MUSE S3

MUSE S3
BB 2


__ADS_3

...ASTER...


...Lambang kesederhanaan, kemurnian, dan ketulusan...


...__________________________...


bunyi lembut lonceng tembaga menyambut kedatangan seorang gadis ke sebuah toko bunga. Ia meraba-raba handle pintu untuk kembali menutupnya. Pandangan matanya menerawang kosong, namun senyumannya ketara begitu manis.


“Dari mana kamu, Sayang?” tanya seorang wanita paruh baya dengan lembut. Ia meletakan kembali gunting juga beberapa tangkai bunga pada nampan plastik.


“Lily pergi membeli roti dan susu coklat, Bi,” jawab Lily sembari mengangkat kantong kertas coklat berisi sarapannya pagi ini.


“Masih hangat?”


“Tentu saja, Bibi mau mencobanya? Roti buatan Bibi Joel sangat enak,” tanya Lily balik, ia menganyunkan tongkat sebelum melangkah maju. Gadis itu rabun, hampir buta total, jarak pandangnya mungkin hanya sejengkal. Buram, jadi ia butuh tongkat untuk membantunya berjalan. Mengecek ada atau tidak benda yang akan mengganggu langkah kakinya.


“Kemari, Sayang!” Helen menggandeng keponakannya untuk duduk.


Lily meraba tempat duduk sebelum menghenyakkan pantatnya dengan nyaman. Sementara Helen, ia menuju ke pantry di belakang tokonya, mencari sesuatu pada rak penyimpanan.


“Tumben Bibi datang sepagi ini?” Lily mengeluarkan sebotol susu coklat dan juga beberapa roti croisant yang masih mengepul. Semenjak kepergian suaminya sebulan yang lalu, Helen sering terlambat datang ke toko, mengunjungi makam terlebih dahulu.


“Ada yang ingin Bibi sampaikan padamu, Ly.” Wanita bertubuh gemuk itu kembali ke hadapan Lily dengan sebotol saus coklat dan madu. Lily menggeser posisinya, bersiap mendengarkan.


“Madu atau coklat?”


“Keduanya.” Senyum Lily, manis sekali, Helen sampai hampir menangis saat melihat senyuman terkembang di wajah cantik Lily.


Helen mencoba tegar, ia tak ingin terlihat rapuh di hadapan Lily. Bagaimana pun Lily telah sembuh, setidaknya itulah yang wanita tua ini yakini selama ini.

__ADS_1


“Kau tidak takut gendut?” sergah Helen, namun ia tetap menuang kedua cairan manis dan pekat itu ke atas croisant.


“Tidak, Bi. Aku lebih takut kelaparan.” Kikih Lily.


Sekali lagi, Helen melihat ke arah keponakannya. Menatap perempuan cantik itu lamat-lamat. Dulu, mata bulat zambrutnya yang cemerlang selalu membuat Helen terkagum. Sayang sekali, mata itu tak lagi bisa melihat dengan jelas. Cahyanya mulai redup, tertutup oleh buramnya masa lalu.


Kejadian setahun lalu membuat gadis itu harus kehilangan indra pengelihatannya. Ia menjadi trauma dan terus merasa sedih. Tak jarang Lily mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Helen yang membantunya bangkit, membesarkan hati Lily. Menyayanginya bagaikan anak sendiri.


Kini Lily sudah berhasil mengusir depresi dan ketakutan setelah setahun pasca kejadian. Mungkin saat ini, tidak ada salahnya kembali ke kota, membawa Lily kembali bersama orang tuanya.


“Well, Dear ... Bibi tak tahu harus memulainya dari mana?!” Helen mendesah panjang. Bibirnya terkatup, tenggorokkannya seakan tercekat.


“Apa Bibi akan pergi?” Lily menuang pelan susu coklat panas ke dalam cangkir, memberikan sebuah pada Helen dan sebuah lagi untuknya. Lily sudah bisa menebak, cepat atau lambat Helen pasti akan pergi.


“Benar, Kak Rose akan memiliki bayi bulan depan. Sebagai ibu, Bibi harus mendampinginya dan membantu Kak Rose untuk merawat anaknya.” Helen mengelus punggung tangan Lily, mengatakan rencananya selembut mungkin.


