
TWIN’S PET
EP 04. HUNT
___________________
Kegelap menyelimuti jalanan di pinggir hutan. Tidak ada suara lain yang terdengar selain deru nafas Liffi yang tersengal-sengal dan jantungnya yang berdetak terlalu cepat.
“Tidak!!!” teriaknya.
“Jangan mendekat!! Tolong!!!”
Liffi terus berteriak dan berlari. Ada dua serigala besar mengejarnya, yang satu hitam legam yang satu putih bersih. Liffi ketakutan, ia hanya bisa berlari dan berlari.
•
•
•
“Liffi!!”
“Liffi!!” Wilona menggoncangkan tubuh Liffi yang tertidur di atas meja kantor.
“Hah?!” Liffi tersentak kaget, tubuhnya berkeringat dingin.
Hanya mimpi, desah Liffi lega.
Setelah menarik napas panjang Liffi mengumpulkan kembali kesadarannya. Menyeka keringat dingin dengan punggung tangannya.
“Maaf, Miss, saya ketiduran.” Liffi sangat malu, ketahuan tidur di jam kerja.
“It’s OK. Kau pasti sangat lelah semalam.” Wilona menepuk pundak Liffi.
“Mr. Hans memanggilmu, Liffi.” Wilona meninggalkan meja kerja Liffi.
Liffi memandang sebentar pada kaca kecil di dompetnya, merapikan rambutnya dan menghapus keringat yang tersisa. Setelah menyiapkan hati dia berjalan menuju ruang kerja bossnya itu.
“Anda mencari saya?” Liffi menengok sedikit dari pintu masuk.
“Iya, duduklah Liffi.”
Liffi mendekat, duduk di depan bosnya. Tangannya terus menggenggam rok sampai kusut. Liffi merasa tak melakukan kesalahan apa pun.
“Jadi bagaiamana semalam? Saya minta maaf tidak berkata jujur.”
“Ya??” Liffi nampak bingung.
“Tuan Sadewa? Apa yang beliau katakan?” Mr. Hans juga tampak bingung.
“Saya hanya menyerahkan amplop itu lalu pulang.” Liffi berkata dengan jujur.
“Hah?? Kau tidak bertemu dengannya?” Mr. Hans terlihat panik. Amplop hanya alasan, sebenarnya Liffi yang harus dia antarkan.
“Bertemu, dia hanya menanyakan beberapa pertanyaan dan mengijinkan saya pulang,” jawab Liffi, ia sedikit berbohong. Pasalnya Sadewa tidak pernah mengijinkan Liffi pulang, gadis itu yang bersih keras keluar.
“Dia mengijinkanmu pulang?”
“Kenapa memangnya?”
“Nggak kok, saya kira dia akan membicarakan bisnis.” Mr. Hans mencari-cari alasan.
“Dengan anak magang seperti saya?” Liffi heran.
“Ah, sudahlah, yang penting dia sudah bertemu denganmu. Kembalilah bekerja.” Mr. Hans menyuru Liffi keluar dari kantornya.
Liffi keluar dengan masih menyisakan pertanyaan.
“Dasar aneh.”
— TWIN’S PET —
Liffi harus menyelusuri dua buah blok lagi untuk sampai ke studio (mini apartemen/kamar kos). Tubuhnya kelelahan, tak biasanya dia begini. Lembur seminggu penuh dan jam makan yang tidak teratur menjadi penyebab utamanya.
“Aku lapar.” Bunyi perutnya keroncongan.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Reflek Liffi langsung menoleh, ia kaget karena seorang laki-laki serba hitam menghampirinya. Liffi melangkah sedikit mundur ke belakang dan mengambil ancang-ancang. Ia mengangkat tasnya sebagai pertahanan diri.
“Ini aku Liffi.” Pria itu membuka maskernya.
“Black?!” Liffi terpekik tak percaya.
__ADS_1
“Yo, whats up, Girl?” Black berjalan di samping Liffi.
“Bagaimana kau tahu aku di sini?”
