
Sudah hampir satu minggu aku mengurung diri di kosan sempit milik Kakak, Kak Monic tidak memaksaku untuk masuk kuliah. Lagian, memang minggu ini adalah minggu untuk berganti semester. Sebentar lagi aku akan cuti.
Sinta masih mem-block nomorku, entah alasannya apa aku tidak tahu. Teman sekelas ku pun tidak ada yang mencari atau barang bertanya lewat WhatsApp pun tidak. Hanya dosenku yang mengirimiku chat berisi pertanyaan kenapa aku tidak masuk.
Aku jadi tahu, benar kata kakak dulu sebelum dia meninggalkan rumah.
"Dek, kamu masih kecil, temanmu masih banyak, jangan terlalu percaya sama tiap-tiap itu. Teman selamanya hanyalah teman," ucap Kak Monic sambil memakan nasi goreng buatan Ibu.
Ah, saat itu Ibu masih mau memasakkan makanan untuk kami, tapi semenjak Kakak pergi jangankan memasak, menyediakan sayuran di dapur pun tidak.
"Emangnya kenapa Kak?"
"Kakak engga punya teman yang bener-bener teman, harus ada harga dan imbalan untuk setiap pertemanan. Kakak bisa ngasih apa ke dia, dan sebaliknya. Kalau tidak ada itu, tidak ada pertemanan."
Saat itu aku hanya mengangguk mengiyakan, karena pada hari itu aku merasa masih memiliki banyak teman yang baik padaku. Sebentar, kalau di ingat-ingat mereka memang selalu meminta untuk di bayarin beberapa kali dan suka nyontek tugasku.
Apa itu yang di sebut ada harga dan imbalan untuk sebuah pertemanan?
Mungkin untuk kesekian kalinya Kakak benar, aku masih percaya dengan pertemanan yang tulus. Mungkin aku tidak cukup beruntung untuk memilikinya, ya mungkin saja.
Kakak sedang pergi bekerja, sekarang aku tahu dia kerja apa. Seorang resepsionis di salah satu hotel di Jakarta, kakakku sangat cantik memang. Cocok untuknya walaupun aku ingin Kakak mendapatkan pekerjaan yang dia mau. Dia ingin bekerja di salah satu perusahaan textile, tapi Kakak tidak punya gelar apapun untuk bisa kerja di sana.
Kakak mungkin bisa saja kuliah untuk itu, tapi dia memilih banting stir demi menghidupiku. Sampai kapanpun, dia akan selalu jadi satu satunya orang yang aku tuju kala aku sukses nanti.
"Dek, nanti kamu beli sarapan sama makan siang di warung depan ya? Ini uangnya, Kakak engga keburu masak pagi ini," ucap Kak Monic sambil mengenakan sepatu flat shoes nya.
Aku mengangguk sambil mengantarnya ke depan kosan, begitu dia pergi aku langsung membereskan ruangan ini. Tidak butuh waktu lama karena memang kecil.
Di sini lah aku sekarang, warung depan kosan Kakak. Banyak anak-anak seusia Kakak yang ngekos di sini. Posisi kosan di sini seperti huruf U, sebelah kanan kosan khusus pria, sebelah kiri kosan khusus wanita. Sedangkan yang di tengah-tengah ada sekolah TK.
"Baru ngekos di sini ya Neng?"
Aku tersadar dari lamunanku, "eh iya Bu, aku adiknya Kak Monic yang di kamar 4B," jawabku dengan senyum ramah.
"Oh Adek nya Neng Monic ya? Wah pantesan mirip mukanya, sama-sama cantik," ucap Ibu warung itu padaku.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk mengiyakan, memang benar, kakakku sangat cantik. Selain cantik, ternyata dia juga ramah, buktinya kenal dengan Ibu warung ini.
"Mau makan apa Neng?" Tanyanya lagi.
"Em... mau mie instan aja Bu,"
"Eh pagi - pagi mau makan mie?"
"Iya gak apa - apa, mie goreng ya Bu?"
"Di sini Neng?"
"Iya Bu di sini aja."
