Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 9 Jadi pacarmu?


__ADS_3

"Ayah lo udah meninggal dan Ibu lo nikah lagi, apa gua salah?"


Bughh...


Aku tidak bisa lagi menahan marahku, ku lemparkan pukulan yang lumayan keras ke wajahnya.


Aku tidak peduli akan apa yang terjadi denganku setelah ini, aku tidak suka dengan orang penguntit seperti dia. Bagaimanapun, dia tidak berhak mengetahui semua tentang hidupku.


Hidupku hanya untuk Kakak, yang tahu hidupku hanya Kakak dan aku. Tidak ada orang lain, ataupun teman. Aku harus segera pergi dari sini, kalau tidak usaha Kakak akan sia-sia.


Berapa banyak uang yang sudah Kakak keluarkan demi aku bisa kuliah di sini? Hanya karena satu bajingan so tahu ini, Kakak harus lebih lagi untukku. Sialan!


"MAU LO APA HAH? GUA GAK KENAL SIAPA LO, GAK USAH SO TAHU DAN NYARI TAHU GUA SIAPA! ANJING LO!"


Bima yang badannya sedikit terhuyung ke belakang dia mencoba menguatkan kakinya agar bisa berdiri dengan tegak lagi.


Ia usap sedikit darah yang ada di mulutnya akibat pukulan ku tadi, rasanya aku belum puas, ingin lagi dan lagi memukul bajingan ini.


Bima tersenyum, lalu tertawa dengan sangat kencang membuatku semakin mengepalkan jari tanganku bersiap untuk memukulnya lagi jika dia mengucapkan kalimat yang tidak aku ingin dengar.


"Jadi itu semua benar? Ah, menarik."


"Apa? Apa lagi yang lo tahu hah? Cukup nyari tahu tentang gua, gua gak sudi kalau lu tau identitas gua!"


"Gua bisa rahasiain itu semua asal lo nurut semua perkataan gua," ucapnya sambil memegang pundakku.


Aku segera menepisnya, kesan pertamaku padanya sudah salah. Ku kira dia orang baik dan suka menegakkan keadilan, tapi apa yang ku dapat sekarang? Ketua himpunan sampah!


"Lo udah punya anak kan?"


Bugh...


Aku memukulnya lagi, sekarang di bagian perut. Entah bagaimana akhirnya, aku hanya ingin puas memukulinya, apa hak dia mengetahui apa yang seharusnya tidak dia ketahui?


"Aw... sakit cantik..."


Cuih...


Aku meludah di hadapannya, kesal ku sudah sampai pada level tertinggi. Bagaimana ini? Dari mana dia tahu? Atau mungkin memang aku tidak di takdirkan untuk memiliki masa depan yang cerah? Aku mungkin tidak di takdirkan untuk melanjutkan kuliah?


Kak, maaf.


"Puas lo? Silahkan kalo lo mau nyebarin itu semua ke seisi fakultas, gua gak peduli, gua cabut dari kampus lo ini!"


Aku berjalan meninggalkannya menuju kelas ku, tidak ingin sebenarnya kembali lagi ke kelas itu karena pasti akan banyak mengundang pertanyaan. Tapi harus, mungkin kalau tidak hari ini aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan Piona.


Ku rasakan tangan kekar menarik tanganku dari arah belakang, aku tahu ini pasti Bima sialan itu!


"Mau apa lagi, hah? Lo belum puas?"

__ADS_1


"Kata siapa gua mau bilang semua ini ke orang di sekolah? Kata siapa gua bakal nyebarin aib lo?"


Cih!


Aku mendecih, melepaskan tanganku dari genggamannya.


"Terus mau lo apa? Lo se-niat itu nyari tahu tentang gua, apa lagi selain buat mempermalukan dan ngehancurin hidup gua kan? Gua tahu, gua emang gak pantes dapet ini semua, gua emang gak pantes lanjutin kuliah apalagi di sini, dan ketemu elo!"


Aku membelalakkan mataku kala Bima memelukku dengan sangat erat, iya, kini aku berada dalam pelukannya. Apa lagi kali ini?


"Vi, izinin gua buat jaga lu kali ini."


