Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Kucing Liar


__ADS_3

“Kelihatannya kalian senang sekali.” Sapa seseorang yang juga baru selesai makan di sebelah Serena.


Senyum Serena mendadak menghilang begitu mengetahui suara siapa yang barusan menyapa mereka. Ketiga kucing kesayangan Serena pun segera menghilangkan senyum mereka setelah melihat siapa gerangan yang duduk di sebelah ibu asuh mereka. Rubi yang bingung hanya menatap pada Elyn, Allen, Olive, dan Serena bergantian. Kemudian ia menatap pada salah seorang petugas yang sedang duduk di sebelah Serena.


Petugas itu memakai pakaian pendeta kuil suci yang lengkap, menandakan bahwa ia adalah pendeta suci yang langsung di tugaskan oleh kuil suci untuk mengurus panti. Wajahnya yang menunjukkan garis yang tegas menambah kesan berwibawa, cocok sekali dengan seragam yang ia kenakan. Dengan bangganya ia menunjukkan lambang dewa yang menggantung di lehernya. Berbeda dengan Serena yang memakai gaun biasa, sebab Serena hanya seorang petugas panti biasa yang membantu pekerjaan di sana.


“Apa kabar pendeta?” Sapa Serena yang sedikit memulas senyum di bibirnya pada laki-laki yang memakai pakaian pendeta itu di sebelahnya. Laki-laki paruh baya itu mendengus dingin mendengar sapaan Serena yang menurutnya sangat canggung.


Allen, Elyn, dan Olive memicingkan kedua mata mereka berbarengan. Mereka bertiga geram atas balasan pendeta tua itu pada orang yang mereka kasihi.


“Apa maksudmu menanyakan kabarku? Baru kemarin kita bertemu.” Ujar remeh pendeta itu.


“Ah benar juga. Mungkin saya hanya senang mengetahui Anda akan repot-repot menyapa saya.” Sahut Serena tetap memperlihatkan senyum bisnisnya.


“Bagaimana dengan anak-anak asuh mu itu? Mengurus kucing liar sangat merepotkan bukan?” Tanyanya. “Satu saja sudah merepotkan, apalagi tiga!” Lanjutnya yang seakan menjadi orang yang paling peduli di muka bumi.


Serena hanya terkekeh mendengarnya. Ia tak mau menyahuti serius ucapan orang di sebelahnya ini, karena pasti dirinya akan tersulut emosinya. Elyn memutar matanya seakan muak mendengar suara laki-laki tua itu. Olive juga membuang muka dan hanya menatap adiknya Rubi yang sedang makan apel dengan lahap. Sementara Allen terang-terangan menatap benci ke arah laki-laki paruh baya itu dan mengajaknya bertengkar saat itu juga melalui tatapannya.


“Oho~ kau masih belum menjinakkan mereka dengan benar ya.” Kata laki-laki itu mengkritik Serena. Ia menatap hina pada Allen yang memberi tatapan ingin menerkamnya. Laki-laki itu terus mengolok-olok Serena sebab tingkah anak-anak asuhnya yang tidak memberi hormat pada si pendeta.


“Apa maksud Anda pendeta?” tanya Serena pura-pura tidak tahu.


“Anak-anak tidak sopan itu menatapku dengan kurang ajar begitu, bagaimana bisa kau tidak tahu?” Katanya. “Atau kau memang sengaja menyuruh mereka bersikap begitu padaku!?” Laki-laki paruh baya itu mulai meninggikan suaranya.

__ADS_1


Kini tempat duduk Serena menjadi pusat perhatian bagi anak-anak dan para pendeta serta petugas lainnya yang ada di dalam ruang makan, mereka mulai berbisik sambil menatap pada kegaduhan di sana. Melihat tatapan orang lain yang ditujukan padanya, wanita itu mulai berkeringat, ia sama sekali tidak bisa mendapat tatapan seperti itu dari orang-orang.


Rubi yang sedari tadi memperhatikan sikap Serena yang mulai berkeringat dan menghela nafas semakin berat, kini menggenggam erat tangan Serena di sebelahnya. Gadis kecil itu menatap lekat mata Serena hingga wanita itu kembali tenang dengan sendirinya.


“Benarkah? Apa mungkin perasaan Anda sedang sensitif belakangan ini?” Sahut Serena acuh tak acuh.


“Lihatlah nona muda ini!” Cibirnya pada Serena. “Bagaimana anak didiknya tidak kurang ajar, mereka diajarkan oleh ibu asuh yang salah!”


“Kau menyebut Serena salah!?” ujar Allen geram. Serena membungkam mulut Allen dengan jarinya yang diletakkan di depan mulutnya sendiri.


“Tentu! Jika kalian bukan binatang liar, diajarkan manusia suci seperti aku pastilah kalian sudah lebih baik! Kalian pasti jelmaan iblis kecil yang datang untuk menghancurkan panti ini!” Caci pendeta itu tiada henti.


