MUSE S3

MUSE S3
TMDM 5


__ADS_3

Sebuah kolam renang di hotel berbintang lima pada pusat kota terlihat penuh karena kerumunan kru foto dan video.


“Ya, bagus Arina, pertahankan, seperti itu. Angkat sedikit dagunya! Lebih terlihat sensual lagi! Good job!” teriak kameraman, ia sedang mengarahkan gaya modelnya.


Seorang gadis cantik dengan rambut pirang panjang lurus berpose di atas ban karet berbentuk angsa. Ia tengah melakukan pemotretan untuk baju renang koleksi musim panas sebuah brand ternama. Nama gadis itu Arina Elverne, anak dari El Richo Elverne dan Kyara Torres.


Arina berumur 15 tahun ini, namun dia sudah berhasil masuk pada jajaran model dan selebgram papan atas. Terkenal dengan wajah cantiknya dan lekukan body-nya yang di atas rata-rata untuk anak remaja seusianya. Di tambah dengan otaknya yang encer dan juga pembawaannya yang kalem, Arina sukses membuat para fans berdecak kagum padanya.


Dari kecil Arina memang mendapatkan pendidikan terbaik, les berbagai macam alat music, les kepribadian, sampai les attitude dan gesture tubuh. Semua ini tak luput dari andil Kyara sebagai seorang ibu yang baik, ia berharap Arina akan memperoleh lelaki dari keluarga terpandang dan hidup bahagia.


Perusahaan milik keluarga Elverne sebenarnya terbilang cukup besar, El Richo dengan baik mengelolanya, ditambah dengan dukungan dari pihak keluarga Torres, perusahaan ini tak bisa lagi diremehkan. Dengan latar belakang keluarganya tentu saja Arina mampu menggaet lelaki kaya manapun kecuali setingkat Eldebra dan Durontea.


“Good job, Sweety!” Kyara menyelimutkan jubah mandi pada tubuh putrinya.


“Thanks, Mom.”


“Ini, minum, jus jeruk dengan madu. Cocok untuk mengganti cairan tubuhmu.” Kyara mememegang gelas berisikan cairan kuning itu agar Arina bisa meminumnya dengan mudah.


“Dingin sekali!!” Arina memeluk tubuhnya.


“Ganti baju, Nak!”


“OK, Mom, Aku akan segara bertukar pakaian.” Arina menyahut tas totte dari anyaman eceng gondok, dia membelinya saat berlibur di sebuah negara di kawasan Asia Tenggara.





“Uhuk ... uhuk ... to—tolong!” Sebuah suara batuk dan minta tolong mengagetkan Arina.


Arina yang kebetulan melewati toilet pria saat hendak menuju ke toilet wanita terkejut. Ia bergegas menilik ke dalam toilet.


“Paman? Anda tidak apa-apa?” Arina mendapati seorang pria tua tengah tergeletak di lantai bawah, ia kesusahan mengatur napasnya. Cepat-cepat Arina menghampirinya.


“To—tolong am ... hah ... bilkan in—healer di dalam saku.”


“Baik, Paman.” Arina ikut panik, ia mencari inhealer pada kantong celana kain pria itu, dengan cekatan Arina membantunya, pria itu langsung menghisap dalam-dalam obat pelega pernafasan itu.


“Bagaimana, Paman?” tanya Arina panik.


“Hah ... hah ... sudah lega, tidak apa-apa. Terima kasih, Nak,” ucapnya, Arina membantu pria tua itu berdiri.


“TUAN BESAR!! Saya mencari anda ke mana-mana.”


“Kau sekertaris bodoh!! Ke mana kau saat aku hampir meregang nyawa?!”

__ADS_1


Pria yang baru saja datang langsung menunduk, padahal semua bukan salahnya, ia baru saja memasukkan barang-barang Tuannya ke dalam bagasi mobil dan Tuannya sudah menghilang. Tapi sebagai budak kooperat apa lagi yang bisa ia lakukan selain menunduk dan menerima caci maki atasannya.


“Memasukkan barang bukan pekerjaan sekertaris besar kau tahu!” omehnya.


“Maaf, Tuan besar. Saya teledor, saya bersalah, jangan pecat saya.” Ibanya.


“Sudahlah, aku maafkan karena kau orang baru.”


“Terima kasih, Tuan Louise.”


“Terima kasih, ya, Nak. Aku bisa mati kalau tak ada dirimu.” Senyum Louise, pandangannya beralih pada sosok Arina.


