
"Oh jadi ini rumah lo Bin?"
Aku mengangguk, ya, ini rumah Kakak. Tidak lagi ngontrak, Kakak membelinya cash aku kurang paham dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu. Aku tidak tahu Kakak kerja sampingan apa untuk menghidupiku dan anakku.
"Makasih ya, Tia. Gua masuk dulu, maaf belum bisa ngajak lu mampir," ucapku sambil turun dari mobil milik Tia.
"Kak..."
Ckit...
"Kamu dari mana aja Vi? Kakak ini mau kerja loh," cecar Kak Monic.
Aku tersenyum menampakkan sederet gigi putihku, lalu masuk ke dalam.
"Hallo Binar cantik, mama pulang sayang..."
"Kakak, jangan mama!"
"Ya emang aku mama nya, kenapa si?"
Kak Monic meneloyor kepalaku. "Iya terserah, biar temanmu itu tahu."
"Ish..."
"Kakak berangkat dulu, jagain Binar yang bener ya? Awas aja, oh iya jangan lupa pompa asi buat dia."
"Iya iya bawel banget sih."
Ku gendong gadis kecilku, entah bagaimana aku harus mengucapkan rasa syukur. Aku senang mempunyai dia, melihatnya memberiku kekuatan. Mungkin Kakak juga sama denganku, dia sangat menyayangi Binar bahkan sepertinya melebihi aku. Ah tidak, kasih Ibu selamanya akan nomor satu.
Hey Viola, bagaimana dengan Ibu mu? Apa kasih sayangnya masih nomor satu? Aku tertawa ketika bertanya pada diri sendiri. Lucu juga.
Aku, mahasiswa semester 5, sudah memiliki seorang anak. Kalau orang tahu mungkin akan menganggapnya sebagai lelucon?
"yoshh yoshh yoshh... tidur yang nyenyak ya sayangku..."
Ckitt...
"Ada yang ketinggalan kak?" Tanyaku pada Kak Monic, yang kembali lagi tanpa menolehkan padangan padanya. Ya aku yakin itu Kak Monic, kalau bukan dia siapa lagi?
"Hai Bin."
Aku tertegun kala mendengar suara itu, itu bukan Kak Monic. Segera ku balikkan tubuhku menghadap ke sumber suara.
"T-Tia? L-lo ngapain... eh maksud gua lo ngapain di sini?"
Mampus, bisa ketauan kalau aku sudah punya anak. Bagaimana ini? Satu sekolah bakal heboh!
Tia berjalan menuju ke arahku, dan duduk tepat di samping Binar.
"Ini adik lo?"
aduh, aku yakin kalau Tia udah tau.
"Eh iya, ini adik gua Ti..." jawabku sedikit gemetar.
Bagaimana bisa dia turun dari mobil dan mengikutiku? Bukannya sudah ku bilang kalau aku tidak mengundangnya ke rumah? Lagipula tadi aku melihat mobilnya melaju setelah aku turun.
"Lucu ya, namanya siapa?"
__ADS_1
"Binar."
"Oh jadi lo buru-buru tadi karena dia ya?"
"Eh iya ti, soalnya Kakak harus kerja tadi."
"Oh gitu, padahal kalo lu bilang gua bisa loh sewain pengurus bayi buat lu, biar sekolahnya engga keganggu."
Hah? Sebenarnya mendengar percakapanku dengan Kak Monic atau enggak si?
"Eh engga usah Ti, gak apa-apa. Lagian gua masih bisa urus dia sama Kakak gua, eh lu dari kapan ada di depan rumah gua?"
"Itu, tadi waktu ada cewek keluar yang kayanya itu Kakak elo deh. Nah, gua masuk ke dalem pas dia udah pergi."
Aku menghela nafasku lega, syukurlah dia tidak mendengar percakapanku dengan Kakak.
"Gua boleh nanya engga sama lo?"
"Apa Ti?"
"Kalian cuma tinggal bertiga di sini?"
......................
"Oi Binca!"
Aku terdiam sejenak melihat kanan kiri untuk menemukan sumber suara. "Eh, oi Piona!"
Aku berjalan ke arah Piona, dia sedang duduk di depan kelas kita.
"Sendirian aja?"
Aku pun ingin, ingin di siapkan makannya. Ingin di siapkan bekalnya. Ingin di omeli karena melakukan kesalahan. Aku rindu Ibu.
"Heh, bengong mulu! Ngantuk lagi?"
"Eh? Emang bengong ya? Engga kok, halu kali lu," jawabku sambil terkekeh.
"Aneh, lu emang suka banget bengong ya Bin?"
"Engga juga, biasa aja."
"Bohong banget!"
"Yeuu... udah ayo masuk ah," ucapku sambil berdiri berniat untuk masuk ke dalam kelas.
"Hey,"
Seorang bertubuh tinggi menghadang jalanku, aku mendongakkan kepalaku untuk melihat siapa orang itu.