“Aku sedang berjalan di sekitar sini dan melihatmu. Bunyi perutmu memanggilku.” Goda Black. Dia tak bisa berkata jujur kalau sudah membuntuti Liffi sejak pagi tadi. Aroma Liffi membuat Black terus memikirkannya, Black merindukannya. Black ingin terus melihat Liffi, ingin menyentuh Liffi.
“Hahaha ... aku lapar, kau mau ikut aku makan, Black? Biar aku yang traktir, uangmu dulu masih tersisa.” Liffi berbasa-basi. Mana mungkin seorang artis mau makan bersamanya.
“Boleh,” jawaban Black membuat Liffi terbelalak kaget.
“Beneran? Serius?” Liffi tersenyum senang.
“Tentu saja. Ayo kita makan.”
“Tunggu! Tapi aku tak bisa mentraktirmu makan makanan mahal. Apa kau keberatan makan di rumah makan biasa?” Liffi mengakui kekurangannya.
“Resto kecil juga tak masalah, Liffi, yang penting jangan terlalu ramai.” Black mendahului Liffi berjalan.
Ah iya, bener juga. Diakan artis, gawat kalau banyak orang yang mengenalinya, pikir Liffi senang.
“Ayo, Liffi, aku tahu rumah makan yang enak,” tukas Black.
“Tunggu aku, Black!” Liffi kesusahan mengikuti langkah kaki Black.
Mereka sampai di sebuah rumah makan masakkan Indonesia. Black yang mengajak Liffi kemari. Black berbicara dengan bahasa Indonesia kepada pemilik rumah makan. Liffi kaget sekaligus senang.
“Kau bisa bahasa Indonesia, Black?” Liffi menggunakan bahasa Indonesia.
“Tentu saja, aku besar di Indonesia.” Black memberikan Liffi nampan.
“Serius???” Liffi tak percaya, artis besar di Australia adalah orang Indonesia.
“Aku berdarah campuran Liffi, Indo-Ausi.” Black mengambil nasi padang yang di pesannya.
“Hahaha, aku tak menyangka.” Liffi senang. Dia memesan makanan yang sama dengan Black.
Mereka mengobrol dengan santai. Black menyelidiki latar belakang Liffi lewat obrolan mereka. Tapi Black tak menemukan apa pun. Black terus memandang gadis di depannya dengan penasaran. Liffi manusia, dia bahkan bukan darah campuran seperti dirinya. Apa Moon Goddess sedang bercanda dengannya? Menjadikan seorang manusia sebagai mate-nya?
“Apa kau tahu werewolf, Liffi?”
“Tahu, Logan, X man, Van Helsing, Twilight, apalagi, ya?” jawab Liffi.
“Apa menurutmu mereka real? Ada di dunia?” Black melanjutkan.
Black Diam. Liffi sama sekali tidak tahu tentang kaumnya. Black tersenyum kecut, memikirkan masalah ini membuatnya sebal. Belum lagi dia harus terus menahan kekuatannya saat bersama dengan Liffi.
“Sepertinya aku harus pergi Liffi. Aku akan meneleponmu.” Black mengacak pelan rambut Liffi sebelum meninggalkannya.
“Oke, Black, terima kasih.” Liffi tersenyum dan melambaikan tangannya.
— TWIN’S PET —
Sadewa turun dari mobilnya, melihat sebuah gedung kecil di depannya. Gedung itu terlihat tua dan sedikit tak terawat. Catnya berwana merah bata dan mulai sedikit mengelupas. Sadewa memandang dengan iba. Benarkah Liffi tinggal di sini? Gadis itu tinggal di tempat bobrok yang lebih mirip disebut dengan kandang ayam.
Sadewa bersandar pada mobilnya, Liffi tidak berada di apartemennya. Sadewa tak bisa merasakan aroma Liffi di sana. Sia-sia usahanya kemari secepat mungkin setelah jam kantor berakhir.
Aku merindukannya. Kenapa? Sadewa melihat tangannya bergetar karena terlalu merindukan Liffi.
Sadewa mengdengus kesal. Perasaannya tak terkendali, dan dia tak bisa menyalurkan rasa aneh itu. Rasa yang terus berdesir di dalam hatinya. Dia merindukan Liffi, merindukan seorang manusia.
