MUSE S3

MUSE S3
TMDM 3


__ADS_3

Leonardo, singa merupakan simbol kekuasaan, kekuatan, dan keberanian. Raja yang merajai hutan rimba dengan gagah dan juga kejam. Kau bisa berteman dan menjadi bawahannya atau mati mengenaskan dan menjadi mangsanya.


Leonardo Eldebra, Leon berarti singa, dan Elde berarti tertua. Leonardo adalah anak sulung dari garis keturunan Eldebra, klan keluarga tertua dan terkaya di kota itu juga salah satu yang terkaya di negaranya. Silsilah panjang mereka telah menjadi panutan bagi klan keluarga-keluarga kaya lainnya.


Elde Grup, sebuah grup besar yang memiliki beberapa rumah sakit, tambang batu bara, pabrik-pabrik besar, properti dan perusahaan trading. Belum terhitung jumlah anak perusahaan kecil yang diakusisi olehnya.


“Kita mau ke mana?” tanya bocah tampan berusia 8 tahun itu ingin tahu. Pasalnya ini bukanlah jalan menuju ke tempat kursus pianonya.


“Maafkan saya, Tuan Muda. Saya harus kembali ke rumah saya sebentar untuk mengambil berkas.” Seorang pria paruh baya terlihat begitu gugup, dia adalah Michael Aston, asisten pribadi yang baru saja ditunjuk oleh Mr. Louise Eldebra untuk mengurus keperluan anaknya selama asisten pribadi lama Leonardo cuti.


“Paman Mike. Aku tak suka terlambat kau tahu!” Si kecil Leonardo menatap tajam pada Michael, membuat keringat dingin semakin mengalir deras.


“Maaf, maafkan saya, Tuan Muda, hal ini tak akan terulang lagi.” Michael menundukkan kepalanya, ia terus memutar tubuhnya menghadap ke belakang untuk berbicara pada majikannya. Sopir pribadi Leonardo sampai ikut gugup karena tertular atmosfir dingin dari tatapan Leonardo.


“Huft ... baiklah, lagi pula aku sedang tidak mood untuk bermain piano saat ini.” Leonardo menghela napas, ia menatap ke luar jendela mobilnya.


“Terima kasih, Tuan Muda.”


Tak butuh waktu lama, mobil berbelok menuju ke sebuah perumahan mewah. Michael adalah direktur sebuah perusahaan yang bernaung dalam nama Elde Grup. Ia terlalu bahagia saat ditugaskan menjadi asisten pribadi Leonardo selama beberapa minggu. Sangking terlalu bersemangatnya, berkas serah terima jabatan untuk bawahan yang akan menggantikannya tertinggal di atas meja. Terpaksa Michael harus pulang dan mengambilnya.


“Silahkan masuk, Tuan Muda. Maaf rumah saya kecil.”


“Cepat pergilah!” Usir Leonardo, ia malas berbasa-basi.


Leonardo duduk pada ruang tamu Michael, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mengamati berita-berita apa yang terjadi belakangan ini. Berbeda dengan anak seusianya yang lebih memilih untuk bermain atau usil, Leonardo cenderung memperkaya pikirannya dengan berita dan juga mempertajam pengetahuan umumnya. Tuntutannya sebagai seorang Tuan Muda dari sebuah grup besar sudah ditekankan sejak dia masih amat sangat kecil. Tak heran Leonardo pun tumbuh menjadi anak yang dingin dan pendiam.


— TMDM —


Beberapa saat yang lalu ...


Rosie sudah dua tahun lepas dari belenggu masa lalunya dan membesarkan Jasmine seorang diri. Kini mereka hidup bahagia dengan kondisi yang sangat pas-pasan. Rosie bekerja sebagai seorang buruh cuci pakaian pada kediaman Aston. Ia berangkat pagi dan pulang jam dua belas siang, lalu Rosie akan bekerja di rumah makan khas asia sampai sore. Rosie selalu menitipkan Jasmine pada daycare* yang menjadi satu dengan sekolahan. Pulang kerja Rosie akan menjemput Jasmine.


|* penitipan anak.


“Kenapa kau bawa anak?!” Sandra mengomel saat tahu Rosie datang ke rumahnya dengan membawa Jasmine. Gadis kecil itu ketakutan dan bersembunyi di balik rok ibunya.


“Maafkan saya, Nyonya. Saya terpaksa membawa Jasmine karena sekolahnya libur hari ini. Tak ada yang menjaganya.” Tunduk Rosie.

__ADS_1


“Huh ... ck, baiklah! Suru dia di luar!! Jangan boleh masuk ke dalam rumah dan mengotori rumah! Aku tak ingin tangannya menyentuh semua prabotan mahal milikku.” Decak Sandra sebal, ia lantas berlalu meninggalkan sepasang anak dan ibu itu.


“Kok, majikan Mama galak sekali??” tanya Jasmine polos.


“Yah, begitulah orang kaya. Ya, sudah, Jasmine main di taman, ya. Mama selesaiin kerjaan Mama. Nanti setelah selesai kita pulang dan makan es krim.” Rosie tersenyum kepada anak gadisnya.