“Sama-sama, Paman.”


“Terimalah tanda terima kasihku.” Louise memberi kode pada sekertarisnya untuk mengeluarkan cek.


“Ti—tidak, Paman. Saya senang bisa menolong.” Tolak Arina.


“Hm, jarang ada anak baik sepertimu di era saat ini. Siapa namamu, Nak? Dari keluarga mana?” tanya Louise.


“Nama saya Arina, Arina Elverne,” jawab Arina.


“Ah ... anak El Richo, aku tak menyangka dia punya putri secantik ini.” Angguk Louise senang.


“Ah, Paman bisa saja! Baiklah, Paman, saya permisi untuk berganti pakaian.” Pamit Arina.





Louise berjalan menuju ke Lobby hotel, diikuti oleh beberapa orang anak buahnya. Para pegawai hotel juga membungkuk hormat karena memang Louise adalah pemilik dari hotel ini.


“Tuan Eldebra? Wah, baru kali ini aku melihatnya dari dekat.” Kyara yang sedang duduk di sofa lobby berdecak saat Pemimpin tertinggi Elde grup lewat di depannya.


“Mom!!” Panggil Arina.


“Ah, kau sudah selesai, Putriku?”


“Sudah, ayo pulang, Mom. Aku lapar.” Ajak Arina. Ia memang sengaja belum makan sejak pagi agar perutnya terlihat ramping saat pemotretan.


“Ayuk.”


“Wah, Paman itu juga mau pulang. Tunggu aku berpamitan dulu padanya, Mom!” Arina dengan riang melangkah menuju Louise.


“Tunggu, Arina, dia itu ....” Kyara belum selesai menjelaskan namun putrinya sudah berlari pergi.

__ADS_1


“Paman, saya pulang dulu. Saya harap Paman segera sehat.” Sapa Arina.


“Gadis baik, terima kasih atas doanya.” Senyum Louise.


“Maaf, Tuan Louise, maafkan anak saya yang tidak tahu aturan.” Kyara mendekati rombongan Louise, ia sedikit membungkukan kepalanya.


“Tidak apa-apa, apa kau ibunya?”


“Benar, saya Kyara Torres, istri El Richo. Ini Putri saya Arina, dia masih remaja jadi belum tahu cara bersikap.” Lagi-lagi Kyara memohon pemakluman Louise.


“Hahaha ... tidak apa-apa. Kau telah membesarkan gadis yang baik dan juga cantik. Berapa umurmu, Nak?” tanya Louise.


“15 tahun sebentar lagi, Paman.”


“Oh, dua tahun di bawah Leon. Mungkin kalian bisa menjadi teman akrab,” ucap Louise.


Mata Kyara langsung berbinar cerah, tak menyangka bahwa Tuan besar seperti Louise akan memuji putrinya setinggi langit. Apakah ini berarti ada kesempatan bagi keluarga Elverne bersading dengan keluarga Eldebra?


“Kau masuk SMA mana tahun ini?”


“Tentu saja ELDE HS,” jawab Arina.


“Good, good! Aku akan berbicara pada Leon agar menjadikanmu temannya.”


“Terima kasih, Tuan.” Kyara menunduk lagi, hatinya begitu berbunga-bunga.


“Cepat ucapkan terima kasih, Arina!”


“Terima kasih, Paman.”


“Baiklah, sampai jumpa lagi.”


Sepeninggalan rombongan Louise, Kyara berteriak dan meloncat kegirangan, ambisinya untuk mencari seorang pria sempurna bagi putrinya seakan menemukan titik terang.


“Ih, Mommy kenapa, sih? Kaya orang gila tahu nggak?! Malu donk!” Arina mencibir tingkah kekanakan Ibunya.


“Ah, Putriku yang cantik. Kau memang sangat mempesona.” Bukannya menjawab Kyara malah memuji pesona anak gadisnya dan mencubit gemas pipi mulus itu.


“Ck, ayo pulang! Arina lapar,” ujar gadis itu sembari menggandeng ibunya menuju ke mobil.


“Baiklah.”


— TMDM —


NB : kalau di tanya setting negera, Author lagi coba-coba bikin di negara latin. Jadi ceritanya Author bukan bikin sinetron ikan terbanh, tapi bikin telenovela ala Ferguso dan Marimar. Hahahaha... jadi jangan di hujad kalau ada salah-salah cucokologi plot dan juga budaya.


Like, comment, dan juga vote. Luv ya!!

__ADS_1


__ADS_2