“Dia datang.” Sadewa beranjak dari tempatnya, aroma Liffi mulai tercium. Aroma manis dan hangat, angin membuat aromanya terasa lebih menggelitik hidung Sadewa.
Benar saja, Liffi muncul di ujung jalan. Menyandang tasnya yang sudah usang. Sesekali merenggangkan lengannya ke depan.
“Tuan Sadewa?” Liffi menatap heran pria di depannya. Benaknya dipenuhi tanda tanya, untuk apa tuan muda kaya raya pemilik perusahaan besar di negara ini ada di depan rumahnya?
“Um ....” Sadewa bingung bagaimana cara menyapa Liffi.
Haruskah dia bersalaman? Memeluk? Atau langsung mencium gadis itu?
“Tuan?” Liffi mendekatinya.
Sadewa terpaku, wajah gadis itu terlihat sangat dekat. Sadewa tidak pernah berhubungan dengan gadis mana pun sebelumnya. Ia lebih memilih bekerja, berlatih, dan belajar. Sekarang dia tak punya pengalaman apa pun mendekati seorang wanita.
“Ee, siapa namun? Liffi ... betulkan?” Sadewa berusaha membuka obrolan, tapi nadanya tetap saja kikuk.
“Betul. Apa yang Tuan lakukan di sini?” Liffi melihat sekeliling, sepi dan tidak ada orang.
Sadewa ingin berkata kalau dia kemari karena merindukan Liffi. Tapi Sadewa takut Liffi akan kaget dan malah menghindarinya.
“E ... aku hanya menunggu jemputanku. Ban mobilku kempes.” Sadewa beralasan, alasan yang sangat klasik.
__ADS_1
Sadewa telah mengeluarkan kukunya dan melubangi ban mobilnya pelan-pelan saat Liffi datang tadi.
“Ah begitu.” Liffi mengangguk paham.
“Iya, begitu,” jawab Sadewa. Matanya masih berfokus menatap Liffi, ia sama sekali tak berkedip.
“Kalau begitu saya masuk dulu, Tuan.” Liffi sedikit membungkukkan badannya.
“Tunggu!!” Sadewa memanggil Liffi saat gadis itu hendak masuk ke apartemennya.
“Iya, Tuan?” Liffi menoleh.
“Bisa aku pinjam kamar mandimu? Aku sudah tak bisa menahannya.”
Seriously, Sadewa??!! Alasan apa itu??!! Sungguh tak berkelas. Sadewa mengumpati dirinya sendiri.
Liffi berfikir sejenak, namun akhirnya mengijinkan Sadewa mengikutinya masuk.
“Maaf, agak berantakan, Tuan.” Liffi membuka pintu kamarnya.
Sadewa masuk, melihat sekeliling, melihat setiap bagian dari apartemen kecil itu. Bagaimana bisa manusia tinggal di tempat seperti ini? Walaupun bersih dan tertata rapi tapi ruangan ini terlalu kecil. Bahkan tak lebih besar dari kandang Bark, burung rajawalinya.
“Tuan?? Kenapa diam?” Liffi melihat Sadewa yang terpaku.
“Ah, iya. Sorry.” Sadewa masuk ke dalam kamar mandi Liffi.
Liffi merapikan tas, dan buku-buku kuliahnya. Satu bulan lagi liburannya berakhir. Liffi harus kembali mengulang semua pelajaran dan mencari pekerjaan baru. Bekerja di perusahaan akan banyak menyita waktunya. Liffi tak ingin kuliahnya ketinggalan.
Liffi melepaskan jaketnya dan menggulung rambut hitamnya naik ke atas.
Sadewa sudah selesai dari kamar mandi, ia menelan ludahnya beberapa kali. Aroma itu kembali menghanyutkannya, memompakan adrenalin ke setiap pembuluh darah Sadewa.
“Sudah selesai, Tuan?
“Iya. Terima kasih.”
“Sama-sama.” Liffi tersenyum manis. Wajah Sadewa merona merah melihat Liffi tersenyum.
