Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Namanya Rubi


__ADS_3

“Bagaimana kepalamu, apa masih sakit?” Tanya Serena pada seorang anak yang masih saja menengadahkan kepalanya ke langit-langit kamar atas perintahnya.


Beberapa saat yang lalu, ketiga anak gadis, teman sekamar anak ini berusaha membantu dirinya bangkit dari tempat tidur. Namun, karena dibangunkan secara tiba-tiba sang anak yang baru saja siuman setelah satu minggu tak sadarkan diri di kamar ini malah tersungkur di lantai.


Karena tubuhnya lemas tak bertenaga, ia tak dapat berdiri tegak dan malah membuat dirinya dan teman-temannya terjatuh. Alhasil wajah si anak menghantam lantai kayu di dalam ruangan dengan keras yang mengakibatkan hidungnya mengalami mimisan.


“Maaf... Karena tadi kami tiba-tiba membangunkan mu, jadi hidungmu itu berdarah.” Ujar Elyn, gadis lucu berambut pendek sebahu dengan mimik wajah yang sendu.


“Apa masih sakit?” Kini giliran Olive dengan raut wajah khawatirnya yang bertanya.


“Mau aku gantikan melihat ke atas? Rasanya kepalamu hampir copot.” Ujar Allen dengan tatapan serius yang membuat Serena terkekeh.


“Coba aku periksa lagi hidungmu, masih berdarah atau tidak.” Ucap Serena yang langsung memeriksa keadaan anak itu.


Setelah dipastikan darahnya tidak akan mengalir keluar lagi, Serena memperbolehkan anak itu menunduk. Kemudian ia meminta padanya untuk melepas pakaiannya dan akan menggantinya dengan yang baru. Karena pakaian yang ia kenakan tadi berlumuran oleh darah yang tumpah dari hidungnya dengan cukup banyak. Setelah anak kecil itu diobati dan diganti pakaiannya, akhirnya mereka berlima duduk melingkar di dalam kamar.


Serena sebagai wanita yang paling tua dan berperan sebagai ibu asuh memperkenalkan dirinya, dan juga ia memperkenalkan tiga anak gadis lain yang akan tinggal bersama anak itu dalam satu kamar yang sama. Serena yang kini berusia dua puluh tiga tahun merupakan relawan atas nama dewa Eos, Dewa Matahari, dewa yang disembah di Kekaisaran Estheria.


Serena pun memberitahu bahwa sekarang anak itu tinggal di sebuah panti asuhan di perbatasan wilayah. Lebih tepatnya mereka berada di kota kecil di pinggiran wilayah selatan kekaisaran. Dan karena ini merupakan sebuah kota kecil, jumlah anak yang tinggal di panti ini tidaklah banyak. Kurang dari dua puluh lima anak termasuk gadis itu di dalamnya.


Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini pun bukanlah penduduk asli desa kecil ini. Melainkan anak-anak korban perang, korban kekerasan, yatim piatu, anak yang sengaja ditelantarkan oleh kedua orang tuanya karena kemiskinan, atau memang orang tua mereka tidak mau bertanggung jawab. Bahkan ada juga mereka yang kehilangan tempat tinggal dan keluarga akibat serangan monster berada di sini.


Meskipun panti asuhan ini terlihat kumuh dan kurang terawat karena kurangnya aliran dana yang masuk, tapi anak-anak di dalam panti asuhan ini sangatlah bahagia. Apalagi mereka memiliki Serena sebagai salah satu petugas paling baik dan merupakan seseorang yang bisa disebut keluarga yang mau merawat mereka tanpa pamrih dengan penuh kasih sayang.


“Kami sudah memperkenalkan nama kami, sekarang giliranmu.” Ucap Serena mempersilakan gadis itu berbicara.

__ADS_1


Gadis itu ragu-ragu pada awalnya, tetapi ketika melihat ketiga teman barunya sangat antusias mendengarnya akan memperkenalkan diri, ia pun dengan penuh percaya diri membuka suaranya. “Na... Namaku Rubi!” Katanya, singkat, padat dan jelas. Ketiga temannya termasuk Serena terdiam sesaat.


“Cocok sekali untukmu...” Gumam Serena sambil terus memperhatikan tingkah lucu Rubi.


“Apa itu Rubi?” Tanya Allen, ia melirik pada Serena.


Serena yang kembali kesadarannya langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. “Hmm... Ruby yang aku tahu adalah salah satu nama perhiasan yang sering dipakai bangsawan di tubuhnya.”


“Benarkah? Bagaimana bentuknya?” Kini giliran Olive yang bertanya.


“Emm... Bagaimana ya cara menjelaskannya.” Ujar Serena seraya menggoda anak-anak asuhnya.


“Beritahu kami Serena!” Rengek ketiga anak itu dan gadis yang telah menjadi keluarga baru mereka.


Mereka berempat pun penasaran, perhiasan apa yang dimaksud Serena itu. Serena segera mengambil sesuatu dari dalam saku di roknya. Ia mengeluarkan sebuah kantung berwarna biru tua yang berhiaskan perak cantik di sekelilingnya.


