
TWIN’S PET
EP 03. SADEWA
_____________________
Sudah 4 hari semenjak kejadian itu. Liffi sudah melupakan Black, pekerjaannya menumpuk, tak ada waktu untuk memikirkan hal lain. Hari ini ada meeting besar dengan perusahaan WIN Enterpraise. Perusahaan raksasa ini akan membangun sebuah mal berkonsep one stop living terbesar di pusat kota. Nilai tendernya jutaan dollar. Kalau perusahaan tempat Liffi bekerja bisa memenangkan tendernya, sudah pasti nama HANS konstruksi akan melejit naik.
Semua pegawai bekerja lebih keras dari biasanya, bekerja lebih ekstra. Semuanya lelah tak terkecuali Liffi. Otaknya yang cerdas dan cara kerjanya yang cekatan membuat banyak drafter mengandalkan Liffi. Sungguh upah magangnya tak sesuai dengan rasa lelah yang mendera tubuhnya.
“Apa? Nora sakit? Bagaimana ini? Siapa yang akan membantu Mr. Ken dan Mr. Hans presentasi?” semua berkasak kusuk. Nora arsitek utama mereka sakit, badannya panas, padahal meeting tender akan di mulai sebentar lagi.
“Liffi, kau menggambar hampir seluruh design Norakan?! Kau pasti bisa membantu kami!!” teriak seorang senior, wajahnya pucat karena panik.
Liffi mendelik kaget, masa hal sebesar ini di berikan kepada seorang anak magang? Yang bahkan baru satu tahun berkuliah. Bagaimana kalau tendernya gagal karena dirinya?
Liffi menelan ludahnya karena takut.
“Maaf, Kak. Saya hanya anak magang, saya nggak sanggup,” tolak Liffi dengan halus.
“Tolong, Liffi, tolonglah kami. Hanya kamu harapan perusahann ini,” pinta Wilona, sekretaris Mr. Hans ini ikut membujuk Liffi.
Akhirnya Liffi menurut. Walaupun takut tapi Liffi menyanggupinya. Dalam hati Liffi mengumpat pada dirinya sendiri. Kenapa begitu lemah terhadap bujukan?
Liffi menghela napas beberapa kali sebelum memasuki gedung WIN Enterprise. Tangannya berkeringat dingin, jantungnya seakan mau copot. Liffi mengekor di belakang Mr. Ken dan Mr. Hans atasannya, bersama beberapa designer dan arsitek muda lainnya.
Suasana terlihat sangat tenang. Semua sibuk mempersiapkan gambar kerja dan 3D, tak terkecuali Liffi. Wilona membagikan proposal gambar dan perhitungan biaya tender di setiap kursi.
Seluruh jajaran pemimpin dan komisaris masuk ke dalam ruang meeting. Duduk membentuk huruf U sesuai dengan bentuk meja meeting. Kursi tengah belum terisi, Presdir grup WIN belum datang. Padahal biasanya dia selalu tepat waktu.
“Beliau belum datang?” Mr Ken sedikit khawatir dan berbisik dengan Mr. Hans.
“Apakah dia menyepelekan kita karena kita hanya sebuah perusahaan kecil?” Mr. Hans sedikit kecewa.
Namun kekhawatiran mereka terhenti saat seorang pria masuk ke dalam. Wajahnya sangat tampan, tubuhnya tinggi dan tegap. Rambutnya sehitam arang. Mata birunya berkilau seperti manik-manik. Diikuti oleh beberapa orang bawahannya, pria itu duduk dengan tenang di kursinya.
Liffi diam membatu. Siapa pria itu? Wajahnya sangat mirip dengan Black, hanya rambutnya yang berbeda, hitam dan legam. Liffi masih terus mengamati pria itu, sampai akhirnya mata mereka bertemu.
Ya, Tuhan ...! Dia melihatku. Aku sangat malu. Liffi membuang mukanya, menghindari tatapan pria itu.
“Bisa kita mulai rapatnya? Aku tak suka membuang waktuku,” ucapannya hanya singkat, tapi membuat seluruh atmosfir ruangan itu menjadi sangat berat.
“Ba—baik.”
Semua bergegas memulai rapatnya. Mr. Ken dan Mr. Hans, menjelaskan gambar kerja dan design yang telah mereka rancang. Tapi pria itu sama sekali tak memperdulikan persentasinya. Matanya hanya tertuju pada Liffi. Mengamati Liffi mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.
Liffi bergidik, bulu kuduknya merinding karena tatapan tajam presdir WIN grup itu. Liffi berusaha tampil natural, menyembunyikan sikap salah tingkahnya sebaik mungkin.
