Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 21 Kita jalani


__ADS_3

"Akhirnya gua bisa bawa Binar ke sini kak," ucapku. Kala Bima membawaku ke tepi danau. Aku mengajak Binar juga. Kakak pergi kerja jadi tidak ikut dengan kami.


Bima menggelarkan tikar yang kami bawa. "Duduk Vi, pegel gak itu? Biar gua yang gendong Binar sini," seru Bima. Aku menggeleng.


Ku pandangi wajah Binar yang sedang tertidur saat itu. Wajahnya begitu menenangkan lagi-lagi. Ya, kehidupan ini tidak pantas jika tidak di syukuri. Meski Binar hadir karena kesalahan ku di masalalu. Meski kelak akan ada yang mengejeknya karena itu, aku akan tetap ada di sampingnya.


Ku elus pipi lembut anakku. Senyumku mengembang, sorot mataku berganti menatap danau yang luas dengan air yang sangat bersih dan jernih. Kelak, Binar akan memiliki hati seperti danau ini. Menenangkan ketika di pandang, di dalamnya terdapat hati yang bersih dan jernih.


Terasa tangan kekar menyentuh kepalaku. "Gua gak di ajak ni? Padahal kan gua yang ajak kalian ke sini."


Aku terkekeh dengan tingkah Bima. Entah sejak kapan aku menjadi seperti ini. Rasanya, Bima orangnya. "Nanti di kira kita udah nikah Bim."


Bima menatap lurus ke arah danau. Ia tersenyum. "Memangnya kenapa? Gua emang pengennya gitu."


"Bim?"


"Apa?"


Aku terdiam. Tidak menjawabnya. Aku sangat menginginkan Bima. Dia sangat baik dan begitu tulus. Tapi, apa orang sepertiku tepat untuknya? Rasanya dia bisa mendapatkan sosok yang lebih dari pada aku. Rasanya Bima lebih pantas mendapatkan orang yang bisa menjaga dirinya sendiri.


"Gua gak pernah lupain lo Vi, gua udah berulang kali nyoba sama orang baru tapi ujungnya gua tetep nyari lo. Gua gak paham kenapa, tapi gua rasa tempat pulang itu emang nyata adanya." Bima menepuk pundak ku. Sesaat dari itu dia merangkul ku.


"Bim?"


"Biarin tetep kaya gini ya Vi, sampe gua ngerasa pantas berada di samping lo. Saat ini gua belum punya apa-apa buat seriusin lo. Gua mau semuanya siap dan pas, biar engga ada sakit lagi buat lo."


Aku menggeleng. Bukan, malah seharusnya aku yang merasa belum pantas bahkan tidak untuknya. "Bim, lo bisa dapet cewek yang baik-baik. Lo bisa dapet seseorang yang lebih daripada gua. Gua gak ngerasa gak pantes aja di perjuangin segini nya sama lo. Gua yakin, lo bisa dapet yang lebih dari gua Bim."


Bima menyenderkan kepalanya padaku. Dia membelai wajah Binar dengan sangat lembut. Kala itu senyumnya merekah, tampan sekali.

__ADS_1


"Binar, kenapa ya Ibu kamu selalu denial sama perasaannya? Kenapa ya Ibu kamu selalu nolak aku padahal aku memang ingin dia. Binar, ketika kamu besar jangan jadi pengecut kaya Ibu kamu ya. Yang enggak mau jujur sama perasaannya sendiri."


Aku mengerutkan dahiku. Apa maksud dari denial sama perasaan sendiri? Apa yang di maksud pengecut?


Bima menatapku, sorot matanya begitu tajam. Juga, menenangkan. "Gua sayang sama lo. Jangan pernah pergi lagi dengan orang-orang gak jelas di luar sana. Gua akan selalu jadi tempat lu pulang, begitupun lo. Lo akan jadi tempat gua pulang."


"Bim—" satu huruf lagi akan menjadi sebuah nama. Tapi Bima tidak membiarkanku menyebutkan namanya. "Apa?" tanyanya.


"Gua gak mau denger apapun lagi. Lo tetep Viola yang udah punya anak, dan gua akan tetap jadi Bima yang mencintai Viola dengan anaknya. Gua akan datang di saat gua sanggup untuk menghidupi lo dan Binar. Di saat sebelum itu, gua akan jaga dan mastiin kalo lo dan Binar baik-baik aja." Bima tersenyum. "Paham Viola?"


