminumnya. Tidak mungkin kan kalau aku harus menyusui Binar langsung di hadapan Bima?
Di rasa sudah cukup, aku segera kembali lagi menemui Binar.
"Halo sayang ... mama udah bersih nih, udah nyiapin susu juga buat kamu. Ayo sini!"
Aku mengaisnya, tidak terasa umurnya sudah setengah tahun. Rasanya seperti mimpi di umurku yang ke dua puluh satu aku sudah menjadi sosok Ibu.
Oh iya, Ibu. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia masih ingat aku dan Kakak? Bagaimana kondisi keuangannya? Apa Ibu masih bekerja banting tulang untuk menghidupi binatang itu? Rasanya, setelah aku jadi Ibu aku semakin peka akan hal itu.
Aku juga sangat menyayangi Binar. Kalaupun Binar sudah besar nanti dan dia berbuat salah, rasanya aku tidak bisa membenci anakku sendiri. Ibu pun sama gak ya? Apa dia tidak ingin bertemu cucunya?
Lalu Alex. Bagaimana dengan kabarnya? Apa dia masih suka bermain wanita? Terlepas dari itu, memangnya dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan anaknya barang sekali? Bahkan dia juga mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan Binar.
Ah, untuk apa juga aku berfikir seperti itu? Toh Binar punya aku, punya kakak juga. Dan sekarang, mungkin Binar punya sosok Bima?
"Hey, lo kenapa?" Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Tak ku sangka ternyata aku masih memikirkan Alex di keadaanku yang sekarang. Alex pun di sana engga mungkin memikirkan kondisiku.
"Gak kenapa-napa ko Bim," ucapku sedikit pelan. "Oh iya, ayo Binar minum susu dulu ya?"
Aku memberikan dot yang berisi air asi ku kepada Binar. Binar tidak kurang apa-apa. Apalagi kurang kasih sayang. Tidak sama sekali.
__ADS_1
Meskipun Binar tidak memiliki dan tidak di akui oleh seorang Ayah, juga tidak di akui oleh neneknya sendiri. Tapi, Binar punya aku yang sangat menyayanginya. Aku juga tahu kakak sangat sayang dengan anakku.
Aku menoleh ke arah Bima. Senyumku mengembang kala Bima sedang mengelus kepala Binar dengan penuh kasih sayang. Ah, Binar ketika kamu dewasa dan mengerti kondisi ini. Percayalah. Kamu tidak kekurangan kasih sayang sedikitpun.