Pandangannya seakan-akan ingin menelanjangiku, pikir Liffi sebal.
Liffi sedikit mundur kebelakang seniornya. Menghindari tatapan dan rasa ingin tahu pria itu.
“Aku rasa meetingnya cukup.” Pria itu bangkit dan mengancingkan jasnya.
“Tapi Mr. West kami bahkan belum selesai persentasi,” protes Mr. Kim.
“Design jelek, presentasi ala kadarnya, dan perencanaan pembangunan yang terlalu lama.” Pria itu melirik tajam ke arah Mr. Hans. Lirikannya membuat hati Mr Hans ciut.
“Aku memberimu kesempatan karena kau teman ayahku. Tapi hasilnya sangat mengecewakan.”
“Tapi..”
Liffi menahan tubuhnya yang bergetar, kenapa ada pria yang sekejam itu. Walaupun mungkin design mereka tidak sebagus perusahaan lain, tapi mereka mempersiapkannya dengan bersungguh-sungguh. Mereka sampai harus lembur dan rela melewatkan makan siang. Terlalu kejam memotong persentasi mereka begitu saja.
Pria itu tetap berlalu, meninggalkan ruang rapat. Sebelum pintu di buka, dia sempat menoleh sebentar kepada Liffi. Memberikan pandangan yang membuat Liffi terpana, hanyut dalam pesonanya.
...— TWINS PET —...
“Tuan Sadewa, Mr. Hans mengejar anda.” Emily, sekretaris Sadewa melaporkan hal ini pada bossnya.
“Suru dia ke ruanganku!” Sadewa menyeringai, sudah ia duga pria tua itu akan mengikutinya.
Sadewa masuk ke dalam ruang kerjanya. Meja kaca hitam membentang lebar di depannya. Tidak banyak furnitur di dalam ruangan luas itu. Hanya meja, kursi kerja, dan sebuah living room set.
Sadewa melemparkan jasnya pada sandaran sofa dan duduk di sana. Ia memutar lehernya yang tampak letih.
Sadewa teringat pada gadis tadi. Ia sangat menginginkannya. Apakah gadis itu mate-nya? Aromanya terasa sangat memabukkan. Membuatnya ingin memilikinya.
•
•
•
Dini hari tadi ...
Hutan tampak hening, hanya terdengar suara sahutan beberapa burung gagak yang terbang karena terusik oleh sesuatu.
Darah menetes dari kuku-kuku cakar milik Sadewa. Sudah lama Sadewa tak bertarung sesengit ini. Bajunya koyak, dan penuh cipratan darah. Bukan darahnya, tapi darah kaumnya yang memberontak.
Sadewa berjalan menyelusuri hamparan mayat yang tergletak tak bernyawa. Ada 10 orang werewolf yang menentangnya sebagai penerus sang Alpha. Mereka menganggap Sadewa tidak cukup layak memimpin sebuah pack terbesar dan tertua di benua kangguru itu. Satu per satu menantang Sadewa. 5 merenggang nyawa dan 5 lainnya lari ketakutan.
Luka yang didapat Sadewa langsung sembuh begitu dia mengatur napasnya. Itulah keunikan seorang werewolf, regenerasi sel mereka sangat cepat.
__ADS_1
“Apakah aku tidak layak, Dad?” Sadewa berbicara kepada seorang srigala tua, sang Alpha.
“Kau layak, Dewa. Kekuatan dan kepemimpinanmu.”
“Tapi darahku campuran, itu yang membuat mereka tak pernah mengakuiku.” Sadewa menatap ayahnya.
“Kau benar. Tapi saat kau bisa menemukan mate-mu, darah werewolfmu akan sempurna. Kau akan menjadi werewolf sejati.” Mr. West menepuk pundak Sadewa.
“Bagaimana caraku menemukannya? Dunia ini sangat luas.” Sadewa meninju sebuah pohon sampai tumbang. Dia merasa kesal, karena banyaknya warewolf yang memberontak dan mate-nya tak kunjung datang.
“Kau pasti menemukannya, Dewa. Kau pasti akan langsung mengenalinya. Aroma tubuhnya dan setiap gerakannya akan membangkitkan jiwamu. Percaya saja pada instingmu.” Lelaki tua itu menepuk pundak Sadewa.
Ayahnya pernah berkata bahwa mate adalah belahan jiwa seorang werewolf. Mereka berbagi kekuatan bersama. Saling melindungi dan meneruskan darah werewolf pada anak-anak mereka.