“Cukup pendeta! Jangan sebut mereka binatang atau iblis lagi!” Ujar Serena geram.


“Hah! Apalagi ditambah satu anak baru yang liar juga! Kalian memang pantas disebut kelompok binatang!” Hardik laki-laki paruh baya itu melirik Rubi yang sedari tadi diam saja.


“Lihat! Apa namanya kalau tidak punya tata krama? Kalian pantas disebut binatang!” Hardiknya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Olive. “Aku kan hanya ingin menyapa, kenapa balasan kalian tidak sopan seperti hewan liar begini! Harusnya kau bersyukur orang suci sepertiku masih peduli!”


KLONTANG!


Sebuah nampan bersama dengan alat makan, piring dan gelas berserakan di lantai. Untung saja semua peralatan makan terbuat dari kayu yang kokoh dan bukan kaca. Salah satu pendeta dengan sengaja membuang alat-alat makannya ke lantai. Namun ia berdalih bahwa tangannya yang lemas tak mampu membawa banyak beban berat dalam satu waktu.


Rubi melihat si pendeta sengaja membuang nampannya ke lantai, ia melakukannya untuk mendapat perhatian. Dan apa yang dilakukan pendeta itu berhasil menyita perhatian seluruh penghuni panti di ruang makan yang kini menatap padanya.

__ADS_1


Rubi yang melihat alat makan berserakan di lantai membantu sang pendeta membereskannya. Gadis itu memberikan gelas dan sendok kembali pada sang pendeta. Dan pendeta wanita itu memberikan senyum padanya sebagai ucapan terima kasih.


“Tidak ada binatang yang membantu membereskan alat makan yang berserakan di lantai pendeta Ortiz.” Kata pendeta wanita yang telah dibantu oleh Rubi. Wanita itu berbicara pada laki-laki paruh baya yang sedang berdebat hebat dengan Serena. “Lihatlah, betapa baiknya anak ini membantu saya yang sedang kesulitan dengan tangan kecilnya.” Pendeta wanita itu membelai lembut kepala Rubi yang telah tertutup oleh kain.


...*Beberapa Saat Sebelumnya*...


Serena beserta keempat anak asuhnya berada di dalam kamar. Mereka sedang memakai baju dan bersiap untuk makan malam.


“Rubi, kemari sebentar!” Perintah Serena pada Rubi yang telah selesai disisir rambutnya oleh Elyn.


Serena memegang selembar kain berwarna coklat gelap berbentuk persegi empat yang lumayan lebar. Ia melipat kain itu dua sisi menjadi segitiga sama sisi. Diletakkannya kain itu di atas kepala Rubi. Serena lalu mengikat rambut Rubi menggunakan kain yang telah menyembunyikan seluruh rambut di kepalanya itu.


“Kenapa kau menutupinya Serena?” Tanya Elyn pada Serena. Ia merasa bahwa usahanya menyisir rambut Rubi hingga cantik jadi sia-sia.


“Karena aku harus melakukannya.” Ucap Serena.


“Apa rambut Rubi tidak boleh terlihat oleh orang lain?” Tanya Allen padanya.


“Kalian ingat apa yang aku ucapkan saat kita mandi tadi?” Tanya Serena pada anak-anak yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.


Setelah dijelaskan sekali lagi, ketiga anak-anak itu semakin mengerti dan mereka menarik kesimpulan bahwa jika rambut Rubi terlihat oleh orang lain, maka adik mereka itu akan menghilang. Akan ada orang jahat yang merampas Rubi dari mereka dan akan memperlakukannya dengan kasar.


Meskipun Serena tak menyebutkan bahwa Rubi adalah seorang albino yang keberadaannya dilarang di Kekaisaran Estheria ini, namun anak-anak mengerti dengan cepat. Mereka mengerti bahwa wujud asli Rubi yang sebenarnya adalah sebuah rahasia yang harus mereka sembunyikan seumur hidup. Dan itulah yang menjadi alasan mengapa Serena menutupi rambut Rubi dengan kain sihir dan memberi Rubi sebuah batu sihir untuk menyamarkan matanya.

__ADS_1


“Waa... Kau jadi terlihat seperti kami Rubi.” Ujar Olive yang terkagum dengan penampilan Rubi saat ini.


Kain yang menutupi rambutnya tadi mengubah warnanya menjadi cokelat gelap sesuai dengan warna kain sebelumnya, begitu pula dengan batu sihir yang diberikan tadi mengubah warna mata Rubi menjadi hijau pekat seperti dedaunan. Sosoknya menjadi berbeda dengan pemberian warna pada rambut dan matanya. Ia seperti orang lain tapi sangat akrab dalam waktu bersamaan.


__ADS_2