MUSE S3

MUSE S3
TMDM 1


__ADS_3

~ Jasmine, putih, wangi, memberi aroma dan rasa. Bisa berarti kesucian bisa berarti perpisahan, tergantung untuk apa kau menggunakannya? ~


Apa kau tahu kalau bunga punya bahasanya sendiri? Bahasa bunga melati ialah cinta suci, melambangkan kecantikan dan sensualitas. Beberapa budaya menganggap melati mewakili apresiasi dan keberuntungan. Jika kau menggunakannya dalam upacara keagamaan dan pernikahan, maka melati mewakili kesucian. Sementara melati di prosesi kematian adalah perlambang perpisahan atau ucapan selamat tinggal.


Lalu bagaimana dengan Jasmine dalam cerita kali ini? Apakah dia akan membawa manisnya cinta, ataukah pahitnya perpisahan?


— TMDM —


GLEGAR!!


Suara kilat bersahutan di angkasa, membuat gemuruh panjang yang menggetarkan kaca jendela. Malam sudah larut dan belum ada tanda-tanda kalau hujan deras akan berhenti.


BRAK!!!


Seorang pria tegap melemparkan sebuah koper ke luar rumah. Koper usang itu cukup besar dan berat. Ia memang memasukkan semua baju dan barang-barang gundik beserta anaknya ke dalam koper itu.


“Tuan tolong!! Jangan usir kami, Tuan!” Renggek seorang wanita, ia tersungkur di bawah kaki lelaki itu sambil memohon ampunan.


Seorang gadis kecil juga menangis di sampingnya, berdiri terisak sambil membawa boneka kelinci kesayangannya. Boneka itu mulai kumal karena sudah 4 tahun menemaninya tanpa pernah mendapatkan yang baru.


“Pergi kau!! Sudah syukur aku tidak membunuhmu!” Pria itu menendang sang wanita sampai ia terjungkal ke belakang.


“Tuan saya mohon, Jasmin anakmu!!” Renggeknya, namun pria itu tetap membuang muka.


“Nyonya Besar, saya mohon!! Jasmine adalah cucumu.” Wanita malang itu beralih pada anggota keluarga lain yang lebih tua, berharap umur bisa membuatnya berlaku bijaksana.


“Lepaskan kakiku, pergi dari sini!!” Namun nyonya tua itu lebih memilih untuk mengabaikan cucunya sendiri.


“Biarkan kami berdua tinggal semalam saja, hujan sangat deras.” Ibanya.


“Rosie, kesabaranku ada batasnya!! Berhentilah merengek dan pergi dari sini! Aku sudah memberikan sejumlah uang di dalam koper untukmu dan Jasmine!” bentaknya.


“Kumohon, Tuan Richo, ingatlah hubungan kita, aku mencintaimu.” Wanita itu menangis, terisak-isak di bawah kaki tuannya.

__ADS_1


“Dulu aku menghamilimu karena berharap anakmu bisa menjadi tumbal agar kekayaanku bertahan tujuh turunan!” sergah Richo.


***


El Richo adalah seorang pria yang tamak dan gila harta. Ia tak sungkan menggunakan jasa dukun ataupun kuasa mistis untuk menggandakan kekayaannya. Seperti leluhurnya yang selalu mengorbankan anak pertama sebagai tumbah, Richo pun mencari kambing hitam. Ia menghamili Rosie, pembantunya yang saat itu masih berusia belia.


Rosie adalah wanita yang lembut dan baik, dia hanya kurang beruntung karena terlahir sebatang kara. Nenek yang merawatnya meninggal saat Rosie berusia 15 tahun, jadi gadis muda itu harus hidup merantau, menjadi buruh cuci sampai pegawai cleaning service. Nyonya besar Aliana yang membawa Rosie untuk bekerja menjadi ART pada kediaman mereka saat ini.


El Richo merayu Rosie yang saat itu berusia 17 tahun, Rosie mengandung, saat usia kandungannya memasuki bulan ke 4, Richo menikah, memilih wanita cantik dari keluarga kaya yang dipujanya. Rosie merana, kisahnya kembali kelam dan pait. Namun Rosie bertahan, bertahan demi anak yang dikandungnya.


Sampai akhirnya bulan melahirkan pun tiba, Rosie melahirkan Jasmin, malaikat kecilnya, si cantik dengan mata biru emerld yang cemerlang. Rosie menitikkan air mata haru, ia terus berdoa pada Sang Pencipta agar anaknya bisa tumbuh sehat dan bahagia, tidak seperti dirinya.


Tak seperti yang dipikirkan Rosie, pikiran Richo berbanding terbalik. Ia ingin dukun cepat-cepat mengambil nyawa Jasmin agar genap sudah janji leluhurnya yang menumbalkan anak pertama sebagai pengikat kekayaan. Apa lagi Kyara istri pertamanya juga tengah mengandung 4 bulan.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Jasmine tetap tumbuh sehat dalam pangkuan Rosie. Bahkan tumbuh menjadi gadis manis yang sangat menggemaskan.