Ayahnya punya seorang Mate yang cantik, Nera. Ayahnya masih terus mengingat tentang Nera seumur hidupnya. Serigala wanita itu sangat lembut, aromanya sangat wangi, cintanya sangat besar.
Nera mati di tangan seorang pembunuh bayaran. Ayahnya terus menyesal karena tak bisa melindunginya. Beberapa peluru perak berlapis wolfsbane menembus jantung dan perutnya.
Sepeninggalan Nera, Gin terus bersedih dan jatuh dalam pengaruh alkohol. Dia menjadi pecandu minuman, terus mabuk-mabukan, sampai akhirnya meniduri seorang wanita j4lang. Dia manusia, serigala kesepian itu menghampirinya saat mabuk. Gin meniduri wanita itu, dia menjadi pet-nya.
“Aku hamil.” Wanita itu kembali, dengan perutnya yang membesar.
“Apa?” Gin West terkejut. Wajahnya menegang, dia tak pernah menyangka pet-nya akan hamil dalam sekali berhubungan.
“Nikahi aku!! Bertanggung jawablah!! Setidaknya sampai anak ini lahir.” Wanita itu terisak keras.
Gin menikahi wanita Indonesia itu. Namanya Regina Wiharjo. Kecantikannya membuat semua orang iri, tapi dia malah harus hidup bersama seorang werewolf. Hidupnya hancur karena satu-satunya pria yang dicintainya tak pernah memberikannya cinta sedikit pun. Cinta Gin hanya untuk Nera.
“Namanya Nakula dan Sadewa.” Regina memberikan nama pada kedua putra kembarnya saat mereka lahir. Setelah lahir Gin mengusirnya dari pack. Regina membawa Nakula, dan Gin membawa Sadewa.
...— TWIN’S PET —...
Tok ... tok ... tok ...!
Bunyi ketukan pintu membuyarkan lamunan Sadewa. Ia bangkit dan duduk pada kursi kerjanya. Menekan tombol hijau pada interkomnya. Pintu yang terbuat dari kayu cendana dengan ukuran yang sangat besar terbuka secara otomatis. Mr. Hans masuk ke dalam. Wajahnya sangat pucat.
“Tolong pertimbangkan design kami.”
“Designmu sangat buruk, Paman. Penyusunan anggaranmu terlalu besar dan pengerjaannya terlalu lama. Apa kau mau mencurangiku?” tuduh Sadewa.
“Tidak, mana mungkin aku berani.” Keringat dingin keluar dari pelipisnya.
“Aku tahu perusahaanmu sedang diambang kehancuran. Kau mengalami kerugian besar dan berharap proyekku bisa membantumu menutup semua hutangmu kan?” Sadewa bangkit dari tempat duduknya.
“Tolonglah, Mr. West. Tolong berikan saya kesempatan.” Mr. Hans hampir berlutut di depan Sadewa.
“Tak perlu berlutut. Aku akan membantumu. Tapi dengan satu syarat.” Sadewa menahan tubuh Mr. Hans.
“Apa itu?” Mr. Hans tampak sumringah.
“Anak magang itu?” Mr. Hans bingung. Selera Sadewa cukup aneh. Liffi memang cantik, tapi dia hanya anak polos dan kampungan. Tidak ada daya tarik dari caranya berpakaian atau pun merias wajah.
“Kalau anda ingin wanita saya bisa mencarikan yang lebih cantik dan lebih sexy darinya,” tawar Mr. Hans, dia tidak tahu kalau Sadewa tak pernah menginginkan seorang wanita selama hidupnya.
“Berikan anak magang itu malam ini, atau tendernya hilang.” Sadewa melirik tajam, membuat bulu kuduk Mr. Hans berdiri.
“Ba—baik, akan saya kirim dia malam ini ke tempat anda.”
“Good, aku tak sabar menunggunya.” Sadewa tersenyum dan meninggalkan kantornya.
“Garry, Emily, ayo kita pergi!” Sadewa mengajak para asisten pribadinya pulang.
Garry dan Emily juga bangsa werewolf, satu pack dengan Sadewa. Selama ini Garry dan Emily adalah beta ayahnya yang paling setia.
“Kau yakin dia mate-mu, Tuan?” Emily mendekat.
“Tubuhnya sangat wangi, aku bahkan berdesir saat melihatnya. Aku sangat kesusahan mengendalikan kekuatanku. Hampir saja aku menunjukan cakarku di ruang rapat.” Senyum Sadewa.
“Makanya kau menghentikan presentasinya?” Garry ikutan berbicara.
“Yup,” jawab Sadewa.
