MUSE S3

MUSE S3
TMDM 4


__ADS_3

Kedai kopi mulai penuh, banyak anak muda yang menghabiskan sore mereka sembari mengobrol santai dengan para sahabatnya, ataupun mengerjakan tugas-tugas sekolah bersama. Beberapa orang pegawai kantor juga mulai terlihat, melepas lelah dengan secangkir latte hangat. Musik jazz dari speaker beradu dengan suara hujan yang menderu. Hujan masih turun, kedua insan manusia itu juga masih saling bersitatap, menunggu siapa yang akan berbicara terlebih dahulu.


Gelas kaca mulai mengembun karena perbedaan suhu, begitu pula dengan cangkir putih, permukaannya sudah tak lagi mengepul. Jasmine duduk pada sofa, terdiam sambil memandang wajah tampan Leonardo, ia masih kikuk dengan keadaan ini. Leonardo juga hanya menyangga kepalanya dengan kepalan tangan, masih mengamati tiap-tiap inci wajah Jasmine yang cantik.


Jasmine juga melirik ke arah Leon, mengamatinya, menilainya, dan mengaguminya. Siapa yang tidak kagum dengan pria setampan Leonardo? Jasminekan juga anak remaja, yang mulai tahu akan lawan jenis, bisa membedakan mana yang tampan dan mana yang jelek. Dan Leonardo bukan hanya tampan, dia bibit unggul, tiap inci dari tubuhnya benar-benar sempurna. Seakan-akan ia memang patung lilin yang dipahat oleh seniman kelas dunia.


“Kau masih mengingatku?” tanya Leon.


“Pardon me?! Memangnya aku mengenalmu?” tanya Jasmine balik. Sungguh heran, pria setampan ini mengaku mengenalnya.


“9 tahun yang lalu? Kediaman Aston, kita menangkap kupu-kupu? Saat itu kau bilang namaku seperti singa?” Leon akhirnya beranjak, menghirup aroma kopi sebelum menyesapnya perlahan.


Jasmine berusaha mengingat-ingat ucapan Leon, sembilan tahun bukan waktu yang singkat. Otaknya juga bukan otak seorang jenius ber -IQ tinggi, mana mungkin dia masih bisa mengingat pertemuannya dengan pria ini.


“Erm ... aku tidak ingat.” Jasmine menggaruk kepalanya bingung.


Leonardo hanya tersenyum, bukan salah Jasmine, salahnya yang tak pernah memperlihatkan diri pada Jasmine. Leonardo hanya mengamati gadis itu sesekali. Kesibukkannya membuat Leonardo tak bisa terus menjadi pelindung di balik layar.


“Hm ... oke kalau begitu, aku perkenalkan diriku sekali lagi padamu. Namaku Leonardo, kau bisa memanggilku Leon.” Leon mengulurkan tangannya, mencoba bersalaman dengan Jasmine. Netra Jasmine melirik tangan Leon, penuh cincin, setidaknya ada tiga pada tiap tangannya. Cincin dengan kebanyakan hiasan berlambang singa.


Semua mata mendelik saat melihatnya, seorang Tuan Muda dari keluarga Eldebra yang terkenal angkuh dan arogan mengulurkan tangan pada seorang gadis penjaga kasir. Apa ini yang namanya kisah cinta ala Cinderella?


“Umm, namaku Jasmine.” Dengan ragu-ragu Jasmine membalas jabatan tangan Leon.


Leon tersenyum, ia menarik tangan itu untuk mengecup punggung tangannya. Jasmine berjengit, tubuhnya merinding, berdesir dengan hebat. Rasanya menyetrum sampai ke sekujur tubuh, bahkan sampai pada bulu-bulu halus di sekitar tengkuknya.


“Lepaskan!! Ini memalukan.” Jasmine menarik tangannya.


“Wah, sikapmu sangat manis,” tukas Leon, ia kembali menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

__ADS_1


“Ja-jangan bercanda.” Jasmine menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona, sesekali ia menyisir rambut bobnya ke belakang telinga.


“Bukankah tahun ini kau akan masuk ke SMA? Sudah daftar? Ke sekolah mana?” tanya Leon ingin tahu.


