
ZEN 03
a Novel by dee.Meliana
_________________________
(Ada adegan kekerasan yang tidak kuat jangan membacanya, harap bijak dalam menyikapi.)
Detak jantung Zen dan Alex berdegup dengan kencang. Seirama dengan napas mereka yang tersengat karena tekanan rasa takut dan juga ketegangan. Tubuh mungil mereka memacukan adrenalin yang membuat nyali mereka membesar. Harapan akan matahari pagi yang bersinar hangat membuat keduanya semakin memantapkan diri.
“Si B4bi itu datang!” lirih Zen, ia memberi kode pada Alex untuk masuk dan mengecoh pria paruh baya tambun yang sering memukul mereka ini.
Alex mengangguk, ia masuk ke dalam mension seakan-akan tak pernah terjadi apapun juga.
“Hei, kau!”
“Ya, Ayah?”
“Jangan panggil aku ayah, aku bukan ayahmu! Cepat ambilkan aku arak dan juga daging pada lemari pendingin.” Perintahnya, Alex mengangguk.
“Baik, Tuan!”
Alex dengan langkah kecilnya menyelusuri ruang makan dan menuangkan racun tikus pada minuman milik Si Tambun. Sangat mudah menemukan racun tikus di tempat ini, kondisi panti yang mengenaskan dan juga kotor membuat tikus-tikus betah beranak pinak. Hanya memberi mereka racun yang bisa menghentikan laju cepat perkembang biakan hama pengerat ini.
“Ini, Tuan.” Alex kembali, ia meletakkan dengan hati-hati sebotol arak dan kudapan dari olahan daging bab1 ke atas meja.
Si Tambun Shu duduk di mejanya, tubuh besarnya membuat kursi berderit. Usuk kayu mulai tak tahan lagi menahan beban tubuhnya yang semakin tambun. Shu melirik ke arah Alex, dia merasa heran karena anak kecil itu berkeringat dengan begitu banyak, kaos lusuh yang dipakainya sampai basah. Si Tambun menggaruk pantatnya, celana kain yang dipakainya mulai kekecilan, membuat belahan pantatnya sedikit terlihat.
“Kenapa kau berkeringat?” tanyanya sembari mencomot selonjor daging, memasukkannya ke dalam mulut. Bunyi kecapan terdengar, membuat air lius Alex ikut menetes.
“Hei! Aku bertanya kenapa berkeringat?” sergah Si Gendut Shu, ludahnya sampai menyiprat, Alex yang sembari tadi melihat ke arah daging langsung terperanjat kaget.
“A ... aku habis membersihkan kandang bab1,” jawab Alex.
“Bukankah sudah hampir petang?!” Liriknya ke luar jendela.
__ADS_1
“Pak Chin yang menyuruhku.”
“Ow, begitu.”
Alex kembali terdiam, ia menunggu dengan gerogi pria gendut di depannya meminum arak berisi racun. Matanya terus tertujuh pada daging dan juga arak. Pria gendut itu mulai menuangkan arak ke dalam gelasnya. Ia mencium aroma alkohol pahit manis itu beberapa kali, Alex menelan ludahnya dengan berat.
“Kenapa? Kau mau? Cobalah!”
“Ya??” Alex kembali terperanjat, mana mungkin dia mau meminum racun yang disiapkannya sendiri.
“Ini cobalah arak! Rasanya sungguh nikmat!” Kikih pria tua tambun itu, ia melihat ekspresi ketakutan di wajah Alex sedikit geli namun juga menaruh curiga.
“Kau tak menaruh apapun ke dalamnyakan?! Kau tak meludahinyakan?”
“Ti—tidak, mana mungkin aku melakukannya!” Alex menggoyangkan telapak tangannya di depan dada. Menolak untuk mengakui tuduhan pria itu.
“Maka cobalah!! Minumlah sedikit!” Shu menyodorkan segelas kecil arak pada Alex, Alex menatap dengan ragu sloki kecil itu.
“Minum!” Perintahnya.
Alex mengangguk, dengan perlahan ia mendekati meja, mengambil gelas mungil itu dengan tangannya yang masih kecil. Tubuh bagian bawah Alex menegang, bergetar hebat, namun Alex harus bertahan, ia harus kuat agar rencananya berhasil. Setidaknya keluarganya bisa keluar dari tempat ini dengan selamat walaupun dirinya tidak.
“Kemarikan! Arak ini mahal, sayang kalau untukmu!” Kekehnya keras, hati Alex langsung plong, merasa lega dengan pikiran Si Gendut yang plin plan.
Satu persatu sloki masuk ke dalam tubuhnya yang besar, gumpalan lemak itu bertahan cukup lama, mungkin perlu dosis racun yang lebih besar untuk melumpuhkan pria sebesar dirinya. Alex mulai khawatir, bagaimana kalau rencana mereka gagal? Pria ini tak kunjung pingsan ataupun berreaksi terhadap racunnya.
