Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Sarang Semut


__ADS_3

Setelah perdebatan yang terjadi beberapa hari lalu antara Serena dan pendeta Ortiz, topik pembicaraan yang ada dilingkungan panti hanya seputar ‘betapa egoisnya sang pendeta yang berhati sempit itu’. Begitu juga anak-anak asuh sang pendeta, mereka kehilangan pijakan di dalam panti, dan tak ada anak-anak lain yang berempati pada mereka.


Serena seakan menjadi idola baru dalam panti asuhan ini dikarenakan sikap beraninya melawan dengan anggun dan tidak menggunakan kekerasan menghadapi masalah.


Bagai seorang selebriti, ke mana pun wanita itu pergi pasti ada saja yang mengajaknya bicara basa-basi atau hanya sekedar menyapanya, entah itu para pendeta, para petugas, dan bahkan anak-anak akan sangat riang bertemu dengan Serena.


Terkecuali anak-anak yang diasuh oleh pendeta Ortiz. Mereka terkenal sangat arogan, nakal, dan semaunya. Mereka merasa memiliki kuasa dibandingkan anak-anak lain karena dulu ayah asuh mereka merupakan kepala panti yang sangat dihormati.


Pendeta Ortiz selalu membanggakan dirinya ketika menjadi ketua panti pada anak-anaknya, ia bersikap seolah diturunkannya ia dari posisi ketua panti tersebut dikarenakan banyak pihak dalam panti asuhan yang tidak suka dirinya menjadi ketua karena dirinya terlalu hebat dalam menjalankan tugasnya.


Terus menerus sang pendeta mencekoki anak-anak asuhnya dengan cerita betapa hebatnya ia pada masa itu sebelum dirinya difitnah dan direndahkan. Jadilah anak-anak yang diasuhnya memiliki sifat pendendam pada berbagai hal yang ada di panti asuhan. Mereka juga sering berbuat jahat dan bicara bohong atas kenakalan yang telah mereka lakukan pada orang lain.


...***...


Siang itu Rubi sedang mengamati rombongan semut yang berbaris sambil membawa serpihan makanan di punggung mereka lalu masuk ke dalam lubang yang telah mereka gali di tanah pada sebuah halaman belakang panti asuhan. Semut yang berjalan berbaris dengan rapi itu membuat Rubi terkesima. Hal tersebut merupakan hal baru baginya.


Beberapa hari ini, selain makan, mandi, tidur, dan belajar tata krama serta membaca dari Serena, melihat semut adalah kegiatan yang tidak pernah Rubi lewatkan sehari pun. Ia sangat senang berjongkok berjam-jam demi melihat semut yang berbaris itu masuk seluruhnya ke dalam sarang mereka dengan selamat.


Pernah sekali waktu saat gadis itu tengah asyik menatap para semut melakukan kerja bakti mereka sehari-hari, tapi tiba-tiba saja hujan mengguyur wilayah pinggiran itu dengan derasnya. Rubi yang melihat para semut berlarian dan tenggelam membuatnya menangis meraung-raung hingga beberapa jam.


Keesokan paginya sesaat setelah ia bangun tidur dan langit pun sudah cerah kembali, gadis itu berlari bergegas ke halaman belakang dan melihat sarang semut yang sudah hancur.


Betapa sakit hatinya melihat rumah bagi hewan kecil itu sudah porak-poranda. Rubi pun menangis lagi dan berhasil ditenangkan oleh ketiga kakaknya setelah mereka berjanji akan membuatkan para semut rumah yang baru.


Jadilah ketiga kakaknya itu membolongi tanah di bawah akar pohon yang tidak jauh dari sarang semut yang hancur lalu meletakkan remah-remah roti di sepanjang jalan dari sarang lama mereka ke sarang yang baru.

__ADS_1


Lokasi sarang para semut yang baru lumayan aman dari banjir karena letak medannya agak tinggi dari tanah yang lain, dan tidak langsung terkena air hujan sebab dilindungi oleh akar pohon yang besar. Betapa senangnya Rubi mengetahui bahwa semut-semut yang selama ini ia perhatikan tidak terkena bahaya lagi.


...***...


Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, keempat sekawan yang telah selesai membuat sarang semut pun bergegas masuk ke dalam kamar sebelum absen malam dilakukan. Para anak-anak panti pun berlarian masuk ke dalam kamar mereka sebelum pintu panti ditutup. Jam malam berlaku untuk semua penghuni panti tak terkecuali pula untuk para petugas di sana.


TANG! TANG! TANG!


Suara tiang yang dipukul dengan sengaja itu menandakan absen malam akan segera dilaksanakan. Allen, Elyn, Olive, dan Rubi yang baru tiba di kamar mereka bergegas mengganti baju main menjadi gaun tidur dan berbaris di samping ranjang. Satu per satu mulai dari kamar paling kanan diabsen oleh petugas panti.


