
GORESAN WARNA PELANGI
WARNA KEDUA - JINGGA
_______________
Hari ini hari pertama Anggun mulai bekerja di PT. RH, sebuah perusahan yang bergerak dibidang trading company. Selain itu, masih banyak anak perusahaan yang tergabung dalam RH Grup. Ada jasa jual beli mesin dan alat berat, jasa kontraktor, dan juga perkebunan sawit. Semua itu akan menjadi milik Arya kelak.
Anggun memang sengaja datang lebih awal untuk mengecek ulang semua berkas dan mempelajarinya. Anggun harus mempelajarai semua itu sebelum memulai perannya sebagai sekretaris seorang Arya Nitiraharjo, pemenang penghargaan best enterprener termuda tahun lalu.
Rumit juga, jadwalnya padet banget, orang ini kelihatannya workaholic banget, pikir Anggun sambil mempelajari semua jadwal kegiatan Arya selama seminggu belakangan dan seminggu ke depan.
“Jadwal hari ini meeting dengan pemilik hotel Centrum, trus makan siang dengan klient, cek pembelian mesin, trus cek pendapatan kebun sawit bulan kemarin.” Jemari Anggun tak henti-hentinya membolak balik buku agenda bersampul coklat tua itu.
Semangat Anggun kamu pasti bisa! Anggun menyemangati dirinya dalam hati.
Karena terlalu fokus pada pekerjaannya, Anggun tak menyadari jam kantor sudah dimulai. Beberapa orang terlihat mondar mandir di depan mejanya, mereka meminta jadwal temu dengan Arya. Keriuhan ini membuat Anggun sedikit kelabakan saat mengatur kembalijadwal temu Arya.
“Maaf, antri dulu, Bu.” Seorang ibu-ibu dengan tubuh tambun dan dandanan menor melirik tajam ke arah Anggun yang menyuruhnya antri. Cocard dengan tulisan Lisa, Manager Keuangan tak berpengaruh atau menempatkannya pada urutan antrian pertama.
Sejam berlalu dan pendaftar antrian juga sudah habis, semua yang ingin bertemu dengan Arya dengan teratur langsung memposisikan diri di ruang tunggu. Mereka mengobrol, membaca majalah maupun koran, setidaknya cukup sibuk untuk mengisi waktu sampai pimpinan mereka,Arya mempersilahkan mereka masuk satu per satu.
Anggun dengan cepat menyusun daftar temu para bawahan Arya dalam selembar kertas. Setidaknya Anggun telah mengurutkannya, masalah Arya mau bertemu dengan mereka atau tidak biar Arya sendiri yang memutuskan.
Seperti biasa, Arya terlihat lesu saat datang ke kantor. Arya memang selalu pulang malam dan kurang tidur. Arya datang ke kantor lebih pagi dari biasanya karena banyak pekerjaan. Kemejanya tampak kusut dan simpul dasinya tak terikat dengan benar. Nampaknya Arya tak punya cukup waktu untuk sekedar merapikan bajunya saat berangkat tadi.
“Pagi, Pak,” ucapan selamat pagi terlontar dari setiap mulut para pegawai kantor yang sedang berpapasan dengannya. Arya hanya mengangkat tangannya sebagai jawaban. Bukannya angkuh, Arya hanya sedang mengirit tenaganya. Mulutnya pasti kering menjawab seluruh sapaan karyawannya yang berjumlah ratusan.
Arya masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Anggun. Tangan kurusnya terlihat penuh membawa berkas-berkas dan buku agenda untuk hari ini.
“Selamat pagi, Pak.”
“Pagi, siapa namamu?”
“Anggun.”
__ADS_1
“Baik, Anggun. Apa yang saya punya untuk jadwal hari ini?” tanya Arya sambil sibuk menggeser-geser menu pada layar Ipadnya.
“Jadwal hari ini, Bapak ada meeting dengan kliet sambil makan siang, lanjut dengan cek pembelian mesin dan keuangan perkebunan.”
“Huum ..., trus?”
“Dokumennya sudah saya siapkan, lalu ada beberapa dokumen yang harus ditanda tangani, semuannya sudah ada di atas meja Bapak.”
“Oke, coba saya cek dulu. Itu saja?”
“Masih ada beberapa bawahan yang ingin bertemu dengan anda, ini daftarnya.” Anggun menyerahkan rentetan nama antrean panjang tadi.
“Suru Lisa dan Bambang saja yang menghadap, yang lainnya suru pulang ke devisi mereka masing-masing.”
“Baik, Pak. Oh, iya, Bapak mau minum kopi atau sarapan sesuatu?”
“Bagaimana kamu tahu saya belum sarapan?” Arya tersenyum dengan pertanyaan Anggun yang sepontan.
“Dari cara Bapak berpakaian pagi ini menyiratkan kalau Bapak tidak sempat untuk sarapan, Pak.” Senyum Anggun manis.
“Oh, ya?”
“Boleh, kamu tahu juga saya suka kopi hitam dengan banyak creamer?” Arya mulai tertarik dengan Anggun.
“Dari bekas cangkir kopi yang saya bereskan tadi pagi, Pak.”
“Ah, begitu.”
“Ada lagi yang bisa saya bantu?”
“Itu saja.”
“Oke, Pak, saya permisi.” Senyum Anggun seraya meninggalkan ruangan presdir.
Arya hanya tersenyum dan mengangguk pelan saat menatap Anggun meninggalkan ruangannya. Baru kali ini sekretarisnya ada yang begitu detail memperhatikannya, sampai bisa tahu jenis kopi kesukaannya.
__ADS_1
Dalam benaknya muncul bayangan nakal, sekretaris barunya itu memang cantik. Walaupun hanya mengenakan kemeja kerja dan rok hitam setinggi lutut, tetap saja masih belum bisa menyembunyikan daya tarik dan pesonanya. Garis hidungnya yang mancung, dan rona bibirnya yang dipoles dengan lipstik berwarna lembut semakin menggoda jiwa lelaki Arya.
•
•
•
Sekali lagi Anggun mengetuk ruangan presiden direktur dan masuk ke dalam. Anggun melihatArya tengah menikmati secangkir kopi buatannya tadi.
“Pak, sudah saatnya berangkat meeting, saya sudah menelepon Pak Gunardi untuk menyiapkan mobil di bawah,” kata Anggun.
“Oh, iya, saya segera berangkat.” Arya berdiri dan mengenakan jas hitam yang tadi disambarnya dari sandaran kursi.
“Dokumennya, Pak.”
“Terima kasih.”
“Erm …, maaf, Pak, boleh saya bantu betulin dasinya?” tanya Anggun, dengan perasaan sungkan Anggun menawarkan bantuannya untuk merapikan kerah kemeja dan simpul pada dasi Arya yang berantakan.
“Oh, iya, Boleh. Tolong, ya.” Arya tampak tidak berkeberatan dengan tawaran Anggun.
Anggun sedikit merapatkan badannya untuk merapikan dasi Arya. Badannya cukup dekat untuk bisa menghirup wangi parfum mahal yang dipakai Arya hari ini. Aroma dengan kesegaran musk dan cinammon yang hangat. Arya terpaksa harus menelan salivanya saat bagian paling menonjol milik Anggun hampir menyentuh dada bidangnya.
“Sudah, Pak.”
“Terima kasih,” ucap Arya, wajahnya memerah.
“Sama-sama.” Anggun tersenyum manis.
— GORESAN WARNA PELANGI —
IG @dee.Meliana
Please Like and Comment
__ADS_1
Vote if you like
Love, dee