
...Lambang syukur, kasih, pesona, dan kehormatan...
Gerimis kecil mengiringi perjalanan Isac pagi ini. Roda sepeda yang dikayuhnya terus berputar melintasi jalanan kecil berpaving. Sesekali mencipratkan lumpur akibat genangan air yang beradu dengan kecepatan roda.
Isac terlihat santai, mengayuh sepeda sambil bersiul melewati jembatan kayu dan juga trotoar jalan. Sepeda jengki berwarna biru itu sesekali berdencit saat melewati lubang jalan. Keranjang rotan di bagian depan dan tempat duduk tambahan di bagian belakang ikut bergoncang, menumbulkan suara dencitan pelan.
Isac sampai pada jalan utama desa, terdapat beberapa pertokoan dua lantai berjajar rapi. Dinding toko-toko itu berwarna warni, menjual semua keperluan desa. Mulai dari bahan makanan mentah —hasil kebun dan ternak—, kedai kopi, sampai toko pakaian dan alat tulis. Kehidupan sederhana di desa terlihat mulai menyala, papan-papan tanda buka telah di putar, tanda transaksi sudah bisa dimulai.
Walaupun jalanan sepi karena hujan, namun beberapa orang terlihat mulai berlalu lalang. Mereka membeli bahan makanan ataupun mampir ke kedai-kedai kopi untuk sarapan.
Aroma wangi roti panggang, bubur gandum, dan kopi tercium sepanjang jalan. Hawa dingin dan gerimis kecil membuat perut Isac kembali berbunyi, padahal tadi pagi dia tak melewatkan roti lapis dan segelas susu tawar, menu sarapannya.
Pria tampan itu akhirnya memutuskan untuk berhenti membeli sebuah bagel —yang baru saja keluar dari oven— terlebih dahulu. Isac turun dari sepedanya, setelah melepaskan topinya Isac masuk ke dalam toko roti milik si tua Joel. Ia memesan roti padat mirip donat itu dan juga secangkir kopi hitam.
“Bibi, berikan aku sebuah begel dan secangkir kopi.” Isac tak sabar mencicipi roti. Bau mentega sudah membuat air liurnya menetes —tentu saja ini hanya kiasan.
“Ekstra susu untuk kopinya?” tawar Bibi Joel, tangannya membawa cangkir dari bahan enamel dan teko berisi susu hangat.
“Tidak, aku rasa tanpa susu lebih baik.”
__ADS_1
“Pilihan tepat, Nak. Kopi hitam lebih baik untuk memulai hari.” Paman Joel terkikih dari dalam ruangan, lelaki tua itu sibuk mengolah adonan pastry.
Toko roti milik Paman dan Bibi Joel hanya berjarak beberapa kaving saja dari toko bunga Lily. Hanya pasangan lansia itu yang menghuni tokonya, mereka biasa melayani sendiri pembeli, tanpa pegawai. Orang-orang tua jaman dahulu memang selalu bekerja lebih keras dibanding anak muda jaman sekarang.
Seluruh ruangan bercat warna warni pastel, beberapa furniture meja kurai kayu tertata rapi. Lengkap dengan taplak meja kotak-kotak berwarna pink dan satu pot kecil tanaman hias sebagai pemercantik meja.
Isac memilih duduk di dekat jendela, menikmati sarapan keduanya sambil menatap hujan gerimis. Menenggak perlahan kopi panas dari cangkir enamel berwarna beige, lalu mengigit roti begel. Kombinasi pahit dan manis yang nikmat.
Apa lagi alasan yang harus aku buat untuk menemuinya?lamun Isac, selain mengantarkan bunga pesanan pelanggan, Isac sama sekali tak punya celah atau pun alasan untuk berlama-lama di dekat Lily. Padahal setelah sekian lama gadis itu mulai mau berbicara sedikit padanya.
Isac menatap jendela, anak-anak kecil terlihat bermain riang di bawah guyuran geremis. Hawa dingin tak menyurutkan niat mereka untuk berbasah-basahan. Sesekali mereka meloncat ke dalam kubangan di tengah jalan. Berusaha saling mencipratkan air kotor ke teman-temannya yang lain.
“Bungkuskan aku dua begel lagi, Bi. Rasanya sangat enak, aku ingin membaginya dengan seorang teman.” Isac tersenyum, ia menunjuk roti hangat yang terjajar rapi di balik etalase kaca.
“Mau gula bubuk atau sirup maple?” tanya Bibi Joel, wanita penjual berbagai macam pastry itu sudah memasukan dua roti ke dalam kertas pembungkus.
“A-apa yang disukai oleh Lily?” Isac memberanikan diri bertanya kesukaan Lily dari tetangganya ini. Wajah Isac terlihat merona.
“Lily? Gadis penjual bunga?” Bibi Joel terkesiap. Tak pernah ada pria yang berani mendekati Lily, walaupun cantik, Lily sedikit gila, dan itu membuat banyak pria mengurungkan niat mereka untuk mengenal Lily.
__ADS_1
“Iya.” Angguk Isac.
“Madu, Lily suka madu. Tapi aku tidak punya madu saat ini, Nak.” Senyum Bibi Joel ramah.
“Justru itu lebih bagus. Berikan saja polos tanpa topping, Bi.” Isac merogoh kantong celana, ia mengeluarkan selembar uang. Pecahan terbesar saat ini.
“Apa tak ada uang kecil saja, Nak?” tanya Bibi Joel. Toko roti baru saja buka, Isac adalah pelanggan pertama, tentu saja belum ada uang kecil untuk kembalian.
“Ambil saja kembaliannya, Bi!”
“Tapi ini terlalu banyak!” sergah Bibi Joel. Roti itu hanya seharga seperempat dari nilai uangnya.
“Tak apa, anggap saja tips karena telah berbagi rahasia.” Isac tersenyum, ia meletakkan kantong belanjaannya pada keranjang rotan di depan sepeda. Dengan senyuman hangat pria itu melambai ke Bibi Joel dan mengayuh sepeda.
“Pria yang aneh, tapi dia sangat tampan. Ah, andai saja aku tiga puluh tahun lebih muda.” Bibi Joel terkikih, namun dari belakang tiba-tiba suaminya berdehem keras. Heran dengan tingkah genit istrinya —padahal sudah lanjut usia. Yah, tapi mengaggumi ciptaan Tuhan memang tak perlu memandang usia, bukan?
...— BBL —...
...IG@dee.Meliana...
__ADS_1
...Please like, comment, and vote!...