MUSE S3

MUSE S3
GWP 3


__ADS_3

GORESAN WARNA PELANGI


WARNA KEDUA - JINGGA


__________________


Kepala Arya terasa berat saat memasuki ruang kerjanya. Kesibukkannya belakangan ini tak mengizinkannya untuk memperoleh istirahat yang cukup. Urusan perusahaan telah banyak menyita waktunya, belum lagi urusan kepolisian yang telah menetapkannya sebagai tersangka. Karena kecerobohannya, Arya tak sengaja menabrak seorang dokter hingga meninggal sebulan lalu.


Tok ... Tok ...!


Terdengar suara pintu diketuk, tak lama kemudian seorang wanita muda masuk ke dalam. Ia bergegas menyodorkan beberapa dokumen untuk di tanda tangani. Arya membuka dan mengecek satu per satu lembaran kertas itu sebelum menggoreskan tinta tanda persetujuan darinya.


“Apa saya ada meeting hari ini?” tanya Arya, tangannya mengetuk berirama di atas meja.


“Seharusnya ada jadwal meeting jam 09.00 pagi tadi dengan PT. Adi Raksa, Pak,” jawab wanita itu dengan suara lirih.


Arya langsung melirik arlojinya, jam saat ini menunjukan pukul 10.00, terlambat satu jam dari jadwal temunya. Dengan geram Arya memandang ke arah wanita muda yang tak lain adalah sekretarisnya itu.


“KAMU INI BISA KERJA NGGAK, SIH?!” bentak Arya.


“Ma—maaf, Pak, saya bingung soalnya pas saya telepon ke rumah katanya Bapak masih tidur,” jawabnya gemetaran.


“Kamukan bisa kasih tahu saya sehari sebelumnya, atau suruh pembantu bangunin saya!!” tegur Arya.


“Tender ini nilainya milyaran!!” tambah Arya. Wanita itu hanya memainkan jemarinya karena ketakutan mendengar amarah Arya.


“Sa—saya ...,” ucapannya tergagap karena takut.


“Sudahlah! Kamu saya pecat! Keluar sana!” usir Arya. Nada bentakan terus keluar dari bibir tipis Arya sampai membuat wanita itu keluar dan menangis ketakutan.

__ADS_1


Arya mengambil ponselnya untuk menghubungi rekan bisnisnya. “Halo, Steve, sorry, gue kelupaan sama meeting kita hari ini. Sekretaris konyol itu nggak ingetin gue!”


“No problem, Ar, untung aja kita sahabatan, kalau nggak, hilang sudah tuh tender jutaan dollar,” kikih suara dari seberang sana.


“Bisa aja, lo. Gue bener-bener minta maaf, ya.” Arya masih sungkan dengan sahabatnya, “terus kapan kita bisa ketemu lagi?”


“Hari ini kita lunch bareng saja, Bro. Soalnya jadwal gue padet banget seminggu ke depan.”


“Oke, kalau gitu, see you, Bro. Jangan lupa lo share loc ke gue alamat restoran-nya, ntar gue yang traktir.”


Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan sahabatnya, Arya bergegas menyahut jas hitam dari sandaran kursi. Arya berjalan cepat meninggalkan ruangannya untuk menuju ke bagian personalia.


“Sas, cari-in saya sekretaris baru, yang pinter!! Awas kalau dapat sekretaris oon lagi!”


“Tapi, Pak. Bukannya Ranny baru seminggu jadi sekretaris Bapak?” tanya wanita ini bingung.


“Apa?”


“Sudah nggak usah banyak nanya! Cari-in yang baru secepatnya dan saya mau dia benar-benar berpotensi jadi sekretaris! Jangan asal punya title doang!”


“Ba—baik, Pak.”


Arya masih berkacak pinggang saat ia tersadar dengan bayangan seorang gadis muda. Gadis itu dari tadi menunduk di depan meja personalia. Rambutnya panjang dan ikal, wajahnya cantik dan kulitnya bersih, bibirnya terlihat begitu plumpy dengan belahan tengah pada bagian bibir bawahnya. Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya dan membuat pandangan mereka bertemu. Matanya yang bulat berhiaskan bulu mata yang melengking panjang.


Hati Arya berdesir, tak biasanya Arya memperhatikan seorang wanita sampai sedetil itu. Tatapan hangat gadis muda ini sepertinya telah berhasil membiaus Arya dengan pesonanya.


Padahal dia hanya pakai setelan kemeja kerja biasa, kenapa bisa terlihat begitu menarik?kagum Arya dalam benaknya.


Wajah cantik gadis itu terlihat bingung, mungkin merasa canggung dengan situasi barusan. Bagaimana tidak? Ia mendengar amarah dari sang pemilik perusahaan tepat di hari pertama ia melamar pekerjaan.

__ADS_1


“Siapa dia?” tanya Arya pada Saskia, manajer personalia di perusahaannya.


“Namanya Anggun, dia melamar kerja, lowongan di bagian administrasi keuangan,” jawab Saskia.


Arya kembali mengamati gadis itu mulai dari ujung rambut sampai ke pangkal kakinya. Tanpa ragu Arya langsung berkata pada Saskia, “ya, sudah, suru dia jadi sekretaris saya saja. Masuk mulai besok.” Arya langsung pergi begitu saja setelah memberikan perintah yang membuat Saskia dan Anggun melongo bingung.


“Beneran, Bu? Saya diterima kerja di sini?” tanya Anggun, mencoba memastikan kembali perkataan Arya lewat Saskia. Masa iya dia diterima kerja tanpa tes sebelumnya.


“Iya, kamu di terima kerja. Boss saya memang gitu orangnya,” terang Saskia. “Hati-hati, ya, tempramennya tinggi. Nggak ada yang bertahan lebih dari satu bulan jadi sekretarisnya.”


Anggun menelan salivanya, sedikit takut saat mendengar perkataan Saskia. Namun, Anggun butuh pekerjaan ini, uangnya sudah habis karena terlalu lama menganggur.


“Saya akan bekerja dengan baik, Bu,” ucap Anggun penuh semangat.


“Iya, mulai besok datang sebelum jam 8 pagi. Tugasmu simpel, hanya mencatat jadwal Pak Arya dan mengingatkannya. Jangan lupa siapin jugadokumen yang beliau butuhkan saat rapat.”


“Baik, Bu.” Anggun mengangguk tanda mengerti.


“Selamat bekerja.”


“Terima kasih, Bu.”


“Sama-sama.”


Puji Tuhan langsung dapat pekerjaan, pikir Anggun sembari meninggalkan


bagian personalia.


— SETETES PELANGI —

__ADS_1


__ADS_2