
TWIN’S PET
EP. 5 TRANSFORM
.
.
.
BLAR...
KRAAAKK!!!
Sadewa menyalurkan amarahnya pada beberapa batang pohon besar di tengah hutan. Pohon itu tumbang dalam sekali tinju. Sadewa mengatur nafasnya yang menderu karena berlari dari mansionnya ke dalam hutan ini. Entah kenapa hatinya terasa sangat sakit, perutnya sering berdesir saat memikirkan penolakan Liffi siang tadi.
“Kenapa rasa ini nggak mau hilang??!” Sadewa merasa sangat sebal dengan perasaannya yang terus menderu terhadap Liffi.
“ARGH!!!” Sadewa memukul batu sekuat tenaganya, batu itu terbelah, tulang tangan Sadewa hancur, rasanya sangat menyakitkan, namun sekejap kemudian tulangnya berangsur-angsur pulih dan kembali utuh.
“Kenapa?? Padahal rasa sakit di tanganku bisa segera hilang, tapi kenapa rasa sakit di hatiku tak bisa menghilang??!” Sadewa meremat dan menarik kemejanya sampai robek. Ia berubah menjadi seorang manusia srigala berwarna putih dengan sinar mata biru yang menyala.
SRAAK!!!
Sadewa menoleh, melihat siapa yang bergerak-gerak di kegelapan hutan. Berani menyelinap di belakangnya adalah sebuah kesalahan besar. Sadewa merasakan sesuatu mendekatinya dengan cepat.
KRAAK..!
“To...looonggg...” seorang manusia keluar dari balik semak-semak.
Sadewa terbelalak kaget melihatnya. Manusia itu sudah tak bisa lagi di katakan seorang manusia. Sekujur tubuhnya melepuh merah, bajunya koyak karena ia terus mencakar-cakar dan merusak kaosnya saat mencoba menghentikan rasa sakit itu. Usahanya sia-sia, wajahnya semakin memerah dan tulang-tulang rahangnya berkertakkan. Tiba-tiba rahangnya menjadi maju dan berubah menjadi sangat kuat.
Air liur pekat dan kekuningan terus menetes saat proses transformasinya terjadi. Manusia itu membanting-bantingkan tubuhnya karena rasa sakit yang tak kunjung mereda. Sadewa hanya bisa melihat pemandangan mengerikan ini dengan miris. Manusia ini sedang berubah menjadi seperti dirinya.
Sadewa bingung, bagaimana cara menolongnya? Bagaimana bisa manusia berubah tanpa adanya gigitan dari seorang True Alpha.
“Hei..hei!! Sadarlah.. Bisakah kau mendengarku?” Sadewa sudah kembali ke bentuk manusianya, ia mencengkram kuat tangan manusia itu. Tangannya sudah berubah, berbulu dengan kuku-kukunya yang tajam.
“GRRROOOWWWLLL!!” manusia itu menarik tangannya dan menyerang Sadewa, kelihatannya kesadarannya mulai hilang.
“Sialan!!” Sadewa meringis saat 4 buah goresan panjang bersarang di dada dan perutnya.
Punggung manusia itu menjadi sangat lebar dan membungkuk, bajunya telah koyak tak tersisa, tercabik-cabik oleh kuku tajam pemiliknya. Rambut kasar berwarna abu-abu dan coklat tumbuh di sekujur tubuhnya. 4 buah taring kuat dan tajam keluar di balik rahangnya. Pundaknya bergerak naik turun saat transformasinya selesai, asap embun keluar dari lubang hidungnya saat ia bernafas dengan cepat.
“Sudah tenang? Bisa kita bicara sekarang?” Sadewa sudah berhasil pulih dan mendekatkan diri pada werewolf setengah jadi di depannya itu.
“Gggrrrr....” hanya geraman takut dan amarah sebagai jawaban dari pertanyaan Sadewa.
“Bagaimana ini bisa terjadi padamu? Bagimana kau bisa berubah? Apa ada yang menggigitmu?” Sadewa maju beberapa langkah mendekati werewolf abu-abu itu. Ia melirik seluruh tubuh werewolf itu, sama sekali tidak ada bekas gigitan.
“GGRAAHH!!!” Werewolf itu menyambar Sadewa secepat kilat, Sadewa meloncat mundur dengan refleknya yang tak kalah cepat.
“Sepertinya kaummu tidak bisa diajak bicara baik-baik. Pantas saja Naku hanya menyisakan satu buah tangan.” Sadewa merubah dirinya menjadi manusia srigala berwarna putih.