Dengan cepat Sadewa keluar dari gedung itu. Wanginya terlalu berbahaya, hampir saja Sadewa lepas kendali dan menyerang Liffi.
— TWIN’S PET —
“Tolong!!” Seorang polisi berteriak.
Ia dan rekannya baru saja mendapatkan laporan dari warga bahwa ada hewan buas yang memangsa ternak mereka. Warga bilang hewan itu selalu masuk ke hutan setelah berburu. Pihak berwenang mengirim dua orang polisi untuk menyelidikinya.
Namun bukan hewan buas yang mereka temui di sana, tapi serigala dengan wujud manusia. Bulunya hitam legam, matanya juga menyala cerah. Taringnya mengeluarkan air liur yang kental dan pekat. Bukan manusia dan bukan juga serigala, wujudnya belum sempurna. Dia bukan manusia atau pun werewolf sejati.
Bulu kuduk mereka merinding, kakinya bergetar hebat. Mereka mundur beberapa langkah ke belakang. Melihat hewan aneh yang berdiri seperti layaknya manusia membuat nyali mereka ciut. Mereka tak bisa menebak atau pun mengerti hewan apa yang saat ini ada di depan mereka?
“Diam di tempat!!! Kami bersenjata!” teriak seorang dari mereka. Pistolnya teracung tepat di depan werewolf itu.
Werewolf itu hanya diam, kuku-kuku cakarnya yang tajam menancap di tubuh mangsanya. Seekor domba telah terbelah menjadi dua bagian, isi perutnya berhamburan keluar. Dengan sedikit rakus ia memakan perut domba itu.
Keduanya berpandangan, mencari timing yang tepat untuk kabur. Namun secepat kilat makhluk hitam itu menyambar seorang dari mereka. Menggigit lehernya dan mengkoyak badannya. Kepala opsir itu terputus dalam sekali gigitan.
Dor Dor Dor!!
3 buah tembakan terdengar untuk melumpuhkan iblis itu. Timah panas berdesing cepat, bersarang di tubuhnya, namun sekejap kemudian peluru itu keluar, lukanya kembali menutup. Pelurunya tidak mempan, tak bisa melukai makhluk itu.
“GROOOWWWR!!!” Werewolf itu mengamuk. Ia berlari membabi buta.
“Tolong!!!” Polisi itu berteriak, berlari, dan langkahnya semakin cepat untuk menghindari kejaran serigala buas itu. Ia Ingin berlari kabur keluar dari hutan.
Terlambat, sebuah tangan kuat, besar, berbulu, dengan kukunya yang tajam menembus jauh di perut opsir itu. Isi perutnya berhamburan. Tak puas, werewolf tadi mencabik-cabik tubuh pria itu sampai rusak.
“Aaaauuuuuuu!!!!” Sebuah lolongan terdengar, mengagetkan werewolf itu. Dengan secepat kilat dia berlari masuk lebih dalam ke hamparan pepohonan. Masuk lebih jauh lagi di kegelapan hutan.
— TWIN’S PET —
Polisi mengerumuni hutan, memasang police line di sepanjang tempat kejadian. Beberapa orang polisi muntah saat melihat tubuh rekannya telah hancur tercerai berai. Mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Padahal baru satu malam mereka di koyak oleh werewolf.
“Dari lukanya terlihat seperti hewan buas!” seru dokter otopsi.
“Tapi hewan buas apa yang sebesar ini?Tidak ada singa di Australia.” seorang polisi menutup resleting pada kantong mayat.
“Kita priksa saja di rumah sakit, Officer,” sahut dokter itu.
“Baik, hei ayo naikkan ke ambulan.” Perintah kepala polisi setempat.
Iring-iringan mobil polisi dan ambulan meninggalkan hutan. Mereka pulang tanpa membawa jawaban apapun atas kejadian malam itu.
__ADS_1
Di balik pohon, Black diam mengamati manusia-manusia itu menjauh pergi. Darah berwarna merah kehitaman menetes di ujung kuku-kukunya yang tajam. Napasnya sedikit cepat dan tak teratur. Sudah semalaman dia di sini, berburu ...
— TWIN’S PET —