“Kapan Bibi akan berangkat?” Lily menunduk, berat rasanya melepaskan bibi yang telah merawatnya setahun belakangan. Hanya Helen yang bersedia menampung gadis cacat sepertinya. Merawat, membimbing, dan mengarahkan hatinya sampai kembali pulih. Helen juga mengajarkan keterampilan merangkai bunga pada Lily, memberikan gadis malang itu penghasilan.


“Apa kau mau ikut pulang ke kota, Sayang? Kau sudah sembuh, tak ada yang perlu ditakutkan lagi.” Helen mengelus rambut coklat kemerahan Lily yang panjang dan ikal.


“Tidak, Bibi!” seru Lily keras, “Lily tidak mau kembali ke sana lagi! Tidak! Lily tidak mau. Lily mau tinggal di sini saja.” Wajah Lily memucat tak kala membayangkan dia harus kembali ke kota kelahirannya itu. Kembali ke tempat penuh kenangan pahit itu.


Lily mulai terisak, membuat Helen merasa bersalah. Menyuruh Lily kembali ke kota sama saja menguak kisah sedih dan mengorek lagi luka lama. Lily kehilangan segalanya di kota itu satu tahun yang lalu. Mahkotanya, bayinya, pengelihatannya, kasih sayang orang tuanya, juga masa depannya.


Helen menggigit bibir, betapa bodohnya dia mengusulkan hal itu pada Lily.


“Berapa usiamu tahun ini, Nak?”


“Sembilan belas tahun,” jawab Lily.

__ADS_1


“Kau sudah dewasa, Lily. Kau bisa memutuskan segalanya seorang diri. Bibi tak seharusnya menyuruhmu kembali ke sana.” Helen tersenyum, ia menepuk pundak Lily untuk menenangkannya.


“Hiks ... Lily mau di sini saja, Bibi. Mengurus toko bunga ini. Merawat bunga-bunga yang ada di sini.” Lily mengusap sudut matanya yang berair.


“Tentu saja, Lily. Kau begitu berbakat dalam merangkai bunga. Aku tak perlu cemas meninggalkan bunga-bunga ini karena ada kau di sini.” Helen menghela napas panjang. Mungkin tak ada salahnya membiarkan Lily mengurus toko. Walaupun buta, Lily bukan gadis manja yang minta dikasihani. Selama ini dia begitu mandiri juga rajin bekerja. Hampir semua orderan toko bunga dikerjakan oleh Lily.


Lily saat menyukai seni merangkai bunga. Buket bunga yang dirangkainya selalu membuat pelanggan puas. Gadis itu akan mencium aroma bunga untuk mengetahui jenis bunga apa yang ada di tangannya. Ia juga masih bisa membedakan warna bunga-bunga itu dari jarak yang sangat dekat.


“Bibi sebenarnya resah meninggalkanmu sendirian.” Helen memeluk Lily.


“Lily akan lebih baik sendiri di sini dari pada bersama banyak orang di kota, Bi.” Lily mendekap pelukan hangat itu dengan erat.


“Iya, Bibi tahu. Lagi pula ada Noir atau Bella yang bisa membantumu. Jangan sungkan meminta bantuan mereka, Ly. Kalian seumuran, bukan?” Helen mewanti-wanti Lily sambil menahan air matanya.


Ada banyak tetangga yang bersedia membantu Helen mengawasi dan membantu Lily bila ia butuh sesuatu. Helen tak perlu cemas. Lily pasti akan baik-baik saja.


“Jangan sampai terlambat makan dan hati-hati bila berjalan. Jangan sampai terjatuh, jangan sampai terantuk.” Helen menangkup pipi Lily, memberikan wejangan demi wejangan seakan-akan Lily adalah anak berumur lima tahun.


“Iya, iya, Bi. Lily bukan anak kecil lagi. Lily bisa jaga diri.” Lily mengangguk paham.


“Jangan lupa hubungi Bibi bila kau sakit atau butuh sesuatu,” tukas Helen penuh penekanan.


“Bibi juga jangan lupa tulis surat untuk Lily.”


“Tentu saja, Sayang. Tentu saja.”


...— BBL —...


...@dee.Meliana...

__ADS_1


...Please like, comment, and vote!...


__ADS_2