“Baik kalau memang itu maumu, kebetulan aku juga sedang sebal akan sesuatu. Aku butuh pelampiasan.” Sadewa mendekati werewolf jadi-jadian di depannya.
“GRRROOOWWWLLL!!!!” sekali lagi werewolf itu menyerang membabi buta, kuku-kukunya yang tajam terus menghujam ke arah tubuh Sadewa yang lebar, namun Sadewa jauh lebih cepat.
BRUUK!!
Crrrooott!!!
Sadewa mencabik tubuh werewolf itu sampai ia tersungkur ke bawah. Darah segar muncrat dan membasahi bulu putih Sadewa, merubahnya menjadi merah pekat. Sadewa menyukai bau darah karena emosinya seakan meluap hilang.
“GGGRRR...!” werewolf di depannya kembali bangkit, lukanya tampak menutup namun tidak terlalu cepat.
“Kau masih belum mau bicara rupanya.. jangan salahkan aku kalau membunuhmu, ya.” Sadewa menyeringai tajam, ia menghardik werewolf itu dengan auranya sebagai penerus Alpha.
Tampak sedikit ketakutan di balik wajahnya yang telah berubah seperti seekor srigala. Namun karena bukan dari bangsa Werewolf, nalurinya untuk mengikuti seorang alpha tidak terbentuk sempurna. Bukannya mundur werewolf ini malah semakin menggila dan menyerang Sadewa. Instingnya bukan untuk tunduk, tapi untuk bertahan hidup.
“Dasar bodoh.” Sadewa menancapkan kukunya yang tajam tepat di dada werewolf itu. Menembus jauh ke dalam jantung dan menariknya keluar. Jantung itu masih bergerak beberapa kali di tangan Sadewa sebelum Sadewa meremaatnya sampai hancur. Sekali lagi darah muncrat membasahi wajah Sadewa. Tubuh werewolf buatan itu jatuh, tak ada lagi nyawa, Sadewa sudah mencabutnya dalam sekali serang.
“Setidaknya tak semenyakitkan kalau dia bertemu dengan Naku.” Sadewa memandang jantung itu dengan jijik.
PLOK PLOK PLOK..
Sadewa kaget dan mendoak ke atas, melihat siapa yang bertepuk tangan untuknya.
“Good, Sadewa.”
“Naku??!” Sadewa kaget melihat Nakula ada di atas pohon, bergelantungan terbalik seperti kelelawar.
“Kau memang penuh belas kasih. Membunuhnya dalam sekali serangan.” Puji Naku.
“Aku bukan sycopat gila sepertimu. Dan lagi kau itu srigala bukan kelelawar, berhentilah bergelatungan dan turunlah kemari!” Sadewa membuang jantung di tangannya.
“Oke oke..” Nakula melompat turun, seperti biasa ia selalu menggunakan outfit berwarna hitam.
“Sejak kapan kau di sana?” Sadewa bertanya dengan heran, akhir-akhir ini Sadewa tak bisa menyadari keberadaan Nakula di dekatnya.
“Kau terlalu fokus bertarung sampai tak mencium auraku.” Nakula berjalan di samping Sadewa.
“Werewolf itu tak kembali ke wujud manusia seperti kaum kita.” Sadewa melihat tubuh mengerikan itu tak kembali ke asalnya.
“Maka itu dulu aku mencabik-cabiknya agar orang tak mengenalinya lagi.” senyum Nakula bangga.
“Yang ini aku bawa pulang saja. Aku harus tahu apa dan siapa yang merubahnya?”
“Nice idea..” Nakula manggut-manggut.
“Kenapa kau ada di sini, Naku? Bagaimana kau bisa tahu ada werewolf buatan di sini?” Sadewa melirik tajam pada kembarannya.
“Kau mencurigaiku?” Naku terkikih.
“Aku hanya penasaran, kau ada di setiap saat mereka terlahir.” Sadewa membasuh darah di tubuhnya dengan air sungai.
“Aku sendiri juga heran, seperti ada yang menarikku datang, sepertinya darahku menginginkannya. Seakan-akan aku punya hubungan dengan werewolf ini.” Nakula jongkok di pinggir sungai melihat Sadewa menyelesaikan aktifitasnya.
“Kau bawa ponsel?” tanya Sadewa.
“Ini.” Nakula melemparkan ponsel pintarnya. Sadewa menerimanya dan melakukan panggilan.
__ADS_1
“Hei brengsek hidung belang, ngapain telefon malam-malam??” Suara Emily terdengar keras di balik speaker ponsel milik Nakula. Sadewa sampai harus menjauhkannya dari telinga.
