
TWIN’S PET
EP 02. BLACK
____________________
INDONESIA, 2015, 4 tahun yang lalu.
“Liffi, aku akan kuliah di Australia.”
Liffi terpaku mendengar penuturan Gilang, kakak kelas yang baru dipacarinya selama 3 bulan belakangan. Padahal baru saja Liffi merasakan indahnya masa-masa seragam putih abu-abu.
“Berangkat kapan, Kak?” Liffi menyembunyikan kekhawatirannya lewat senyuman manis.
“Akhir minggu ini.” Gilang memeluk Liffi. Liffi merasakan rasa hangat dan getaran ringan menjalar di sekujur tubuhnya.
“Cuma 4 tahun saja, tunggu aku, ya.” Gilang berbisik di telinga Liffi.
Wajah Liffi tersipu malu, rona kemerahan memenuhi garis tulang pipinya. Memancarkan suasana hatinya yang bahagia. Ternyata Gilang tak memutuskannya dan memintanya untuk menunggu.
“Walaupun nggak mahal, tapi biarlah cincin ini menjadi pengingat hubungan kita, Liffi.” Gilang memberikan sebuah cincin perak kepada Liffi, mengenakannya pada jari manis Liffi.
Liffi sangat bahagia. Walaupun harus LDR dengan Gilang Liffi tetap bahagia. Gilang adalah cinta pertama Liffi. Bagi gadis manis yang tumbuh besar di panti asuhan, kedatangan Gilang sebagai kekasihnya membuat hidupnya berwarna. Dia tak lagi harus menghadapi segala sesuatunya seorang diri, ada sosok tangguh yang bisa diajaknya berbagi cerita.
Hanya 4 tahun.
Bukan waktu yang lama.
LDR juga bukan sebuah hubungan yang sulit.
Hanya perlu menunggu.
Pikiran-pikiran itulah yang membuat Liffi bersemangat menjalani hubungannya dengan Gilang.
Gilang terus menghubungi Liffi. Setiap hari, chat, skype, dan telepon. Memang saat itu biaya telepon ke luar negeri sangat mahal karena belum ada teknologi video call seperti saat ini. Karena itu Liffi sangat bahagia saat menerima dan mendengar suara Gilang di telepon.
Namun kebahagiaan Liffi tak berlangsung lama.
Gilang semakin jarang menghubunginya.
Seminggu sekali.
Dua minggu sekali.
Bahkan sampai 1 bulan sekali.
Liffi tak banyak bertanya ...
Bukan karena tidak mau bertanya, tapi Liffi takut kehilangan Gilang. Takut di cap sebagai cewek posesif, pengekang, dan suka menuntut. Liffi percaya cinta Gilang padanya tidak sedangkal itu.
Sampai satu tahun kemudian Gilang benar-benar menghilang. Lost contact, Liffi tak pernah menerima panggilannya, dan tak pernah lagi ada lampu notifikasi yang menyala di foto Gilang pada ponsel pintar Liffi.
Liffi bersedih, namun tetap menepis hal negatif dalam benaknya.
“Bunda.” Sapaan yang digunakan Liffi untuk memanggil kepala panti asuhan.
“Kenapa, Liffi? Masuklah kemari, Nak!” Wanita bersahaja itu menepuk dudukan sofa di sampingnya.
“Kak Liffi dapat beasiswa, Bunda!! Ke Ausi!!” Tiba-tiba Jaya, seorang adik tingkat Liffi sekaligus anak panti ikutan masuk.
Jaya mencium punggung tangan Bunda Asri dan memeluknya.
“Jaya!! Kan Kakak mau ngomong sendiri sama Bunda.”
“Beneran, Liffi?” Wajah Bunda Asri terlihat bersemangat.
“Iya, Bunda. Liffi dapat beasiswa penuh di UOS (Universitas Sydney).” Liffi mengeluarkan selembar pengumuman, di legalisir oleh dinas pendidikan dan UOS Australia.
“Selamat, ya, Sayang. Kau hebat,” pujian Bunda Asri membuat wajah Liffi berubah.
