Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Pengantar dari Sebuah Naskah


__ADS_3

“Silakan Viscount Chester, jika ada kata-kata terakhir yang akan Anda sampaikan kepada terdakwa!”


Suara tegas dan lantang penuh hormat dari juru bicara kekaisaran mempersilakan seorang bangsawan pria berusia sekitar akhir tiga puluh tahunan bergelar Viscount yang tengah duduk di kursi saksi tepat di bawah tempat duduk kaisar, bersama dengan jajaran para bangsawan lainnya.


Curah hujan sedang, daun-daun yang telah berubah kecokelatan pada ranting pohon berguguran, udara dingin yang konsisten sejak satu bulan yang lalu. Namun hari itu matahari menampakkan sinarnya, tidak lagi bersembunyi di balik awan meskipun kini berada di penghujung musim gugur.


Angin musim gugur yang dingin dan lembap bertiup lembut, seolah menyambut peralihan ke musim dingin. Cuaca yang cocok sekali untuk berkumpul bersama keluarga di depan perapian hangat di dalam rumah, atau seharusnya seperti itu.


Tapi di hari yang sempurna ini, seluruh warga kekaisaran Estheria berkumpul untuk menyaksikan eksekusi publik yang sedang berlangsung di colosseum, yang berlokasi di bagian barat wilayah ibukota kekaisaran.


Colosseum yang berada di Kekaisaran umumnya digunakan sebagai arena pertunjukkan para gladiator menunjukkan kehebatan mereka. Namun tak jarang colosseum juga digunakan sebagai tempat pertunjukan teater dan bahkan tempat eksekusi.


Seorang gadis berusia awal dua puluh tahunan, berpakaian lusuh dan compang-camping, berambut perak bergelombang terurai hingga ke pinggang menutupi seluruh punggungnya, sedang berdiri di tengah-tengah lokasi eksekusi.


Tangan dan kaki kurusnya dipakaikan belenggu besar yang terbuat dari besi yang telah berkarat. Darah segar berwarna merah pekat mengalir tiada henti dari sela-sela pergelangannya.


Bibir merahnya telah membiru, iris mata yang berwarna merah seperti batu Ruby itu telah kehilangan cahayanya, tatapannya kosong. Wajah dan tubuhnya penuh dengan memar yang kini sudah menghitam. Dan luka yang bernanah itu saksi bisu penyiksaan para penjaga penjara selama ia mendekam di balik jeruji besi.


Viscount Chester berdiri dari tempat duduknya, memberi penghormatan kepada yang mulia kaisar dan para keluarga kekaisaran yang hadir untuk menyaksikan jalannya eksekusi sebelum ia berjalan mendekati bibir balkon.


“Kepada seluruh rakyat kekaisaran Estheria!” Suara lantangnya menggema. Para rakyat yang hadir seketika memperhatikan sang Viscount yang sedang berdiri tegap dengan wajah berseri.


“Hari ini! Tengah berdiri di hadapan kita semua! Seorang penyihir jahat yang selama ini bersembunyi di antara kita!”


Ia mengatakan kalimat itu seraya menunjuk bengis ke arah gadis yang ada di tengah-tengah panggung eksekusi.

__ADS_1


“Dia melakukan kejahatan hanya dengan kehadirannya! Semua bencana yang kita alami yaitu kekeringan! Kekerasan! Pengkhianatan! Perampokan! Pelelangan budak ilegal! Dan surutnya kepercayaan pada sang dewa! Itu semua karena ulah penyihir ini!"


“Saya pun telah tertipu oleh kecantikan dan keluguan yang dia miliki! Saya terperdaya oleh jelmaan iblis ini! Sehingga saya menikahi wanita terkutuk ini! Dan dia membuat saya buta sehingga tidak dapat melihat bahwa ada wanita malaikat yang sebenarnya!”


Viscount lalu menunjuk lembut ke arah wanita cantik yang sedang memakai pakaian hangat berwarna biru langit yang terbuat dari bulu. Wanita itu tersenyum ramah menanggapi ucapan sang Viscount yang ditujukan kepadanya. Viscount Chester pun membalas senyuman sang wanita dengan tatapan yang ramah dan sedikit nakal.


Kembali Viscount Chester menatap jijik ke arah wanita kurus nan kumal yang telah berada di tengah-tengah tempat eksekusi. “Semua salahnya! Mari eksekusi dia hari ini dan kita akan terbebas dari kemalangan selamanya!”


Kata-kata dari Viscount Chester membuat para rakyat yang menyaksikannya menyerukan teriakan, hingga membuat tanah tempat eksekusi bergetar. Hinaan dan cacian yang diserukan oleh para rakyat tiada henti. Semua itu ditujukan pada satu orang gadis yang sedang menunggu ajalnya.


“Hidup Viscount Chester!!!"


“Hidup sang pahlawan!!”