“Em ... aku belum tahu. Mungkin tak akan lanjut. Aku akan bekerja untuk membantu Mama.” Jasmine kian menunduk, sekarang ia sangat malu karena terancam putus sekolah.


“Apa kau mau bersekolah di ELDER?” Pertanyaan Leon sontak membuat Jasmine mengangga, masuk ke sekolah umum biasa saja bagaikan mujizat baginya, apa lagi bisa masuk ke sekolah paling bergengsi di kota itu.


“Hahaha, walaupun aku suka berkhayal namun aku tak berani bermimpi setinggi itu, Leon.” Jasmine tertawa sumbang.


“Siapa tahu kau mau.” Leon mengangkat bahunya.


“Uang sekolahnya satu bulan setara dengan kontrakan rumah kami selama satu tahun kau tahu?” tutur Jasmine.


“Tentu saja aku tahu, sekolah itu milik keluargaku.” Leon terkikih pelan, membuat wajah Jasmine memerah sempurna.


Ah, benar juga, dia pakai seragam ELDER HS, tapi aku tak pernah menyangka bahwa sekolah itu miliknya. Pikir Jasmin.


Leon kembali mengamati wajah Jasmin, melihat rambutnya yang lurus dan lembut, warna coklatnya berkilat saat terkena sinar lampu. Mata biru emeraldnya terlihat lebih cemerlang karena berkaca-kaca. Pipinya merona merah, di tambah dengan bibirnya yang mungil dan tebal.


Leonardo mengusap bibirnya saat matanya melirik turun pada tubuh Jasmine. Tubuh gadis itu memang ramping, sedikit terlalu kurus menurutnya, dadanya juga tidak montok, mungkin karena masih kecil. Jadi belum terlihat menonjol.


“Jadi bagaimana?” tanya Leon.


“Apanya?” balas Jasmine ikut bertanya.


“Mau tidak bersekolah di ELDER?”


“Tentu saja aku mau, tapikan itu tidak mungkin.” Sekali lagi Jasmine hanya bisa tertawa sumbang.

__ADS_1


“Bagiku semua mungkin.” Leon membenarkan posisi duduknya.


Leonardo melepaskan salah satu anting yang bersarang pada telinganya. Ada lambang keluarga Eldebra terukir indah. Leonardo menarik tangan Jasmine, memaksa gadis itu membuka telapak tangannya. Ia meletakkan anting itu dan menutup genggamannya.


“Bawa itu saat kau mendaftarkan diri. Berikan pada kepala sekolahnya saat wawancara.” Leon bangkit.


“Ini hanya sebuah anting.”


“Anting itu lebih berharga daripada uang ratusan juta, Jasmine. Percayalah padaku.” Leon mengerling pada Jasmine. Lalu berlalu dari hadapan gadis itu, menyisakan tanda tanya besar di dalam hati Jasmine.


“Hei!!” panggil Jasmine.


“Ya?” Leon memutar badannya, melirik Jasmine. Membuat gadis itu kembali tersipu.


“Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau membantuku?” tanya Jasmine heran.


“Kau akan menemukan jawabannya saat masuk ke SMA. Aku menunggumu di sana.” Leon melambai pada Jasmine.


Jasmine tersenyum, ia bergeleng, sungguh pria yang sangat aneh. Dengan perlahan Jasmine membuka telapak tangannya. Anting itu terlihat bisa saja, benarkah punya kekuatan yang begitu luar biasa sampai bisa membawanya masuk ke ELDER HS dengan mudah?


Ah, dasar cowok gila, gumam Jasmine, tapi hatinya terrasa berbunga-bunga.


Leon menyeringai dari dalam mobilnya, dalam hati juga bergumam, aku pasti akan membuatmu menjadi milikku, Jasmine.


Hanya Michael yang menggigit jarinya karena masih tak paham situasinya. Dan Afga segera menjalankan mobilnya begitu Leonardo memerintahkannya jalan.


— TMDM —


Yo up, tolong di like, di vote, di comment!!

__ADS_1


Akacih


__ADS_2