“Tapi siapa yang akan membantu Bunda jagain adik-adik?” Wajah Liffi terlihat lesu, alisnya yang melengking bertaut.
“Gak apa-apa, Nak. Masa depanmu jauh lebih penting. Jaya juga semakin besar, bisa bantuin Bunda. Iya kan, Jaya?”
“Betul, Kak Liffi. Kakakkan pengen jadi seorang arsitek kelas dunia.” Jaya membuka lengannya lebar-lebar, menunjukan betapa besarnya dunia.
“Terima kasih, Bunda.” Liffi memeluk Bunda Asri dengan penuh kasih sayang.
“Sama-sama, Liffi. Persiapkan segala sesuatunya dengan baik. Di sana kamu seorang diri, kau harus bisa bekerja keras Liffi.”
“Iya, Bunda.”
“Jaga kesehatanmu. Sering-sering kirim kabar, ya.” Bunda Asri memeluk Liffi lebih erat, Luffi mengangguk sambil menangis haru.
...— TWIN’S PET —...
AUSTRALIA, 2016.
Liffi mendorong kopernya memasuki sebuah apartemen kecil di pinggir kota Sydney. Letaknya tak jauh dari kampus, Liffi bisa menempuhnya dalam 20 menit berjalan kaki. Liffi memandang apartemen itu, sesekali menelan ludahnya. Baru kali ini dia tinggal sendiri, biasanya dikelilingi oleh adik-adiknya di panti. Ramai dan riuh, belum seminggu dan Liffi sudah merindukannya.
Keheningan menemani Liffi. Hanya bunyi dencitan lantai kayu usang dan pintu tertutup yang menemani hari-harinya mulai saat ini.
Liffi merebahkan diri ke atas ranjang, cukup keras tapi cukup nyaman. Setidaknya dia tak harus membagi ranjang itu dengan adik-adiknya lagi. Liffi memejamkan matanya sejenak, beristirahat setelah perjalanan udara yang cukup menyita waktu dan tenaganya.
— TWIN’S PET —
Sudah satu tahun, libur pergantian tahun ajaran baru telah dimulai. Liffi tidak pulang ke Indonesia, ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu liburannya dengan bekerja.
“So, namamu Liffiana Dewi?” Seorang wanita dengan kaca mata tebal menutup resume yang di sodorkan Liffi.
“Iya.” Liffi mengangguk.
“Kau pelajar asing, sudah 1 tahun bersekolah di Australia?”
__ADS_1
“Benar, Ma’am.” Liffi mengiyakan.
“Kau cukup berprestasi. Kau mau magang karena liburan kuliah? Kau tidak pulang ke negaramu?” wanita itu nampak heran. Pelajar luar negeri selalu menggunakan kesempatan libur panjang untuk kembali ke kampung halamannya. Melepas rindu dengan orang-orang tercinta.
“Saya tidak punya orang tua.” Liffi menunduk malu.
“Ops ... sorry, Dear.”
“It’s okay, Ma’am.” Liffi menolak belas kasihan wanita itu.
“Oke, Dear. Kau bisa magang di tempat ini. Tapi asal kau tahu, mereka tidak akan peduli latar belakangmu. Kau harus bekerja dengan giat,” ucapnya sebelum beranjak dari tempatnya menghentakkan pantat.
“Terima kasih, saya pasti bekerja dengan giat.” Liffi sangat bahagia. Akhirnya dia bisa bekerja di sebuah perusahaan konstruksi dan bangunan seperti impiannya.
“Sama-sama. Kembalilah kemari jam 9 tepat besok untuk mulai bekerja.”
“Siap Ma’am.” Liffi meninggalkan gedung itu dengan riang.
•
•
•
Liffi berangkat ke kantor, hari ini hari pertamanya bekerja. Liffi tampak cantik dengan kemeja putih dan rok span berwarna biru tua. Dia mencangklong sling bag dengan warna hitam yang sedikit sobek, resletingnya pun rusak. Liffi tidak menggantinya, ia harus sangat mengirit biaya hidupnya selama kuliah. Uang beasiswa yang diterimanya hanya cukup untuk membayar uang kuliah dan kos. Uang makan dan biaya hidup ditanggung oleh Liffi sendiri.