“Kyahahaha..” Nakula tertawa senang saat mendengar Emily mengumpat pada atasannya. Emily tidak tahu kalau Sadewalah yang menghubunginya.
“Ini aku Emily, Sadewa.” Sadewa mencoba tetap tenang.
“Tu..tuan Sadewa?? Saya minta maaf, saya kira itu Black. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” dengan gagap Emily menjelaskan kesalahannya.
“Kirim beberapa beta untuk masuk ke dalam hutan. Mereka harus membawa mayat werewolf buatan yang baru saja menyerangku, Emily. Kita harus mencari tahu apa yang mengubah manusia-manusia itu menjadi seperti kita.” perintah Sadewa.
“Baik, Tuan.”
Sadewa menutup panggilannya dan melemparkan ponsel itu pada Nakula. Sadewa menyahut celananya dan kembali memakainya.
“Kau sudah bertemu dengan mate-mu?” tanya Nakula, pertanyaan yang kembali mengusik hati Sadewa karena teringat pada penolakan Liffi.
“Aku rasa belum. Kalau kamu?”
“Aku rasa sudah. Tapi belum yakin.” ucap Nakula.
“Belum yakin???” Sadewa merasa mereka berdua mirip, dia juga masih bertanya-tanya karena Liffi adalah seorang manusia.
“Ah sudahlah, aku akan menemui Gin untuk memastikan apa benar dia mate-ku.” Naku beranjak dan pergi meninggalkan Sadewa.
Sadewa berjalan santai kembali menuju ke mansionnya. Emily dan beberapa beta serta tetuah klan sudah menunggunya. Gin ayahnya juga nampak gusar menunggu di tengah-tengah aula pertemuan.
“Kenapa wajah kalian tampak suram?” tanya Sadewa heran.
“Mayatnya tidak ada, Tuan. Kami sudah menyelusuri kawasan hutan.” Emily melaporkan keadaannya.
“Tidak mungkin, aku telah membunuhnya. Aku sendiri yang mencabut jantungnya.” Sadewa merasa sangat keheranan.
“Seburuk apa situasinya Sadewa.” tanya para tetuah, wajah Gin juga berkerut tanda ingin tahu.
“Mereka manusia, manusia yang berubah menjadi seperti kita. Entah siapa dan apa yang membuat mereka berubah? Yang pasti bukan karena sebuah gigitan dari True Alpha.” Sadewa menjelaskan, sementara para tetuah berbisik-bisik dan berdiskusi.
“Harusnya aku cabik-cabik saja sampai tak bersisa.” Sadewa menyesal tak mengikuti kekejaman Nakula.
“Sudahlah Sadewa. Lain kali kau tak perlu membunuhnya, bawa saja ia hidup-hidup pada kami.” para Tetuah tak menyalahkan keputusan Sadewa.
“Pergilah istirahat Sadewa.” perintah Gin, Sadewa mengangguk menuruti perintan absolut dari sang Alpha.
Emily ikut mengangguk tanda pamit dan berjalan di belakang Sadewa.
“Tuan, bagaimana kencan anda hari ini?” tanya Emily.
“...” Sadewa enggan menjawabnya, dan Emily terlihat sudah bisa menebaknya.
“Anda di tolak? Anda terlalu agresif dan terburu-buru. Gadis kecil itu pasti ketakutan.” Emily terkikih pelan.
“Sudahlah, aku nggak ingin membicarakannya.” Sadewa mempercepat langkah kakinya.
“Mau saya kasih tips, Tuan?” ucapan Emily membuat Sadewa penasaran.
“Apa?”
“3 minggu lagi ada gerhana bulan. Kekuatan anda akan jauh melemah, bukankah saat itu anda tak perlu menahan perubahan anda bukan? Pergunakanlah waktu singkat itu untuk mendekatinya selayaknya manusia, Tuan. Ajak dia nonton atau jalan-jalan ke taman bermain.” Senyum Emily.
“Benar juga, saat gerhana aku bisa lama berada di sampingnya.” Sadewa ikut tersenyum.
“Terima kasih, Emily.”
“Good luck, Tuan.”
~Twin’s Pet~
.
.
.
Suasana Red Wolf Bar & Lounge terlihat sepi. Hari ini Red pemiliknya sengaja menutup Barnya untuk umum, ia ingin menghabiskan waktu dengan teman-teman se-ganknya. Lounge saat itu masih terlihat remang-remang dan lampu-lampu sorot yang di dominasi warna merah masih terus berputar dan menyala, padahal tidak ada pole dancer yang menari di atas panggung.
“Kau datang lebih awal, Black?!” Red mempersilahkan Black untuk duduk setelah bersalaman dengannya.
