MUSE S3

MUSE S3
Kinara


__ADS_3

Sepulangnya dari makan malam, Ajeng langsung mengambil ponsel untuk menghubungi sahabatanya, Kinara. Rencananya, Ajeng akan mengenalkan Kinara pada Abimayu. Siapa tahu, Abimayu bisa luluh pada pesona Kiara dan wanita itu bisa memperoleh kehidupan yang jauh lebih baik.


Setelah beberapa kali nada sambung, panggilan itu terjawab. Terdengar suara lembut Kinara.


“Halo, Ki?” sapa Ajeng.


“Halo, Jeng, ada apa?? Ach … tunggu donk, Om Bram! Kiki lagi teleponan sama temen!” desah Kiara saat pria disampingnya tak mau diam saja, tangan jahilnya meremas benda kenyal milik Kinara dengan cepat.


“Lu sama siapa? Lagi BO, ya?” tanya Ajeng.


“Iya, nih, ada tas model baru di mall, gue pengen banget. Lo tahukan, pekerjaan gue apa? Kalau nggak BO, lima tahun juga tas itu enggak bakalan kebeli.” Kinara tersenyum pada pria seumuran Ayahnya itu seakan meminta ijin untuk berbincang sebentar.

__ADS_1


“Eh, tau nggak, gue tadi ketemu sama cowok ganteng, mapan, dan body-nya juga oke.”


“Terus? Pacar lo mau lo tukar tambah gitu?” Goda Kinara ketawa.


“Enggaklah, dodol!! Gue mau kenalin dia ke elo. Kali aja nyantol lo bisa jadi bini-nya. Lo kagak perlu buka paha lagi biar dapet duit, Sayang!!” Ajeng menyulut rokoknya, ia berjongkok di depan kamar kos-kosan.


“Ngaco aja, lo. Ngimpiin nikah, kenal aja enggak! Dasar!” Kinara lagi-lagi cuma bisa ketawa.


“Serius lo? Pejaka?” Kinara melongo.


“Serius! Pokoknya besok lo gue kenalin dulu. Kalau lo nggak suka, nggak usah lanjut. Siapa tahu dia jalan lo buat berhenti nga ka ng ke sembarang pria nggak jelas!” tukas Ajeng. Sebagai sahabat dan teman satu SMA dulu, Ajeng memang memikirkan nasib sahabatnya yang semakin hari semakin suram dan tidak jelas.

__ADS_1


Ibu Kinara sudah meninggal, Ayahnya suka bermain judi dan juga menghajar Kinara. Kinara harus bisa memperoleh uang untuk menghidupi sang ayah yang sudah tua dan pengangguran. Wanita itu sampai rela jadi barang BO, mau tua, muda, jelek, ganteng, asal dapat uang semua dijalani oleh Kinara.


“Besok jam berapa?”


“Pas makan siang! Jam satu mungkin. Ga usah dandan menor! Yang penting cakep!” Ajeng terkekeh.


“Iya, iya. Udah ah, gue tutup. Keburu Om Bram ngambek!” Kinara mengecup ponselnya, “bye!”


Ajeng mendengus, “dasar gila!”


...****❤️❤️❤️❤️****...

__ADS_1


__ADS_2