Ibu warung itu mengangguk, sambil menyiapkan pesanan ku.
"Eh Neng, Kakakmu itu baiknya engga ketolong. Tiap abis gajian pasti selalu beliin Ibu martabak yang ada di depan gang masuk ke daerah sini, atau kadang beliin ibu baju,"
"Tiap Ibu tanya kenapa, katanya dia kangen sama Ibunya. Maaf ya Neng, emang Ibu kalian kemana? Ibu engga enak mau nanya ini ke Neng Monic."
Ah Kakak, sejauh apapun Kakak pergi ternyata Ibu tetap Ibu di hati Kakak ya?
Ibu warung mengangguk. "Iya juga ya Neng, eh nama Neng siapa?"
"Viola Bu, panggil aja Vio... kalo nama Ibu?"
"Fatmawati, panggil aja Wati."
Bu Wati memberikan mie goreng yang aku pesan dengan satu telur. "Loh ko ada telurnya Bu?"
"Gak apa-apa Neng, makan mie pagi-pagi gak baik, makannya di kasi telor biar ada protein nya."
Aku hanya tertawa kecil lalu menghabiskan makananku dengan cepat. Oh, jadi seperti ini perasaan Kakak selama lima tahun. Sendiri, makan mie di pagi hari.
"Bu, kalo di sini yang ngekos kebanyakan mereka ngapain Bu? Kerja kah atau kuliah?"
__ADS_1
"Ada yang kuliah ada yang sudah kerja seperti Kakak kamu itu, kebanyakan mah ya kuliah Neng."
Kasian Kakak, harus menelan kenyataan pahit setiap hari. Aku tahu betul dia sangat ingin kuliah, tapi karena aku dia memilih untuk tidak masuk kuliah. Dia sangat pintar, cantik, tidak ada kurang sedikitpun darinya. Salah satu kekurangan dari diri Kak Monic adalah memiliki aku sebagai Adiknya.
"Kakak pengen deh Yah bisa sekolah tinggi-tinggi, biar jadi orang sukses," ucap Kak Monic pada Ayah yang sedang membaca koran di halaman belakang rumah.
"Iya, Monic bisa ko Nak," ujar Ayah sambil mengelus puncak kepala Kakak.
"Kalo Adek mau gak?" Tanya Kak Monic padaku yang sedang mewarnai buku gambar.
"Pasti lah, harus, kalian harus kuliah supaya sukses ya?" Ayah menyanggah pertanyaan Kak Monic yang di tujukan kepadaku.
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya itu hal baik jadi aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Udah selesai?"
Aku tersadar dari lamunanku kala Bu Wati bertanya padaku. "Eh iya Bu udah, berapa semuanya?"
"Ah engga usah Neng, gak apa-apa, Ibu tadi nanya cuma mau ambil piringnya buat di cuci."
"Loh, jangan gitu Bu, gak enak aku, berapa semuanya?"
Bu Wati hanya tersenyum sambil mengambil piring yang ada di hadapanku.
"Bu, masa engga bayar? Mana tadi pake telor lagi."
Bu Wati terkekeh. "Iya gak apa-apa Neng, udah anggep aja itu hadiah dari Ibu ya buat perkenalan kita."
Aku mengangguk, "ya udah Bu, makasih banyak ya? Vio pengen keliling-keliling daerah sini gak apa-apa kan Bu?"
Bu Wati mengangguk, aku segera berdiri dan melangkahkan kakiku keluar dari warung Ibu baik hati itu.
Aku berjalan ke arah luar dari daerah ini, menuju jalan raya. Aku belum pernah keluar dari dalam kos Kak Monic semenjak datang ke sini, ternyata lingkungannya sangat ramai.
Bahkan ada lapang voli yang terbuat dari pasir di daerah sini, sampai lah aku di ujung gang kosan Kakak. Aku menemukan jalan raya, ku lihat-lihat sekitar.
__ADS_1
"Dia?" Gumam ku, aku menyipitkan mataku mencoba untuk melihat orang itu dengan jelas. Tidak salah lagi, itu dia!
to be continued....