“Iya kan, kantung ini cantik.” Ucap Serena senang. “Ini adalah kantung uang, dan ini adalah hiasannya.” Jelasnya seraya memperkenalkan benda yang ada di tangannya dan menunjuk pada lempengan perak yang menampilkan seorang wanita. Mata Serena sendu, tatapan matanya ke arah kantung yang baru saja ia keluarkan itu bukanlah tatapan kebahagiaan, meskipun suaranya terdengar riang.


“Ada apa di dalamnya?” Tanya Rubi.


Serena tersenyum pada Rubi, dalam tatapan Rubi mengisyaratkan bahwa Serena tak boleh berlarut dalam pikirannya sendiri dan harus menjelaskan pada kucing-kucing kecil yang haus akan keingintahuan ini. Wanita itu mengeluarkan sebuah perhiasan yang disebutnya sebagai batu Ruby dari dalam kantung uangnya. Sebuah kalung yang cantik dengan batu berwarna merah pekat seperti darah yang berkilau sebagai liontinnya, seakan menghipnotis siapa pun yang melihatnya.


“Warnanya mirip seperti matamu, Rubi!” Ujar anak-anak riang seraya memperhatikan mata Rubi dan membandingkannya dengan batu Ruby yang asli secara bergantian. Keempat gadis itu sibuk mengagumi batu permata yang menjadi hiasan liontin pada kalung milik Serena.


“Oiya, siapa yang memberimu nama itu, Rubi?” Tanya Serena pada anak kecil yang sibuk dibandingkan dengan batu.

__ADS_1


“Rossie dan Rainar.” Jawab Rubi lugas.


“Apa mereka kedua orang tuamu?” Tanya Serena lagi.


“Tidak, bukan. Mereka adalah teman-temanku di tempat pelelangan budak.”


“Apa!? Apa maksudmu pelelangan budak!?” Ujar Serena yang tak dapat mengatur ekspresi wajahnya karena terkejut.


“Apa kau tidak tahu Serena? Itu adalah tempat mengerikan yang akan menjual kami kepada orang-orang jahat di permukaan.”


Betapa terkejutnya Serena mendengar ungkapan dari anak kecil yang baru kisaran usia lima tahun itu, dari mana ia bisa mengenal kalimat mengerikan seperti itu. “La... Lalu... Bagaimana caranya kau keluar dari sana!?” Tanya Serena yang semakin tak bisa mengondisikan air mukanya.


“Aku tidak ingat. Yang aku tahu, aku sudah berada di sini dengan kalian.” Jawab Rubi asal lebih terkesan tidak peduli.


“Ka-Kalau Rainar atau Rossie, apa kau ingat mereka?”


“Tentu! Mereka adalah teman-temanku, mereka sangat baik padaku dan selalu melindungi ku. Sering kali kami kesulitan dapat makanan, tetapi Rossie akan selalu membagi setengah roti gandum hitam yang keras miliknya itu padaku. Karena gigiku sakit jika makan roti itu, Rossie sering mengoleskan lumut dari dinding pada rotiku agar terasa lebih lembut. Dan aku suka sekali makan roti dengan lumut, karena aku tidak akan kelaparan lagi.”


“Kalau Rainar biasanya membantuku menjauhkan para penjaga yang akan membawaku ke permukaan untuk dijual. Ia biasanya akan mengeram dan memasang wajah seram pada penjaga yang menyentuhku. Karena mereka berdua aku jadi terlindungi di sana. Tidak seperti teman-teman sel-ku yang lain, hanya aku, Rainar, dan Rossie-lah yang bertahan paling lama di dalam sana.” Jelas Rubi, menceritakan pengalamannya di sel bawah tanah pelelangan budak dengan riang gembira.


Serena tercekat nafasnya sesak, di depannya ada gadis kecil berusia kisaran lima tahun bercerita riang gembira membahas pelelangan budak yang dialaminya secara langsung. Seakan hal tersebut bukanlah apa-apa baginya. Tangan Serena gemetar pun juga tubuhnya ikut bergetar. Entah apa yang akan ia lakukan, di antara marah, sedih, dan kasihan.


Serena memeluk tubuh Rubi erat ke dalam dekapannya. Serena merasa sangat marah, tapi kejadian itu bukanlah salah gadis malang ini. Anak ini hanya tahu bagaimana cara bertahan hidup agar tidak dijual pada para bangsawan kotor. Sampai Rubi bisa bercerita dengan riang tentang teman-temannya, Rainar dan Rossie, berarti ada trauma di otak kecilnya hingga ada ingatan yang hilang saat terjadi penyiksaan di sana.


Serena pun sedih dan kasihan pada gadis malang di hadapannya. Hanya mendengar namanya ‘pelelangan budak’ saja, sudah pasti kondisi di tempat itu sangat memprihatinkan. Dan tidak mungkin dapat diceritakan dengan nada yang sangat bahagia seperti saat Rubi utarakan. Apalagi Rubi yang masih kecil mengalami hal semacam itu, hati Serena bagai dicabik-cabik oleh ribuan pedang.

__ADS_1


Serena tak membahas lebih jauh mengenai pelelangan budak, ia khawatir Rubi akan mengingat pengalaman pahitnya di sana. Wanita muda itu hanya memeluknya erat, mencurahkan kasih sayang yang tiada habisnya di dalam pelukannya sambil berbisik. “Mungkin hilangnya ingatanmu merupakan berkah dari dewa untukmu.”


__ADS_2