Aku terkekeh. Bukan maksud meledeknya tapi, menertawai diriku sendiri. Menertawai kebodohan ku sendiri. Andai aku tidak sembarang berpacaran dengan orang hanya karena aku kesepian. Hanya karena aku tidak memiliki sosok ayah. Hanya karena aku memiliki Ibu yang tidak lagi berada di pihak ku.


Kalau aku membiarkan diriku tertelan dalam kesepian dan rasa sakit, mungkin aku tidak akan seperti ini. Mungkin saat ini Binar tidak ada. Mungkin aku akan bisa menerima Bima dengan senang hati.


Bagaimana dengan keluarga Bima? Akankah menerimaku yang sudah punya anak? Akankah menerimaku yang kotor menjadi bagian dari keluarga terhormatnya? Bima mungkin iya, tapi keluarganya akan tidak.


Ya, tak apa. Mungkin aku hanya bisa merasakan kesenangan-kesenangan ini tanpa bisa berhubungan serius dengannya. Aku sangat menghargai usahanya yang tidak putus untukku. Sangat.


"Kenapa Bima?"


"Kenapa apanya?"


"Kenapa lo bisa tetep sayang gua bahkan di saat gua udah ngelakuin salah?"


"Itu bukan salah lo."


"Terus salah siapa?"


"Cowok itu. Cowok brengsek itu Vi. Kalo dia engga maksa lo, lo gak bakal kaya gini sekarang. Lagi pula, gua gak akan pernah lepasin lo kalo ini." Tatapan Bima beralih padaku, ia tersenyum. "Jangan pergi lagi ya Vi, karena itu percuma."

__ADS_1


"P-percuma?" tanyaku ragu.


"Iya percuma, gua bakal terus nyari lo sampe ujung dunia pun."


Aku terkekeh pelan. Wajahnya ketika serius sangat lucu. "Iya ... iya Bima."


"Ngomong-ngomong Binar cantik banget ya Vi? Mirip banget lo, kaya bule."


"Masa si?"


"Iya. Bibirnya coba liat, merah. Hidungnya, mancung. Kulitnya, putih. Kukunya, bagus. Rambutnya lebat. Alisnya, tebal. Pasti kelak cowok-cowok bakal suka sama Binar. Nah di saat itu, gua sebagai ayahnya bakal ngejaga dari para hidung belang Vi. Kalo lo bakal biarin Binar pacaran gak?"


Aku berfikir sejenak. "Em ... menurut lo?"


"Ya ... boleh. Perasaan gak bisa di cancel Vi. Kaya perasaan gua ke lo. Kalo makin di kubur akan makin tumbuh. Kita bebasin Binar nanti ya Vi? Tapi kita gak boleh ngasih dia rasa sepi, karena sebenarnya keluarga adalah rumah bagi setiap anak. Jadi, kita ciptain rumah yang seru ya Vi buat Binar?"


Bima. Aku sangat beruntung. "Emang lo yakin bakal sama gua Bim?"


"Kenapa engga? Selagi kita usaha, selagi gua mau dan lo mau. Jodoh itu di tangan Tuhan emang, tapi usaha kita juga bakal di lihat sama Tuhan Vi. Jangan main-main."


Lagi-lagi aku terkekeh. Ada saja tingkahnya. Ya, mungkin lebih baik sekarang aku menikmatinya saja. Tidak perlu memikirkan hari esok karena hari ini pun pantas untuk di nikmati. Jangan membuat hari ini sia-sia hanya demi memikirkan bagaimana hari esok yang kita sendiri enggak tahu arahnya kemana.


"Kita jalani Bim."


"Hah?"


"Ya terserah kalo lo gak mau."


"Jalani Vi? Serius?"

__ADS_1


Aku mengangguk. Wajah Bima begitu senang, dia menggendong Binar dengan sangat semangat. "Kamu denger kan Binar? Ibu bilang dia mau jalanin sama aku, calon Ayah kamu. Kamu setuju kan Binar?"


Entah bagaimana, Binar tersenyum.


__ADS_2