TOK! TOK!


Ketukan pada daun pintu di kamar itu mengisyaratkan bahwa salah satu anak di dalam kamar harus menyebutkan semua anggota yang hadir di sana.


“Allen, Elyn, Olive, dan Rubi! Semua penghuni lengkap!” Ucap Olive dengan semangat.


Tapi betapa terkejutnya Serena ketika ia melirik pada betis Rubi yang terdapat noda tanah. Wanita itu mencoba memberi isyarat pada ketiga kakak Rubi agar adiknya itu dipindahkan ke belakang, tapi sayangnya anak-anak itu tidak mengerti dan malah terpaku.


Ketua panti yang saat itu bertugas sebagai salah satu pengawas menatap heran pada ketiga anak pantinya yang mengerutkan kening mereka bersamaan. Ia lalu merasakan tingkah Serena yang aneh di sebelahnya. Suara bisikan Serena yang terdengar oleh ketua panti di sebelahnya itu membuat sang ketua melirik ke betis Rubi. Sekarang ketua panti mengerti kenapa Serena jadi panik begitu.


Ketua panti berjalan masuk ke dalam kamar empat sekawan itu berada. Ia berjongkok dan mengelap membersihkan betis kecil Rubi dari noda tanah yang menempel. Ketiga kakaknya yang baru mengetahui maksud Serena kini salah tingkah atas kelalaian mereka.


“Anak manis, apa kamu senang melihat semut-semut itu di halaman belakang?” Ujar ketua panti seraya tersenyum pada Rubi yang membuat Allen, Elyn, Olive, dan Serena menahan nafas karena terkejut.


“Iya.” Jawab Rubi dengan polosnya yang membuat keempat orang lainnya memukul kening mereka. Petugas panti lain yang melihat keluguan Rubi terkekeh dibuatnya.

__ADS_1


Ada satu peraturan yang menyatakan bahwa setiap penghuni panti, terlepas dari siapa pun itu, dengan keras dilarang untuk beraktivitas di halaman belakang. Dikarenakan halaman belakang panti letaknya dekat dengan hutan yang akan membahayakan bagi seluruh penghuni. Memang seluruh pagar yang mengelilingi panti telah diberi mantra suci sebagai perisai pelindung, tapi mantra tersebut masihlah lemah dan tidak akan mampu menahan serangan monster yang lebih besar dari goblin.


“Lalu, bagaimana dengan rumah mereka? Apa mereka baik-baik saja sekarang?” Ujarnya seraya memulas senyum di bibir.


“Ketiga kakakku sudah membuatkan rumah yang baru, jadi mereka aman.” Jawab Rubi yang juga ikut tersenyum riang.


“Baguslah kalau begitu, aku pun senang mendengarnya.” Sahutnya lagi seraya membelai wajah Rubi yang juga terdapat bekas noda tanah. “Kalau begitu bisa kau berjanji padaku?”


“Apa?”


“Untuk sementara ini jangan pergi ke halaman belakang lagi.” Kata ketua panti sambil menggenggam tangan Rubi.


“Kenapa?”


“Karena ada monster yang sedang berkeliaran di daerah ini.”


Ungkapan dari ketua panti sontak membuat semua penghuni yang mendengarnya ketakutan. Begitu pula dengan petugas yang ikut mengawasi jalannya absensi bersama Serena. Pasalnya ketua panti belum memberitahu hal ini pada para petugas, dan malah membocorkan hal berbahaya ini pada seorang anak kecil.


“Monster?”


“Benar nak. Monster itu akan mencelakaimu dan akan membawamu bersama mereka, apa kamu mau pergi dan meninggalkan nona Serena serta ketiga kakakmu?”


Rubi menatap pada Serena dan ketiga kakaknya bergantian lalu menggelengkan kepalanya dengan mantap. Ia sangat tidak ingin pergi dan meninggalkan orang-orang yang saat ini telah menjadi bagian dari hidupnya.


“Kalau begitu maukah kau berjanji, mulai sekarang dan seterusnya tidak akan pergi ke halaman belakang lagi? Karena semua semut-semut kesayanganmu itu akan baik-baik saja dengan rumah mereka yang baru jadi kau tidak perlu khawatir kan?”

__ADS_1


Tatapan lembut ketua panti membuat gadis kecil itu yakin bahwa semua semutnya akan baik-baik saja. Kemudian Rubi menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan janjinya pada ketua panti. Setelah mendengar jawaban Rubi, ketua panti keluar dari kamar empat sekawan itu dan mengucapkan selamat malam. Lalu ia dan para petugas lain melanjutkan absensi malam hingga seluruh kamar selesai didatangi.


__ADS_2