“Selamat pagi.” Liffi menyapa para seniornya, pekerja tetap di kantor.
....
Hening, tidak ada jawaban, semua sibuk dengan pekerjaannya. Tidak ada waktu untuk basa-basi, karena memang dikejar deadline untuk presentasi.
“Hei, Anak Magang. Jangan cuma berdiri di sana, kemarilah!” panggil seorang drafter senior.
“Iya, Kak. Ada yang bisa saya bantu?” Liffi mendekat, menaruh tasnya di atas meja.
“Kau bisa gambar, nggak?”
“Bisa, Kak.”
“Pakai drawing aplikasi dan ACad?”
“Bisa, Kak.”
“Oke. Bantu aku, kau salinlah gambar ini!”
“Baik, Kak.”
Liffi melihat coretan sket tangan, gambar tata ruang untuk sebuah gedung mal dan hotel. Milik WIN Enterpraise, Liffi tampak pernah mendengar nama itu di suatu tempat. Liffi mengacuhkan nama itu dan bergegas memulai pekerjaannya. Baru kali ini ada anak magang yang disuruh ambil andil mengerjakan sebuah proyek besar. Kelihatannya mereka benar-benar dikejar oleh waktu.
...— TWIN’S PET —...
“Ah, capek banget.” Liffi mengeluh, ternyata kerja magang di perusahaan lebih melelahkan di bandingkan menjadi pelayan resto fast food ataupun kasir mini market.
Liffi pernah mencoba semua pekerjaan paruh waktu, mulai dari kasir sampai tukang antar makanan. Liffi senang bekerja, dia bisa melupakan rasa rindunya pada keluarganya di panti dan juga rasa penasarannya terhadap Gilang.
“Hei, Anak Magang!”
“Iya l, Kak, ada yang bisa saya bantu?” Liffi bertanya dengan sopan. Hampir semua drafter di perusahaan ini berisi anak-anak muda. Yang paling senior hanya Mr. Ken, tapi beliau selalu meninjau ke lokasi proyek tak pernah berada di kantor.
“Printer A2 nya rusak, bisa kau print file ini di digital printing dekat sini?”
“Bisa, Kak.”
“Ini flash disknya, jangan sampai hilang. Aku belum meng- copy isinya.”
“Baik, Kak.”
“Thanks.”
Liffi berjalan dengan lesu menuju digital printing di persimpangan lampu merah berikutnya. Hanya sekitar dua blok dari kantor Liffi. Panas matahari siang ini membuat Liffi lesu, pasalnya dia sama sekali belum sarapan. Harusnya dia sedang menunggu jam makan siang, tapi senior malah menyuruhnya keluar untuk mengeprint gambar kerja.
“Ini, Nona, sudah semua.”
“Flash disk -nya?”
“Aku masukan di dalam gulungan gambar.”
“Terima kasih banyak.” Liffi tersenyum dan membayar jasa pengeprintnan. 35 dollar untuk 20 gambar kerja. Cukup murah bagi perusahaan tapi mahal bagi Liffi.
Liffi membawa banyak gulungan kertas di tangannya. Dia berjalan dengan hati-hati agar gulungan itu tidak jatuh atau pun kotor. Kalau hal itu terjadi bisa-bisa Liffi kena omelan senior.
Bodoh sekali. Kenapa aku nggak membawa tabung gambar?! Liffi menyalahkan dirinya sendiri dalam hati.
BRUK!!!!
Liffi terpental saat seorang laki-laki tiba-tiba menabraknya. Tenaganya hanya sedikit tapi Liffi seperti habis tertabrak oleh seekor anjing besar.
“Sakit,” rintih Liffi. Kakinya lemas karena kaget.
“Gambarnya??!!” Liffi tepekik, dengan sekuat tenaga ia berusaha bangkit. Gambarnya berhamburan, kotor dan ada bekas kaki di atasnya.
