
ZEN 02
a Novel by dee.Meliana
______________________
Beberapa hari yang lalu.
Sebuah papan nama ‘PANTI ASUHAN CAHAYA KASIH’ berderak pelan saat sebuah getaran hebat menghantam dindingnya. Getaran itu muncul saat tubuh seorang bocah lelaki terpental menabrak dinding.
“Bocah kurang ajar!! Beraninya kau mencuri makanan di sini!!” seru salah seorang pria pengurus panti, ia kembali menghampiri bocah malang itu, mencengkram kerahnya sampai terangkat ke atas.
“Ka—kami kelaparan!” ucapnya dengan terbata-bata.
“Puih!! Makan dua kali sehari cukup! Kau kira panti ini punya banyak makanan?!”
BRUK!!
“Renungkan kesalahanmu! Tak ada makanan untuk semua anak-anak dua hari ke depan.” Pria tambun itu kembali melepaskan sang bocah, membuatnya terjatuh pada lantai yang dingin.
Bocah lelaki berusia dua belas tahun itu meringis kesakitan, punggungnya memar karena pukulan dan terjangan keras dari benda tumpul. Dengan berat dan tertatih-tatih bocah itu kembali ke dalam kamar bangsal.
Nama bocah itu adalah Zen Wu, punya rambut hitam yang sedikit kecoklatan karena terlalu sering terkena sinar matahari. Kulitnya pun tak terlalu putih seperti kebanyakan suku China, bertani dan mengolah ladanglah penyebabnya. Zen sudah dipaksa bekerja keras sejak usianya beranjak 6 tahun. Dengan kejam para pengurus panti menyuruh anak-anak untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Mulai dari mencuci, mengurus ladang dan hewan ternak, sampai membersihkan mansion.
Dulu panti asuhan ini sangat ramai, tempat yang damai untuk anak-anak sampai suatu saat kepala panti, Nyonya Chun meninggal. Tempat yang dulunya surga bagi anak-anak buangan itu berubah menjadi neraka dunia. Kepala panti yang baru adalah seorang lelaki kejam. Ia bersama istri, dan tiga orang anak buahnya mengambil alih panti.
Semenjak itu satu persatu anak-anak menghilang, mereka bilang para orang tua asuh mengadopsi mereka. Tapi kenyataannya anak-anak itu dijual, entah sebagai pelayan, budak s3ks, sampai penjualan organ dalam. Tak ada warga yang tahu tentang praktek perdagangan manusia itu, para pengurus panti terlihat begitu ramah dan santun dengan lingkungan sekitar.
__ADS_1
“Hah ... hah ... hah ...!” Zen berusaha mengatur napasnya sebelum memasukki kamar bangsal. Tak ingin membuat para adik-adiknya cemas.
Di dalam kamar itu berjajar ranjang-ranjang susun yang mulai reot. Seprei mereka sudah kumal dan penuh tambalan, tak ada ganti seprei baru padahal uang terus mengalir dari para donatur. Para penghuni di dalamnya juga sama, sama-sama kusut, lesu, dan juga kurus kering.
“Kak Zen?!” Arron mendekati kakaknya, membantunya berjalan dan duduk di tepi ranjang.
“Uhuk ... uhuk ...!” Jimmy terbatuk.
“Batukmu belum juga sembuh, mereka tak memberikanmu pengobatan?” Zen mendesah, ia kembali geram.
“Jangan keras-keras, Kezia baru saja tertidur.” Kelly mengingatkan mereka.
“Kasihan bayi itu, dia bahkan belum mengerti apa artinya kejahatan dan kebaikan, tapi sudah harus menderita seperti ini!” Zen mendatangi Kezia, mengelus pipi kemerah-merahannya dengan lembut. Bayi itu tersenyum dalam tidurnya. Zen langsung meneteskan air matanya, melihat Kezia akan tumbuh tersiksa sama seperti mereka semua membuat hati Zen terasa sesak.
