MUSE S3

MUSE S3
LAC 4


__ADS_3

LOVE AND CROWN


READY?


Kediaman Agazine.


Pagi hari yang cerah menyambut Renny. Renny menguap beberapa kali sebelum beranjak dari ranjang empuknya. Ia menoleh pada lemari pakaian, berkaca di sana.


"Hei, mimpiku sangat aneh semalam. Mereka bilang aku terpilih sebagai Putri Mahkota. Funny yes?" Renny tersenyum, berbicara manja pada bayangan dirinya yang terpantul di kaca.


Renny membuka isi lemarinya dan mengambil baju seragam. Lalu ia bergegas keluar dari kamar untuk mandi.


"Selamat pagi, Tuan Putri..!" ucapan serempak berasal dari 10 orang dayang yang berjajar rapi di depan kamar Renny.


BLAM!!


Renny membanting pintu kamarnya.


Kriiieettt..


Renny membuka pintunya perlahan, mengintip ke luar.


"Kami akan membantu anda bersiap, Tuan Putri." ucap mereka lagi.


BLAM!!


Renny kembali menutup pintu kamarnya, terduduk syok di atas kasur.


"Jadi semalam bukan mimpi?" Renny menjambak rambutnya pelan.


Tok.. Tok..


Pintu kamar Renny di ketuk perlahan. Renny bergeleng, tak mau menjawabnya ataupun membukakan pintu untuknya.


"Tuan Putri, maafkan kelancangan saya, saya akan masuk."


Kriiet..


Pintu terbuka.


Renny terkesima memandang wanita cantik di depannya. Posturnya lebih tegap dari seorang model internasional sekalipun, wajahnya sangat cantik, rambutnya hitam, lurus, bergaya bob sepanjang tepat di bawah daun telinga.


"Nama saya Natasha Romanov, ajudan pribadi Yang Mulia Putri Mahkota. Saya dipilih langsung oleh Yang Mulia Putra Mahkota untuk melayani anda." Natasha menaruh telapak tangannya pada dada kiri, menaruh hormat pada atasannya.


"Errr...sa...saya Renny.." Renny menggaruk-garuk rambutnya padahal tidak gatal.


"Panggil saya, Sasha."


"Erm.. Apa yang harus saya lakukan, Sasha?" Renny bangkit dengan malas, ia menengok ke arah para dayang yang masih berjajar rapi di depan kamarnya.


"Anda hanya harus mempersiapkan tubuh anda, Yang Mulia, menunggu malam pernikahan dengan tenang dan se-nyaman mungkin." Natasha mengambil seragam dari tangan Renny dan memberikannya pada seorang dayang.


"Apa aku tidak bisa pergi ke sekolah lagi?" Renny mengerutkan dahinya, sungguh semua hal baru ini membuatnya sangat bingung dan kikuk.


"Anda akan bersekolah di bawah bimbingan Putra Mahkota dan guru kerajaan langsung." jawab Natasha.


"Setelah anda masuk ke dalam istana, anda akan memperoleh sekretaris yang akan mengatur semua jadwal harian anda." lanjut Natasha, lalu mengambil nampan dari seorang dayang.


"Aku tidak lapar." tolak Renny lemas.


"Sesuai protokol, anda tetap harus makan. Kelak tubuh anda harus mengandung benih calon Kaisar di masa depan."


"Mengandung? Aku bahkan belum genap 17 tahun." mata Renny terkerjab sangking kagetnya.


"Cain, bantu Yang Mulia makan dan bersiap." Nathasa membungkukkan badannya sebelum meninggalkan kamar Renny.


"Mari, Yang Mulia." Cain mempersilahkan Renny duduk kembali.


"Nama saya Cain Alona, anak dari Viscount Alona. Saya adalah kepala dayang yang akan melayani anda, Yang Mulia."


Renny memandang Cain, wajahnya sangat bersahaja. Rambut pirangnya dicepol naik ke atas dan tetutup dengan furing hitam. Diusianya yang menginjak kepala 3, dia terlihat sangat muda dan terrawat. Bahkan gaya berjalannyapun lebih anggun di bandingkan dengan Renny.