Angin berhembus melewati indra penciumannya. Aroma Vanilla yang manis, dan cedarwood yang maskulin. Liffi menengadah melihat pria itu. Tinggi dan tampan, rambutnya semerah daun maple, dan semakin berwarna merah saat memantulkan sinar matahari.
Pria itu terdiam sebentar, lalu membantu Liffi membereskan gambar-gambar yang berserakan.
Kenapa dia berhenti??
Kenapa dia menghentikan langkahnya hanya untuk seorang wanita yang bahkan tak dikenalnya??
“BLACK!! Itu dia!! BLACK DI SANA!!” teriak segerombolan orang.
“Sialan!!” Pria itu bangkit berdiri, tanpa bertanya dia menggandeng tangan Liffi dan mengajaknya pergi. Menjauh dari kejaran para manusia-manusia itu.
__ADS_1
Kalau saja dia bisa menggunakan kekuatannya sedikit. Kalau saja wanita ini tidak ada di persimpangan jalan. Kalau saja wanita ini tak menghentikan langkahnya. Sudah pasti dia sudah bisa menghindari kejaran para wartawan itu.
Black berbelok di ujung gang, bersembunyi. Nafasnya menderu tak teratur, naik turun dengan cepat. Beberapa detik kemudian dia bisa mengotrolnya kembali.
“Siapa kamu?” Liffi terlihat ketakutan.
Liffi heran dan takut, kenapa pria ini tiba-tiba menggandengnya? Kenapa mengajaknya pergi tanpa bertanya? Siapa orang-orang yang mengejarnya tadi? Liffi terlihat penasaran.
Black membantu Liffi bangkit, menyerahkan semua gambar kerjanya. Gambar itu rusak dan lusut. Liffi terbelalak, uang 35 dollar bukan uang yang sedikit baginya.
“Siapa namamu? Dari pack mana?” tanya Black.
“Pack??” Liffi bingung, apa itu pack? Dia bukanlah binatang, dia manusia. Kumpulannya bernama grup atau club bukan pack. Pack untuk sekelompok hewan.
“Kau manusia?” Black terperanjat kaget.
“Emangnya kau bukan?” Liffi mendengus kesal, pria di depannya ini bahkan tak meminta maaf.
“Sudah, ya, aku harus kembali ke kantor.” Liffi tak menggubris lelaki itu. Wajahnya kusut karena kecapekan dan bingung bagaimana harus menjelaskan gambar yang rusak pada seniornya.
“Tunggu!” Black menahan tangan Liffi, tenaganya sangat kuat.
“Auch!! Sakit ... lepasin!” Liffi meringis.
Black mencium leher Liffi, merasakan aroma yang keluar dari tengkuknya. Aroma yang manis dan memabukkan. Black sangat menyukainya, aroma yang seharusnya hanya bisa di keluarkan oleh mate-nya.
Tapi Liffi manusia, dia bukan werewolf seperti dirinya.
Bagaiamana bisa?
Seorang manusia memiliki aroma tubuh mate, mate-nya?
“KYAAA!!” Liffi kaget dengan perilaku Black.
“Jangan mendekat, dasar cowok mesum!!” Liffi memukul pundak Black sekuat tenaga. Tapi hanya seperti sebuah belaian bagi Black.
“Hei ... hei ... easy, Girl!! Aku nggak bermaksud mengagetkanmu.” Black mencoba membuat gadis itu tenang.
“Aku minta maaf sudah menabrakmu. Sepertinya semua gambarmu rusak, aku akan bertanggung jawab.” Black tersenyum.
Liffi masih menatap Black dengan pandangan setengah tak percaya. Tapi bagaimana pun Liffi tidak punya alasan untuk menolak tawaran Black. Liffi takut akan dipecat.
“Kau akan menukarnya?” Liffi terbata.
“Iya. Ayo kita print lagi gambarnya.”
“Benarkan? Kau tidak akan membohongiku?” tanya Liffi.
“Tentu saja. Siapa namamu?” Black mengangkat tangannya, hendak mengajak Liffi bersalaman.