“Kita harus berbuat sesuatu! Kita harus pergi dari sini!” Zen berbalik, mengumpulkan adik-adiknya, kini mereka hanya tinggal berlima, enam dengan Kezia namun bayi itu tak masuk hitungan.
“Tapi setelah itu kita akan menjadi gelandangan. Mungkin tak akan ada lagi makanan buat kita setiap hari. Apa kalian yakin mau ikut?” Zen menghembuskan napasnya kasar.
“Di sini kita juga tak pernah mendapatkan makanan yang layak setip hari.” Arron menimpali.
“Benar, aku juga tak mau dijual pada pria hidung belang seperti Kak Monica.” Mata bulat Kelly berkaca-kaca, mengingat gadis itu baru berusia 13 tahun saat panti menjualnya pada seorang germo.
“Baiklah, jadi begini rencananya!” Zen melirihkan suaranya, menjelaskan secara detail cara mereka kabur. Dua hari lagi, saat hari mulai gelap, mereka akan mengendap-endap dan kabur dari tempat biadap itu secepatnya.
— ZEN —
Hari berjalan seperti biasa, Kelly menyimpan beberapa biji mantao di dalam pakaiannya, mengumpulkan beberapa biji untuk bekal kabur.
__ADS_1
Arron telah menebarkan ranting dan juga rumput kering pada sekitar mansion saat bersih-bersih pagi ini. Ia juga menyembunyikan seekor anak bab1 dan beberapa ekor ayam.
Jimmy yang punya tubuh paling lemah tak melakukan apapun selain membawa pakaian milik saudara-saudaranya dan menggendong Kezia nantinya.
Zen bertugas sebagai umpan dan pembunuh bersama dengan Alex. Walaupun masih kecil, tubuh Aex terbilang cukup bongsor untuk anak seusianya.
Jam berjalan begitu cepat, pukul lima sore, Arron berteriak karena kandang bab1 terbuka, membuat semua ternak peliharaan mereka menghilang.
“Brengsek!! Bagaimana kerjamu anak bodoh?” Seorang pengurus panti keluar, ia menampar wajah Alex yang berdiri di samping Arron.
Arron mengangguk, memberi tanda bahwa ia berhasil memancing si tua Chin keluar. Zen sekonyong-konyong keluar dari kegelapan. Zen membawa seutas kawat, tanpa ragu Arron langsung mengambil garuk besi yang biasa digunakan untuk menggaruk ladang dan memberikan jerami pada ternak. Garusk itu memang sengaja ia letakkan di sana.
Saat si tua Chin sibuk marah pada Alex, Arron menusuk kakinya dengan garpu. Darah muncrat, rasa sakit tentu saja membuatnya menjerit, namun sebelum suaranya keluar Alex dengan cepat menyumpalkan segenggam penuh makanan bab1 yang padat pada mulutnya. Membuat pria jangkung tua itu tercekat.
“Saatnya, Kak!” teriak Alex.
Zen langsung menggorok leher pria itu dengan kawat besi yang sudah diasahnya dengan tajam, darah muncrat dan membasahi jerami di dalam kandang. Tanpa bisa melawan dan berteriak pria itu tersungkur, ia menggelepar di lantai seperti ikan yang tak mendapatkan air. Setelah beberapa saat tubuhnya melemas, darah membanjiri lantai, pria itu mati.
Ketiganya mulai mengatur napas, masih kurang 4 orang lagi yang mesti mereka bereskan. Perjalanan mereka masih panjang. Rencana pertama mereka berjalan dengan sempurna, kini tinggal menyelundupkan Jimmy dan Kezia keluar terlebih dahulu.
“Arron kau bawa mereka berdua keluar memanjat dinding belakang. Lalu susul kami.”
“Oke, Kak Zen.” Arton mengangguk, mereka berpisah.
“Kau siap untuk rencana berikutnya?” tanya Zen.
“Tentu, Kak.” Alex mengangguk mantap.
__ADS_1
— ZEN —