Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 5 Bidadari tak bersayap


__ADS_3

Aku berjalan ke arah luar dari daerah ini, menuju jalan raya. Aku belum pernah keluar dari dalam kost Kak Monic semenjak datang ke sini, ternyata lingkungannya sangat ramai.


Bahkan ada lapang voli yang terbuat dari pasir di daerah sini, sampai lah aku di ujung gang kosan Kakak. Aku menemukan jalan raya, ku lihat-lihat sekitar.


"Dia?" Gumam ku, aku menyipitkan mataku mencoba untuk melihat orang itu dengan jelas. Tidak salah lagi, itu dia!


"Alex!" teriakku membuat lelaki bajingan itu menoleh ke arahku.


Dia terlihat gelagapan begitu mengetahui yang memanggilnya adalah aku, saat ini dia sedang bersama seorang cewek SMA. Mereka memang memakai baju SMA, entah apa yang sedang mereka lakukan di daerah ini. Padahal ini masih jam pelajaran untuk anak sekolah.


"Alex sini lo!"


Cewek yang berada di samping Alex terlihat kebingungan, aku segera berlari menghampirinya.


"Oh ini cewe baru lo?"


"Siapa lo?" tanya Alex dengan wajah yang ingin sekali ku tampar.


Aku tertawa kecil, melirik ke arah cewek yang berada di samping Alex, "cowonya ya Dek? Bilangin, jangan jadi orang pengecut yang cuma bisa ngelakuin kesalahan tanpa tanggung jawab."


"Ada apa ya ini?" tanya cewek yang berada di samping Alex kebingungan.


Aku tidak habis pikir, bagaimana dia bisa dengan mudahnya memiliki pacar lagi sedangkan urusan denganku belum selesai? Apa maksud semua ini? Lawakan ini? Aku cukup puas menertawakan semesta yang terus mengajakku bercanda.


Mengambil Ayahku dengan tiba - tiba, mendatangkan sosok 'binatang' ke kehidupanku, mengubah sifat Ibu, dan sekarang membuat lelaki yang aku cintai menjadi sosok bajingan baru. Entah, ku rasa semesta sangat suka bermain denganku.


"Lu siapa? Gua gak kenal! Jangan ganggu gua dan pacar gua!"


Ku tampar wajah tampan Alex dengan sangat keras, banyak sorot mata memperhatikan kami. Aku tidak peduli, aku hanya ingin menamparnya. Bahkan, tamparan pun tidak bisa membalas apa yang sudah dia lakukan padaku.


"Eh... eh... kenapa nampar cowo saya?"


"Dek, hati-hati! Cowo brengsek kaya dia engga pantes dapet cewe secantik lo, dia cuma butuh badan lo aja."


"Apa maksud nya? Jangan asal bicara ya kamu," ujar cewe yang berada di samping Alex.


Aku tidak menjawabnya, ku alihkan pandanganku pada cowo bajingan itu.


"Ha ha ha ha ... hello Alex, jangan harap lu bisa dapet kebahagiaan di dunia ini, kecuali lu sujud di kaki gua!"


Plak...


Alex menamparku. Alex? Menamparku?


"Eh... eh... aduh Mas, dia cewek kenapa di tampar?" seorang lelaki dengan jas almamater berwarna biru tua itu menghampiri kami.

__ADS_1


"Cewek murahan, cuih!"


Dia meludah tepat di hadapanku, lalu pergi sambil menarik tangan cewek barunya itu. Sial, sial, sial. Alex, Alex.....


"Sakit ya? Ko bisa kaya gitu, kenapa?"


Aku menggeleng, siapapun tidak akan paham dengan masalah orang dewasa yang terjadi di anak usia enam belas tahun. Tidak akan. Hanya akan saling menghakimi, pada akhirnya perempuan lah yang salah.


Kenapa tidak melapor pada saat kejadian? Ini masalahnya sudah larut, untuk apa di bahas lagi? Kenapa tidak melawan saat di paksa? Kenapa tidak teriak? Kenapa memakai baju seperti itu? Ya. Itu semua pertanyaan untuk perempuan jika melapor pada pihak yang berwajib. Menuntut keadilan? Tidak akan bisa. Yang ada kita di tuntut balik atas dasar pencemaran nama baik. Sehat?


