
Pak Burhan kembali gelagapan. "Baik kalau memang Viola tidak bersalah. Silahkan masuk ke kelas masing-masing."
"Tunggu dulu Pak," cegah kak Brian. "Enak saja hanya sampai di sini. Lalu bagaimana dengan nama baik Viola yang sudah tercemar di kampus ini? Bagaimana juga dengan Ica yang sudah menyebarkan fitnah ini? Bukankah dia harus di hukum atas perilakunya?"
Wajah Pak Burhan semakin memucat. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Pak Burhan seperti terus berada di pihak Ica.
"I-iya ... soal itu akan saya urus nanti."
"Gak bisa gitu Pak, harus adil dan transparan," ucap Bima dari belakangku lagi.
Aku hanya diam. Rasanya kalau aku ikut bicara pun tidak akan mempengaruhi keadaan. Bima dan kak Brian sudah begitu kuat untuk melawan Pak Burhan.
"Betul Pak Burhan. Nama Vio harus segera di bersihkan. Kalau sampai besok Bapak belum juga menangani dan menghukum Ica, saya akan melaporkan Bapak atas dasar pencemaran nama baik terhadap mahasiswa sendiri. Bagaimana?" Tatapan kak Brian sangat tajam kepada Pak Burhan. Membuat kepala prodi itu semakin berkeringat dingin.
"Keren ... keren banget mereka, Bima ... kak Brian ... kalian keren banget," ucapku dalam hati.
"Baik. Saya akan membuat pengumuman sekarang juga mengenai foto itu. Untuk Ica, nanti akan saya hukum," ucap Pak Burhan pasrah. "Maafkan saya juga Viola sudah menyudutkan kamu sejauh ini," lanjutnya.
Sepertinya ancaman kak Brian sangat membuatnya tertekan. Tapi ada rasa takut di balik ini. Aku takut Ica akan semakin membuat hal aneh lagi padaku.
"I-iya Pak gak apa-apa," kataku.
"Saya minta saat Vio di berikan hukuman dan saat dia di hukum, ada Bima dan Viola yang menyaksikan itu. Saya ragu, Bapak seperti terus membelanya barusan. Untuk pengumuman silahkan sekarang, di hadapan saya."
Kak Brian begitu keren. Aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Kak Monic sangat beruntung bisa di cintai oleh lelaki seperti kak Brian ini.
"Baik, mari ikut saya ke ruang informan."
Kami bertiga mengikuti Pak Burhan dari belakang. Sepanjang jalan menuju ruang informan banyak sekali pasang mata yang melihat ke arah kita. Ada yang seperti bertanya. Ada yang menatap dengan tatapan jijik. Mungkin yang melihat kita dengan tatapan itu sudah mengetahui tentang foto ku.
Ya, kalo di pikir-pikir cepat sekali menyebarnya. Sampai seluruh mahasiswa tahu. Sangat di sayangkan juga, kampus yang harusnya melindungi malah memprovokasinya.
Sesampainya kita di ruangan informan, Pak Burhan langsung menyalakan mic khusus untuk pemberitahuan.
"Tes ... tes ... baik anak - anakku yang berbahagia. Saya kepala prodi, Burhan Hakim. Dengan ini menyatakan kalau foto Viola Binca, yang sudah tersebar satu fakultas itu adalah fitnah. Foto itu tidak seperti apa yang di tulis di keterangannya. Mohon untuk tidak menyebar luaskan lagi, dan tidak mendiskriminasi Viola Binca karena dia di nyatakan tidak bersalah."
"Sebutin dong pak, yang nyebarin nya siapa!" seru Bima.
__ADS_1
Mic sudah di matikan oleh Pak Burhan. "Maaf Bima, saya tidak bisa mengatakan itu pada anak-anak satu fakultas ini. Kalau itu menyebar dan semua tahu kalau Ica yang menyebarkannya maka akan tidak baik bagi nama Ica."
"Bapak ini sangat sayang sepertinya terhadap murid Bapak yang bernama Ica ya? Sampai tidak ingin namanya buruk. Padahal dengan kesadarannya, Ica menyebarkan fitnah yang membuat nama baik Vio jadi buruk," sindir kak Brian dengan sarkastiknya.