Ada mitos mengatakan bahwa pada zaman dahulu hiduplah seorang penyihir hebat tak tertandingi yang membumi hanguskan puluhan kerajaan dalam kurun waktu satu malam, dengan alasan ia sedang bosan.


Penyihir tersebut memiliki ciri-ciri berambut perak bercahaya dan bermata merah berkilau seindah batu ruby. Parasnya yang cantik jelita mampu membius pria dengan mudah untuk jatuh cinta padanya. Namun, kecantikan itu merupakan tipu daya sang penyihir untuk menculik pria perjaka yang tergoda olehnya, dan kemudian penyihir mengubah pria yang telah terjerat menjadi budak cintanya.


Jika sudah menjadi budak cinta sang penyihir maka tak ada lagi logika yang berjalan. Pria yang telah menjadi budak akan melakukan apa pun yang diperintahkan sang penyihir padanya. Mereka melakukan segala cara, baik atau buruk, demi membuat sang penyihir puas terhadapnya dan makin mencintainya.


Maka dari itu rambut perak adalah hal yang sangat dilarang di kekaisaran ini asalnya merupakan tanda seorang penyihir. Sebab penyihir gelap biasanya mengundang banyak bahaya dan bencana bagi negara yang didatanginya.


“Bunuh dia! Bunuh!!"


“Cepat eksekusi penyihir itu!!!”

__ADS_1


“Penyihir harus mati!”


“Bunuh penyebab kemalangan kami!”


Kaisar yang agung mengangkat tangannya sebagai tanda pengeksekusian akan segera dilaksanakan. Seruan dari rakyat semakin meriah. Mereka mengelukan tindakan bijak sang kaisar yang akan menghukum mati penyihir jahat.


“Cepat jalan!!” Perintah algojo berbadan besar bertopeng hitam pada gadis itu.


Rantai besi yang terhubung pada pengekang di leher gadis itu pun ditarik paksa olehnya. Gadis itu berjalan tertatih-tatih mengikuti langkah algojo dengan betis yang sobek. Tapak darah membekas di tanah dingin mengikuti langkah sang gadis menuju tiang pancung.


Di atas panggung eksekusi sudah ada satu algojo lain yang menunggu sembari memegang tali tepat di sebelah tiang pancung. Bau amis darah dari tempat eksekusi menusuk hidung hingga meresap ke kulit. Keluarga dan sanak saudara sang gadis telah dieksekusi lebih dulu. Eksekusi dilakukan atas tuduhan memiliki ikatan dengan penyihir hitam.


Beberapa algojo sibuk mondar-mandir seraya membawa wadah kayu besar berisi darah dan kepala yang telah terputus dari badannya. Dan yang lainnya menggotong tubuh tanpa kepala dan menumpuknya dalam satu tempat.


Tangan algojo yang besar dan kasar menempatkan paksa leher sang gadis di mulut pancungan. Lalu rantai pada lehernya kaitkan pada pengait yang berada di bawah tubuh si gadis agar terdakwa tidak dapat meloloskan diri.


“Ibu... Ayah... Semuanya... Tunggu sebentar lagi, aku akan segera menyusul kalian.”


Rintih gadis itu dalam hati dengan senyum pahit yang menghiasi wajahnya. Bulir bening terakhir sebelum kematiannya menitik jatuh ke bumi. Pisau pancung yang selalu tajam sebab diasah setiap waktu memantulkan sinar matahari dengan ganasnya. Algojo yang berdiri di samping tali tadi melepaskan genggamannya.


CRAK!


Pisau besar itu meluncur bebas ke bawah dan langsung memisahkan kepala dari tubuh gadis malang itu. Kepala kecil sang gadis menggelinding dan masuk ke wadah kayu tepat di bawahnya. Darah segar terciprat ke mata pisau dengan hebatnya, dan mengalir deras keluar dari tubuh kurus yang telah terkulai lemas. Semua darah itu tertampung di wadah kayu hingga merendam seluruh kepalanya. Kubangan darah dalam ember bahkan meluber, menetes sampai membasahi tanah di bawah panggung eksekusi.


Suara teriakan bahagia rakyat menggelegar hingga ke seluruh celah sempit di colosseum berbarengan dengan terputusnya leher sang gadis. Semua orang yang menyaksikan eksekusi tersebut berbahagia dan lega karena sang penyihir jahat, penyebab kemalangan mereka, telah mati.

__ADS_1


Seperti tak sejalan dengan kebahagiaan rakyat kekaisaran Estheria hari itu. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba menghitam, sinar matahari yang menyorot panggung eksekusi kini telah tertelan awan hitam lalu menjatuhkan tetesan air dengan derasnya. Dan angin dingin yang menusuk kulit mengubah rintik air hujan menjadi bulir salju. Seakan hanya langitlah yang dilanda duka atas sebuah kehilangan.


__ADS_2