Aku terdiam, tubuhku seakan membeku, lebih beku dari sebelumnya. Aku tidak mengenal dia siapa, aku tidak tahu dia siapa, mau apa dan untuk apa?


"Maksudnya apa? Setelah semua ini lu bilang gini, maksud lu apa?"


Pelukannya semakin erat, ku rasakan lengan nya menelusuri tiap helai rambutku. "Biarin gua jagain lu dari semua yang mau jatuhin lu Vi, gua sayang sama lo."


......................


"Lu dari mana aja sih Bin? Terus itu Kak Bima ngomong apa aja sama lo?"


"Aduh Pi, nanti aja deh di bahas nya, mau makan banget ini laper, ayo kantin," ajak ku.


"Gua bawa makan Bin," ucap Piona sambil menunjukkan bekal makannya padaku.


"Gua tau lu bawa makan, gantian lah, lu temenin gua makan di kantin."


"Eh ke kelas sebelah dulu bentar," aku ingat, Tia tidak memiliki teman, kalau dia tidak bawa bekal makan kasian juga. Bisa aja dia trauma ke kantin gara-gara kejadian kemaren, kan?


"Ngapain?"


Aku tidak menjawab pertanyaan Piona, ku lihat dia juga mengikutiku. Begitu sampai di ambang pintu, benar saja aku melihat Tia sedang membaca buku di pojok sana sendirian.


Ku hampiri dia dengan Piona, "Tia, kantin yu?"


"Eh Binca," Tia menoleh ke arah Piona, seakan bertanya dia siapa.


"Eh iya, itu Piona, kenalin Pi ini Tia, kita temen mulai sekarang," ucapku pada keduanya.


"Halo Tia, gua Piona satu tim sama Binca."


"Oh iya, hai Piona, gua Tia salam kenal ya."


"Ya udah, kan udah pada kenal nih, ayo ke kantin bareng deh," ajak ku pada keduanya.


Pio dan Tia mengangguk lalu mengikuti menuju kantin.


"Pada mau makan apa? Gua deh yang pesenin, kalian duduk di sini biar makin akrab," ucapku pada keduanya.

__ADS_1


"Minuman aja Bin gua, kan makannya udah ada, lo Ti mau apa?" Tanya Piona pada Tia.


"Em, samain aja deh sama lo Bin, selera kita kayanya sama deh," aku mengangguk paham.


Ku langkahkan kakiku menuju tempat makanan di jual, kantin ini menyediakan sepuluh stan yang makanan tiap stannya beda - beda.


Aku menuju pada stan bakso, kayanya makan bakso siang-siang gini enak. Mungkin Tia juga akan menyukai makanan ini karena sekaya apapun dia masa iya engga suka bakso? Bakso kan makanan seribu umat, engga! Dua ribu? Bukan juga, ah banyak deh pokonya yang suka bakso. Eh? Iya kan? Iya dong ah.


Aku merasakan sesuatu yang menghalangi jalan kakiku, tersandung? Ah mana ada batu di sini?


Emph...


Aku terjatuh kala mengandung sesuatu yang entah apa itu, badanku di tangkap oleh seseorang yang tidak ku ketahui siapa tapi dari caranya menangkap ku dan bau badannya sepertinya aku tahu dia siapa.


"Lo apa - apaan sih Ca? Kalo dia jatoh engga lucu!"


Aku membelalakkan mataku kala mendengar suara ini, "kak Bima ya? Jadi yang bikin aku jatoh kakinya Ica?"


Aku membenarkan posisiku jadi berdiri, sambil merapihkan bajuku yang sedikit kusut akibat jatuh tadi.


"Ko lo belain dia sih Bim? Dia siapa ampe lo bela gitu?"


"Dia pacar gua! Puas?"


"Hah?"


......................


Hallo author mau bayar janji niii



Bima




Ganteng banget dia itu ๐Ÿ˜๐Ÿ˜



Tia




Kalau Tia, dia lebih ke imut lucu gitu ๐Ÿฅบ

__ADS_1


Happy reading, jangan lupa tinggalin jejak yaaa...


__ADS_2