Sadewa kembali melintasi ruang rapat. Gadis itu masih di sana, dia membereskan semuanya. Sadewa berdecak sebal. Mate-nya diperlakukan seperti seorang pembantu.
“Namanya juga anak magang, Tuan.” Emily mencoba menahan emosi Sadewa.
“Kau tahu, Bos, aku rasa kau salah. Dia bukan mate-mu, dia manusia.” Garry menunjuk Liffi, ia meringis kesakitan karena teriris kertas. Lukanya tidak segera menutup, darahnya keluar dan menetes ke lantai.
Sadewa tertegun, Gadis itu bukan werewolf, dia manusia. Manusia tidak bisa menjadi mate-nya, tapi kenapa? Kenapa aroma gadis itu sangat menarik perhatiannya?!
“Sialan.” Sadewa akan memukul dinding, tapi Garry menghalanginya.
“Temboknya bisa roboh, Bos.”
“Shit!!” Sadewa kembali berjalan meninggalkan perusahaan.
...— TWIN’S PET —...
Liffi menyeret *sling bag -*nya dengan lesu. Akhirnya hari yang penuh penderitaan ini berakhir, dia bisa segera pulang ke rumah dan memeluk selimutnya.
“Liffi, tunggu!” suara Mr. Hans membuat tubuh ramping liffi tersentak.
“Ya, Mr. Hans?” Liffi tetap berusaha menunjukan wajah tenang padahal dia sangat capek.
__ADS_1
“Kau akan pulang?”
“Iya.”
“Boleh aku minta tolong sekalian kau jalan?”
“Apa itu?” tanya Liffi heran, sikap bosnya terlihat lebih lembut dari biasanya. Bahkan dia menggunakan kata-kata sopan saat berbicara pada Liffi.
“Tolong kau antar amplop ini ke alamat ini, Liffi. Ini harapan kita terakhir untuk memenangkan tendernya.” Mr. Hans memberikan sebuah amplop dan secarik kertas berisi sebuah alamat.
“WIN hotel, room 1201??” Liffi membacanya dalam hati.
“Maaf, Mr ... em ... bukankah tadi kita sudah ditolak?” Liffi melirihkan kata terakhir dalam kalimatnya.
“Me—mereka ingin meninjau ulang.” Mr. Hans terlihat gugup. Amplop itu hanya akal-akalannya saja. Yang akan membuat tendernya disetujui adalah gadis polos yang berdiri di depannya saat ini.
“Baiklah, saya pulang dulu, Mr. Hans.” Liffi menangguk tanda mengerti, padahal dia sama sekali tidak tahu kalau dirinyalah yang maju sebagai tumbal.
“Kau bawa uang ini, naik taxi saja. Wajahmu terlihat lesu, cuci muka dan pake sedikit makeup!” Mr. Hans memberikan 100 dollar sebagai ongkos taxi.
“Ini terlalu banyak,” tolak Liffi.
“Terima saja! Aku akan memberikanmu lebih banyak uang saat tendernya berhasil.” Mr. Hans berlalu meninggalkan Liffi yang kebingungan.
Liffi tak ambil pusing, toh juga perusahaan tak membayarnya sesuai jam kerjanya. Anggap saja uang ini adalah tips untuknya karena lembur setiap hari.
“Ke mana, Miss?” tanya sopir taxi.
“WIN hotel, Pak.” seulas senyum hangat terkembang di wajah Liffi.
Liffi berjalan menuju resepsionis, meminta resepsionis menelepon pemilik kamar 1201.
“Presdir bilang anda boleh langsung naik ke atas, Nona,” ucap wanita itu sopan.
“Terima kasih.” Liffi sedikit menganggukan badannya kikuk.
Liffi memeluk erat amplop coklat di tangannya, semua mata memandangnya. Outfit gadis ini tak sesuai dengan hotel berbintang lima. Liffi masuk ke dalam lift dan memencet angka 12. Setelah menghela napas beberapa kali, tubuhnya mulai tenang. Tak lagi bergetar dan merasa kikuk.
Pintunya besar sekali, hotel mewah memang berbeda. Liffi menelan ludahnya sebelum memencet bel pintu kamar.
Tak sampai semenit pintu terbuka, seorang wanita cantik mempersilahkan Liffi masuk.
“Masuklah, Tuan Sadewa sudah menunggumu.” Emily menutup pintunya sesaat setelah Liffi masuk.
“Umm ... aku hanya ingin memberikan amplop ini saja. Bisakah aku menitipkannya padamu, Miss?” Liffi bertanya dengan sopan.
How cute, kasihan gadis kecil ini, apa betul tuan akan memangsanya malam ini? Emily berpikir dalam hatinya.