"B-bukan seperti itu Pak."
"PAK BURHAN!"
Semua yang berada di ruang informan menoleh ke arah suara yang begitu lantang. Itu Ica. Entah untuk apa dia kemari, mungkin karena sudah mendengar pengumuman tadi?
"Tuh Ica Pak," sindir Bima.
Terlihat raut wajah Ica yang tadinya marah berubah menjadi khawatir. Perlahan peluh menetes dari dahinya. Ku lihat beberapa kali dia menelan ludahnya kelu.
"Silahkan Pak Burhan jika ingin memberikan hukuman dan menghukum Ica, di sini saja Pak mumpung masih ada saya," ucap kak Brian dengan senyum smirknya.
"Kamu ngapain kesini Ca?" tanya Pak Burhan pada Ica. Ica menggelengkan kepalanya lalu berencana untuk kabur. Namun langkahnya itu di tahan oleh Bima.
"Mau kemana lo?"
......................
"Ini gara-gara lo ya Binca, liat aja gua bakal lakuin lebih dari ini!" ketus Ica sambil mengepel lantai kamar mandi.
Aku terkekeh. "Ya silahkan aja kalo berani. Gua yakin, kepala prodi kesayangan lo itu bakal bela lo mati-matian lagi kaya tadi."
"Lagian sebenernya lo siapa si? Ampe di bela segitunya ama tu kaprodi botak," timpal Bima di akhiri kekehan pelan.
"Berani ya lo sama gua? Liat aja nanti!"
"Yu ah Vi, ngapain si liatin dia? Enggak ada guna juga. Ke kelas aja kita."
Aku mengangguk mengikuti langkah Bima. Sebenarnya aku takut, takut jika Ica benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Dia memang sangat nekat, apalagi sekarang tahu kalau Bima dekat denganku. Akan bagaimana nasibku kedepan? Aku yakin, ada hubungan antara Ica dan Pak Burhan.
"Vio, kakak pulang dulu ya. Tadi udah ngobrol sama Pak Burhan. Tenang aja, mulai sekarang aman ko udah."
"Kak makasih banyak ya, aku gak tahu lagi kalau engga di bantu kakak sama Bima. Aku hutang budi sama kalian berdua. Bener-bener maaf udah ngerepotin dan libatin kalian ke masalah aku. Sekali lagi terima kasih banyak ya kak, Bim?"
__ADS_1
Kak Brian menepuk pundak ku lagi. "Udah santai aja Dek, semuanya bakal baik-baik aja ko. Kamu cukup jalani kehidupan kamu sebagaimana mestinya. Semangat ya?"
Aku mengangguk. "Makasih Kak."
"Gua balik dulu ya Bim, jagain tu cewe lo."
"cewe?"
Kak Brian sudah berlalu dari hadapan kami. Aku menatap Bima dengan intens. "Cewe lo apa?"
"Ya, iya ... lo cewe kan?" tanya Bima terdengar sangat ragu.
"Iya emang, tapi bukan cewe lo."
"Kan bakal Vi."
"Iya gitu?"
"Iya lah."
"Pede banget."
"Pasti, lo bakal jadi cewe gua setelah gua jadi dokter."
Aku menggeleng. "Enggak ah."
"Kenapa Vi? Padahal gua udah jadi dokter nanti, masa lo gak mau?"
"Kelamaan Bim, keburu dokter-dokter cewe mau sama lo. Nanti saingan gua berat banget tau," jawabku di akhiri kekehan pelan.
"M-maksud lo? Lo mau jadi pacar gua sekarang?"
Aku tersenyum, "gua ke kelas dulu ya Bim, gua belum tau kelas gua di mana. Makasih ya buat yang tadi, lo keren banget tau."
Aku berjalan menuju kelasku, tidak. Maksudku menuju Tia dan Piona yang tadi mengabari ku kalau mereka sedang berada di depan mading sekolah. Ah, rasanya sulit di percaya hari ini. Belum juga habis, tapi sudah berat aja.
Bima. Lain kali aku akan menerimanya.
__ADS_1