“Liffi.” Liffi membalas salaman Black.
“Namaku Black. Bukan nama asli, orang-orang memanggilku Black.”
“Black??? OMG!! Kamu Black? Black gitaris dari Grup band BLINK?” Liffi mendelik tak percaya.
“Mantan anggota, band -nya sudah bubar.” Black tersenyum.
Liffi mengamatai wajah Black sesaat. Pantas saja dia seperti pernah melihat pria ini di suatu tempat. Ternyata di televisi. Bodohnya Liffi yang tak mengenali ada artis papan atas di sampingnya.
“Ayo ikut aku, Liffi. Aku akan mengganti gambarnya.”
“Terima kasih, Black,” ucap Liffi.
Liffi mengekor di belakang Black. Black menaikan lagi tudung jaket hoodienya dan mengenakan masker. Liffi melihat punggung Black yang lebar, tangannya sedikit gemetar karena tak percaya. Masih tak percaya bisa berjalan dengan seorang artis besar.
“Flash disk ku?” Liffi meraba-raba seluruh tubuhnya mencari benda mungil itu.
Senior bisa membunuhnya kalau benda itu hilang. Padahal sudah hampir terlepas dari masalah gambar yang rusak, sekarang malah flash disk nya menghilang. Wajah Liffi pucat dan kakinya lemas, Black tersenyum ringan.
“Inikah yang kau cari?” Black mengeluarkan sebuah flash disk hitam dari saku jaketnya.
“Benar, terima kasih.” Liffi kembali bersemangat, tangannya hendak meraih flash disk dari tangan Black. Tapi Black mengangkat tangannya ke atas.
“Eits, jangan buru-buru. Isi dulu nomor ponselmu, baru aku berikan flashnya.” Black menyerahkan ponselnya pada Liffi.
“Hah?? Untuk apa?” Liffi bingung. Seorang artis besar menanyakan nomor ponsel Liffi? Seorang gadis yatim piatu, yang bahkan tak bisa menukar uang 35 dollar milik perusahaan.
“Untuk menghubungimu. Cepat!! Waktuku tidak banyak.” Black mendesak Liffi.
Liffi menyahut ponsel Black dan memasukan nomornya. Black memberikan Panggilan, sekejap kemudian ponsel Liffi berbunyi.
“Kau pikir aku berbohong?”
“Siapa tahu?!” Black tersenyum, wajahnya sangat tampan.
Sadar Liffi. Jangan terbius dengan wajahnya. Dia BLACK ... artis penuh sensasi dan scandal dengan banyak wanita, pikir Liffi.
“Ini flash nya, dan ini 100 dolar. Pakailah untuk menukar gambarnya.” Black menyerahkan uang pada Liffi.
“Ini terlalu banyak, hanya 35 dollar.”
“Pakai sisanya untuk makan. Dari tadi perutmu keroncongan. Lagi pula aku sudah menabrakmu, anggaplah sebagai permintaan maaf.” Black memakai kembali maskernya.
“Aku tidak perlu. Sungguh.”
“Jangan keras kepala, Liffi, dan terima saja.” Black berlalu meninggalkan Liffi sebelum Liffi sempat berterima kasih.
Black mengamati Liffi dari kejauhan. Baru kali ini hatinya berdesir pada seorang manusia. Biasanya manusia-manusia itu tak lebih dari serangga yang memuaskan nafsunya saja. Werewolf hanya menikah dan setia pada seorang mate sepanjang hidupnya. Memang sebelum bertemu dengan mate-nya mereka bebas bersenang-senang dengan wanita mana pun.
“Aroma tubuhnya terlalu kuat. Aku sampai tak bisa menyembunyikan hasratku.” Black melihat kuku cakarnya yang keluar.
Apa mungkin dia bukan mateku? Dia manusia, Black berpaling dan bergegas meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Liffi tersenyum dan kembali ke kantornya. Terus menari di benaknya pertemuan pertama dengan Black. Harusnya Liffi meminta tanda tangan Black.
...— TWIN’S PET —...