“Kenapa dia tidak mati-mati juga?! Bagaimana kalau dukun lebih memilih anakku? Atau bahkan mencabut kekayaanku?!” Richo terus bergumam, ia ketakutan karena sudah hampir setahun dan Jasmine masih hidup.


Lain dengan Jasmin, lain pula dengan Arina, anak pertama dari istri sah Richo. Arina mendadak sakit-sakitan dan hampir meninggal. Sering bolak balik ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Richo cemas, apalagi istrinya terus uring-uringan dan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Arina.


***


“Pergilah! Sebelum aku berubah pikiran dan menyerahkan kalian berdua pada dukun tua itu!” Richo masuk ke dalam rumahnya.


“Papa ...! Papa ...!” Renggek gadis kecil bermata emerld.


“Jangan panggil aku Papa!! Aku bukan Papamu!!”


“Nenek ... nenek!!” Jasmine beralih pada wanita tua di samping ayahnya.


“Pergi kau bocah kumal, aku jijik melihatmu.” Aliana mendorong tubuh Jasmin sampai terjungkal ke belakang, sama seperti Rosie ibunya.


BLAR!! Pintu dibanting, tertutup dengan sempurna.

__ADS_1


“Tuan Richo!! Nyonya!! Saya mohon buka pintunya!!!” Rosie masih menangis, memohon iba yang sebesar-besarnya.


“Saya bisa mencuci, memasak, membersihkan rumah, saya mau bekerja keras, tolong jangan usir kami, hiks ... tolong jangan biarkan Jasmine kedinginan.” Rosie menggedor pintu, berharap ada jawaban.


Namun ..., hanya keheningan yang menemani isak tangisnya.


“Hiks ... Mama, kenapa Papa dan Nenek sangat jahat kepada kita?” tanya Jasmine, ia mendekati tubuh Rosie yang tersungkur di kaki pintu.


“Mama juga tidak tahu, Nak.” Rosie mengelus wajah Jasmine, ia tersenyum dalam tangisannya. Mencoba mengayomi hati anaknya, tak mungkin ia bercerita pada anaknya bahwa ayahnya sendiri ingin membunuhnya sebagai tumbal.


“Ayo kita pergi dari sini, Nak!” Akhirnya Rosie bangkit, ia menutup kepala Jasmin dengan tudung jaket. Rosie tahu jaket kain itu tak akan bisa menyelamatkan tubuh Jasmine dari rasa dingin, namun hanya perlindungan itu yang mereka punya saat ini.


Rosie cepat-cepat menarik kopernya, menembus hujan deras, langkahnya yang menderap cepat melalui jalanan becek membuat rok panjangnya kotor. Rosie tak peduli, yang penting ia bisa segera keluar dari kawasan perumahan, mencari tempat berteduh untuknya dan Jasmine. Kasihan balita itu, dia bisa masuk angin kalau tidak segera mengeringkan bajunya.


Rosie berhenti pada emperan toko, cukup untuk berteduh. Cepat-cepat Rosie membuka kopernya, mencari baju kering untuk Jasmin, untung saja ada pakaian yang masih bisa dipakai walaupun lembab dan dingin. Rosie memberikan minyak kayu putih pada dada dan punggung Jasmine sebelum memberinya baju ganti. Dengan begini Jasmine akan tetap merasa hangat walaupun tidak ada selimut yang menyelimuti tubuh mungilnya.


Rosie mengais sampah, mencari kardus yang bisa dipakai untuk alas Jasmine tidur malam ini. Jasmine tak mengeluh, balita itu sangat pintar dan penurut, ia tidur pulas pada tikar kardus, sementara Rosie mengigil kedinginan. Angin malam menerpa tubuh Rosie, membuah baju yang semula basah menjadi kering. Namun rasa linunya menusuk sampai ke tulang. Rosie terus menggigil, ia menjadi bantalan agar angin tak langsung mengenai tubuh Jasmine.


“Tidur yang nyenyak, Nak. Maafkan Mama, tak bisa membuatmu bahagia seperti janji Mama dulu waktu kau lahir.” Isak Rosie, ia mengelus rambut Jasmine.


Rosie memandang wajah Jasmine yang terlihat begitu pulas dan damai. Dalam hati Rosie berdoa, meminta keadilan Tuhan, mengutuk keluarga El Richo.


Suatu saat Jasminelah yang akan membuat keluargamu menderita!! Suatu saat Jasminlah yang akan merebut semua darimu, termasuk kebahagian putri tercintamu!!


Setelah mengucapkan hal itu dalam hatinya, Rosie meneteskan air matanya dan terisak sendu. Menangisi nasibnya yang begitu pahit dan kelam.


— TMDM —


Votelah!!


Like lah!!


Commentlah!!

__ADS_1


Love donk!!


__ADS_2