"Seperti dongeng, aku berubah menjadi seorang Putri Mahkota hanya dalam satu malam. Kenapa Putra Mahkota memilihku?" Renny masih tak percaya, ia bertanya dengan lantang pada Cain.

__ADS_1


"Pilihan Yang Mulia Putra Mahkota tak pernah salah, Putri." jawab Cain.


"Itu bukan jawaban, uummm...."


"Cain.. panggil saya Cain, Putri."


"Itu bukan jawaban, Cain." Renny mengdengus sebal, lalu menyuapkan sesendok bubur pada mulut mungilnya.


>>> LOVE AND CROWN <<<


Kediaman Perdana Mentri, Duke Fanno.


"Mau ke mana, Lex?"


"Menemui Renny, Dad."


"Kau tahu dia adalah calon Putri Mahkota?" Ucapan Duke Fanno menghentikan langkah Alex saat menuruni tangga.


"Tahu." Alex menatap nanar jauh ke atas langit-langit rumahnya.


"Dan kau masih tetap ingin menemuinya?" Nada suara Duke Fanno mulai meninggi.


"Dia temanku, aku hanya menemuinya sebagai seorang teman."


"Tidak bisa!"


"Aku mohon, Dad. Kau tahu bagaiamana perasaan-ku padanya." Alex menuruni lagi anak tangga yang tersisa.


"Tetap saja Alex. Kau bisa dihukum karena menemui calon istri Pangeran."


"Aku akan berusaha tak terlihat, Dad." Alex bersih keras ingin menemui Renny, bahkan tanpa menggubris larangan Ayahnya.


"Tanggung sendiri akibatnya, kau adalah laki-laki, jangan bawa nama keluargamu saat ketahuan terlibat sesuatu hal yang memalukan." urat leher Duke Fanno menegang.


"Iya."


.


.


.


Pluk..


Sebuah krikil kecil mengenai kaca jendela di kamar Renny.


Renny celingukan ingin mengetahui siapa yang melemparkan krikil, dari bawah tampak Alex yang mengangkat tangannya tinggi.


"Alex?!" seru Renny senang.


"Sttt.." Alex menaruh ujung jari telunjuk-nya di depan mulut. lalu melambaikan tangannya sebagai isyarat agar Renny turun menemui-nya diam-diam.


"OK." Renny membentuk tanda OK dengan jarinya.


Renny turun dan bergegas menemui Alex yang sudah menunggunya di halaman belakang. Mereka terhalang oleh pagar, namun masih bisa saling bertatap muka. Renny tersenyum membalas senyuman Alex.


"Alex, kenapa kau tak masuk dari pintu depan?" tanya Renny heran.


"Nggak, akan jadi masalah kalau seorang laki-laki datang menemui calon istri Pangeran. Paparazi juga pasti berkumpul di depan menantikan berita paling fenomenal saat ini." kikih Alex.


"Aku beritanya?" Renny menghela nafas.


"Kau bilang tak mendaftarkan diri?" tanya Alex.


"Iya, sungguh aku tak mendaftarkan diriku. Aku sendiri juga heran kenapa aku bisa terpilih." Renny melemaskan bahunya, sebal dengan situasinya.


"Aku akan mencari tahu, siapa tahu hal ini bisa dibatalkan." Alex memasukkan tangannya melalui cela-celah pagar, menyentuh wajah Renny.


"Kau tahu Renny, aku sangat menyukaimu. Bukan hanya sebagai teman masa kecil, tapi sebagai seorang pria."


"Alex..." mata Renny berkaca-kaca.


"Dan aku sangat menyesal tak bisa mengungkapkan perasaan ku dari dulu." Alex menghapus butiran air mata yang turun dari wajah cantik Renny.

__ADS_1


"Aku juga Alex. sepertinya aku juga menyukaimu." Renny menggenggam tangan Alex, merasakan lebih dalam lagi kehangatan yang menyentuh wajahnya.


"Yang Mulia? Tuan Putri.. di mana anda?" teriakan Natasha membuat Renny berjengit kaget.


"Pergilah Alex!" Renny menahan air matanya.


"Aku pasti kembali, Renny, bisakah kau menungguku?" ucap Alex.


"Sure." Renny tersenyum.