Tidak. Pertanyaan itu lebih cocok di tanyakan pada lelaki bajingan di luar sana. Sehat? Masih punya akal?


......................


"Oh jadi kamu ngekos di sini?"


"Em... iya. Aku ikut Kakak ku."


"Siapa?"


"Monic."


Tidak ada jawaban, aku melirik ke arahnya, di sana sudah terlihat mimik wajah cowok di sampingku berubah.


"Kenapa?"


Aku mengangguk, ya dia adalah orang yang menghampiri aku saat Alex menamparku. Dia bilang ingin mengantar sampai kosanku, kebetulan kita satu arah. Aku hanya menurut saja.


"Kamu temannya?"


"Adiknya."


"Oh hai..." cowok itu mengulurkan tangannya padaku bermaksud untuk berjabat tangan.


"Oh iya... hai..."


"Aku Brian, yang ngekost tepat di depan kosan kalian."


"Aku Vio, salam kenal Kak."


Brian tampak sumringah kala aku berbicara kalau aku Adik Kak Monic. "Memangnya kenapa?"


"Kenapa apanya?"


"Ko seneng gitu?"

__ADS_1


"Eh? Aku keliatan gitu emang?"


Dia menyukai kakakku. Aku yakin itu, lihat saja bagaimana dia bereaksi. Tak heran, Kakakku sangat cantik memang. Cowok mana yang tidak tertarik padanya bahkan di pandangan pertama?


"Suka sama Kak Monic?" tanyaku spontan.


Wajah Brian sudah seperti kepiting rebus, merah merona. Memangnya bisa lelaki seperti itu?


"Ah apa sih Dek, udah-udah, aku ke kamarku dulu ya, salam sama Monic."


Aku tertawa, lucu juga melihat orang kasmaran. Ah, aku tidak tahu kalau lelaki jatuh cinta akan selucu itu. Aku tidak pernah melihatnya.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Alex beberapa jam sebelum mengajakku berpacaran.


"Ikut aja deh, apa aja mau," jawabku.


Alex mengangguk dan berjalan ke arah kantin, iya, Alex menghampiri ku ke fakultas ku saat pulang kampus. Dia memesan mie ayam pangsit dengan minum air mineral.


"Nih, makan yang banyak biar gendut."


Aku sangat senang, Alex tidak pernah meninggalkanku. Setiap hari akan ada waktu dimana dia menghampiri ku, tidak pernah telat mengabari, juga menelfon ku setiap akan tidur.


Kadang aku berfikir kenapa dia bisa jadi orang sebrengsek itu tiba-tiba? Dia melakukan itu atas kesadarannya tapi dia seperti tidak punya akal sehat ketika di tanya tanggung jawab. Tidak akan ada bekas pada laki-laki, untuk perempuan? Sudah jelas.


"Neng, hey," Bu Wati menepuk pundak ku.


"Ko ngelamun di sini? Mampir lagi aja ke warung Ibu, ayo," ajak Bu Wati.


Ah, kenapa juga aku harus mengingat kenangan itu dengan nya. Aku memang mencintainya, tapi kalau seperti itu apa bedanya aku dengan Ayah? Hahaha... sama-sama mencintai orang yang salah.


Apa Ayah tahu kalau anaknya sedang seperti ini di alam sana? Ku harap tidak. Aku ingin Ayah bahagia di sana.


"Engga Bu, makasih, ini mau pulang aja."


"Oh alah, ya udah kalo gitu mah. Nanti makan siang mah ke sini aja ya Neng?"


"Iya Ibu, makasih banyak ya."


Kadang aku heran, kenapa aku selalu di pertemukan dengan orang baik padahal semasa hidupku aku merasa tidak begitu baik kepada orang-orang.


Atau mungkin ini karma Kakak? Dia sangat baik kepada siapapun, sampai aku pun terkena getahnya. Kalau memang seperti itu, definisi bidadari tanpa sayap memang benar cocok untuknya.


"Dek, Kakak pulang cepet hari ini, mau nitip makan apa? Sekitar jam tiga udah sampe rumah."


Aku tersenyum kala mendapat chat darinya, "Apa aja Kak, semuanya enak."

__ADS_1


...🌼🌼🌼...


to be continued...


__ADS_2