Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 11 Kita selalu di pertemukan


__ADS_3

"Vi, Kakak berangkat dulu ya? Awas Binar, jagain!"


"Iya kak."


Ckit...


"Hai?"


"Eh... siapa ya?" Tanya Kak Monic.


Aku menoleh ke arah sumber suara .....dia?


"Eh maaf, Kakaknya Vio ya?"


Kak Monic terlihat keheranan, dia menoleh kepadaku. "Siapa?"


"Itu... itu... Bima Kak."


Kakakku mengangguk lalu kembali menatap kepada Bima, sedang apa dia di sini? Ah, bisa-bisa Kakak marah banget.


"Oh temennya Vio ya? Masuk-masuk, Kakak mau berangkat kerja dulu ya, Vi baik-baik di rumah."


EH? ENGGAK MARAH?


"I-iya Kak."


Ku lihat Kak Monic sudah keluar dan melajukan motornya dari halaman rumah. "Lo, sejak kapan tahu rumah gua?"


"Engga perlu tahu," jawab Bima, ia berjalan mendekat ke arahku dan Binar. "Oh ini anak lo ya? Cakep banget dia."


Aku hanya terdiam, ada rasa malu dan benci yang bercampur di dalam hatiku kali ini. Tidak jelas seperti apa rasanya tapi aku tidak menyukainya, cowok ini, dia gak berhak ada di sini atau mengganggu kehidupanku yang menuju tenang.


Tidak akan ku biarkan siapapun tahu dan lebih tahu lagi tentang hidupku, tidak ada teman yang benar-benar teman. Semuanya harus ada harga dan imbalan atas itu, hanya itu yang ku percayai sampai saat ini.


"Lo ngapain ke sini? Kenapa lo engga bosen ganggu hidup gua? Gua gak suka ada yang ikut campur sama hidup gua, paham?"


"Stt... nanti Binar bangun," kata Bima tidak punya rasa salah sama sekali.


Aku menariknya keluar dari ruangan ini, menuju dapur. Aku, Kakak dan Binar memang lebih suka menghabiskan waktu di ruang tengah depan pintu masuk daripada di kamar. Jadi, setiap siang sampai sore Binar akan selalu ada di ruang tengah.


"Mau lo apa sih Kak? Gua udah cape banget sama hidup gua tolong jangan di tambahin lagi."

__ADS_1


"Vi, gua gak maksud apa-pa, gua gak mau juga nambah beban di hidup lo, gua cuma mau nemenin lo."


"Kak, apa engga aneh, seseorang yang engga lo kenal sama sekali tiba-tiba dateng ke kehidupan lo dan bilang everything gonna be okay gua ada di sini, gua mau nemenin lo, gua mau jagain lo, apa itu gak aneh? Terlebih lo tahu semua tentang gua tanpa gua kasih tau, jadi stop gua mohon. Jangan ganggu gua!"


"Vi?"


"Apa? Lo mau bilang pembelaan mana lagi?"


"Gua sayang sama lo udah lama, mungkin lo gak inget, gua sakit Vi. Hati gua sakit saat gua tahu lo hamil, gua ngerasa gagal jagain lo dan gua gabisa lagi kalo harus jagain lo dari jauh."


Aku tertegun, mendengar semua omong kosongnya. Aku tidak tahu dia siapa, dari mana, siapa orang tuanya, aku gak tahu sama sekali. Berusaha mengingat pun aku tidak bisa, tidak tahu.


"Ngomong apa sih lo Kak? Jangan ngomong hal yang enggak perlu deh, gua udah cukup muak liat lo di sini."


"Oke, mungkin gua dateng buat lo di cara gua yang salah, tapi asal lo tahu Vi. Bertahun-tahun gua nyimpen perasaan ini, gua harap lu bisa kasih feedback baik buat gua. Gua gak terima hal ini bisa terjadi di hidup lo, tapi ada gua sekarang, lu aman Vi, lu bakal aman di deket gua. Tolong percaya akan hal itu, ya?"


"Enggak, gua udah cukup trauma sama semuanya. Gua gak akan pernah percaya sama siapapun, mau itu temen gua sekalipun apalagi lo. Gua gak kenal lo siapa, gua gak peduli lo suka gua dari kapan, gua gak peduli juga itu benar atau engga, gua cuma percaya sama Kakak. Bukan, bukan temen gua."


Ku lihat Bima tertegun mendengar ucapan ku barusan, semuanya benar. Aku tidak akan pernah mempercayai siapapun lagi, apalagi sampai menaruh sesuatu seperti harapan. Tidak, tidak akan pernah. Sekalipun itu suatu keharusan, akan aku tentang.