Dengan berat Renny berlari kembali ke dalam rumah utama. Sesekali ia melirik ke belakang, melihat sosok Alex yang juga menghilang masuk ke dalam kegelapan.


>>> LOVE AND CROWN <<<


Renny menjalani kehidupannya sehari-hari dengan lebih banyak bersantai. Semua dayang sibuk memberikan perawatan kecantikan untuknya. Mulai dari mandi susu setiap hari, pijatan, waxing, sampai manicure dan pedicure. Semula Renny sangat kikuk, namun lama-lama ia sudah terbiasa membiarkan para dayang melihat dan menyentuh tubuhnya. Tanpa lusut se-incipun mereka memoles tubuh dan wajah Renny dengan perawatan terbaik.


Perubahan juga terlihat pada rumah Renny, semua barang lama telah berganti dengan barang-barang mewah pemberian dari rumah tangga istana. Tidak hanya itu saja, bahkan setiap hari pakaian baru, sepatu, perhiasan dan juga mobil mewah terus berdatangan.


"Apakah ini dibeli dengan uang rakyat?" tanya Renny pada Cain, kepala dayang yang selalu menemaninya.


"Tidak, Tuan Putri, murni dari uang rumah tangga istana Putra Mahkota. Dari profit usaha Putra Mahkota sendiri."


"Apakah Putra Mahkota bekerja?" tanya Renny heran, dia kira anggota istana hanya duduk diam dan menikmati kekayaan dari pajak negara.


"Tentu saja, Tuan Putri, Pangeran adalah pembisnis yang luar biasa. Hampir seluruh saham perusahaan negara ada di tangannya." Cain tersenyum saat memuji Pangerannya.


"OH.. ternyata dia sangat hebat." Renny memuji dalam hatinya.


"Mari, Putri, Sudah waktunya." Cain menggandeng Renny kembali masuk ke dalam kamar.


Renny menelan ludahnya beberapa kali. Setelah menarik napas panjang dan memejamkan matanya Renny merasa lebih siap.


"Ready Princess?" tanya Cain, ia membuka jubah mandi dari satin halus yang dipakai Renny.


"..." Renny tak menjawab, memilih diam.


"Hari ini adalah hari besar anda, Raja dan Ratu akan melamar anda Putri. Bukankah hal ini sangat luar biasa?" Cain dan para dayang lainnya berseri-seri bahagia. Tangan mereka masih sibuk mempersiapkan riasan untuk Tuan Putrinya.


"Aku..aku.." Renny gagap, tak mampu menjawabnya. Selama ini dia tak pernah mengajukan dirinya, bahkan merasa sangat tidak layak untuk menerima gelar Putri Mahkota menilik status dan prestasinya selama ini.


Renny menatap gaun indah di depannya. Gaun itu terlihat sangat mewah, berwarna putih dengan selempang berwarna merah maroon. Warna maroon memang mendominasi lambang kerajaan Wei. Di dada gaun terdapat bordiran dari benang emas lambang kerajaan mereka. Renny akan menggunakannya sebagai gaun resmi pertamanya sebagai calon Putri Mahkota.


"Wah cantik sekali!! Anda sangat luar biasa, Yang Mulia." Cain tampak tak percaya melihat perubahan diri Renny setelah berdandan cukup lama.


"Ini aku?" Renny menatap pantulan dirinya pada cermin.


"Iya."


"Ayo, Tuan Putri anda sudah harus turun. Rombongan Yang Mulia sudah hadir di ruang keluarga." Natasha menawarkan tangannya sebagai pegangan Renny.


"Hati-hati saat melangkah." Natasha membantu Renny melangkah maju dengan menahan pintu kamarnya.


"Aku sangat gugup." ucap Renny, bahunya bergerak naik turun.


"Tarik napas dalam-dalam, Putri." bisik Cain dari belakang. Semua dayang berjajar di belakang Renny.


"Ready?" tanya Natasha.


"Iya." jawab Renny.


>>> LOVE AND CROWN <<<


___________IG. @dee.Meliana__________


Wow Renny akan bertemu dengan Pangeran Jayden.


Tunggu pertemuan mereka yang mendebarkan..


dan


Bagaimana dengan Alex?


Next episode ya readers ^^

__ADS_1


__ADS_2