MUSE S3

MUSE S3
Z 1


__ADS_3

ZEN 01


a Novel by dee.Meliana


Each morning we are born again, what we do today is what matter most — BUDHA.


_________________


ZEN, Selain kebaikan, ajaran Zen mengajarkan kita tentang cinta kasih, kebajikan, kebijaksanaan, keseimbangan dalam hidup, juga berbagai ajaran lain yang bersifat grounding.


•••


China, 1994.


Suara teriakan membahana dari dalam sebuah mansion sederhana yang sedang terbakar. Asap membumbung tinggi, membuat warna hitam mengepul di angkasa, merusak keindahan warna jingga pada senja hari ini.


Senja yang biasanya tampak begitu indah dan romantis berubah menjadi mengerikan dan mencekam. Jerit pilu kesakitan dan juga bau hangus daging manusialah yang merubahnya.

__ADS_1


“EEEAAAKKK!!! To ... loongg ...!” lolongan kesakitan terdengar memekakkan telinga, namun tak bertahan lama karena berangsur-angsur lirih dan menghilang. Ikut hilang ditelan kobaran si jago merah yang mengamuk dengan dahsyat.


Para tetua sampai pemuda kampung memadamkan api, berharap bisa menolong seluruh penghuni mansion yang dikenal mereka sebagai sebuah panti asuhan. Ya, mansion itu adalah Panti Asuhan Cahaya Kasih, tempat anak-anak yatim piatu menghabiskan masa kecil mereka dengan bahagia, juga tempat menanti orang tua baru yang bersedia mengadopsi mereka.


“Kasihan anak-anak!” Seorang wanita mendekap dalam pelukan suaminya, ia merasa iba dan sakit hati karena api tak kunjung padam. Sudah pastilah seluruh penghuni panti yang sebagian besar adalah anak-anak akan mati, hangus terbakar.


“Ini bencana! Tak bisa dihindari, yang penting kita sudah berusaha.” Suaminya berusaha membesarkan hati istrinya.


“Semoga mereka damai di Surga.” Isaknya pelan.


“Hiks, itu pun kalau jasad mereka masih utuh,” lirihnya pilu.


•••


Fajar menyingsing, membelah kegelapan malam dengan seberkas cahaya keemasan. Kumpulan asap yang tadinya membubung pekat kini mulai menghilang. Api telah berhasil di padamkan dini hari tadi. Para warga bergegas mencari keberadaan jasad anak-anak dan juga penjaga panti. Namun lagi-lagi mereka harus kecewa, karena tak ada satu pun jasad yang masih utuh, mereka telah terbakar habis menjadi debu.


Para wanita desa menangis tersedu-sedu, menangisi nasib tragis yang menimpa para bocah malang itu.

__ADS_1


Tanpa mereka tahu, jauh di seberang desa, di mana perkebunan sawit tumbuh subur. Seorang anak berusia hampir 12 tahun memandang kepulan asap dengan mata nanar. Sudah hampir semalaman ia mengamati keadaan, menonton, dan menikmati pemandangan mengenaskan itu dengan kedua matanya yang tajam.


“Kak Zen, kapan kita akan pergi dari sini?” Seorang bocah lainnya menghampiri Zen.


“Ayo kita pergi!” Zen tersenyum, ia mengelus pipi mulus Kelly, bocah wanita dengan perawakan kurus kering, dalam buaiannya ada bayi berusia satu tahun yang tertidur dengan lelap.


“Arron, kemasi barang kita, kita harus meninggalkan desa.” Zen sebagai anak tertua memberikan instruksi pada adik-adiknya.


“Baik, Kak.”


Siapa mereka? Mereka adalah Zen Wu (12 tahun), Arron Wu (10 tahun), Kelly Chang (10 tahun), Alex Shu (7 tahun), Jimmy Chin (5 tahun), dan Kezia Wu (1 tahun). Tentu saja nama mereka bukanlah nama asli karena mereka adalah anak yatim piatu, yang dibuang oleh irang tuanya sejak mereka dilahirkan. Nama keluarga mereka juga diambil sesuai dengan nama kelurga pengurus mereka saat di panti asuhan.


“Membusuklah di neraka!” Zen bergumam geram ke arah puing-puing panti dan bergegas menyusul adik-adiknya yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Zen bersama kelima adiknya menyelusuri jalan setapak pada perkebunan sawit. Dalam hati Zen berharap perbekalan yang dibawanya akan cukup untuk keluar dari hutan ini sampai menemukan tempat untuk berteduh yang baru.


— ZEN —

__ADS_1


__ADS_2