Menjadi Ibu Di Umur 20

Menjadi Ibu Di Umur 20
Bab 14 Dimana keadilan untukku?


__ADS_3

"Eh ngomong-ngomong, Kak Bima mana Bin? Gak ikut lo turun?" tanya Tia di ikuti oleh anggukan dari Piona.


Aku bingung, pasalnya sejak tadi aku di atas tidak melihat keberadaan dari Bima. "Loh? Emang kak Bima ke sini? Di mana? Gua gak liat tuh."


"Masa sih? Dia tadi katanya nyariin lo ke kelas tapi gak ada terus nanya ke anak kelas ada yang jawab kalo lo kesini, terus Kak Bima naek deh ke atas," jelas Pio padaku.


Kalau memang Bima naik ke atas, harusnya aku tahu kalau dia ada. Kalaupun aku gak nyadar dia ada pas aku lagi ngomong sama Ica pasti pas aku turun aku harusnya liat dia. Tapi, dia engga ada.


Atau jangan-jangan?


"Eh lo kemana lagi Bin?" seru Tia kala aku naik ke atas lagi.


"Mau nyari Kak Bima," jawabku.


"Lo harus jelasin ke anak-anak semua kalau yang lu sebar itu bohong! Lo udah fitnah dia Ca!"


"Gua masih suka sama lo Bim, jangan giniin gua, gua gak suka lo deket sama anak baru belagu itu. Gua bakal lakuin itu kalau lo mau balik sama gua!"


"Gak! Kita putus karena salah lo, malah selingkuh sama sepupu gua sendiri Ca!"


"Gua udah putus sama dia Bim, gua nyesel."


"Kak," seru ku di kala debat antara Bima dan Ica.


Keduanya menoleh ke arahku. "Vio, lo ngapain naik lagi ke sini?" Tanya Bima padaku.


"Ca, kalo lo emang masih suka sama Kak Bima, tolong jangan libatin gua. Gua gak tahu apa-apa bahkan gua ga respon dia sama sekali," ucapku sambil menunjuk Bima.


"Kalo lo mau Kak Bima, ya usaha Ca. Kalo usaha lo dengan cara ngejatohin orang itu ga ada keren-kerennya sama sekali. Lo bikin nama gua jelek satu fakultaa cuma gara-gara lo cemburu sama gua? Sampah lo!"


Ica berlari ke arahku, langkahnya di cegah oleh Bima.


"Apa? Kalo perasaan Kak Bima udah gak ada buat lo, terus lo mau marah-marah sama gua yang di sukai Kak Bima? Lu punya otak engga sih? Kalian putus juga salah lo Ca!"


"Jaga mulut lo ya Binca!"

__ADS_1


"Ngaca dong Ca, lo bukan sekedar mulut sampah, tapi tindakan lo itu ternyata lebih dari sampah. Lu anggota organisasi tapi kelakuan lo kaya tai, ngasih berapa lo sama yang ngerekrut dulu?"


"Anjing lo Bin!" teriak Ica padaku.


"Lo yang anjing Ca!"


"Heh, udah stop. Udah Ca, Vi, udah," lerai Bima.


"Elo juga Kak Bima, kalo lo gak deketin gua tu sampah lo gak bakal ngusik gua, lo tau sendiri sebanyak apa beban yang harus gua tanggung. Tapi, justru lo penyebab gua nambah beban kaya gini!"


"Siapa yang lo bilang sampah Bima hah?" tanya Ica tak terima.


"Elo!"


Bukan, bukan maksud ku berbicara itu pada Bima. Tapi, aku berharap dengan ucapan ku barusan dia sadar akan perbedaan kita. Aku dan Bima tidak akan pernah bisa bersama, lebih tepatnya, aku tidak pantas untuknya.


"Vio, gua tahu, gua janji masalah ini besok akan kelar gimanapun caranya. Lo ga perlu tahu dengan cara apa, asal lo tahu sampai kapanpun gua bakal terus jagain lo. Maaf atas kejadian hari ini."


Tidak. Bukan ini jawaban yang aku mau, kenapa dia begitu bersikeras atas aku? Aku tidak pantas dapat apapun darinya. Apapun. Termasuk rasa cintanya, aku tidak pantas. Dia sangat baik, aku jauh dari kata itu. Lebih jelasnya, aku sudah memiliki anak.