"Gua janji Viola, gua janji, orang yang bikin lo kaya gini gak bakal pernah tenang seumur hidupnya."


Bagaimana bisa orang sepertiku sangat di inginkan oleh seseorang seperti Bima? Jauh di dalam sana, Bima memang orang yang sangat baik, tidak bisa di ragukan kepintarannya, juga keterampilannya dalam banyak Hal. Aku menyukainya sejak pertama aku melihatnya di depan kampus.


Tapi, ada benteng yang begitu besar di antara kita. Benteng yang ku ketahui tidak dapat aku tembus, tidak akan pernah bisa aku panjat, selamanya aku akan tetap aku. Cewe kotor yang penuh dengan rasa malu.


"You deserve better Kak, cewe kaya gua gak pantes buat lo yang segalanya."


......................


Pagi ini aku memutuskan untuk berangkat lebih awal daripada hari-hari sebelumnya, sebab harus mengantar barang teman Kakak yang tertinggal di tas Kakak sewaktu kerja.


Tidak tahu lah kenapa bisa, aku hanya di suruh untuk mengantarnya ke hotel tempat Kakak bekerja.


Hotel bintang lima di Bandung, aku telah sampai di lobby dan sedang menunggu teman Kakak.


"Vio ya?"


Aku mengerutkan dahi ku kala melihat lelaki yang pernah ku jumpai di suatu tempat, tapi aku tidak ingat betul di mana. Dia tersenyum ke arahku seakan dia tahu aku, ya aku pun tersenyum kepadanya, walaupun aku tak ingat dia siapa.


"Nganterin barang ku ya dek?" tanyanya.

__ADS_1


"Oh ini teman Kak Monic ya?" tanyaku balik.


"Iya bener, Vio masih inget aku engga?"


Aku berfikir sejenak, kali ini harus berfikir lebih keras. Benar dugaan ku kalau kita pernah bertemu, ah tapi aku tidak mengingatnya sama sekali.


"Kayanya kita pernah ketemu ya Kak? Aku kurang inget gitu si tepatnya dimana dan kapan hehe," aku tertawa kecil, dia pun sama.


"Kamu udah gede aja ya Vio, perasaan waktu pertama kali kita ketemu kamu masih pendek, sekarang udah lebih tinggi tuh di liat-liat," ucapnya di akhiri kekehan pelan.


"Muka kamu juga mirip banget ya sama Monic, kaya kembar gitu, lucu banget liatnya," lanjutnya.


"Eh makasih Kak, tapi Kakak siapa ya? Aku lupa namanya, ya muka Kakak engga asing sih buat aku, kaya pernah ketemu."


"Iya lah pernah, aku tu yang nyamperin kamu pas kamu di tampar sama cowo sama cewek yang pake baju SMA waktu itu, aku yang pake jas biru. Masih inget engga?"


Aku mengingatnya, aku sangat ingat. Waktu itu dia membelaku kala Alex menamparku waktu aku mempergoki Alex dengan cewe barunya.


"Ah iya, Kak Bri? Brian kan ya?"


"Nah itu inget, udah lama banget ya kita engga ketemu Vi," ucapnya.


"Iya bener Kak, gak nyangka banget kita bisa ketemu di sini padahal waktu itu kita juga sama-sama di Jakarta ya?"


"Ya namanya juga makanan Vi, ikan yang di laut sama beras yang di sawah juga bisa ketemu satu piring kan?"


Aku terkekeh. "Iya bener, seneng bisa ketemu Kakak, kalo gitu aku berangkat ke kampus dulu aja kali ya Kak? Udah mau jam masuk soalnya."


"Eh tunggu Vi, bareng sama sepupu ku aja, mau?"


"Emang sepupu Kakak siapa? Kita satu arah?"


"Iya satu arah, tunggu ya aku ajak dia kesini dulu," seru Kak Brian sambil pergi dari hadapanku.


Tak butuh waktu lama, dia sudah kembali lagi dengan satu orang anak laki-laki seumuran ku dan berpakaian sama sepertiku, dengan logo yang sama pula. Ya, ternyata kita satu kampus.


"Nih, ini sepupu ku Vi, kalian saling kenal kan?"


Aku tertegun kala melihat siapa yang Kak Brian sebut sepupu, orang yang aku kenal, bahkan sangat aku ketahui siapa dia.


"Lo?"

__ADS_1


__ADS_2