“Benarkah? Baiklah Jasmin akan jadi anak baik dan menunggu Mama dengan sabar di taman.” Jasmine berhigh five dengan Rosie. Ia lantas menurut dan pergi ke luar.


Hari ini Jasmine berulang tahun, genap 6 tahun usianya. Jasmine juga baru saja masuk ke sekolah dasar. Jasmine memang tidak pandai namun ia sangat rajin seperti Rosie, jadi dengan kerja kerasnya Jasmine sudah bisa membaca sebelum masuk ke sekolah dasar.


Jasmine menengadah ke atas, ia menyipitkan matanya agar tidak terlalu silau saat terkena sinar matahari. melihat ke sekeliling rumah keluarga Aston yang sangat mewah. Dalam hati Jasmine berdecak kagum, rumah itu sangat besar dan mewah, berbeda dengan rumahnya yang berada di perkampungan kumuh dengan luasan 12 meter persegi saja.


“Wah, apa aku bisa sekaya ini besok?!” Jasmin bergumam, ia sedang berandai-andai untuk memiliki rumah besar dan mengajak Mamanya tinggal di sana.


Bolehkan seorang anak berkhayal begitu tinggi? Walaupun mungkin itu merupakan hal yang mustahil? Tentu saja boleh, tanpa impian dan khayalan, kita tak akan tahu target dan tujuan hidup kita.


Leonardo mengamati tiap inci ruang tamu milik keluarga Aston. Tidak ada yang istimewa, rumahnya jauh lebih besar dan megah dari rumah Michael. Namun tiba-tiba sudut matanya menangkap bayangan seorang gadis kecil dengan mata emerldnya. Sedang berlari riang mengejar kupu-kupu di taman. Insting Leonado sebagai seorang anak kecil tertarik, ia keluar dan menghampiri gadis itu. Tertarik dengan bibir mungilnya yang tebal dan matanya yang cemerlang.


“Hai!” Leonardo menyapa Jasmine.


“Hai!” sapa Jasmine malu-malu. Walaupun masih kecil, tapi Jasmine tahu kalau Leonardo adalah anak yang tampan.


“Mengejar kupu-kupu.”


“Hahaha ... mana bisa? Kau harus menangkapnya dengan jaring.” Leonardo tertawa melihat kepolosan Jasmine.


“Ah, benarkah? Padahal aku ingin satu, sayap mereka sangat cantik.” Jasmine mencibirkan bibirnya, kecewa.


“Aku akan menangkap satu untukmu.” Leonardo menghentikan langkah Jasmin, ia mengendap-endap, menunggu kupu-kupu itu hinggap diam di atas kelopak bunga.


TAP!! Leonardo berhasil menangkapnya. Membuat Jasmine meloncat kegirangan. Ia tak henti-hentinya memuji Leonardo. Membuat semburat kemerahan menghiasi pipinya.


“Siapa namamu?” tanya Leonardo ingin tahu.


“Jasmine. Kalau kau?”


“Leonardo. Leonardo Eldebra.”

__ADS_1


“Wah, namamu seperti nama singa.” Kikih Jasmine.


“Benar, kau bisa memanggilku Leon,” ucap Leon sambil tersenyum.


“Senang berkenalan denganmu, Leon. Apa kau anak dari Tuan Aston.”


“Bukan, aku bukan anaknya. Aku kira malah kau yang adalah anaknya.”


“Bukan, aku anak Mama Rosie, ART yang bekerja di rumah ini.” Jasmine menunjuk ke arah ibunya yang sedang menjemur pakaian.


Sadar bahwa Jasmine bukanlah anak yang setara dengannya membuat sudut bibir Leon turun. Tak ada lagi senyuman, hanya kekecewaan. Ia padahal begitu menyukai bibir mungil Jasmin dan juga warna matanya yang cerah.


“Hei!! Apa yang kau lakukan pada Tuan Muda?!” Tiba-tiba Michael datang dan lamgsung mendorong Jasmine sampai gadis mungil itu terjatuh ke belakang.


“Huwa ... hiks ... hiks ...!” Jasmine langsung menangis karena ketakutan.


“Jasmine, Jasmine, Ya, Tuhan ada apa?” Rosie tergopoh-gopoh datang dan membantu Jasmine berdiri. Menenangkan anak itu.


“Anakmu mengganggu Tuan Muda Leonardo! Apa kau tahu siapa beliau?! Lancang sekali!! Anak kumal sepertimu menatap wajahnya saja tidak layak!” bentak Michael.


Leonardo memandang wajah Michael dengan sebal. Ia tak banyak berbicara dan langsung pergi meninggalkan keributan itu begitu saja.


“Tuan Muda, anda mau kemana?” tanya Michael gelagapan, ia langsung menyusul Leon, meninggalkan Rosie dan Jasmine.


SET!


Leonardo menghentikan langkah kakinya. Ia memetik sekuntum bunga melati dari taman itu. Leonardo memutar tubuhnya, melirik ke arah Jasmin dan tersenyum.


Tunggu aku dewasa Jasmine, aku pasti akan memilikimu. Leonardo menyimpan kuncup bunga melati itu pada saku celananya.


— TMDM —


Votee


Likee


Comment

__ADS_1


Lovee


__ADS_2