“Yeah.. bisnis barumu lumayan juga.” Black duduk dan melihat ke sekeliling.
“Not bad.. manusia-manusia itu rela membayar mahal untuk membangkitkan sosok iblis dalam jiwa mereka.” Red mengangkat gelasnya. Setelah pensiun sebagai pemain bass, dia membuka bisnis hiburan kecil-kecilan.
“Yo what’s up gaes..!” Seorang yang juga baru saja tiba berteriak menyapa mereka berdua. Di samping kanan kirinya ada dua orang gadis cantik dengan dandanan full make up.
“Hallo Grey.. kau masih saja bermain dengan para gadis.” Red berhigh five dengan Grey.
“Go baby, go..!” usir Grey setelah mencium dan menepuk pantat gadis-gadis cantik itu.
“Kau tak membawa cewek, Black? Tumben?” Grey meloncat duduk di samping Black.
“Black takut Jane akan langsung menerkam cewek-cewek itu.” Red cekikikan.
“Bener juga, Jane sangat terobsesi ingin menjadi mate-mu.” Grey meneguk minuman di depannya. Pemain Drum BLINK ini terlihat tampan dengan rambut abu-abunya.
“Di mana, Jane?” Black mencari keberadaan Jane, vokalis grub band BLINK. Wanita cantik itu selalu mengekor Black waktu BLINK masih belum bubar.
“Aku di sini Black, kenapa mencariku? Apa kau merindukanku?” Jane datang, lengkap dengan sepatu boot tingginya dan fashion bergaya gothic serba hitam.
Jane mendekati mereka, rambutnya yang berwarna pirang dihighlight dengan kombinasi warna hijau dan abu-abu.
“Yes. Come here, Babe..!” Black menyahut suara merdu Jane dengan lambaian tangannya.
Jane mengangkat sebelah kakinya dan menginjak sofa di tengah-tengah paha Black. Ia berkacak pinggang lalu menarik kerah baju Black, “Kau memang baji**an Black!!” Jane mengumpat sebelum ******* bibir Black dengan kasar.
“Hahahaha.. Black memang baji**an Jane, lalu kenapa kau menyukainya?!” Red menepuk pantat Jane. Jane menoleh dan menggeram marah pada Red.
“Cari mati, ya?!” Jane mengeluarkan taring dan kukunya lalu menendang Red.
Red terpental beberapa meter kebelakang bersama dengan sofanya.
“Ah..tendanganmu masih sekuat biasanya sayang.” Red bangkit dan kembali mendekati Jane. Jane membuang mukanya sebal.
“Selama Black belum menemukan mate-nya, dan aku juga belum. Aku bisa bebas menikmati Black.” Jane mengelus pipi Red.
__ADS_1
“Dasar hypersex.” Red mendekatkan wajahnya pada wajah Jane.
Jane menguryitkan alisnya dan kembali menonjok perut Red dengan tangan rampingnya. Entah dari mana kekuatan sebesar itu keluar dari tubuhnya yang langsing.
“Ohok..” Red terbatuk saat jari jemari Jane yang penuh dengan cincin paladin bermotif goltic itu menghantam ulu hatinya.
“Hahahaha.. Red kau kalah dengan seorang wanita?” Grey tertawa dengan nyaring.
“Aku nggak kalah, aku mengalah.” Red tertawa sambil memegang perutnya yang sakit.
“Coba saja.” Jane melepaskan baju dan assesorisnya. Ia berubah menjadi seekor srigala berwarna coklat keemasan yang mengkilap.
“Ayo, Jane.” Red juga berubah menjadi srigala, warnanya bulunya merah Maroon. Bulunya terlihat semakin merah karena cahaya lampu sorot yang terus menari.
“Kau diam saja Black?” Grey menepuk pundak Black.
“Jane kalau kalah jangan tidur denganku malam ini!!” Black malah memprovokasi semangat tarung Jane.
“Kau memang baji**an.” Grey berhigh five dengan Black.
Jane menatap tajam Red dan dengan cepat melompat untuk menggigit leher Red. Red menghindari serangan Jane dan membalas gigitannya. Kaki depan Jane menendang leher Red sehingga gigitannya meleset. Kedua srigala itu kembali berputar dan mengamati lawannya.
“Aku pasang taruhan untuk Jane. Kekuatan cinta wanita itu menakutkan..” teriak Grey.
“Sialan!! Kalian jadiin aku barang taruhan?!” Red berpaling pada teman-temannya.
“Lihat ke mana, Red?” Jane langsung menyerang Red saat ia lengah. Mencabik pundak depan.