“Tuan Sadewa ingin berbicara beberapa hal denganmu. Tunggulah di ruang tamu!” Emily meninggalkan Liffi sendirian.
Presiden suit room, ada 3 kamar tidur, satu buah pantry, dinning table dan sebuah living room mewah. Liffi memandang sekitarnya, interior mewah bergaya romawi, dihiasi pilar-pilar dan kusen model iconik. Warna gold dan pile orange mendominasi ruangan ini, Liffi berdecak kagum, baru kali ini dia masuk ke ruangan semewah ini.
Sadewa baru saja datang, masih hanya berbalutkan jubah mandi. Air masih membasahi rambutnya. Ia bersandar pada kusen pintu mengamati wajah Liffi dengan seksama. Gadis itu tampak terkesima, matanya yang bulat dan hitam terus berputar melihat interior kamarnya.
Liffi tersentak kaget saat pandangan mereka bertemu. Wajahnya merona merah dan itu membuat Sadewa sangat senang. Tubuh Sadewa bereaksi, ia kembali mencium aroma tubuh Liffi yang menggoda hasratnya.
Benarkah dia manusia? pikir Sadewa.
Sadewa berjalan mendekati Liffi, duduk di sofa tunggal di depannya. Sadewa tak banyak berkata-kata, dia menyimpan tenaga untuk menahan perubahan wujudnya. Sadewa tak mau menakuti gadis itu diawal perjumpaan mereka dengan berubah menjadi seekor serigala.
Liffi menghindari tatapan pria tampan di depannya itu. Proporsi tubuhnya dan dadanya yang bidang menyembul di balik jubah mandinya. Aroma white musk yang sporty dan citrus yang menyegarkan membuat jantung Liffi berdetak lebih cepat. Liffi merasa kesal dengan dirinya yang terus ingin mencuri-curi pandang pada Sadewa. Kenapa manusia bisa punya tubuh dan wajah sesempurna itu?
“Aa—apa kabar, Tuan? Sa—saya dari Hans Kontruksi. I ... ini amplop titipan dari Mr Hans.” Liffi terbata-bata. Tatapan pria itu membuat atmosfir di sekitarnya berat. Liffi merasa harus segera menyelesaikan hal ini dan pulang ke rumah.
Sadewa tak mengindahkan ucapan Liffi, dia masih terus memandang gadisnya itu. Hatinya dipenuhi tanda tanya.
“Er, Tuan filenya saya taruh di meja. Saya permisi dulu.” Karena merasa tidak ada jawaban, Liffi bangkit dan bergegas meninggalkan amplop coklat itu di atas meja.
“Kata siapa kau boleh pergi?!” Akhirnya suara keluar dari bibir tipis Sadewa.
“Maaf, Tuan, saya hanya kurir.” Liffi menahan tubuhnya agar tidak gemetaran.
Sadewa berjalan mendekati Liffi, dia mengendus tubuh Liffi. Mencoba memastikan aroma manis yang keluar dari balik lehernya. Aromanya sangat kuat, Sadewa sangat menikmatinya. Liffi mundur beberapa langkah menghindari perlakuan Sadewa yang aneh.
Liffi menggenggam erat tasnya, kalau misal Sadewa kembali mendekat dia akan memukul pria itu dengan tas ini. Toh tasnya sudah rusak, digunakan untuk memukul pun tidak ada ruginya.
“Kamu dari pack mana?” Sadewa menarik tubuhnya dan bertanya pada Liffi.
Liffi mengangkat alisnya kaget. Dalam seminggu ada dua orang pria menanyakan hal yang sama. Apa lagi wajah mereka pun terlihat sama, yah walaupun wajah Black terlihat lebih santai.
“Lucu sekali, pack itu untuk kelompok binatang! Aku manusia bukan binatang.” Liffi bergumam lirih.
“Kau manusia?” Sadewa terperanjat dengan jawaban Liffi.
“Memangnya kau bukan?” Liffi menjawab dengan kesal, Black juga menanyakan hal yang sama.
Apa semua orang asing dianggap binatang di sini? Liffi sebal dan dengan segera dia melangkah menuju pintu keluar.
“Maaf saya harus pulang,” pamit Liffi, dia meninggalkan kamar 1201 dengan dongkol.
Sadewa mematung, gadis itu manusia. Berarti bukan Mate-nya. Tapi tubuhnya tak berhenti berreaksi, ingin terus melihat dan mencium wangi gadis itu.
Bagaimana mungkin dia bukan mate-nya??
__ADS_1
...— TWIN’S PET —...