"K-kak Bima?"
Perasaan aku tidak ada urusan dengannya, tidak juga membuat masalah kepadanya. Kalau ada pun, pasti dengan si Ica itu, bukan dia. Aduh, jangan deh kalo sampe dia ke singgung, bakal ribet gini urusannya.
"Ada apa ya Kak?" Tanyaku ragu.
Ku lihat sekeliling sudah memperhatikan kita berdua, sama halnya dengan Piona, tatapannya penuh tanya. Aku menggeleng padanya karena aku saja tidak tahu ada apa.
Kak Bima menarik tanganku menjauhi kerumunan mahasiswa yang berada di depan kelas ku. Sampai-sampai yang sudah di dalam kelas pun keluar demi melihatku di tarik tangannya oleh Kak Bima. Sepopuler itu dia? Iya lah! Secara dia kan ketua himpunan. Aduh Viola, lu udah salah cari masalah kemaren.
__ADS_1
Aku menghentikan langkahku dan melepaskan tangan yang di tarik oleh Kak Bima kala sudah jauh dari kerumuman, kini di tempat yang lebih sepi. "Ada apa ya Kak?"
"Nama lo siapa?"
"Kenapa?"
"Emang salah kalau gua sebagai ketua himpunan pengen tahu?"
Cih!
Ini yang paling aku tidak suka, menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Untuk apa? Butuh validasi?
"Gak mau ngasih tahu, mau apa?"
Kak Bima tersenyum, aku tidak tahu maksud dari senyumannya itu apa. Yang jelas, aku tidak menyukainya.
Terlepas dari aku yang sudah punya anak, aku tidak ingin terlibat dengan siapapun demi melindungi namaku dan Kakak. Aku tidak boleh sampai di keluarkan dari kampus ini hanya karena aku berurusan dengan anak-anak himpunan sialan ini.
"Viola Binca, Sosiologi 5 A, punya temen yang namanya Piona dan baru aja kenal sama Tia, betul?"
****!
Apa lagi yang dia tahu tentangku? Apa inginnya? Tidak heran kalau dia tahu aku dari Sosiologi, tapi dengan Piona dan Tia? Kenapa dia tahu? Oke kalau Tia, nah Piona? Tahu dari mana?
"Sorry deh Kak, ada keperluan apa ya sama gua?"
"Lahir di Jakarta, sekarang tinggal di Bandung, sekitar enam bulan yang lalu, benar?"
Hah? Dari mana dia tahu itu semua? Sampai mana dia tahu tentangku?
"Kak, gua peringati sama lo, jangan pernah ikut campur sama kehidupan gua dan jangan sok tahu tentang hidup gua! Lo... bukan... siapa-siapa!"
Aku muak dengan ucapannya, dari mana dia tahu tentangku? Apa dia tahu tentang aku yang memiliki anak? Bagaimana kalau dia sampai tahu secara dia ketua himpunan, satu fakultas bakal tahu. Kakak bakal kecewa dan susah lagi nyari kampus untukku kalau sampai ke bongkar semua.
Sialan, Bima sialan!
Aku berjalan meninggalkannya, tidak peduli! Aku harus melupakan hari ini. Jangan sampe aku punya urusan lebih daripada ini.
"Gua juga tahu kalo lu punya Kakak cewe, namanya Monica Vinca, benar?"
Aku terdiam, seakan tubuhku membeku, bahkan sampai nama lengkap Kakakku? Siapa dia? Keringat dingin terus bercucuran di dahiku, bagaimana ini, dia pasti sudah tahu kalau aku sudah tidak perawan dan memiliki satu anak. Bagaimana kalau pihak kampus tahu? Aku bisa sampe keluar dari sini!
"Ayah lo udah meninggal dan Ibu lo nikah lagi, apa gua salah?"
Bughh...
Aku tidak bisa lagi menahan marahku, ku lemparkan pukulan yang lumayan keras ke wajahnya.
Aku tidak peduli akan apa yang terjadi denganku setelah ini, aku tidak suka dengan orang penguntit seperti dia. Bagaimanapun, dia tidak berhak mengetahui semua tentang hidupku.
Hidupku hanya untuk Kakak, yang tahu hidupku hanya Kakak dan aku. Tidak ada orang lain, ataupun teman. Aku harus segera pindah dari sini kalau tidak usaha Kakak akan sia - sia.
Berapa banyak uang yang sudah Kakak keluarkan demi agar aku bisa kuliah di sini? Hanya karena satu bajingan so tahu ini, Kakak harus lebih lagi untukku. Sialan!
......................
Author juga kesel koook😠 ramein komentar nyaa yaaa biar makin semangat lagi hihihi...
oh iya, buat visualnya di bab 9 ya, masih bingung banget siapa yang jadi Bima 😢
__ADS_1