“Shit!! Wanita gila.” Red berubah menjadi manusia srigala, darahnya yang mengucur perlahan menghilang karena lukanya menutup.
“Menyerahlah Red.” Jane berubah menjadi manusia srigala juga. Ia berlari dan kembali menyerang Red, Red tak menyia-yiakan peluang di depannya. Ia berputar di udara, mendaratkan tubuhnya ke belakang Jane dan mencabik punggung Jane.
Red berhasil melukai punggung Jane dan hendak memberikan cakaran ke dua. Black dengan segera bangkit dan berlari untuk menahan serangan Red. Black menahan serangan Red hanya dengan satu tangannya.
“Stop, kau menang, Red.” Black menghempaskan tangan Red.
Red menyeringai senang dan kembali ke wujud manusianya. Jane tersungkur ke bawah dan kembali ke wujud manusia. Black mengulurkan tangannya membantu Jane bangkit berdiri.
“Pakai bajumu, Jane.” Black melemparkan kembali baju Jane.
“Kau juga, bro.” Grey melemparkan baju Red.
Jane memandang sebal pada Red. Andai saja Red tak menipunya dengan berpura-pura lengah dia pasti menang. Dan Black akan menemaninya malam ini.
“Ah..bisnisku..” Red memegang kepalanya saat melihat bar nya porak poranda. Minuman keras dengan harga selangit hancur dan pecah.
“Hahahaha..” Grey tertawa melihat ekspresi menyedihkan sahabatnya.
“Jane kau harus bertanggung jawab!” geram Red.
“Enak aja, kau kan yang cari gara-gara duluan.” Jane memasang semua assesorisnya kembali.
“Aku pulang dulu, ya. Aku harus bertemu dengan seseorang.” Black melemparkan senyum ke semua sahabatnya.
“Siapa? Sadewa?” tanya Jane.
“Bukan.. bertemu dengan Mate-ku.” Black melambaikan tangannya sebelum menuruni anak tangga.
Jane membeku tak percaya, Black telah menemukan mate-nya? Lalu bagaimana dengan Jane? Selama ini dia selalu berdoa pada Moon Goddess untuk menjadikannya mate dari seorang werewolf bernama Black.
“Shit!!” umpat Jane, ia tersungkur dan menangis.
“Sabar, Jane. Kau juga akan segera menemukan mate-mu.” hibur Red.
“Aku hanya mau Black!!” Jane mengangkat wajahnya, keringat dan air matanya bercampur menjadi satu.
“Kaukan tahu bila telah mendapatkan seorang mate, werewolf tak akan terpisahkan.” Grey menepuk pundak Jane.
“Bisa, sebelum Black menandainya. Aku akan membunuhnya.” Jane menghapus air matanya dan bangkit berdiri.
“Dan Black akan membunuhmu.” Jawab Red.
“Selama Balck tidak tahu kalau aku yang membunuhnya, aku aman.” Jane bangkit dan mengambil jaket kulitnya.
“Acara reuni kita gagal total, Bro.” Grey menepuk pundak Red.
“Dan bisnisku hancur.” Red melihat sekeliling.
“Ini aku bayar minumanku.” Grey memberikan beberapa ratus dollar.
“Cih..recehan.” Red menyahut uang Grey.
“Jane aku ikut.” Grey mengejar Jane yang terus menjauh.
~Twin’s Pet~
.
.
.
Black kembali menyelusuri jalanan besar di tengah kota. Malam semakin larut dan hawanyapun semakin dingin. Sebentar lagi masuk musim gugur, daun-daunpun semakin menguning dan layu. Black sendiri juga heran, kakinya selalu melangkah ke apartemen Liffi selama ada kesempatan.
“Apa dia belum tidur?” Pikir Black, dia berdiri di bawah apartemen Liffi. Memandang ke arah jendela kamarnya yang masih menyala.
“Aku merindukan aromanya yang manis dan memabukkan.” Senyum Black, ia selalu teringat dengan manisnya aroma bunga fresia dan juga sandalwood yang tercium dari tubuh Liffi. Aroma yang selalu membangkitkan hasrat dan kekuatannya.
Tiba-tiba aroma itu kembali memenuhi indra penciumannya. Black menghirupnya dalam-dalam sebelum mengangkat wajahnya.
“Liffi?”
“Black?” Liffi memekik tak percaya melihat sosok Black dari jendela kamarnya di lantai 3.
~ Twin’s Pet~
Halo readers.
Terima kasih sudah membaca Twin’s Pet.
Semoga kalian suka. Dan semoga berkenang memberikan like dan comment.^^
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️
Update setiap Minggu.