"Sekarang, lo gak usah mikirin apa-apa lagi. Lo butuh bukti kan? Gua tulus sama lo Vi, apapun yang terjadi. Masalah lo adalah masalah gua!"


Aku tertegun kala mendengar ucapannya, aku tidak pernah mendengar kalimat itu dari siapapun kecuali Kakak. Bima adalah orang pertama yang mengucapkan kalimat itu setelahnya, aku tidak tahu harus apa.


Bima pergi meninggalkanku dan Ica di sini, aku termenung kala memikirkan apa yang baru saja dia ucapkan.


"Minggir lo sampah!" ketus Ica sambil mendorong tubuhku agar tidak menghalangi jalannya.


Aku tidak peduli dengannya, yang aku pedulikan sekarang adalah bagaimana bisa diriku yang penuh dengan masalah begitu di inginkan dan sangat di terima oleh orang seperti Bima?


Siapa dia sebenarnya? Aku tidak tahu. Bagaimanapun, dia orang yang baik. Aku tidak berani menerima rasanya, aku cukup tahu diri akan siapa diriku ini.


"Bin, lo gak apa-apa?" Tanya Piona.


Piona dan Tia menghampiri ku ke atas, terlihat wajah mereka yang sangat khawatir padaku.

__ADS_1


"Gak apa-apa ko, gua baik-baik aja, kalian kenapa nyusul ke sini?"


"Gua takut lu di apa-apain, soalnya tadi Kak Ica sama Kak Bima turun duluan. Sedangkan lo masih di atas, gua sama Tia khawatir Bin," jawab Piona.


Aku tersenyum, setidaknya aku masih memiliki mereka. Aku tidak sendiri.


......................


"Benar ini kamu, Binca?" Tanya Pak Burhan padaku.


"I-iya Pak itu saya," jawabku sedikit ragu.


Ya, disinilah aku sekarang, ruang prodi fakultas ku. Aku menghela nafasku berulang kali kala salah satu anggota himpunan memberitahuku untuk menghadap ke Pak Burhan.


Aku sudah pasrah dengan apa yang terjadi, tadi aku tidak tahu kenapa bisa aku di panggil langsung kepala prodi. Ternyata masalah foto itu. Iya, mungkin Ica sudah memberitahu Pak Burhan akan hal ini.


Itu fitnah, aku tidak pernah melakukan hal seperti itu.


"Bisa kamu jelasin apa maksud dari foto ini?"


Aku mengangguk, memperkuat diriku sendiri. "Sebelumnya maaf atas kegaduhan ini, saya tidak tahu Bapak akan percaya atau tidak. Tadi pagi, saya mengantarkan barang milik teman kakak saya. Dia yang berada di foto itu, namanya kak Brian,"


"Saya tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini, tapi saya bisa bersaksi kalau apa yang di tulis di foto itu tidak benar. Saya tidak sedang menjual diri, atau semacamnya Pak. Ada orang yang tidak menyukai saya, saya tahu orangnya tapi lebih baik masalah ini tidak di perpanjang," lanjutku.


Ku lihat Pak Burhan menganggukkan kepalanya. "Baik saya mengerti, tapi saya tidak tahu kebenarannya seperti apa. Bisa kamu panggil orang yang ada di foto ini besok untuk menghadap saya? Dia akan memberikan saksi, dan saya akan mempercayai itu."


"Maaf Pak, dia adalah rekan kerja kakak saya. Saya tidak bisa melibatkan dia karena masalah ini, dia orang asing bagi saya. Kalau saya meminta dia datang dan menyelesaikan masalah saya, saya takut akan menjadi masalah bagi kakak saya dalam pekerjaannya, mohon di mengerti."


Aku heran, apa yang membuat Pak Burhan tidak mempercayaiku. Terlepas dari pada itu semua, memangnya wajahku terlihat seperti orang jahat?


"Saya tidak mau tahu, kalau kamu tidak bisa membawa orang yang ada di foto ini besok, saya nyatakan anda bersalah."


"Pak, saya mohon, apa yang menjadi alasan Bapak berfikir seperti itu? Apa tidak ada keadilan buat saya?"


"Kamu lihat video ini Binca, ini sudah menunjukkan kalau kamu bersalah!"

__ADS_1


__ADS_2