Dari balik dinding, Zen mengintip keduanya, sudah tugasnya menjadi algojo, dengan hanya bersenjatakan kawat di tangannya Zen terus mengamati lawan, menunggu saat yang tepat untuk menghabisinya. Namun, bukannya kesempatan itu segera datang, Alex malah memberinya kode kalau raksasa di hadapannya ini tak juga ambruk.
Sialan, sepertinya racunnya kurang kuat, pikir Zen kalud, hanya itu racun yang mereka punya, selain ... ah, masih ada peptisida!
Dengan segera Zen berlari, mencari botolan kecil obat anti serangga yang biasanya diencerkan dengan air untuk menyemprot sayuran. Membuat serangga dan ulat tak bisa memakan dedaunannya.
Setelah mendapatkan obat itu, Zen mengendap-endap, ia memanfaatkan pengelihatan si gendut yang mulai tidak fokus karena pengaruh alkohol. Zen menggelindingkan botol itu ke arah Alex, Alex menerimanya dengan kaki. Dengan perlahan Alex menunduk, mencoba meraih botol berbahaya itu dengan tangannya.
Secepat kilat Alex menyahutnya, menyembunyikannya ke belakang pinggang. Tangannya yang mungil melepaskan tutup botolnya sebelum berteriak pada Si Gendut.
__ADS_1
“Lihat! Ada bintang jatuh!” Alex mencari cara apapun agar Shu menoleh.
“Hah?? Di mana?” Tanpa sadar ia menoleh, latah karena pengaruh alkohol.
Kesempatan tiba, Alex langsung menuang isi botol ke dalam guci arak. Sekejap kemudian Shu Gendut kembali menghampiri araknya, menuangnya pada gelas kecil.
Gluk!
Begitu cairan pekat itu masuk ke dalam kerongkongannya. Mata Si Gendut langsung terbelalak, melebar, sedangkan pupilnya mengecil. Seluruh organ kerongkongan sampai ke lambungnya terasa nyeri, terbakar dari dalam, dengan tercekat ia bangkit. Memandang Alex dengan nanar.
Alex mundur beberapa langkah menghindari amukan pria itu yang membabi buta ke arahnya. Tenggorokkannya yang tercekat membuatnya tak bisa berteriak. Jangankan berteriak, bernapas pun susah.
“Akh ... Akh ...!” Suaranya semakin parau, tercekat akan rasa sakit. Panas, perih, dan kering membuatnya semakin meronta tak karu-karuan.
Zen tak membiarkan kesempatan ini lepas begitu saja, ia langsung membuka peti kayu besar yang biasanya mereka gunakan untuk menyimpan bahan makanan kering seperti umbi, beras, dan jagung selama musim dingin. Peti yang terletak di sudut ruang makan itu bisa memuat dua ekor bab1, tentu saja anak-anak berpikir pasti dengan mudah bisa menyimpan pria gendut.
Namun, perkiraan mereka salah. Saat dengan sekuat tenaga Zen dan Alex menjegal pria itu agar ia terjerembab ke dalam, peti itu tidak muat. Alex memaksa tubuh besar itu menghuni peti. Menekuk kakinya, sedangkan Zen menekuk tangannya. Mencoba membuat pria gendut itu meringkuk. Tubuhnya yang menahan sakit tak lagi kuat meronta.
“Tutup petinya, Alex!!” lirih Zen memberi perintah.
“Baik!!” Alex menutup peti itu, menindihnya dengan sekuat tenaga agar bisa menutup. Tubuh besar Shu terus berusaha memberontak, namun nyatanya para anak-anak yang terbiasa melakukan pekerjaan kasar ini punya tenaga yang terlatih, mereka cukup kuat sampai bisa menahan tutup dan berakhir dengan menggembok paksa petinya. Membuat si gendut terjepit, menunggu ajal dalam peti kecil itu.
“Rasain!! Kau sering menghukum kami di dalam peti! Kini rasakan kematianmu di dalamnya!” Alex menendang peti itu dengan geram.
“Kita harus memastikannya benar-benar mati, Alex!” Zen menghentikan aksi adiknya.
“Aku punya ide!” Alex bergegas keluar dapur, mencari tusuk dari baja berdiameter kurang lebih dua cm, para orang tua biasa menggunakan tombak itu untuk memanggang daging bab1 atau mengasapi ikan.
JLEB!!
Tusukan menghasilkan goncangan pelan pada peti disusul dengan darah segar yang mengalir keluar. Darah itu begitu pekat dan sedikit kehitaman, sepertinya racun serangga mulai bekerja padanya.
“Beres!” Alex menghembuskan napasnya kasar.
“Tinggal tiga lagi dan kita terbebas dari neraka ini!” Zen menepuk pundak Alex. Keduanya terlihat lelah, namun harapan akan masa depan membuat mereka tetap bersemangat.
__ADS_1
“Aku siap, Kak! Ayo selesaikan semua ini!” Mata Alex berkilat optimis. Zen ikut tersenyum, ia mengangguk.
— ZEN —